Sedikit Pengalaman Kuliah di Luar Negeri

Dalam sebuah kuliah, dosen saya menceritakan pengalamannya saat mengambil master (S-2) di Amerika Serikat.  Beliau terbang ke Amerika dengan kepercayaan diri super tinggi. Tidak heran memang, sebelum berangkat ke sana, beliau sudah merasakan pengalaman bekerja dengan para bule di NGO asing di Aceh. “Jadi saya menganggap bahasa Inggris saya sudah excellent lah,” katanya.



Sesampai di Amerika, ternyata kenyataan berkata lain. Bahasa Inggris yang keluar langsung dari mulut para penutur asli ternyata lebih sulit untuk dicerna. Dan jadilah beliau seperti singa Sumatera, yang sulit meraih kuasa di Amerika. Lain padang, lain singanya. Begitu kira-kira (hehe).

Kesulitan mengikuti pelajaran ditambah dengan (mungkin) efek cultural shock membuat sang mahasiswa ingin pulang. “Saya telpon ibu, saya bilang tiga bulan lagi mungkin saya sudah berada di tanah air. Saya menelepon ibu sambil menangis,” katanya.

Sampai suatu hari, beliau mendapatkan sebuah kritik dari dosen literature-nya. “Saya rasa Anda belum pantas duduk di bangku S-2.” Kritik tersebut sungguh pedas. Ketika kalimat tersebut terlontar, beliau merasa seakan keadaan gelap. Mungkin seperti ekspresi Chibi Maruko Chan saat dilanda kesedihan: tertunduk sendirian sambil ditemani sinar hitam. Galau. Hehe. Namun di tengah perenungan putus asanya, beliau menemukan sebuah titik cahaya. Dan beliau mulai bangkit.

Inspirasi tiba-tiba datang. “Allah membantu saya,” kata beliau mantap. Beliau membuat sebuah penelitian mengenai (saya agak lupa, hehe). Yang jelas, penelitian tersebut membuat prestasi beliau menanjak. Bahkan di kelas literature – yang sebelumnya diprediksikan tak jauh dari nilai ‘C’ – beliau mendapatkan ‘A’. Momen kebangkitan tersebut bergerak tak terhentikan, sehingga memaksa beliau mengatakan, “Ibu, aku tak jadi pulang.” Di akhir kuliahnya, beliau memperoleh apa yang disebut “straight A”, atau nilai mata kuliah A semua, atau mungkin sering dikenal dengan Suma Cum Laude (IPK 4,00). Subhanallah.

Pada akhir kuliah, beliau mengatakan bahwa kuliah di luar negeri tidak mudah. Apalagi dengan budaya kuliah di Aceh yang terkenal santai. Di luar negeri waktu 24 jam terasa tidak cukup. Banyak mahasiswa asal Aceh yang terpaksa pulang karena tidak sanggup berhadapan dengan kerasnya medan perang perkuliahan. Memilih pulang juga bukan hal yang mudah, para mahasiswa harus menghadapi ekspektasi para teman dan saudara di tanah air yang telah terlanjur berharap sang mahasiswa pulang membawa gelar.

Akhirnya, meraih prestasi bukanlah sebuah hal yang mustahil. “Anak kampung seperti saya saja bisa,” begitu kata dosen saya. Semoga dari sekarang kita, mahasiswa, terus menempa diri dengan kerasnya pengetahuan, dan menjadi manusia yang berkilau, tajam, dan bermanfaat. Amin. Insya Allah. Terima kasih telah berkunjung! Saya tunggu komentarnya.
 


Monday, October 17, 2011 by Muhammad Haekal
Categories: 8 comments

Comments (8)

  1. wahh,..keren juga kisah dosennya tuh.. dari dianggap belum mampu masuk S2 jadinya malah melebihi rata2.. hahah

  2. Sangat menginspirasi!:)

  3. sangat mengispirasi mas,,, tulisanfadjar.com

  4. alhamdulillah. terima kasih

  5. Hello mas Haikal, saya boleh minta alamat email pribadi?mau sharing tentang sekolah disana

  6. Hello mas Haikal, saya boleh minta alamat email pribadi?mau sharing tentang sekolah disana

  7. sip!
    mhdhaekal@gmail.com

Leave a Reply