Acak Abstrak

Suatu hari saat saya membaca buku  Quantum Learning karya Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, saya menemukan tes gaya pemikiran di dalamnya. Jika kita mengikuti tes tersebut, kita bisa mengetahui bagaimana cara otak kita berpikir dalam menghadapi berbagai hal.

Selesai mengikuti tes, saya mendapati bahwa otak saya berpikir secara acak abstrak (AA). Kecendrungan AA saya 56, dari digit maksimal 60. Pemikir AA terikat kuat dengan perasaan dan emosi. Kedua hal tersebut dapat mempengaruhi mereka dalam berbagai hal, baik secara positif atau pun negatif. Para AA juga tertarik pada nuansa, dan sebagian lagi cenderung pada mistisme. 

Setelah sedikit merenung, saya menyadari bahwa perasaan dan emosi memang mendominasi kehidupan saya. Ketika perasaan saya terganggu oleh suatu hal, saya menjadi begitu negatif dalam menyikapi suatu keadaan. Semisal apabila saya berhadapan dengan seorang dosen yang saya anggap ia menjengkelkan – sekalipun rekan lain menganggapnya biasa saja –, saya begitu mudah untuk tidak lagi fokus dalam menerima pelajaran.
Pemikir AA juga memiliki kecendrungan merasa dibatasi ketika berada di lingkungan yang teratur. Tak heran, para AA banyak mendominasi industri kreatif ketimbang berkecimpung pada tempat formal, semisal bank, dan sejenisnya. Mereka juga mengingat dengan sangat baik apabila informasi dipersonifikasikan. Selain itu, mereka bersifat holistik; mereka perlu melihat keseluruhan gambar sekaligus, bukan bertahap. Karena itu, mereka akan sangat terbantu jika mengetahui bagaimana segala sesuatu terhubung secara keseluruhan sebelum masuk ke dalam detail.

Karena sangat dipengaruhi oleh perasaan dan emosi serta berada dalam ruang ‘ketidakteraturan’, para AA sangat rentan terjebak dalam kemunduran. Oleh sebab itu, dalam buku tersebut para AA disarankan berkerjasama dengan orang-orang yang memiliki  tiga tipe gaya pemikiran lain, untuk saling melengkapi. Bahkan apabila mungkin, para AA yang dominan otak kanan ini harus melakukan beberapa drill agar kecendrungan mereka terhadap abstrak acak dapat diseimbangkan. Latihan yang dikembangkan oleh Ned Hermann, seorang ahli dominasi otak, tersebut antara lain: Mengatur foto-foto ke dalam album, mengusahakan agar selalu tepat waktu, merangkai sebuah rangkaian model sesuai dengan instruksi, bergabung dengan klub investasi, dan mencoba menyelesaikan serta menganalisis masalah yang ada.

Juga dalam buku ini, diilustrasikan sebuah cerita menarik mengenai bagaimana seorang pemikir AA dan sekuensial konkret (SK) – yang merupakan lawan dari AA – dalam menghadapi liburan. Para AA seringkali pergi ke suatu tempat yang pernah diceritakan dengan sangat menarik oleh seseorang. Mereka tidak akan menentukan pilihan melalui brosur. Perasaan mereka sangat gembira dengan tempat luar biasa yang akan mereka kunjungi. Mereka mungkin akan mengajak beberapa teman. Mereka tidak ingin liburannya diatur, dan begitu tiba di sana, mereka akan melakukan apa yang terasa menyenangkan pada saat itu.
 Sementara para SK akan cenderung memilih liburan yang telah dilakukan sebelumnya, pergi ke tempat yang sama, memilih biro perjalanan yang sama, dan melakukan aktifitas yang sama. Mereka akan merencanakan kapan dan ke mana mereka akan pergi, berapa lama di sana, berapa banyak uang yang akan dikeluarkan. Para SK akan merencanakan setiap langkah dengan khusus. Jika menemukan sebuah tempat yang belum pernah mereka kunjungi, mereka akan mencari tahu segala sesuatu tentangnya terlebih dahulu. Mereka mungkin telah merencakan pula sebelumnya tentang berapa uang yang akan dikeluarkan untuk oleh-oleh, hotel, makan, dan sebagainya.

Akhirnya, apapun jenis gaya pemikiran kita, itu merupakan sebuah hal yang khas dari pribadi kita. Itulah yang membedakan kita dengan orang lain. Pengelompokan gaya pemikiran juga menyadarkan kita bahwa kita tidak lepas dari kekurangan, dan masih membutuhkan bantuan orang lain. Dan sungguhlah Maha Bijak Tuhan yang menciptakan hal-hal tersebut agar kita selalu dapat saling melengkapi.
             

Friday, April 8, 2011 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Leave a Reply