Archive for May 2014

Orang Tua Kita


Saya menulis ini karena sedang rindu kepada Ayah dan Mamak. Sebenarnya perasaan ini telah muncul tepat ketika saya pamit ke Jakarta.

Semenjak saya pergi, Mamak hampir setiap hari menelepon. Dua hal yang paling sering ia tanyakan adalah “apa kabar?” dan “apa kau senang?”. Saya selalu menjawab “kabar baik” dan “senang dikit”. Seburuk apapun keadaan saya saat itu, kabar saya memang selalu membaik jika Mamak menelepon. Sementara jawaban kedua seperti sebuah pernyataan bahwa tiada tempat yang lebih menyenangkan dibanding kampung halaman.

Mamak adalah orang yang bangun paling pagi di rumah. Sebelum subuh, ia telah menghidupkan pompa air. Memanaskan lauk. Dan membuka tirai jendela. Jika azan hampir tiba, ia akan berkeliling mengecek apakah kami sudah bangun. Sepulang shalat, biasanya beberapa lembar roti bakar dan secerek teh manis telah tersedia di meja. Sebelum semua itu habis kami lahap, ia akan datang lagi dari dapur dengan membawa tiga piring nasi goreng.


Salah satu kebiasaan Mamak yang khas adalah rutinitasnya meminum herbal. Hampir setiap hari ia meminum air rebusan daun salam. Jika kondisi tubuh sedang tidak fit, ia akan pergi ke pekarangan untuk memungut buah mengkudu. Sarinya diperas lalu diminum. Di malam hari, sebelum tidur, ia biasa memetik daun binahong. Melumatnya dengan tangan, lalu membalurkannya di wajah. Mamak saya tidak begitu suka mengonsumsi obat-obatan kimia kecuali terpaksa.

Sementara Ayah adalah lelaki yang tidak banyak bicara. Jika saya bertanya, ia biasanya menjawab dengan “mmm” yang diikuti anggukan–berarti “ya”, atau terdiam lama yang berarti “tidak”. Dalam hal ini, salah satu keuntungan merantau adalah saya bisa berbicara lebih lama dengannya di telepon.

“Apa kabar?” tanya saya.

“Baik.”

“Bagaimana pekerjaannya?” Ayah sedang menulis disertasi.

“Belum selesai.”

“Kapan pulang ke Aceh?”

“Belum tahu.”

Saya mencatat, pembicaraan kami paling lama berlangsung satu menit-enam belas detik.

Seperti kebanyakan orang tua angkatan 1990-an, Ayah saya memegang prinsip “ketegasan adalah rasa sayang”. Salah satu perwujudannya adalah dengan berbicara seperlunya. Hal ini sebenarnya hanya berlaku di rumah. Sewaktu Taman Kanak-kanak, saya pernah mengikuti Ayah ke kampus. Sepanjang kuliah, ia hampir tidak berhenti berceramah. Saya tertidur karenanya.


Di balik ketegasannya, Ayah gemar menyapu halaman di pagi hari. Ia juga kadang-kadang terlihat mengangkat jemuran dan mencuci piring. Saya baru tahu hal ini keren sejak membaca novel Tere Liye. Entahlah apakah Ayah saya ikut membacanya. Namun yang saya tahu kebiasaan ini sudah berlangsung lama–dan Ayah lebih sering terlihat membaca Al-Quran ketimbang novel.

Ayah juga melakukan pekerjaan yang “ayah sekali”. Jika alat elektronik rusak, ia akan berusaha memperbaikinya. Kalau tidak berhasil, baru dibawa ke toko. Saat saya hobi memelihara ayam, Ayah membeli beberapa batang bambu dan membuatkan kandang. Ayah juga menyambung sendiri pipa air ke dalam sumur. Kalau semuanya ditulis akan banyak sekali. Saya jadi bertanya-tanya dari mana ia belajar semua itu?

Orang tua saya membebaskan saya untuk memilih jalan kehidupan saya sendiri. Mereka membolehkan saya kuliah di mana pun. Bekerja di bidang apapun. Asal saya bahagia. Jika ada satu hal yang mereka paksakan dari dulu, itu adalah shalat. Untuk hal itu, tidak ada kompromi. Saya pernah dihajar pakai sapu lidi sewaktu malas-malasan shalat.

Menjadi orang tua sesungguhnya adalah pekerjaan seumur hidup. Seseorang tidak bisa berhenti menjadi orang tua bahkan ketika ia telah tiada sekalipun. Tidak ada istilah “mantan orang tua”, kan? Ada tanggung jawab yang luar biasa di sana. Tanggung jawab yang harus dibawa hingga ke akhirat kelak. Saya sendiri merasa tidak lama lagi mencapai tahapan ini. Beberapa teman seangkatan bahkan sudah lebih dulu memulai.


Dalam kesempatan ini, saya ingin berterima kasih kepada Ayah dan Mamak yang telah mencontohkan bagaimana menjadi orang tua yang baik. Walaupun mereka tidak pernah secara langsung berkata cinta, tapi sungguh mereka telah menunjukkannya. Bagi mereka, cinta adalah kata kerja. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Selagi masih ada waktu, saya mengajak teman-teman untuk mendoakan orang tua kita. Berbakti kepada mereka. Dan akhirnya, jika Allah SWT kelak mengizinkan saya masuk surga, saya punya satu permintaan: menjadi anak Ayah dan Mamak lagi.

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)

sumber foto: dok. pribadi

Monday, May 26, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 17 comments

Harga


Sesungguhnya setiap impian memiliki harga. Ketika kita ingin mendapatkan sesuatu, kita harus membelinya.

Seorang pemuda yang ingin menjadi hafiz Al-Quran harus rela menyisihkan waktu untuk menghafalnya. Menjaga diri dari dosa yang konon dapat menghapus hafalan. Dan ketika telah khatam, ia juga harus berkomitmen untuk mengulang hafalan tersebut setiap hari.

Begitu juga pemain sepakbola profesional. Mereka tidak terlahir langsung sebagai pemain bola. Ada harga yang harus mereka bayar untuk mewujudkannya. Mulai dari memfokuskan diri untuk bergabung dengan klub sedari kecil. Menjaga pola makan. Rutin menempa tubuh di gym. Dan berkomitmen untuk terus meningkatkan prestasi agar bisa bermain di level yang paling tinggi.

Semakin besar ‘harga’ (baca: usaha) yang kita ‘bayar’, semakin dekat pula kita dengan impian. Jika usahanya tidak maksimal, pemuda yang berniat menjadi hafiz tersebut barangkali hanya mampu menghafal satu juz Al-Quran, dan pemain sepakbola tadi hanya sanggup menjadi bintang di turnamen antar kampung.

Percaya atau tidak, setiap orang yang kita kagumi–entah itu orang tua kita, artis, penulis, dai, dosen, chef, desainer, awardee beasiswa atau siapapun–telah berusaha dengan keras untuk mencapai posisi tersebut. Semua itu penuh tantangan. Atau jika kita berpikir itu tidak sulit, barangkali itu terjadi karena kita tidak melihat prosesnya, hanya hasil jadi.

Ah, itu sih karena bakat!

Bakat yang tidak diasah bisa hilang. Bakat yang tidak diwujudkan sebagai karya juga tidak bisa diapresiasi. Mirip seperti seseorang yang memiliki bakat menulis tapi ia tidak menulis. Atau ia menulis tapi hanya menyimpan karyanya di dalam lemari.

Bagaimana dengan takdir?

Takdir juga bermula dari usaha. Bagaimana mungkin seseorang bisa meraih Piala Oscar jika ia tidak pernah sekalipun bermain film?

Akhirnya, apa sebenarnya impian kita? Apakah kita sudah membayar dengan harga yang pantas untuk memilikinya? Atau jangan-jangan kita hanya tidur dan berharap semuanya terjadi begitu saja? Mimpi.

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)

sumber foto: vi.sualize.us

Sunday, May 25, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 11 comments

Safar


Dua langkahku di depan
Tiga langkah bayanganku telah berada di belakang

Safar
Sesungguhnya hanya gerakan memutar
Menuju kampung halaman.

Sunday, May 18, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Masa Lalu


Saya menyimpan cerpen karangan saya di berapa folder. Yang sudah rampung saya namai “selesai” dan yang masih dalam pengerjaan saya beri keterangan “belum siap”.

Entah apa yang terjadi, cerpen di folder “belum siap” semakin menumpuk. Saya berencana menyelesaikannya tapi semuanya hanya tinggal rencana. Malah yang terjadi kemudian adalah saya mendapatkan ide baru, menuliskannya di Word, dan menyimpannya lagi di folder itu. Alhasil, dari hari ke hari, laptop saya sudah seperti tong sampah.

Hari ini saya kembali melihat-lihat ke sana. Membaca ulang tulisan-tulisan di dalamnya. Walau ide-ide di sana banyak yang menurut saya menarik, tapi apa gunanya jika tidak diselesaikan. Saya pun berencana menghapusnya. Seperti seseorang yang ingin membuat kue, lalu membeli bahan-bahannya, dan menyimpannya di kulkas. Tapi ya semua hanya sampai di situ. Ia tidak jadi buat kue. Semua bahan menumpuk dan mulai membusuk.

Namun alih-alih membuangnya, saya memilih untuk melakukan hal– yang bisa jadi tidak penting–yaitu menamainya lagi (rename) dengan nama “masa lalu”.

Saya suka nama itu. Seperti ada kenangan yang tiba-tiba membaui seluruh ruangan ingatan saya. Saya seperti dibawa kembali ke sebuah masa ketika Ayah baru membelikan saya komputer. Warnanya putih dan jika dihidupkan ia akan berbunyi seperti mobil yang sedang dipanaskan. Saya senang sekali. Setiap hari saya mengambil buku teks pelajaran lalu menyalin tulisan di buku itu ke komputer. Ada kesenangan tersendiri saat jemari saya menyentuh keyboard, menyelesaikan beberapa halaman, dan Mamak berkata: “Bagus!”. Saya merasa itulah momen ketika saya mulai jatuh cinta kepada dunia penulisan.

Selain membuat “masa lalu”, saya juga membikin folder lain bernama “langkah baru”. Saya berencana mengopi sebuah tulisan di “masa lalu” ke folder baru itu lalu benar-benar menyelesaikannya sebelum mulai mengerjakan tulisan yang lain. Saya tiba-tiba terpikir: jika hubungan cinta yang rusak saja bisa diperbaiki, tulisan yang berhenti pasti juga bisa dilanjutkan.

Ya, semoga rencana ini tidak sekadar menjadi rencana. Memperbaiki masa lalu hanya membutuhkan komitmen, bukan?

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)

Thursday, May 15, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 11 comments

Setelah Semuanya


Setiap hari di dalam kehidupan, kita selalu mengejar apa yang kita inginkan. Berburu pendidikan. Merintis karir. Mengejar passion. Mencari hiburan. Mengusahakan cinta. Dan segala macam hal lainnya. Lalu kemudian, andaikata suatu hari nanti semuanya dapat kita peroleh, setelah itu apa lagi?

Saya hanya tiba-tiba terpikir hal ini. Setelah semua hasrat kehidupan kita terpenuhi, kita semua akan mati. Itu pasti.

Saya ingat dulu pernah berbicara dengan seorang Kepala Desa yang takut sekali naik kapal laut. Saat ditanya alasannya, ia berkata: “Di laut, kaki saya tak bisa berpijak. Di sana, manusia bukanlah penguasa.” Bapak tersebut kemudian memberi contoh seorang manusia yang dikejar oleh harimau di hutan. Ia bisa berlari, bersembunyi, naik ke atas pohon, atau menggunakan segala macam benda di hutan untuk mempertahankan diri. Tapi andaikata di tengah samudera manusia itu diburu oleh hiu, ia hanya bisa berenang–dan itu sungguh tidak mencukupi.

Ini mirip dengan dunia dan akhirat. Di dunia kita masih bisa berkelit. Lari sana-lari sini. Berbuat sesuka hati. Tapi di akhirat nanti? Hanya Allah SWT saja yang punya kuasa. Kita? Hanya bisa menerima konsekuensi dari segala hal yang telah kita lakukan di dunia.

Kematian adalah salah satu rahasia Allah SWT. Kita tidak pernah tahu kapan malaikat maut datang menghampiri. Oleh karena itu, ada baiknya mulai dari sekarang kita mencoba berpikir lagi: sudahkah kita bertakwa kepada Allah SWT? Jika ya, mari kita berniat untuk istiqamah. Jika belum, sekaranglah waktunya untuk berubah. Selagi masih ada waktu.

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)

sumber foto: dok. pribadi

Saturday, May 3, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 11 comments