Archive for 2014

Hujan di Bulan Desember


Desember ini
Hujan menjelma menjadi peluru
Memberondong hati orang-orang seperti kita
yang punya masa lalu.
Rindu?

Sunday, December 28, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 7 comments

Tentang Ucapan “Selamat Natal”

foto: dawn.com
Natal sudah dekat. Ada perbedaan pendapat para ulama mengenai boleh-tidaknya mengucapkan selamat. Dari sekian banyak pendapat, saya menyalin sebuah telaah yang ditulis oleh M. Quraish Shihab. Mudahan-mudahan semakin memperkaya referensi dan pengetahuan kita akan khazanah Islam. Insya Allah.

Mengucapkan “Selamat Natal”

Oleh: M. Quraish Shihab*

Ada hadits—antara lain diriwayatkan oleh Imam Muslim—yang melarang seorang Muslim memulai mengucapkan salam kepada orang Yahudi dan Nasrani. Hadits tersebut menyatakan, “Janganlah memulai salam kepada orang Yahudi dan Nasrani. Jika kamu bertemu mereka di jalan, jadikanlah mereka terpaksa ke pinggir.”

Ulama berbeda paham tentang makna larangan tersebut. Dalam buku Subul as-Salam karya Muhammad bin Ismail al-Kahlani (jilid IV, halaman 155) antara lain dikemukakan bahwa sebagian ulama bermazhab Syafi’i tidak memahami larangan tersebut dalam arti haram, sehingga membolehkan menyapa non-Muslim dengan ucapan salam. Pendapat ini juga merupakan pendapat sahabat Nabi, Ibnu ‘Abbas. Al-Qadhi ‘Iayadh dan sekelompok ulama lain membolehkan mengucapkan salam kepada mereka kalau ada kebutuhan. Pendapat ini dianut juga oleh ‘Alqamah dan al-Auza’i.

Penulis cenderung menyetujui pendapat yang membolehkan itu, karena agaknya larangan tersebut timbul dari sikap bermusuhan orang-orang Yahudi dan Nasrani ketika itu kepada kaum Muslim. Bahkan dalam riwayat Bukhari dijelaskan tentang sahabat Nabi, Ibnu ‘Umar, yang menyampaikan sabda Nabi bahwa orang Yahudi bila mengucapkan salam terhadap Muslim tidak berkata “Assalamu’alaikum”, tetapi “Assamu’alaikum” yang berarti “Kematian atau kecelakaan untuk Anda”.

Nah, jika demikian, wajarlah apabila Nabi melarang memulai salam untuk mereka dan menganjurkan untuk menjawab salam mereka dengan “’Alaikum”, sehingga jika yang mereka maksud dengan ucapan itu adalah kecelakaan atau kematian, maka jawaban yang mereka terima adalah “Bagi Andalah (kecelakaan itu)”.

Mengucapkan “Selamat Natal” masalahnya berbeda. Dalam masyarakat kita, banyak ulama yang melarang, tetapi tidak sedikit juga yang membenarkan dengan catatan khusus.

Sebenarnya, dalam al-Qur’an ada ucapan selamat atas kelahiran Isa: “Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari aku wafat, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam [19]: 33). Surah ini mengabadikan dan merestui ucapan selamat Natal pertama yang diucapkan oleh Nabi mulia itu. Akan tetapi persoalan ini jika dikaitkan dengan hukum agama tidak semudah yang diduga banyak orang, karena hukum agama tidak terlepas dari konteks, kondisi, situasi, dan pelaku.

Sunday, December 21, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: , 8 comments

Man Monis


Jujur, saya masih awam mengenai Islam. Bahasa Arab saya buruk, pemahaman saya belum mendalam, dan aplikasi saya biasa-biasa saja.

Namun ketika melihat penyanderaan di Martin Place, Sydney (15/12), hati saya sangat terganggu. Aksi itu keji. Yang semakin memperparah semuanya, Man Monis, sang pelaku, membawa-bawa bendera berlafazkan syahadat. Seakan-akan di kafe itu, dia mewakili umat Islam di seluruh dunia. Jika Anda dan saya adalah Muslim, kita berhak protes. Kenapa dia menggunakan bendera itu? Saya pribadi tak pernah merasa terwakili dengan tindakan itu, dan tak pernah ingin.

Warga Australia yang berasal dari Iran itu mengklaim dirinya sebagai "pemimpin spritual", namun ia memiliki catatan kriminal yang hitam. Tahun lalu, dia didakwa membunuh mantan istrinya. Satu dekade lalu, dia juga menghadapi tuduhan kekerasan seksual sebanyak lima puluh kasus, sebut Sydney Morning Herald (SMH).

Dikutip dari BBC News, Keysar Trad, pendiri Islamic Friendship Association of Australia, mengatakan bahwa Man Monis adalah ulama yang "individual". Di komunitas Islam sendiri, dia ditolak oleh kalangan Sunni dan Syiah di Sydney Muslim Community.

Dari sumber yang sama, Manny Conditsis, mantan pengacara Man Monis, menyebut kliennya itu berada dalam kondisi psikologis yang tidak stabil. Dia juga berada menjadi 'buta' sejak usahanya melobi pemerintah Australia agar tidak mengirim tentara ke medan perang.

Pada tahun 2013, Monis dihukum lantaran mengirim surat berbau penghinaan terhadap keluarga dari tentara Australia yang tewas saat berperang di Afghanistan (tahun 2007 dan 2008) serta bom di JW Marriot Hotel, Jakarta (2007). Dia dihukum melaksanakan pengabdian masyarakat selama 300 jam dan kewajiban tidak melanggar hukum selama dua tahun.

Dalam sebuah video terkait aksinya sebelumnya, dia memang mengatakan bahwa semuanya dilakukan semata-mata untuk kedamaian dunia, khususnya Australia. "Kami mau kedamaian, bukan perang!" teriaknya.

Anne Davies, jurnalis SMH yang pernah mewawancarai Monis, mengatakan bahwa lelaki itu sempat berujar bahwa ceramah atau pidato yang dia sampaikan (terkait dengan isu-isu yang dia perjuangkan) tidak akan cukup—oleh karena itu, barangkali harus ada 'tindakan lain'.

Lelah

Semua orang sedang lelah dengan kekerasan. Khusus bagi kalangan Muslim, deretan aksi terorisme yang selama ini mengatasnamakan Islam semakin menambah daftar panjang penderitaan.

Saya yang awam memandang begini: seorang Muslim sebaiknya menempatkan diri dengan baik sesuai dengan kondisi yang terjadi. Jika negara sedang perang dan kita dituntut untuk membela agama dan bangsa, maka berperanglah. Jika kondisi sedang damai, namun ada sesuatu hal yang tidak kita setujui, gunakanlah alat-alat yang sesuai dengan garis batas kedamaian itu: diskusi, tulisan, ceramah, debat, atau cara-cara lain yang tidak menggunakan senjata.

Ini hanya dugaan saya: Monis melakukan semua itu karena dia ingin membuat publik Australia (atau Barat) merasakan langsung bagaimana pahitnya perang (katakanlah) di Afghanistan.

Lalu jika benar demikian, apa yang terjadi? Apakah pesan itu benar-benar sampai? Sekarang yang terdengar hanya terorisme dan terorisme. Jika sudah begitu, siapa yang rugi?

Masyarakat saat ini sudah lebih cerdas dan bijak. Sekarang, selembar foto saja bisa mengetuk hati jutaan manusia untuk bergerak di satu jalan bernama kemanusiaan. Intinya, ada cara-cara lain yang bisa kita lakukan untuk menyampaikan pesan, dan itu bukanlah kekerasan.

Syukurlah pula, warga Australia sana tidak memandang tindakan Monis sebagai tindakan yang merepresentasikan Islam. Pascapenyanderaan, ada ketakutan besar bagi kalangan Muslim di Australia terhadap bangkitnya lagi islamophobia—barangkali kita masih mengingat apa yang dialami oleh Muslim Amerika pascatragedi 9/11. Dilansir oleh BBC News, seorang warga Australia, Rachael Jacobs, pascakejadian melihat seorang perempuan yang ia asumsikan sebagai Muslimah, secara diam-diam melepas hijabnya di dalam kereta. Saat mereka telah tiba di stasiun, Rachael menghampiri perempuan itu, dan berkata: "Pakai lagi hijabmu. Aku akan menemanimu berjalan." Mendengar itu, perempuan itu pun menangis dan memeluk Rachael.

Kisah tersebut menjadi viral dan menginspirasi Tessa Kum, seorang pengguna Twitter, untuk melanjutkan dukungan kepada warga Muslim Australia dengan tagar #illridewithyou. Aksinya sederhana: jika Anda adalah seorang Muslim dan merasa tidak aman berjalan sendirian, Anda boleh minta ditemani oleh seseorang. Ribuan warga tercatat ikut ambil bagian. Twitter resmi milik klub bola Sydney FC juga ikut serta. Mereka bahkan menegaskan agar para pengguna serius terhadap tweet-nya: "Please, if you're going to use #illridewithyou, include journeys and times, make it genuinely useful not just a trendy thing to tweet," cuit Sydney FC.

Kejadian di Lindt Chocolat Cafe memang berakhir tragis: dua sandera tewas. Namun dari peristiwa ini, tampak pula bahwa manusia sebenarnya masih memiliki akal sehat dan nurani. Kita masih dapat merasakan, mana yang tepat, mana yang tidak. Mana yang patut, mana yang melenceng. Mana yang teman, mana yang lawan.

Akhirnya, agama barangkali membuat kita hidup dengan perbedaan. Namun, walaupun ada yang menjadi air dan minyak, bukankah kita masih dapat hidup berdampingan dalam satu mangkuk mie bernama "kemanusiaan?"

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu berkunjung.

Wednesday, December 17, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: , 5 comments

Milisi-milisi Kota Baghdad

Warga Sadr City menenteng senjata. Mereka adalah bagian dari milisi yang mempertahankan kota Baghdad. (14-07-2014). | Ayman Oghanna/ The New York Times/ Redux
Oleh Janine di Giovanni | Newsweek.com

Saya bertemu Sheikh Raad al-Khafaji di jalanan kecil Karrada, sebuah distrik di kota Baghdad. Dia adalah mantan tentara Irak dari divisi artileri yang sempat ikut dalam perang Iran-Irak. Dia juga merupakan pimpinan suku Al-Khafaji dan komandan milisi Kata'ib Hezbollah, salah satu milisi Syiah yang berperang melawan ISIS di garis depan Irak.

Setelah kota Mosul jatuh ke tangan ISIS musim panas ini, Ayatollah Ali al-Sistani memfatwakan kepada rakyat Irak untuk mempertahankan negaranya, rakyatnya, dan kehormatan dari tempat-tempat suci mereka. Mereka harus turut serta mempertahankan agama mereka dalam perang suci ini.

Sheikh Raad mengatakan, ketika fatwa tersebut keluar, para pria datang ke kantornya untuk mendaftarkan diri berperang. Di antara mereka bahkan ada yang berumur sekitar 60 tahun, mereka memohon agar diizinkan bertempur melawan ISIS dan para pemberontak pimpinan Sunni.

Menurut Penasihat Deputi Keamanan Nasional Irak, Safa Hussein al-Sheikh, milisi Kata'ib Hezbollah didirikan pada tahun 2003 ketika invasi Amerika Serikat. Mereka terkenal dengan struktur yang ramping, namun lebih terorganisasi daripada milisi Syiah yang lain—serta dianggap tertutup dan cerdik, bahkan oleh standar intelijen Irak sendiri.

"Dulu, mereka fokus menargetkan Amerika. Mereka melakukannya dengan piawai, mematikan, dan tak terdeteksi oleh intelijen Amerika maupun Irak," kata al-Sheikh.

Dari wilayah Ajana, Pasukan Keamanan Irak dan milisi Syiah bergerak menuju Amerli. (01-09-2014) | Reuters
Ketika saya berkunjung, Sheikh Raad yang telah berumur 58 tahun sedang duduk dengan letih di kantornya. Ia mengenakan seragam perang dan cincin permata merah dan pirus. Di sebelahnya, istri keempatnya duduk. Yang mengejutkan, rambut gelapnya yang modis tidak ditutupi jilbab. Perempuan itu mengenakan celana panjang ketat dan sepatu hak tinggi. Dia ingin merekam percakapan suaminya melalui telepon genggamnya.

Friday, December 12, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: , Leave a comment

Resep Antisukses


Saya tidak bercanda. Ini adalah tulisan yang serius. Saya harap Anda membacanya baik-baik.

Sebut saja kiat-kiat di bawah ini sebagai “Resep Antisukses”. Resep ini telah dibuktikan kesaktiannya dari generasi ke generasi. Siapapun yang menerapkannya niscaya akan antisukses.

Berapa umur Anda sekarang? Jika Anda berusia muda, saya menyarankan Anda segera mengikuti kiat-kiat berikut agar antisukses. Semakin cepat, semakin baik. Atau jika Anda sudah berusia lanjut, jangan berkecil hati. Tidak ada kata terlambat dalam perjuangan, bukan?

Baiklah. Simak ini baik-baik.

Untuk menjadi orang yang antisukses, pertama Anda harus menjadi orang yang pesimis. Pesimislah sepesimis-pesimisnya. Rendahkanlah diri Anda. Anggaplah Anda tidak punya kemampuan dan kelebihan apa-apa. Atau jika Anda tak sanggup menganggap diri tidak punya keistimewaan, berpikirlah jika hal tersebut takkan membawa Anda ke mana-mana. Yakinlah bahwa setiap usaha yang Anda buat akan mengalami kegagalan. Jadilah orang bijak-antisukses yang lebih memilih tidak ikut berperang daripada kalah. Optimislah bahwa kepesimisan Anda itu 100% benarnya. Jadilah pessimist yang total. Jangan biarkan siapapun mempengaruhi kepesimisan Anda. Ingat, hal itu adalah anugerah terbesar dalam hidup Anda.

Kedua, tundalah segala rencana Anda. Eh, sebelumnya saya menyarankan ada baiknya Anda tidak memiliki rencana apapun dalam hidup. Itu tidak penting sama sekali. Buang-buang tenaga. Namun jika Anda telah kadung memilikinya, tak apa. Yang penting Anda harus terus menunda-nunda perbuatan agar rencana itu tak pernah terlaksana. Ulurlah waktu. Tidurlah sepanjang hari (saya menyarankan waktu pagi). Percayalah bahwa umur Anda masih panjang dan hari esok masih dapat Anda tentang. Jika masih terlalu sulit, saya menyarankan agar Anda sedikit mengakali hati Anda—yang sepertinya masih bercahaya—dengan berimajinasi seakan-akan rencana hidup Anda akan menemukan jalannya sendiri, tanpa perlu usaha sama sekali. Berangan-anganlah bahwa Anda sedang sukses dalam pikiran—ingat, dalam pikiran, bukan kehidupan nyata. Jadi dengan terpuaskannya Anda dengan angan-angan yang panjang itu, semakin sukseslah Anda dalam khayalan dan semakin antisukseslah Anda dalah kenyataan. Itu yang kita cari, bukan?

Nah. Itulah dua Resep Antisukses mumpuni yang telah terbuktikan kehandalannya oleh sejarah. Anda sudah paham? Atau tak sabar ingin segera praktik? Wah, tunggu dulu, hadirin di sebelah sana masih meminta kiat-kiat lainnya. Sebenarnya dua tadi sudah memadai. Tapi baiklah, kawan. Semakin banyak kiat, semakin bagus. Sekarang dengarkan.

Mulai sekarang, Anda harus mengabaikan segala kesempatan untuk berkembang. Jadilah orang yang biasa-biasa saja. Jangan pernah pergi dari zona nyaman Anda. Bergantunglah secara terus menerus dengan orang lain. Jika ada sebagian orang yang gemar merantau dalam kehidupan mereka, jangan ikuti itu! Mereka akan sukses! Ingat, Anda sedang belajar untuk antisukses. Maka, berusahalah untuk terus-menerus bergantung pada manusia. Misal, jangan sekalipun malu meminta uang pada orang tua sekalipun Anda sudah tua. Jadilah anak burung kecil yang mulutnya tidak pernah berhenti minta disuapi selamanya.

Langkah selanjutnya, Anda harus berprasangka buruk kepada Tuhan. Camkan di dalam jiwa bahwa Anda lahir tanpa membawa rezeki ke dunia, hanya ketelanjangan belaka. Percayalah bahwa segala usaha yang sedang Anda lakukan, takkan mengubah takdir yang telah dititahkan. Jadi daripada repot berjuang, lebih baik duduk berpangku tangan.

Terakhir, Anda harus mengeluh sepuas-puasnya. Katakan kepada dunia bahwa kehidupan Anda adalah kesialan belaka. Temui orang tua, teman-teman, atau kenalan Anda, dan sampaikanlah dengan berbusa-busa betapa membosankannya kehidupan Anda. Kutuklah semua hal yang bisa Anda kutuk. Hinalah diri Anda. Hinalah orang-orang yang berusaha dan anggaplah mereka hanya tukang cari perhatian semata. Tutup, tutup mata dan telinga Anda dari nasihat, kritik, perkataan, tulisan, atau apapun yang sifatnya positif. Anggaplah semua itu hanya gurauan dari orang-orang yang sok tahu akan makna kehidupan.

Habis!

Itulah Resep Antisukses yang saya jamin tak pernah gagal dalam membuat orang gagal. Ingat, jika Anda bermimpi untuk menjadi orang antisukses, itulah vitaminnya! 

Jangan lakukan sebaliknya, ya! Nanti Anda akan sukses! Oke, Anda sudah paham? 

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)


Friday, December 5, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: , 4 comments

Menyaingi Orang Asing dengan Jujur

foto: gramedia.tumblr.com
Oleh: P.K. Ojong*

Pengusaha luar negeri masih saja takut terhadap kemungkinan pengambil alihan, kalau mereka menanam modalnya di Indonesia.

Ini kembali ternyata dalam wawancara Kompas dengan Dr. Emil Salim yang baru kembali dari Australia.

Sebaliknya orang-orang seperti kami, pengisi ruangan ini juga takut kalau kita kembali ditulari penyakit zaman pra Gestapu itu.

Dua-dua sama takut, jadi cocok!

*

Kebetulan kami dari dekat dapat mengikuti nasib sebuah perusahaan asing (Belanda) yang kita ambil alih yakni toko buku Van Dorp.

Gedungnya yang baru besar dan mengesankan, dan buku-buku yang dijualnya ketika masih dipimpin pemiliknya, sangat mengesankan. Termasuk salah satu toko buku yang terbaik di ibu kota.

Kami setiap minggu paling sedikit sekali mengunjunginya.

Lalu terjadi pengambilan alih atau desakan halus untuk menjualnya.

Lewat beberapa minggu ketika kami kira-kira pukul 10 pagi ke sana, ternyata tokonya belum bisa dibuka. Pegawainya belum masuk. Karena apa? Karena mobil yang mengangkut pegawai belum datang.

Baru pukul 10.30 toko dapat dibuka. Sesuatu yang belum pernah kami alami. Belakangan ini sering begini bunyi keterangan seorang pegawai yang kami kenal baik. Ia menarik nafas panjang.

Suasana di seluruh toko buku yang besar itu pun berlainan sekali. Lesu. Lamban. Tanda-tanda pertama dari demoralisasi.

Dan semua ini karena satu dua orang pemimpin yang lama terpaksa meninggalkan negeri ini.

*

Monday, December 1, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: , , Leave a comment

Pemerintah, Pengajaran, dan Rakyat

foto: inilah.com
Oleh: Haji Agus Salim*

Dalam Volksraad telah berlaku permusyawaratan tentang pengajaran.

Pembicaraan, atau perbincangan semacam ini dinamakan “debat”, yang lebih tegas maknanya “perbantahan” atau “mujadalah”. Dan memang juga sebenarnya itu sifatnya. Bukan permusyawaratan orang yang sama kehendak, sama tujuan, sama keperluan, melainkan nyatalah perbantahan berebut kemenangan antara orang-orang yang berlainan, bahkan bertentangan haluan.

Hal semacam itu tidak mengapa, apabila membicarakan cara melakukan pemerintahan dan kekuasaan. Di situ ada pihak kekuasaan, yang menguatkan haluannya berhubung dengan kepentingannya sendiri, dan yang diharapkan oleh pihak yang berbantah itu akan memeliharakan keamanan badan dan harta mereka, dan memeliharakan tertib aturan di dalam negeri.

Cara menetapkan dan menguatkan kekuasaan itu tidak memakai sesuatu asas lain daripada kekuasaan dan kekuatan belaka. Memerintah dan memaksa tidak mencari kebenaran, melainkan hanya mencari menang. Dan menang itu biasa berpindah-pindah tempat, sebagaimana telah dibuktikan oleh riwayat.

Tapi berbantahan itu berubah sifat, apabila yang menjadi pokoknya bukan perkara kekuatan dan kekuasaan yang ada. Apabila ada perkara mengenai kepentingan rakyat yang lebih dalam mengenai rakyat daripada hukum kekuasaan dan hukum kekuatan.

Hal yang semacam ini terdapat dalam perkara pengajaran, yang baru-baru ini menjadi pokok perbantahan dalam Volksraad (semacam Dewan Perwakilan, ed.) itu. Kesudahan perbantahan itu akan menetapkan ukuran begrooting (anggaran belanja, ed.) untuk pengajaran dalam tahun 1932. Maka keputusan itu dalam hal dan keadaan sekarang ini akan berpengaruh penting sekali atas sifat, watak, dan jalannya pengajaran rakyat dan bangsa Indonesia.

Kita katakan dalam hal dan keadaan sekarang ini, sebab tidak mestinya satu pemerintah berpengaruh begitu besar atas pengajaran rakyat. Istimewa tidak mestinya dalam tanah jajahan di bawah pemerintah bangsa asing yang rakyat bangsa tanah jajahan itu tentu perlu dan ingin hendak mengubah kedudukannya buat ke depan.

Sebelum kita melanjutkan pemandangan itu, marilah kita bentangkan dengan amat ringkas bagaimana perbantahan dalam Volksraad atas perkara itu, yang kita dapati dalam berita ringkas dalam pers.

Tuan Feuilleteau de Bruijn menerangkan, bahwa kemajuan pengajaran tidak akan dapat ditahan. Maka perlulah dialirkan pada jalan yang baik, dan pemerintah harus mengatur jalan pengajaran itu.

Oleh karena derajat kecerdasan budi bertambah tinggi, terganggu kedudukan yang tenteram dalam kalangan rakyat, karena terlalu banyak orang keluaran sekolah, yang tidak dapat pekerjaan berpadanan dengan cita-cita atau keperluannya berhubung dengan pelajarannya.

Barisan kaum terpelajar (intellectueel) yang terlalu banyak itu membahayai perjalanan kemajuan pergaulan. Pekerjaan tangan dipandang rendah. Pelajaran desa tidak boleh dicukupkan tiga tahun saja, melainkan harus dijadikan empat tahun.

Tuan De Dreu memperingatkan, bahwa jumlah orang yang tidak tahu huruf yang 95 persen itu menjadi satu dakwaan besar atas urusan pengajaran di sini. Diperingatkannya bahwa 200 sekolah yang diminta untuk tahun 1932 tidak akan diberi oleh Gubernemen. Hasilnya nanti sekolah itu mesti jadi juga. Hanyalah dengan aturan yang kurang sempurna dan dengan tidak mendapatkan pengawasan.

Saturday, November 29, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: , , Leave a comment

Khazanah

Kawan, insya Allah dalam waktu dekat saya akan meluncurkan rubrik baru bernama Khazanah.

Selama ini saya banyak menemukan bacaan menarik, sebagian besar merupakan esai atau feature, dari dalam maupun luar negeri. Saya ingin sekali kawan-kawan juga bisa membacanya sebagaimana saya menikmatinya. Jadi saya berniat untuk meluangkan waktu untuk menyalin atau menerjemahkan tulisan-tulisan tersebut secara apa adanya, tanpa mengubah poin apapun.

Harapan saya, dengan memperluas bacaan, kita akan semakin kaya dengan referensi dan sudut pandang. Insya Allah.

by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Fobia-fobia Unik yang Menyerang Manusia

Fobia adalah rasa takut yang gila, berlebihan, dan kadangkala tidak bisa dimengerti oleh orang yang tidak mengalaminya. Fobia biasanya tercipta oleh kejadian atau pengalaman buruk terhadap suatu hal.

Di bawah ini adalah beberapa fobia yang tercatat pernah menyerang manusia. Anda menderita salah satunya?

1. Papyrophobia


usberstop.wordpress.com
Papyrophobia adalah fobia terhadap kertas. Fobia ini biasanya menyerang mahasiswa yang tidak begitu lancar dalam menulis skripsi. Jika terjadi dalam waktu yang lama, fobia ini akan membelah diri menjadi Chronophobia, yaitu ketakutan terhadap waktu. Cemas memikirkan drop-out. Klimaksnya, si penderita akan merasakan Ecophobia, yaitu fobia terhadap rumah. Tidak berani pulang kampung.

2. Arithmophobia

uniqpost.com
Arithmophobia adalah ketakutan berlebih terhadap angka. Dulu fobia ini sering menimpa para siswa yang tidak suka matematika. Sekarang, fobia ini menyerang mahasiswa yang tidak memiliki banyak IPK atau skor TOEFL-nya masih belum mencukupi sebagai syarat sidang. Lebih lanjut, fobia ini bisa memunculkan Telephonophobia, takut terhadap telepon. Khawatir jika ditanya kapan wisuda.

3. Philophobia

fearsandphobias-network.tumblr.com
Ini adalah salah satu jenis fobia yang paling berbahaya. Philophobia adalah fobia jatuh cinta. Penderitanya adalah orang yang dulu pernah tersakiti atau mengalami pengalaman buruk dengan cinta. Jika terjadi pada perempuan, fobia ini dapat melahirkan Androphobia (takut terhadap laki-laki). Sementara lelaki bisa menjadi khawatir berhubungan dengan perempuan (Gynephobia) atau bahkan merasa dingin dengan perempuan cantik sekalipun (Venustraphobia). Lebih lanjut, si penderita bisa menjadi begitu takut dengan memorinya sendiri (Mnemophobia), takut mendengarkan suatu nama (Onomatophobia), takut jalan-jalan (Hodophobia), bahkan takut pergi ke laut (Thalassophobia)—yang memang terkenal bisa membangkitkan banyak kenangan.

4. Atychiphobia

morethansound.net
Atychiphobia adalah fobia terhadap kegagalan. Sering menimpa seseorang yang terlalu sering gagal dalam melamar beasiswa, pekerjaan, atau perempuan. Turunan dari fobia ini adalah Decidophobia (takut mengambil keputusan), Testophobia (takut mengikuti tes), dan bahkan Demophobia (takut bertemu orang dan ditanya-tanya soal itu).

5. Dentophobia

analisadaily.com
Dentophobia adalah takut berkunjung ke dokter gigi. Untuk tahun 2014 ini, hal ini sungguh disayangkan mengingat banyak dokter gigi yang baik, hangat, dan mempesona.

Monday, November 24, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: , 6 comments

Adiós


Dapatkah dua orang yang saling mencintai hidup bersama? Tanpa perlu banyak bertanya, tanpa repot menyamakan visi kehidupan, tanpa berlelah-lelah mempertahankan pendapat. Cukup menjalaninya saja dengan apa adanya. Menghadapi yang memang harus dihadapi. Mengalah ketika memang harus demikian. Menyesuaikan diri dengan keadaan.

Apakah cinta harus selalu diikuti dengan pertanyaan “kenapa”? Yang lalu dipaksakan dengan keluarnya kata-kata sifat positif—baik, alim, sopan, cantik, pintar, nyaman, tampan, dan semacamnya. Padahal jika kita benar-benar jatuh cinta dengan seseorang, lalu meletakkan semua atribut positif tadi kepada orang lain, apakah dapat muncul rasa yang sama saat itu juga?

Semua membuat saya kembali ke pertanyaan paling dasar: apakah kita benar-benar jatuh cinta? Atau mungkin semua itu benar, hanya saja dengan semakin dewasanya kita, semakin bercabang pula pikiran ini dengan berbagai ketidakpastian masa depan—yang tanpa sadar mempertegas, betapa tidak saling percayanya kita untuk berlayar di perahu yang sama.

Sepertinya, untuk mencintai, kita cukup belajar dari anak-anak saja: tanpa syarat, tanpa apa-apa. Cinta adalah cinta semata. []

Dulu kita pernah percaya bahwa cinta selalu menyediakan dua cangkir kopi untuk berdiskusi. Kala semuanya tidak tersaji lagi, kita mulai bingung, harus dinamakan apa semua ini?

Barangkali ini adalah sebuah akhir. Semoga sukses. Adiós!


sumber gambar: www.alessandrabajec.com

Friday, November 21, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 8 comments

Diri



aku merindukan diriku
kata-kata dalam setiap jiwanya
ke manakah dia?

aku merindukan diriku
ledakan-ledakan dalam setiap langkahnya
ke manakah dia?

aku merindukan diriku
gairah-gairah dalam setiap nafasnya
ke manakah dia?

Wednesday, September 10, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 5 comments

Suara Hati


Ketika lidah begitu gampangnya berdusta, hati tidak bisa.

Entah kita mendengarnya atau tidak, setiap hari hati kita berbicara. Ia membisikkan lagi impian-impian yang entah kenapa seiring semakin dewasanya usia, semakin mudah kita lupakan dan sangsikan.

Semakin dewasa, kita bukan semakin percaya diri. Kita malah semakin mengecilkan arti diri kita di dalam kehidupan. Kita membangun bermacam batasan, standar, dan alasan untuk “tidak bisa”. Ketika bertemu dengan tantangan, yang terpikir pertama kali adalah bagaimana cara untuk gagal. Sangat berbeda dengan diri kita di masa kecil dulu yang merajuk, memaksa, dan melakukan segala cara untuk bisa. Ingat dulu saat belajar sepeda? Entah berapa kali kita jatuh tapi bangun lagi. Entah berapa kali kita mencuri waktu tidur siang agar bisa latihan. Begitu taatnya kita hingga akhirnya sepeda bisa kita kuasai dengan sempurna. Saat itu, tanpa disadari kita sangat percaya arti berusaha. Sementara ketika dewasa, kita justru terlalu tunduk pada pengharapan–yang sayangnya tidak diikuti oleh pengorbanan.

Jalan Sunyi

Di tengah kehidupan yang bising ini, mengikuti suara hati seringkali menjadi jalan sunyi. Tidak banyak yang bisa mengerti, bahkan bisa jadi hanya Allah Swt dan diri kita sendiri.

Setiap manusia lahir ke dunia dengan peran. Kita semua juga dilengkapi dengar berkah berupa keahlian-keahlian unik yang tidak dimiliki oleh semua orang. Ada kan? Hati kita mengenal berkah itu. Ia pun selalu berteriak-teriak agar kita kembali percaya dengan apa yang dianugerahkan Allah Swt. Atau semuanya hanya akan menjadi kutukan yang bergentayangan selama sisa kehidupan kita.

Baik sekali jika kita mengambil waktu untuk berbicara dengan hati sendiri. Bernostalgia lagi dengan apa yang dulu pernah menjadi semangat dan gairah kehidupan kita. Atau kita juga bisa memilih untuk mengabaikan suaranya. Membiarkannya jadi dingin dan bisu. Kalau sudah begitu, selamat menjadi manusia yang bukan diri kita sendiri. Merdeka?

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)

sumber foto: vi.sualize.us

Saturday, August 16, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 7 comments

Kesempatan


Dari dulu saya berpikir jika semua hal itu mungkin: mungkin gagal, mungkin berhasil. Saya juga percaya bahwa kesempatan bisa jadi hanya datang sekali dan dapat pula muncul berkali-kali.

Kehidupan memiliki ritme yang dinamis. Bisa diprediksi tapi tidak bisa dipastikan. Apalagi jika manusia telah melakukan dua tugas utamanya yaitu berdoa dan berusaha: semua hanya tinggal menunggu hasilnya–kecuali bagi yang tidak pernah mencoba, ia mutlak memperoleh penantian yang sia-sia.

If you never try, you’ll never know. Saya suka sekali sepenggal lirik dari Coldplay ini. Beberapa keputusan dan tindakan besar dalam kehidupan saya juga disemangati oleh kalimat itu. Dalam hal apapun sebenarnya tugas kita simpel saja: mencoba. Persoalan semuanya terwujud sesuai keinginan kita itu sudah lain cerita. Perkara yang terbaik tentu Tuhan lah yang maha tahu.

Di tahun 2014 ini ada beberapa kesempatan yang kembali muncul setelah beberapa tahun terkubur. Saya tidak tahu akhirnya bagaimana: mungkin gagal, mungkin berhasil. Ah, apapun itu, saya akan berusaha sampai akhir.

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)

Sunday, August 3, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 6 comments

Alinea


di buku kita
ada lembar kosong yang belum
beralinea
di sana ada pena
beranikah kita mengambilnya?

Sunday, June 29, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 3 comments

Pasrah


Seburuk-buruk kepasrahan adalah kepasrahan dalam kemalasan.

Kehidupan kita takkan berubah jika kita tidak berbuat apa-apa. Keberhasilan juga hanya menjadi impian jika cara kita memaknai kegagalan hanya itu-itu saja.

Apakah kita bisa melakukan perjalanan jika pekerjaan kita hanya tidur? Apakah sebuah tugas bisa selesai jika tak ada yang mengerjakan? Segala impian memerlukan pergerakan. Harus ada aksi dalam setiap rencana yang kita pikirkan.

Kesuksesan memang enak di dalam pikiran. Seperti melihat jarak Aceh dan Papua di atas peta yang hanya tiga puluh centimeter, padahal realitasnya adalah 5248 kilometer. Ya, berpikiran positif itu boleh, malah sangat dianjurkan. Namun jika usaha kita negatif, apa yang bisa kita dapatkan?

Selagi masih ada kesempatan, mari kita mulai dari sekarang. Menenggelamkan diri secara maksimal dalam usaha, doa, dan penerimaan terhadap keputusan Allah SWT. Itulah sebaik-baik kepasrahan.

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)

Friday, June 20, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 10 comments

Dengan Dia

kau akan bersama
dengan dia
yang seperti dirimu

tidak akan tertukar.

Wednesday, June 4, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 3 comments

Orang Tua Kita


Saya menulis ini karena sedang rindu kepada Ayah dan Mamak. Sebenarnya perasaan ini telah muncul tepat ketika saya pamit ke Jakarta.

Semenjak saya pergi, Mamak hampir setiap hari menelepon. Dua hal yang paling sering ia tanyakan adalah “apa kabar?” dan “apa kau senang?”. Saya selalu menjawab “kabar baik” dan “senang dikit”. Seburuk apapun keadaan saya saat itu, kabar saya memang selalu membaik jika Mamak menelepon. Sementara jawaban kedua seperti sebuah pernyataan bahwa tiada tempat yang lebih menyenangkan dibanding kampung halaman.

Mamak adalah orang yang bangun paling pagi di rumah. Sebelum subuh, ia telah menghidupkan pompa air. Memanaskan lauk. Dan membuka tirai jendela. Jika azan hampir tiba, ia akan berkeliling mengecek apakah kami sudah bangun. Sepulang shalat, biasanya beberapa lembar roti bakar dan secerek teh manis telah tersedia di meja. Sebelum semua itu habis kami lahap, ia akan datang lagi dari dapur dengan membawa tiga piring nasi goreng.


Salah satu kebiasaan Mamak yang khas adalah rutinitasnya meminum herbal. Hampir setiap hari ia meminum air rebusan daun salam. Jika kondisi tubuh sedang tidak fit, ia akan pergi ke pekarangan untuk memungut buah mengkudu. Sarinya diperas lalu diminum. Di malam hari, sebelum tidur, ia biasa memetik daun binahong. Melumatnya dengan tangan, lalu membalurkannya di wajah. Mamak saya tidak begitu suka mengonsumsi obat-obatan kimia kecuali terpaksa.

Sementara Ayah adalah lelaki yang tidak banyak bicara. Jika saya bertanya, ia biasanya menjawab dengan “mmm” yang diikuti anggukan–berarti “ya”, atau terdiam lama yang berarti “tidak”. Dalam hal ini, salah satu keuntungan merantau adalah saya bisa berbicara lebih lama dengannya di telepon.

“Apa kabar?” tanya saya.

“Baik.”

“Bagaimana pekerjaannya?” Ayah sedang menulis disertasi.

“Belum selesai.”

“Kapan pulang ke Aceh?”

“Belum tahu.”

Saya mencatat, pembicaraan kami paling lama berlangsung satu menit-enam belas detik.

Seperti kebanyakan orang tua angkatan 1990-an, Ayah saya memegang prinsip “ketegasan adalah rasa sayang”. Salah satu perwujudannya adalah dengan berbicara seperlunya. Hal ini sebenarnya hanya berlaku di rumah. Sewaktu Taman Kanak-kanak, saya pernah mengikuti Ayah ke kampus. Sepanjang kuliah, ia hampir tidak berhenti berceramah. Saya tertidur karenanya.


Di balik ketegasannya, Ayah gemar menyapu halaman di pagi hari. Ia juga kadang-kadang terlihat mengangkat jemuran dan mencuci piring. Saya baru tahu hal ini keren sejak membaca novel Tere Liye. Entahlah apakah Ayah saya ikut membacanya. Namun yang saya tahu kebiasaan ini sudah berlangsung lama–dan Ayah lebih sering terlihat membaca Al-Quran ketimbang novel.

Ayah juga melakukan pekerjaan yang “ayah sekali”. Jika alat elektronik rusak, ia akan berusaha memperbaikinya. Kalau tidak berhasil, baru dibawa ke toko. Saat saya hobi memelihara ayam, Ayah membeli beberapa batang bambu dan membuatkan kandang. Ayah juga menyambung sendiri pipa air ke dalam sumur. Kalau semuanya ditulis akan banyak sekali. Saya jadi bertanya-tanya dari mana ia belajar semua itu?

Orang tua saya membebaskan saya untuk memilih jalan kehidupan saya sendiri. Mereka membolehkan saya kuliah di mana pun. Bekerja di bidang apapun. Asal saya bahagia. Jika ada satu hal yang mereka paksakan dari dulu, itu adalah shalat. Untuk hal itu, tidak ada kompromi. Saya pernah dihajar pakai sapu lidi sewaktu malas-malasan shalat.

Menjadi orang tua sesungguhnya adalah pekerjaan seumur hidup. Seseorang tidak bisa berhenti menjadi orang tua bahkan ketika ia telah tiada sekalipun. Tidak ada istilah “mantan orang tua”, kan? Ada tanggung jawab yang luar biasa di sana. Tanggung jawab yang harus dibawa hingga ke akhirat kelak. Saya sendiri merasa tidak lama lagi mencapai tahapan ini. Beberapa teman seangkatan bahkan sudah lebih dulu memulai.


Dalam kesempatan ini, saya ingin berterima kasih kepada Ayah dan Mamak yang telah mencontohkan bagaimana menjadi orang tua yang baik. Walaupun mereka tidak pernah secara langsung berkata cinta, tapi sungguh mereka telah menunjukkannya. Bagi mereka, cinta adalah kata kerja. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Selagi masih ada waktu, saya mengajak teman-teman untuk mendoakan orang tua kita. Berbakti kepada mereka. Dan akhirnya, jika Allah SWT kelak mengizinkan saya masuk surga, saya punya satu permintaan: menjadi anak Ayah dan Mamak lagi.

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)

sumber foto: dok. pribadi

Monday, May 26, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 17 comments

Harga


Sesungguhnya setiap impian memiliki harga. Ketika kita ingin mendapatkan sesuatu, kita harus membelinya.

Seorang pemuda yang ingin menjadi hafiz Al-Quran harus rela menyisihkan waktu untuk menghafalnya. Menjaga diri dari dosa yang konon dapat menghapus hafalan. Dan ketika telah khatam, ia juga harus berkomitmen untuk mengulang hafalan tersebut setiap hari.

Begitu juga pemain sepakbola profesional. Mereka tidak terlahir langsung sebagai pemain bola. Ada harga yang harus mereka bayar untuk mewujudkannya. Mulai dari memfokuskan diri untuk bergabung dengan klub sedari kecil. Menjaga pola makan. Rutin menempa tubuh di gym. Dan berkomitmen untuk terus meningkatkan prestasi agar bisa bermain di level yang paling tinggi.

Semakin besar ‘harga’ (baca: usaha) yang kita ‘bayar’, semakin dekat pula kita dengan impian. Jika usahanya tidak maksimal, pemuda yang berniat menjadi hafiz tersebut barangkali hanya mampu menghafal satu juz Al-Quran, dan pemain sepakbola tadi hanya sanggup menjadi bintang di turnamen antar kampung.

Percaya atau tidak, setiap orang yang kita kagumi–entah itu orang tua kita, artis, penulis, dai, dosen, chef, desainer, awardee beasiswa atau siapapun–telah berusaha dengan keras untuk mencapai posisi tersebut. Semua itu penuh tantangan. Atau jika kita berpikir itu tidak sulit, barangkali itu terjadi karena kita tidak melihat prosesnya, hanya hasil jadi.

Ah, itu sih karena bakat!

Bakat yang tidak diasah bisa hilang. Bakat yang tidak diwujudkan sebagai karya juga tidak bisa diapresiasi. Mirip seperti seseorang yang memiliki bakat menulis tapi ia tidak menulis. Atau ia menulis tapi hanya menyimpan karyanya di dalam lemari.

Bagaimana dengan takdir?

Takdir juga bermula dari usaha. Bagaimana mungkin seseorang bisa meraih Piala Oscar jika ia tidak pernah sekalipun bermain film?

Akhirnya, apa sebenarnya impian kita? Apakah kita sudah membayar dengan harga yang pantas untuk memilikinya? Atau jangan-jangan kita hanya tidur dan berharap semuanya terjadi begitu saja? Mimpi.

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)

sumber foto: vi.sualize.us

Sunday, May 25, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 11 comments

Safar


Dua langkahku di depan
Tiga langkah bayanganku telah berada di belakang

Safar
Sesungguhnya hanya gerakan memutar
Menuju kampung halaman.

Sunday, May 18, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Masa Lalu


Saya menyimpan cerpen karangan saya di berapa folder. Yang sudah rampung saya namai “selesai” dan yang masih dalam pengerjaan saya beri keterangan “belum siap”.

Entah apa yang terjadi, cerpen di folder “belum siap” semakin menumpuk. Saya berencana menyelesaikannya tapi semuanya hanya tinggal rencana. Malah yang terjadi kemudian adalah saya mendapatkan ide baru, menuliskannya di Word, dan menyimpannya lagi di folder itu. Alhasil, dari hari ke hari, laptop saya sudah seperti tong sampah.

Hari ini saya kembali melihat-lihat ke sana. Membaca ulang tulisan-tulisan di dalamnya. Walau ide-ide di sana banyak yang menurut saya menarik, tapi apa gunanya jika tidak diselesaikan. Saya pun berencana menghapusnya. Seperti seseorang yang ingin membuat kue, lalu membeli bahan-bahannya, dan menyimpannya di kulkas. Tapi ya semua hanya sampai di situ. Ia tidak jadi buat kue. Semua bahan menumpuk dan mulai membusuk.

Namun alih-alih membuangnya, saya memilih untuk melakukan hal– yang bisa jadi tidak penting–yaitu menamainya lagi (rename) dengan nama “masa lalu”.

Saya suka nama itu. Seperti ada kenangan yang tiba-tiba membaui seluruh ruangan ingatan saya. Saya seperti dibawa kembali ke sebuah masa ketika Ayah baru membelikan saya komputer. Warnanya putih dan jika dihidupkan ia akan berbunyi seperti mobil yang sedang dipanaskan. Saya senang sekali. Setiap hari saya mengambil buku teks pelajaran lalu menyalin tulisan di buku itu ke komputer. Ada kesenangan tersendiri saat jemari saya menyentuh keyboard, menyelesaikan beberapa halaman, dan Mamak berkata: “Bagus!”. Saya merasa itulah momen ketika saya mulai jatuh cinta kepada dunia penulisan.

Selain membuat “masa lalu”, saya juga membikin folder lain bernama “langkah baru”. Saya berencana mengopi sebuah tulisan di “masa lalu” ke folder baru itu lalu benar-benar menyelesaikannya sebelum mulai mengerjakan tulisan yang lain. Saya tiba-tiba terpikir: jika hubungan cinta yang rusak saja bisa diperbaiki, tulisan yang berhenti pasti juga bisa dilanjutkan.

Ya, semoga rencana ini tidak sekadar menjadi rencana. Memperbaiki masa lalu hanya membutuhkan komitmen, bukan?

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)

Thursday, May 15, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 11 comments

Setelah Semuanya


Setiap hari di dalam kehidupan, kita selalu mengejar apa yang kita inginkan. Berburu pendidikan. Merintis karir. Mengejar passion. Mencari hiburan. Mengusahakan cinta. Dan segala macam hal lainnya. Lalu kemudian, andaikata suatu hari nanti semuanya dapat kita peroleh, setelah itu apa lagi?

Saya hanya tiba-tiba terpikir hal ini. Setelah semua hasrat kehidupan kita terpenuhi, kita semua akan mati. Itu pasti.

Saya ingat dulu pernah berbicara dengan seorang Kepala Desa yang takut sekali naik kapal laut. Saat ditanya alasannya, ia berkata: “Di laut, kaki saya tak bisa berpijak. Di sana, manusia bukanlah penguasa.” Bapak tersebut kemudian memberi contoh seorang manusia yang dikejar oleh harimau di hutan. Ia bisa berlari, bersembunyi, naik ke atas pohon, atau menggunakan segala macam benda di hutan untuk mempertahankan diri. Tapi andaikata di tengah samudera manusia itu diburu oleh hiu, ia hanya bisa berenang–dan itu sungguh tidak mencukupi.

Ini mirip dengan dunia dan akhirat. Di dunia kita masih bisa berkelit. Lari sana-lari sini. Berbuat sesuka hati. Tapi di akhirat nanti? Hanya Allah SWT saja yang punya kuasa. Kita? Hanya bisa menerima konsekuensi dari segala hal yang telah kita lakukan di dunia.

Kematian adalah salah satu rahasia Allah SWT. Kita tidak pernah tahu kapan malaikat maut datang menghampiri. Oleh karena itu, ada baiknya mulai dari sekarang kita mencoba berpikir lagi: sudahkah kita bertakwa kepada Allah SWT? Jika ya, mari kita berniat untuk istiqamah. Jika belum, sekaranglah waktunya untuk berubah. Selagi masih ada waktu.

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)

sumber foto: dok. pribadi

Saturday, May 3, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 11 comments

Kipas Angin


Saya pernah bersujud syukur di halaman sekolah setelah melihat pengumuman Ujian Nasional. Saya pernah pula bersujud syukur di lantai kamar ketika mengetahui cerpen saya terbit di koran. Namun baru kali ini saya bersujud ketika membeli kipas angin.

Kosan saya berada di perkampungan padat penduduk. Rumah-rumah saling berhimpitan. Bahkan jika sedang berada di dalam kamar, sinyal hp saya bisa hilang–saking berdesaknya bangunan. Tak heran, orang-orang di rumah saya gemar tidur agak telat. Bukan karena menonton televisi, tapi mereka menunggu agar suasana lebih dingin.

Panas sebenarnya bukan persoalan utama. Saya sering menyiasatinya dengan mandi sebelum tidur. Hal ini cukup ampuh pada malam-malam perdana. Namun kemudian, entah dari mana, nyamuk-nyamuk mulai bergerilya pada malam-malam selanjutnya. Alhasil saya sering terbangun tengah malam dengan badan bercucuran keringat, kulit bentol, dan emosi yang tinggi. Akhirnya, pagi pun menjadi suram karena malam tidak berlangsung aman. Hal itu berlangsung hampir dua minggu.

Saya yakin sebagian besar nyamuk hinggap dan mengisap darah dari kepala saya. Bagaimana tidak, setelah sekian hari, kemarin saya baru kepikiran untuk membeli kipas angin. Solusi yang sebenarnya sangat sederhana sekali. Panas hilang. Nyamuk melayang.

Maka selama sekitar lima belas menit saya berjalan dari toko elektronik ke kosan, saya senyam-senyum sendiri. Tanpa sadar, saya menggendong si kipas angin baru. Persis seperti bayi. Padahal, sang penjual sudah mengikat tali di kotaknya agar bisa saya jinjing–ia tahu saya jalan kaki.

Oh. Solusi memang seringkali ada di depan mata. Manusia saja yang luput melihatnya.

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)

sumber foto: dok. pribadi

Saturday, April 12, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 9 comments

Lingkaran Keseimbangan


Dilatari Bukan Pilihan-nya Iwan Fals, Kopaja yang saya tumpangi terus melaju. Bangku penumpang yang tadinya penuh mulai ditinggalkan satu-satu. Bahkan kenek perempuan yang sedari tadi sibuk mengabarkan nama halte selanjutnya, juga melompat turun di salah satu lampu merah. Pukul 21.30 WIB. Separuh bagian dari Jakarta memang sedang pulang.

Saya tiba di Jakarta akhir Maret. Di atas kertas, ini semua adalah tentang pekerjaan. Namun di atas segalanya, sesungguhnya saya hanya ingin merantau. Bagaimana rasanya hidup di atas kaki sendiri? Saya ingin menjawab pertanyaan itu.

Apa yang kurang dari Aceh? Tidak ada. Semua begitu sempurna. Di sana ada keluarga, teman, pekerjaan, semuanya. Segalanya begitu seimbang. Makan tiga kali sehari. Baju ada yang mencuci. Tak perlu khawatir kehabisan uang–apalagi kepikiran untuk berhutang. Saya berada di dalam lingkaran keseimbangan.

Penumpang dan Pengemudi

Sesungguhnya ketika kita merantau, kita sedang keluar dari sebuah lingkaran keseimbangan dan membuat lingkaran keseimbangan kita sendiri. Kita menjadi pengemudi, bukan penumpang lagi.

Saya meniatkan perantauan ini sebagai pembelajaran. Bagaimana mengurus diri sendiri–mulai dari bangun hingga tidur lagi. Bagaimana mengatur makan, pakaian, keuangan, dan keimanan. Saya cemburu dengan teman-teman yang sudah memulai ‘ritual’ ini jauh-jauh hari. Sementara saya baru bisa memulainya di umur dua puluh tiga tahun.

Kali ini saya belajar mengemudikan kenderaan saya sendiri. Saya berharap, suatu hari nanti saya mampu mengemudikan kenderaan yang lebih besar lagi – tentunya setelah mengajak seseorang untuk menemani. Nah lho?

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)

sumber foto: Dok. Pribadi

Thursday, April 10, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 16 comments

Bendera


Menjelang 17 Agustus, salah satu tradisi di rumah saya adalah mencari bendera. Entah bagaimana kami terlalu sembrono dalam menyimpannya. Ketika perlu, tak tahu lagi ia berada di mana.

Yang paling marah dengan kejadian ini adalah Ayah. Bagaimana tidak, saban tahun ia harus mengeluarkan uang untuk membeli bendera. Dipakai pun hanya beberapa hari saja. Sementara yang paling sibuk adalah Mamak. Layaknya detektif, ia menyisir seluruh isi rumah. Dua anggota keluarga lain yang paling santai adalah saya dan adik. Bukan apa-apa, kami telah memiliki tugas sendiri. Saya bertugas mengibarkan bendera – jika nanti sudah ditemukan atau dibeli baru, dan adik saya bertugas melihatnya – nanti ketika badannya sudah cukup tinggi, ia yang akan menggantikan posisi saya.

Lagi dan Lagi

Agustus memang masih beberapa bulan lagi. Saya hanya tiba-tiba terpikir tentang bendera ketika sedang mengajar bahasa Inggris. Apa hubungannya?

Saban kali memulai kelas baru, saya selalu menemukan persoalan yang sama: peserta didik lupa cara berkomunikasi dengan benar. Pola kalimat yang mereka susun amburadul. Sebabnya, mereka gagal dalam menggunakan ramuan grammar paling dasar: simple present tense.

Seperti halnya keluarga kami yang selalu kehilangan bendera setiap tahun, mungkin mereka juga lupa meletakkan ilmu present tense ini di otak bagian mana. Sehingga ketika diperlukan, hal itu sulit sekali ditemukan. Akhirnya, jika kami terpaksa membeli bendera baru setiap tahun, mereka juga harus mengulang lagi materi yang sama setiap semester.

Padahal, setiap peserta didik (umur mereka 20 tahun) mengaku telah belajar bahasa Inggris sejak SMP. Jadi rata-rata mereka telah belajar bahasa asing ini selama enam tahun. Dan selalu saja, tidak pernah tidak, simple present tense pasti dibahas di sekolah. Pasti. Seperti pastinya kita meminum air setelah makan nasi. Maka ketika peserta tidak memahami sesuatu setelah bertahun-tahun mempelajarinya, sepertinya ada yang tidak benar. Apakah dulu ketika masih sekolah mereka melamunkan cinta monyet saat guru sedang mengajar? Apakah mereka memang tidak menyukai bahasa Inggris sehingga otaknya jadi otomatis menutup ketika belajar? Ataukah mereka hanya pura-pura tidak bisa karena memegang prinsip low profile dalam kehidupannya? Entahlah. Yang pasti sekarang mereka kembali berada di kelas bahasa Inggris untuk menemukan sesuatu yang sama.

Saya menulis ini karena prihatin. Waktu terus berlalu dan tidak baik jika kita terus berkutat di hal yang itu-itu saja. Mungkin untuk maksud memperkuat boleh, tapi jika tujuannya adalah memulai sesuatu dari awal (lagi dan lagi), saya rasa hal ini tidak bisa terus-menerus kita lakukan. Waktu akan terbuang. Ini berlaku untuk hal apapun, tidak hanya belajar bahasa Inggris.

Jadi alangkah baiknya jika sekarang kita memperlakukan sesuatu secara benar. Mulai dari niat, cara mendapatkan, pengamalan, hingga metode penyimpanan, semua harus diperhatikan. Sebagai informasi, tadi pagi saya melihat bendera telah dilipat rapi di dalam lemari baju saya. Sepertinya tahun ini kami tidak perlu membeli bendera baru lagi :D


Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)

Wednesday, March 12, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 10 comments

Ketidakjelasan


Ketidakjelasan seringkali menyakitkan. Terlebih karena ia berada di masa depan: tempat pikiran dan jiwa kita berada - walau tubuh kita tidak di sana.

Ketidakjelasan memerlukan jawaban. Dalam hal apapun, kita tidak bisa terus hidup dengan pertanyaan yang belum dijawab atau menggantung. Apalagi jika pertanyaan tersebut berkaitan dengan keputusan penting dalam hidup kita, seperti persoalan karir atau cinta.

Menunggu adalah salah satu tindakan yang bisa menjawab ketidakjelasan. Tapi mencari tahu adalah sebuah tindakan lain yang lebih baik. Entah itu “ya” atau “tidak”. Minimal kita memiliki salah satunya (baca: jelas) ketimbang tidak mendapatkan dua-duanya (baca: tidak jelas).

Semakin dibuat berlarut-larut, ketidakjelasan hanya akan membuat sakit jiwa dan pikiran. Maka, jangan menunggu lama untuk mendapatkan jawaban – karena sungguh banyak hal lain yang menanti untuk kita perhatikan.


Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)

Saturday, March 8, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 8 comments

Untitled

ini aku
dari hati
tahun ini
mungkin yang terakhir kali?

Thursday, March 6, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 2 comments

Gam Inong Bloggers


Jika kita ingin mengenal sebuah daerah secara dalam, bicaralah dengan penduduknya. Jika itu terlalu sulit, dengarlah pembicaraan mereka. Jika itu masih terlalu mustahil, bacalah tulisan mereka. Atau kalau masih tidak bisa juga, berdoalah. Mudah-mudahan Anda akan paham sendiri.

GIB

Gam Inong Blogger (GIB) adalah salah satu tempat untuk menemukan Aceh. Anda akan mengenal Aceh dari sudut pandang orang Aceh.

GIB beberapa waktu lalu memberikan tugas kepada setiap member-nya untuk memperkenalkan member lain yang dikenalnya dalam kehidupan nyata. Tujuannya agar para anggota yang selama ini hanya mengenal anggota lain dari tulisan mereka, bisa tahu lebih dalam tentang teman-temannya itu.

Berikut saya perkenalkan tiga orang anggota GIB: Baiquni, Khaira, dan Fahrul.

Selamat PDKT!

Baiquni


Di balik penampilannya yang selalu tampak segar dan pas, siapa sangka jika Bang Bai adalah seorang dosen di UIN Ar-Raniry. Apa rahasia awet mudanya? Cukup sering-sering ngopi dengan mahasiswa (baca: anak muda), niscaya kemudaan itu akan merambat dengan sendirinya. Hahaha. Saya bercanda. Itu kata-kata saya, bukan bisikan Bang Bai.

Menurut pengakuan beberapa teman, Bang Bai adalah salah satu tipe orang yang bisa diajak apa saja: ngopi, sharing, belajar, jalan-jalan, jogging, pokoknya apa saja. Saya sendiri paling banyak melakukan kegiatan yang pertama: ngopi.

Ngopi dengan Bang Bai biasanya bukan sekadar ngopi. Ada saja topik yang dibahas. Belakangan yang paling sering kami bicarakan adalah pernikahan. Bukan soal tanggal atau mahar (belum ada calon), tapi lebih kepada hal-hal ringan seperti bagaimana seulangkee (mak comblang) bekerja, apa definisi siap menikah, serta bagaimana caranya menjadi lelaki yang baik dan bertanggung jawab.

Selain aktif di kampus, Bang Bai juga bergiat di sebuah lembaga riset di Aceh. Nanti jika jumpa lagi, saya ingin meminta hasil penelitiannya tentang “tipe-tipe calon mertua dan tips menghadapinya”. Walau sepertinya tidak ada, saya selalu berusaha untuk positive thinking.

Baiquni’s links:

Khaira


Saya berada satu unit dengan Khaira sekitar empat tahun di Jurusan TEN/ PBI UIN Ar-Raniry – walau kami tidak setiap hari bicara karena ia termasuk kategori “mahasiswi nomaden” – suka berpindah-pindah unit.

Pada tahun 2011-2012, keberadaan Khaira cukup penting bagi saya. Saat itu, ia menerima tawaran saya sebagai the Messenger alias penyampai pesan. Minimal tiga kali seminggu saya berkirim pesan kepada seseorang. Seseorang itu juga mengirim pesan kepada saya dan semuanya melalui Khaira. Kenapa tidak melalui sms atau pesan FB? Karena itu terlalu mainstream dan kurang greget.

Sayangnya, pada akhir 2012, Khaira terkena PHK karena saya dan seseorang itu tidak berkirim pesan lagi. Sayang sekali. By the way, thanks ya!

Selain sebagai the Messenger, Khaira juga dikenal sebagai The Queen of TOEFL di kampus kami. Saya lupa angka pastinya, tapi pokoknya di atas 600. Namun jangan coba-coba menyuruhnya jadi joki TOEFL ya, bisa-bisa Anda akan ditabok dengan buku Barron.

Khaira’s links:

Fahrul


Quote yang selalu diingat Fahrul adalah: calon suami terbaik ialah pendaki gunung. Jika ia terlihat senyum-senyum sendiri ketika ngopi, mungkin ia sedang melamunkan itu.

Fahrul juga merupakan alumnus Jurusan TEN/ PBI UIN Ar-Raniry. Jika kebanyakan lulusan lain banyak berakhir di ruang kelas, Fahrul justru menemukan cintanya di pegunungan. Hobi tersebut pula yang membuatnya memilih menjadi tour operator di sebuah biro perjalanan.

Cita-cita Fahrul yang lain adalah menjadi backpacker. Tak heran, terkadang ketika saya mengajak ngopi, ia membalas, “Aku lagi di Jogja.”

Namun, walaupun berniat menjadi backpacker, ia tidak ingin mendapatkan istri seorang backpacker. Ia khawatir jika suatu hari ia mendapati rumah dalam keadaan terkunci.

“Sayang, kamu di mana?” tanya Fahrul dari telepon.

“Papi, aku baru aja sampai di Nepal! Jaga rumah ya!!” jawab sang istri.

Fahrul’s links:
Facebook

Nah. Itulah tiga dari puluhan blogger GIB. Jika mau tahu lebih lanjut, kunjungi saja grup GIB di Facebook :) Salam.


Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)
sumber foto: friends' document  

Saturday, March 1, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 18 comments

Rutinitas


Semakin sering kita melakukan sesuatu, semakin ahli pula kita akan hal itu. Dalam hal apapun.

Seseorang yang suka tidur, akan menjadi ahli tidur. Tidur baginya mudah sekali. Ia seakan memiliki tombol untuk mematikan dunia nyata dan masuk ke dunia mimpi. Tidak perlu meminum sedatif atau obat tidur.

Pengulangan

Kita semua memiliki rutinitas. Hal yang kita lakukan dari pagi hingga pagi berikutnya. Ia seringkali merupakan rangkaian hal yang sama: kata kerja yang sama, jalan yang itu-itu saja, kedai kopi langganan, rentetan kegiatan yang terus berulang.

Semua hal itu membentuk kita. Orang-orang akan menyebut kita sebagai “guru” jika kegiatan harian kita adalah mengajar. Teman-teman akan memanggil kita dengan sebutan “ahli hisap” jika rokok adalah penghias hari-hari kita. Suka atau tidak, semua kegiatan membentuk image yang melekat pada diri seseorang.

Lalu apa pentingnya rutinitas?

Semua karena kita memiliki impian.

Ali menjadi petinju karena ia rutin berlatih dan bertanding. Pram menjadi penulis karena ia menulis.  Mereka menjadi apa yang mereka lakukan. Maka jika kita ingin menjadi sesuatu, lakukanlah kegiatan yang menuntun kita ke arah itu. Terus-menerus. Tanpa berhenti. Sampai kita tidak sanggup lagi.

Maka jangan terkejut jika nanti tanpa kita sadari semua impian itu kita peroleh. Entah suatu hari kita menyadari di depan kaca bahwa perut sudah six-pack (karena rutin berolahraga) atau suatu malam kita menjerit di rumah sakit ketika mendengar vonis kanker paru-paru dari dokter (karena rutin merokok).

Akhirnya, seperti halnya setiap hal di dunia ini, rutinitas adalah pilihan. Mau jadi apa. Terserah kita. Sip?


Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :) 

Thursday, February 27, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 20 comments

Passionarealista


Pada suatu pertemuan, saya menugaskan anak-anak untuk mempresentasikan cita-cita mereka. Sebentar lagi mereka akan tamat sekolah. Tidak ada salahnya untuk mengingat-ingat lagi mimpi dan harapan. Minimal mereka memiliki arah dan gambaran masa depan – dari suara hati mereka sendiri, bukan perspektif orang lain.

Saya senang juga. Di tahun 2014 ini saya masih mendengar cita-cita hebat khas anak-anak, semisal astronot dan presiden. Saya kira di zaman serba realistis ini tidak ada lagi orang yang percaya dengan mimpi.

Di tengah-tengah sesi presentasi, seorang anak bertanya kepada saya: cita-cita Bapak apa? Saya menyesal lupa membuat peraturan “DILARANG MENANYAI GURU”. Hahaha. Bercanda. Saya hanya tidak begitu siap untuk menjawabnya.

Saya pun memerlukan waktu beberapa detik untuk berpikir. Jika mau jujur, saya jadi malu sendiri. Jika berbohong, saya tidak memberikan teladan yang baik. Akhirnya, saya memilih pilihan yang pertama dengan mengatakan: Bapak ingin menjadi penulis.

Mendengar jawaban itu, anak-anak pun merespon dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah saya duga: sudah punya buku? Berapa buah? Buku jenis apa yang ditulis? Apa judulnya?

Saya pun dengan terpaksa mengulang lagi deretan buku-buku zaman dahulu kala yang sekarang saya yakin tidak lagi dipajang di etalase toko, tapi rak-rak para kolektor – saking lamanya. Mau cerita apa lagi. Memang begitulah adanya. Dalam hati, saya sebenarnya juga ingin bercerita tentang tulisan yang dimuat di surat kabar. Tapi tidak jadi karena rasanya kurang greget.

Diskusi kami terus berlanjut. Seperti acara ‘bedah buku’ yang sedang klimaks, muncul lagi pertanyaan yang lebih tidak saya inginkan: jika Bapak bercita-cita menjadi penulis, kenapa sekarang malah jadi guru?

Pertanyaan yang sulit. Dan anak yang bertanya itu – ia sebelumnya mengatakan ingin menjadi dokter, seharusnya menjadi host Mata Najwa jika nanti Najwa Shihab pensiun. Walau sayang, ia takkan bisa karena jenis kelaminnya laki-laki dan matanya bukan mata Najwa.

Passion vs Realitas

Passion berarti antusiasme atau kecenderungan manusia terhadap suatu hal. Jika kita nyaman, merasa tidak butuh dibayar, atau senang-senang saja dalam melakukan sesuatu, maka itu disebut passion.

Tantangannya adalah ketika usia kita semakin dewasa dan kewajiban meluas. Jika dulunya kita diberikan kebutuhan, maka ada masanya ketika kita menjadi pemberi. Maka kemudian kita memerlukan uang dan membutuhkan pekerjaan. Lalu bagaimana dengan passion?

Sebagian orang sukses mengubah passion menjadi pekerjaan. Seseorang yang cinta sekali memancing, ia mendirikan usaha pemancingan. Ia pun seperti tidak bekerja dan hebatnya lagi ia memperoleh penghasilan.

Namun tidak semua berakhir manis seperti itu. Sebagian lain justru terpaksa berhenti, sementara atau selama-lamanya. Tidak tahan dengan deraan pertanyaan, “Kerjaan kamu apa, kenapa setiap hari kerjanya hanya main-main saja?”


Passionarealista

Kesabaran adalah kunci dari semuanya. Banyak contoh orang yang berhasil mengikuti passion-nya walau dengan proses yang berdarah-darah. Tidak mungkin seseorang sama sekali tidak mendapatkan apa-apa jika ia telah berusaha sekuat tenaga. Insya Allah.

Lalu bagaimana dengan orang yang belum sanggup melakukan semua itu?

Ada baiknya untuk sedikit realistis. Mengambil dan menjalani dulu peluang yang ada. Sambil tentunya tidak melupakan bahwa kita punya passion! Terlebih apapun ceritanya, kita masih punya waktu 24 jam. Jika memang berniat, kita bisa membagi waktu, bukan?

Maka passion + reality = Passionarealista.

Belum ada dalam kamus.

***

“Jika Bapak bercita-cita menjadi penulis, kenapa sekarang malah jadi guru?”

“Takdir, Nak.”


sumber gambar

Monday, January 27, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 16 comments