Archive for November 2014

Pemerintah, Pengajaran, dan Rakyat

foto: inilah.com
Oleh: Haji Agus Salim*

Dalam Volksraad telah berlaku permusyawaratan tentang pengajaran.

Pembicaraan, atau perbincangan semacam ini dinamakan “debat”, yang lebih tegas maknanya “perbantahan” atau “mujadalah”. Dan memang juga sebenarnya itu sifatnya. Bukan permusyawaratan orang yang sama kehendak, sama tujuan, sama keperluan, melainkan nyatalah perbantahan berebut kemenangan antara orang-orang yang berlainan, bahkan bertentangan haluan.

Hal semacam itu tidak mengapa, apabila membicarakan cara melakukan pemerintahan dan kekuasaan. Di situ ada pihak kekuasaan, yang menguatkan haluannya berhubung dengan kepentingannya sendiri, dan yang diharapkan oleh pihak yang berbantah itu akan memeliharakan keamanan badan dan harta mereka, dan memeliharakan tertib aturan di dalam negeri.

Cara menetapkan dan menguatkan kekuasaan itu tidak memakai sesuatu asas lain daripada kekuasaan dan kekuatan belaka. Memerintah dan memaksa tidak mencari kebenaran, melainkan hanya mencari menang. Dan menang itu biasa berpindah-pindah tempat, sebagaimana telah dibuktikan oleh riwayat.

Tapi berbantahan itu berubah sifat, apabila yang menjadi pokoknya bukan perkara kekuatan dan kekuasaan yang ada. Apabila ada perkara mengenai kepentingan rakyat yang lebih dalam mengenai rakyat daripada hukum kekuasaan dan hukum kekuatan.

Hal yang semacam ini terdapat dalam perkara pengajaran, yang baru-baru ini menjadi pokok perbantahan dalam Volksraad (semacam Dewan Perwakilan, ed.) itu. Kesudahan perbantahan itu akan menetapkan ukuran begrooting (anggaran belanja, ed.) untuk pengajaran dalam tahun 1932. Maka keputusan itu dalam hal dan keadaan sekarang ini akan berpengaruh penting sekali atas sifat, watak, dan jalannya pengajaran rakyat dan bangsa Indonesia.

Kita katakan dalam hal dan keadaan sekarang ini, sebab tidak mestinya satu pemerintah berpengaruh begitu besar atas pengajaran rakyat. Istimewa tidak mestinya dalam tanah jajahan di bawah pemerintah bangsa asing yang rakyat bangsa tanah jajahan itu tentu perlu dan ingin hendak mengubah kedudukannya buat ke depan.

Sebelum kita melanjutkan pemandangan itu, marilah kita bentangkan dengan amat ringkas bagaimana perbantahan dalam Volksraad atas perkara itu, yang kita dapati dalam berita ringkas dalam pers.

Tuan Feuilleteau de Bruijn menerangkan, bahwa kemajuan pengajaran tidak akan dapat ditahan. Maka perlulah dialirkan pada jalan yang baik, dan pemerintah harus mengatur jalan pengajaran itu.

Oleh karena derajat kecerdasan budi bertambah tinggi, terganggu kedudukan yang tenteram dalam kalangan rakyat, karena terlalu banyak orang keluaran sekolah, yang tidak dapat pekerjaan berpadanan dengan cita-cita atau keperluannya berhubung dengan pelajarannya.

Barisan kaum terpelajar (intellectueel) yang terlalu banyak itu membahayai perjalanan kemajuan pergaulan. Pekerjaan tangan dipandang rendah. Pelajaran desa tidak boleh dicukupkan tiga tahun saja, melainkan harus dijadikan empat tahun.

Tuan De Dreu memperingatkan, bahwa jumlah orang yang tidak tahu huruf yang 95 persen itu menjadi satu dakwaan besar atas urusan pengajaran di sini. Diperingatkannya bahwa 200 sekolah yang diminta untuk tahun 1932 tidak akan diberi oleh Gubernemen. Hasilnya nanti sekolah itu mesti jadi juga. Hanyalah dengan aturan yang kurang sempurna dan dengan tidak mendapatkan pengawasan.

Saturday, November 29, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: , , Leave a comment

Khazanah

Kawan, insya Allah dalam waktu dekat saya akan meluncurkan rubrik baru bernama Khazanah.

Selama ini saya banyak menemukan bacaan menarik, sebagian besar merupakan esai atau feature, dari dalam maupun luar negeri. Saya ingin sekali kawan-kawan juga bisa membacanya sebagaimana saya menikmatinya. Jadi saya berniat untuk meluangkan waktu untuk menyalin atau menerjemahkan tulisan-tulisan tersebut secara apa adanya, tanpa mengubah poin apapun.

Harapan saya, dengan memperluas bacaan, kita akan semakin kaya dengan referensi dan sudut pandang. Insya Allah.

by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Fobia-fobia Unik yang Menyerang Manusia

Fobia adalah rasa takut yang gila, berlebihan, dan kadangkala tidak bisa dimengerti oleh orang yang tidak mengalaminya. Fobia biasanya tercipta oleh kejadian atau pengalaman buruk terhadap suatu hal.

Di bawah ini adalah beberapa fobia yang tercatat pernah menyerang manusia. Anda menderita salah satunya?

1. Papyrophobia


usberstop.wordpress.com
Papyrophobia adalah fobia terhadap kertas. Fobia ini biasanya menyerang mahasiswa yang tidak begitu lancar dalam menulis skripsi. Jika terjadi dalam waktu yang lama, fobia ini akan membelah diri menjadi Chronophobia, yaitu ketakutan terhadap waktu. Cemas memikirkan drop-out. Klimaksnya, si penderita akan merasakan Ecophobia, yaitu fobia terhadap rumah. Tidak berani pulang kampung.

2. Arithmophobia

uniqpost.com
Arithmophobia adalah ketakutan berlebih terhadap angka. Dulu fobia ini sering menimpa para siswa yang tidak suka matematika. Sekarang, fobia ini menyerang mahasiswa yang tidak memiliki banyak IPK atau skor TOEFL-nya masih belum mencukupi sebagai syarat sidang. Lebih lanjut, fobia ini bisa memunculkan Telephonophobia, takut terhadap telepon. Khawatir jika ditanya kapan wisuda.

3. Philophobia

fearsandphobias-network.tumblr.com
Ini adalah salah satu jenis fobia yang paling berbahaya. Philophobia adalah fobia jatuh cinta. Penderitanya adalah orang yang dulu pernah tersakiti atau mengalami pengalaman buruk dengan cinta. Jika terjadi pada perempuan, fobia ini dapat melahirkan Androphobia (takut terhadap laki-laki). Sementara lelaki bisa menjadi khawatir berhubungan dengan perempuan (Gynephobia) atau bahkan merasa dingin dengan perempuan cantik sekalipun (Venustraphobia). Lebih lanjut, si penderita bisa menjadi begitu takut dengan memorinya sendiri (Mnemophobia), takut mendengarkan suatu nama (Onomatophobia), takut jalan-jalan (Hodophobia), bahkan takut pergi ke laut (Thalassophobia)—yang memang terkenal bisa membangkitkan banyak kenangan.

4. Atychiphobia

morethansound.net
Atychiphobia adalah fobia terhadap kegagalan. Sering menimpa seseorang yang terlalu sering gagal dalam melamar beasiswa, pekerjaan, atau perempuan. Turunan dari fobia ini adalah Decidophobia (takut mengambil keputusan), Testophobia (takut mengikuti tes), dan bahkan Demophobia (takut bertemu orang dan ditanya-tanya soal itu).

5. Dentophobia

analisadaily.com
Dentophobia adalah takut berkunjung ke dokter gigi. Untuk tahun 2014 ini, hal ini sungguh disayangkan mengingat banyak dokter gigi yang baik, hangat, dan mempesona.

Monday, November 24, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: , 6 comments

Adiós


Dapatkah dua orang yang saling mencintai hidup bersama? Tanpa perlu banyak bertanya, tanpa repot menyamakan visi kehidupan, tanpa berlelah-lelah mempertahankan pendapat. Cukup menjalaninya saja dengan apa adanya. Menghadapi yang memang harus dihadapi. Mengalah ketika memang harus demikian. Menyesuaikan diri dengan keadaan.

Apakah cinta harus selalu diikuti dengan pertanyaan “kenapa”? Yang lalu dipaksakan dengan keluarnya kata-kata sifat positif—baik, alim, sopan, cantik, pintar, nyaman, tampan, dan semacamnya. Padahal jika kita benar-benar jatuh cinta dengan seseorang, lalu meletakkan semua atribut positif tadi kepada orang lain, apakah dapat muncul rasa yang sama saat itu juga?

Semua membuat saya kembali ke pertanyaan paling dasar: apakah kita benar-benar jatuh cinta? Atau mungkin semua itu benar, hanya saja dengan semakin dewasanya kita, semakin bercabang pula pikiran ini dengan berbagai ketidakpastian masa depan—yang tanpa sadar mempertegas, betapa tidak saling percayanya kita untuk berlayar di perahu yang sama.

Sepertinya, untuk mencintai, kita cukup belajar dari anak-anak saja: tanpa syarat, tanpa apa-apa. Cinta adalah cinta semata. []

Dulu kita pernah percaya bahwa cinta selalu menyediakan dua cangkir kopi untuk berdiskusi. Kala semuanya tidak tersaji lagi, kita mulai bingung, harus dinamakan apa semua ini?

Barangkali ini adalah sebuah akhir. Semoga sukses. Adiós!


sumber gambar: www.alessandrabajec.com

Friday, November 21, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 8 comments