‘Katakan atau Biarkan’ dalam Persahabatan

Pernahkah hati Anda disakiti oleh seseorang lalu Anda menanggapinya dengan diam, membiarkan sang pelaku lupa, namun menabung rasa kesal di dalam dada? Atau Anda memilih mengatakannya, sedikit berkonflik ria, untuk kemudian lega karena semua telah “lepas” walau hubungan beresiko kandas?

Ya, di dalam kehidupan ini, kiranya kita tidak dapat melepaskan diri dari interaksi antara sesama manusia. Dan terkadang kita ditempatkan di dalam suatu kondisi di mana seseorang menyakiti hati kita, baik itu oleh perkataan maupun perbuatan. Kita mungkin tidak akan ambil pusing saat yang melakukannya adalah “orang biasa”, orang yang tidak begitu kita kenal, dan karenanya tidak begitu kita pedulikan. Namun percaya atau tidak, seringkali orang-orang dekat yang muncul sebagai pelakunya, katakanlah misalnya sahabat. Jika itu yang terjadi, apa yang bisa kita lakukan?

Seperti di awal tulisan, ada dua opsi: katakan atau biarkan. Sahabat bukan dukun, bukan pula peramal, mereka hanyalah orang yang diharapkan mengerti kita, mendengar apa yang tidak kita katakan, lebih dari orang lain. Memang dalam beberapa hal perwujudan “kemampuan” mereka tersebut ada benarnya. Tidak jarang di saat kita sedang sedih, dan pada saat yang sama orang-orang lain tidak mampu melihatnya, saat itu lah seorang sahabat bertanya ‘ada apa’. Mereka memang spesial. Namun mereka juga manusia. Keterbatasan adalah hal yang mutlak melekat padanya. Jadi, jika kita sakit hati atas perlakuan mereka, katakan saja.

 Memang ada sebuah ketakutan : resiko kandasnya hubungan. Namun resiko tidak mengatakan adalah jauh lebih besar. Dengan mengatakan, kita akan menaikkan tingkat pengertian. Mungkin dia akan terkejut, atau bahkan dia tidak menyangka bahwa apa yang dia perbuat itu menyakiti hati kita. Tapi percayalah, semua akan menjadi lebih baik, ada sebuah riset yang telah membuktikannya.

Jika kita memilih tidak mengatakan, maka kita sedang menyimpan bom waktu. Rasa kesal yang menumpuk pada suatu saat akan meledak. Dan tentu saja, perasaan kesal yang mengalir deras berbeda dengan yang dialirkan pelan-pelan. Resiko kehancuran bahkan pemutusan hubungan sangat besar adanya.

Akhirnya, pilihan ada di tangan kita. Memang sulit mengatakan bagi mereka yang sudah terbiasa menyimpan. Dan teruslah berusaha selagi bisa dan semuanya belum terlambat. Sahabat adalah figur yang sangat berharga. Kehilangan sahabat rasanya seperti rusaknya bulu sayap: kita masih dapat terbang, namun tidak sebaik biasanya. Dan sebagai sahabat, jagalah perasaan sahabatmu.
    
      
foto: vi.sualize.us

Sunday, May 8, 2011 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Leave a Reply