Archive for June 2013

Hidup di dalam Mimpi


“Kita sekarang hidup di dalam mimpi.” Kata seorang teman saya.

Ya, bagi sebagian dari angkatan kami, yang sekarang sedang sibuk-sibuknya mencari kerja atau melamar beasiswa, kehidupan hampir seperti utopia: segalanya seperti sedang berada di ‘dunia lain’, tidak nyata.

Ambillah contoh beasiswa S2. Memang saban hari asyik juga mendiskusikan aplikasi, mendengar testimoni para awardee, dan membayangkan suatu hari berkuliah di kota besar seperti Sydney – pagi kuliah, sore santai sambil baca buku di Centennial Parklands, dan akhir pekan bisa dihabiskan dengan jalan-jalan dari The Spit Bridge ke Manly. Tapi ya itu, semua masih di dalam mimpi.

Maka kemudian, ketika semua aplikasi telah disiapkan sebagus-bagusnya dan dikirim, teman-teman sepakat dalam rentang waktu menunggu pengumuman (pertengahan Desember 2013), kami harus mengerjakan sesuatu. Entah itu mengajar, menulis, menjadi tour guide, pokoknya apa saja selain tidur dan melamun. Apapun ceritanya, sebaik apapun sebuah persiapan dan rencana, menunggu tetaplah sebuah ketidakpastian. Tidak baik rasanya menggantungkan harapan pada sebuah hal yang belum ada dalam genggaman.

Akhirnya, bermimpi selalu merupakan awal yang baik untuk memulai petualangan hidup. Ia adalah peta GPS bagi tujuan-tujuan kita selanjutnya. Dan jika bermimpi bisa disamakan dengan berburu, maka ada baiknya kita berpindah lokasi dan berburu di spot lain sembari menunggu umpan di spot sebelumnya dilahap.

Terima kasih telah berkunjung. Semoga bermanfaat. Insya Allah. Salam :)

Monday, June 24, 2013 by Muhammad Haekal
Categories: 12 comments

Perempuan dan Berat Badan



Semalam, sambil menunggu pesanan nasi uduk datang, seorang teman saya bercerita tentang calon istrinya yang hampir setiap hari mengeluhkan soal berat badan.

“Ayang, aku nampak gemuk ya? | iiihh, gimana ini, minggu ini aku naik dua kilo! | gak mau makan, ah! Biar kurus!”

Menurut teman saya, berat badan calon istrinya sudah ideal dan jikapun naik tiga-empat kilo bukanlah masalah. Namun lama-lama teman saya cemas dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Ia khawatir calon istrinya malah terobsesi menguruskan berat badan sehingga hasilnya malah berlebihan. Ia teringat dengan seorang teman perempuan yang sebelumnya memiliki berat badan ideal, namun sekarang sudah turun drastis sekali sehingga ia malah terlihat pucat dan sakit.

Perempuan memang selalu khawatir soal berat badan. Naik satu-dua kilo adalah musibah, tiga-empat kilo adalah kiamat. Menarik untuk mengetahui alasan utama perempuan ingin kurus. Apakah karena alasan kesehatan, menarik lelaki, atau agar eksis dalam pergaulan? Saya memang tidak pernah langsung bertanya tentang ini kepada teman saya yang perempuan. Tapi jika alasan mereka untuk menarik perhatian lelaki, persepsi ini mungkin harus sedikit diluruskan.

Lelaki – Aceh – umumnya tidak suka dengan perempuan yang kurusnya keterlaluan atau gendutnya keterlaluan. Saya tidak ingin mengatakan semua lelaki berpikir seperti itu. Bisa jadi para pria yang tinggal di Jakarta, Paris, New York, atau Madrid, memiliki selera yang berbeda. Makanya ketika seorang perempuan bertubuh ideal datang dan mengeluh bahwa dia gendut, banyak lelaki di sini yang heran dan bertanya-tanya, “Jangan-jangan ia menggunakan standar para model di Paris.”

Dear sisters, begitulah kira-kira lelaki berpikir.

Akhirnya, sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa bagaimanapun tubuh memang sesuatu, tapi bukan segalanya. Hati yang luar biasa baik, lebih menentramkan dari tubuh yang luar biasa ideal.

Semoga bermanfaat ya. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca :)

Saturday, June 22, 2013 by Muhammad Haekal
Categories: 2 comments

Nikah (lagi)


Pagi ini, saya, Muntasir, Rahmat, dan Fahrul, insya Allah akan pergi ke Sigli. Seorang teman kami menikah. Perempuan. Maka hari ini, 22 Juni 2013, resmi seorang lagi dara dari angkatan kami dipersunting orang. Mari menyanyikan Gugur Bunga. Eh?

Selain soal pekerjaan dan S2, pernikahan memang masih menjadi topik hangat di lingkungan pergaulan kami. Jika kami ngopi di hari Minggu – yang biasanya memakan waktu lebih lama dari hari lain, pernikahan adalah salah satu tema besar percakapan. Di awal-awal, kami meng-update berapa harga mahar terbaru. Kemudian berdebat tentang yang manakah lebih baik, nikah dengan dijodohkan atau diawali dengan hubungan sebelumnya. Lalu setelah lelah dengan fakta yang ‘ilmiah’, kami pun ganti membahas tentang mitos seputar pernikahan yang secara instan melebar ke perkara adat bahkan seringkali ranjang.

Setelah mengambil fakta, merebus, memasaknya, dan sedikit membumbuinya dengan mitos, kami sepakat bahwa umur terbaik untuk menikah bagi lelaki adalah usia 25 hingga 27 tahun. Bukan soal kumis yang sudah panjang, tapi pada rentang umur tersebut, secara fisik, seorang lelaki masih joss! Eh, bukan berarti umur yang lebih tua tidak berstamina, hanya saja mungkin tidak segarang rentang umur di atas! Hahaha! Pada usia tersebut pula, secara mental dan finansial insya Allah seorang lelaki sudah lebih siap.

Kami juga perlahan mulai yakin, bahwa terlepas dari berbagai alasan seseorang berumah tangga, salah satu tujuan paling mulianya adalah menyelamatkan iman. Jika tidak ingin kebablasan dengan diri sendiri atau orang lain, nafsu yang ada pada diri kita harus dikontrol. Pernikahan adalah jalan terbaiknya. Memang terasa naïf, tapi coba pikir apa jalan terbaik lain untuk perkara itu – terlebih bagi muslim? Apakah dengan beraksi di kamar mandi? No! #teriak

Namun terlepas dari apapun, pernikahan juga bukan hal yang sederhana. Diperlukan persiapan yang matang dan cadas. Seorang suami misalnya, selain telah siap fisik dan mental, alangkah lebih baiknya jika ia memiliki pengetahuan dasar masalah fikih, lancar + benar dalam mengaji, dan tak ragu menjadi imam shalat. Bagaimanapun juga, ketika istri tidak paham terhadap suatu hal, suamilah yang wajib membimbingnya. Dan jika kita merasa belum cukup baik dalam hal tersebut, ada baiknya mulai belajar dari sekarang.

Akhirnya, saya mau siap-siap berangkat. Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca :)

NB. Saya bertemu dengan seorang senior, ia bertanya mengapa saya sekarang sudah jarang menulis, baik di blog dan media massa. Saya bilang karena alasan kurangnya waktu luang. Lalu dengan sedikit berteriak, dia bilang, “Bukannya dulu kamu yang nulis soal waktu luang itu tak ada, yang ada hanya meluangkan waktu?” Saya mengangguk. Iya juga ya. Terlepas dari betapa sibuknya seseorang, ketika ia berniat mengerjakan sesuatu, insya Allah dia akan memiliki waktu untuk itu. Makasih bang udah ngingatin!

Friday, June 21, 2013 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

(Tak) Peduli

Ini adalah sebuah negeri
di mana cinta tak lagi peduli
atau langit selalu gelap
dibungkus oleh matahari yang rapat
tepat mengarah ke dalam setiap butir hujan
yang mengilat.

by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment