Archive for December 2014

Hujan di Bulan Desember


Desember ini
Hujan menjelma menjadi peluru
Memberondong hati orang-orang seperti kita
yang punya masa lalu.
Rindu?

Sunday, December 28, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: 7 comments

Tentang Ucapan “Selamat Natal”

foto: dawn.com
Natal sudah dekat. Ada perbedaan pendapat para ulama mengenai boleh-tidaknya mengucapkan selamat. Dari sekian banyak pendapat, saya menyalin sebuah telaah yang ditulis oleh M. Quraish Shihab. Mudahan-mudahan semakin memperkaya referensi dan pengetahuan kita akan khazanah Islam. Insya Allah.

Mengucapkan “Selamat Natal”

Oleh: M. Quraish Shihab*

Ada hadits—antara lain diriwayatkan oleh Imam Muslim—yang melarang seorang Muslim memulai mengucapkan salam kepada orang Yahudi dan Nasrani. Hadits tersebut menyatakan, “Janganlah memulai salam kepada orang Yahudi dan Nasrani. Jika kamu bertemu mereka di jalan, jadikanlah mereka terpaksa ke pinggir.”

Ulama berbeda paham tentang makna larangan tersebut. Dalam buku Subul as-Salam karya Muhammad bin Ismail al-Kahlani (jilid IV, halaman 155) antara lain dikemukakan bahwa sebagian ulama bermazhab Syafi’i tidak memahami larangan tersebut dalam arti haram, sehingga membolehkan menyapa non-Muslim dengan ucapan salam. Pendapat ini juga merupakan pendapat sahabat Nabi, Ibnu ‘Abbas. Al-Qadhi ‘Iayadh dan sekelompok ulama lain membolehkan mengucapkan salam kepada mereka kalau ada kebutuhan. Pendapat ini dianut juga oleh ‘Alqamah dan al-Auza’i.

Penulis cenderung menyetujui pendapat yang membolehkan itu, karena agaknya larangan tersebut timbul dari sikap bermusuhan orang-orang Yahudi dan Nasrani ketika itu kepada kaum Muslim. Bahkan dalam riwayat Bukhari dijelaskan tentang sahabat Nabi, Ibnu ‘Umar, yang menyampaikan sabda Nabi bahwa orang Yahudi bila mengucapkan salam terhadap Muslim tidak berkata “Assalamu’alaikum”, tetapi “Assamu’alaikum” yang berarti “Kematian atau kecelakaan untuk Anda”.

Nah, jika demikian, wajarlah apabila Nabi melarang memulai salam untuk mereka dan menganjurkan untuk menjawab salam mereka dengan “’Alaikum”, sehingga jika yang mereka maksud dengan ucapan itu adalah kecelakaan atau kematian, maka jawaban yang mereka terima adalah “Bagi Andalah (kecelakaan itu)”.

Mengucapkan “Selamat Natal” masalahnya berbeda. Dalam masyarakat kita, banyak ulama yang melarang, tetapi tidak sedikit juga yang membenarkan dengan catatan khusus.

Sebenarnya, dalam al-Qur’an ada ucapan selamat atas kelahiran Isa: “Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari aku wafat, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam [19]: 33). Surah ini mengabadikan dan merestui ucapan selamat Natal pertama yang diucapkan oleh Nabi mulia itu. Akan tetapi persoalan ini jika dikaitkan dengan hukum agama tidak semudah yang diduga banyak orang, karena hukum agama tidak terlepas dari konteks, kondisi, situasi, dan pelaku.

Sunday, December 21, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: , 8 comments

Man Monis


Jujur, saya masih awam mengenai Islam. Bahasa Arab saya buruk, pemahaman saya belum mendalam, dan aplikasi saya biasa-biasa saja.

Namun ketika melihat penyanderaan di Martin Place, Sydney (15/12), hati saya sangat terganggu. Aksi itu keji. Yang semakin memperparah semuanya, Man Monis, sang pelaku, membawa-bawa bendera berlafazkan syahadat. Seakan-akan di kafe itu, dia mewakili umat Islam di seluruh dunia. Jika Anda dan saya adalah Muslim, kita berhak protes. Kenapa dia menggunakan bendera itu? Saya pribadi tak pernah merasa terwakili dengan tindakan itu, dan tak pernah ingin.

Warga Australia yang berasal dari Iran itu mengklaim dirinya sebagai "pemimpin spritual", namun ia memiliki catatan kriminal yang hitam. Tahun lalu, dia didakwa membunuh mantan istrinya. Satu dekade lalu, dia juga menghadapi tuduhan kekerasan seksual sebanyak lima puluh kasus, sebut Sydney Morning Herald (SMH).

Dikutip dari BBC News, Keysar Trad, pendiri Islamic Friendship Association of Australia, mengatakan bahwa Man Monis adalah ulama yang "individual". Di komunitas Islam sendiri, dia ditolak oleh kalangan Sunni dan Syiah di Sydney Muslim Community.

Dari sumber yang sama, Manny Conditsis, mantan pengacara Man Monis, menyebut kliennya itu berada dalam kondisi psikologis yang tidak stabil. Dia juga berada menjadi 'buta' sejak usahanya melobi pemerintah Australia agar tidak mengirim tentara ke medan perang.

Pada tahun 2013, Monis dihukum lantaran mengirim surat berbau penghinaan terhadap keluarga dari tentara Australia yang tewas saat berperang di Afghanistan (tahun 2007 dan 2008) serta bom di JW Marriot Hotel, Jakarta (2007). Dia dihukum melaksanakan pengabdian masyarakat selama 300 jam dan kewajiban tidak melanggar hukum selama dua tahun.

Dalam sebuah video terkait aksinya sebelumnya, dia memang mengatakan bahwa semuanya dilakukan semata-mata untuk kedamaian dunia, khususnya Australia. "Kami mau kedamaian, bukan perang!" teriaknya.

Anne Davies, jurnalis SMH yang pernah mewawancarai Monis, mengatakan bahwa lelaki itu sempat berujar bahwa ceramah atau pidato yang dia sampaikan (terkait dengan isu-isu yang dia perjuangkan) tidak akan cukup—oleh karena itu, barangkali harus ada 'tindakan lain'.

Lelah

Semua orang sedang lelah dengan kekerasan. Khusus bagi kalangan Muslim, deretan aksi terorisme yang selama ini mengatasnamakan Islam semakin menambah daftar panjang penderitaan.

Saya yang awam memandang begini: seorang Muslim sebaiknya menempatkan diri dengan baik sesuai dengan kondisi yang terjadi. Jika negara sedang perang dan kita dituntut untuk membela agama dan bangsa, maka berperanglah. Jika kondisi sedang damai, namun ada sesuatu hal yang tidak kita setujui, gunakanlah alat-alat yang sesuai dengan garis batas kedamaian itu: diskusi, tulisan, ceramah, debat, atau cara-cara lain yang tidak menggunakan senjata.

Ini hanya dugaan saya: Monis melakukan semua itu karena dia ingin membuat publik Australia (atau Barat) merasakan langsung bagaimana pahitnya perang (katakanlah) di Afghanistan.

Lalu jika benar demikian, apa yang terjadi? Apakah pesan itu benar-benar sampai? Sekarang yang terdengar hanya terorisme dan terorisme. Jika sudah begitu, siapa yang rugi?

Masyarakat saat ini sudah lebih cerdas dan bijak. Sekarang, selembar foto saja bisa mengetuk hati jutaan manusia untuk bergerak di satu jalan bernama kemanusiaan. Intinya, ada cara-cara lain yang bisa kita lakukan untuk menyampaikan pesan, dan itu bukanlah kekerasan.

Syukurlah pula, warga Australia sana tidak memandang tindakan Monis sebagai tindakan yang merepresentasikan Islam. Pascapenyanderaan, ada ketakutan besar bagi kalangan Muslim di Australia terhadap bangkitnya lagi islamophobia—barangkali kita masih mengingat apa yang dialami oleh Muslim Amerika pascatragedi 9/11. Dilansir oleh BBC News, seorang warga Australia, Rachael Jacobs, pascakejadian melihat seorang perempuan yang ia asumsikan sebagai Muslimah, secara diam-diam melepas hijabnya di dalam kereta. Saat mereka telah tiba di stasiun, Rachael menghampiri perempuan itu, dan berkata: "Pakai lagi hijabmu. Aku akan menemanimu berjalan." Mendengar itu, perempuan itu pun menangis dan memeluk Rachael.

Kisah tersebut menjadi viral dan menginspirasi Tessa Kum, seorang pengguna Twitter, untuk melanjutkan dukungan kepada warga Muslim Australia dengan tagar #illridewithyou. Aksinya sederhana: jika Anda adalah seorang Muslim dan merasa tidak aman berjalan sendirian, Anda boleh minta ditemani oleh seseorang. Ribuan warga tercatat ikut ambil bagian. Twitter resmi milik klub bola Sydney FC juga ikut serta. Mereka bahkan menegaskan agar para pengguna serius terhadap tweet-nya: "Please, if you're going to use #illridewithyou, include journeys and times, make it genuinely useful not just a trendy thing to tweet," cuit Sydney FC.

Kejadian di Lindt Chocolat Cafe memang berakhir tragis: dua sandera tewas. Namun dari peristiwa ini, tampak pula bahwa manusia sebenarnya masih memiliki akal sehat dan nurani. Kita masih dapat merasakan, mana yang tepat, mana yang tidak. Mana yang patut, mana yang melenceng. Mana yang teman, mana yang lawan.

Akhirnya, agama barangkali membuat kita hidup dengan perbedaan. Namun, walaupun ada yang menjadi air dan minyak, bukankah kita masih dapat hidup berdampingan dalam satu mangkuk mie bernama "kemanusiaan?"

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu berkunjung.

Wednesday, December 17, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: , 5 comments

Milisi-milisi Kota Baghdad

Warga Sadr City menenteng senjata. Mereka adalah bagian dari milisi yang mempertahankan kota Baghdad. (14-07-2014). | Ayman Oghanna/ The New York Times/ Redux
Oleh Janine di Giovanni | Newsweek.com

Saya bertemu Sheikh Raad al-Khafaji di jalanan kecil Karrada, sebuah distrik di kota Baghdad. Dia adalah mantan tentara Irak dari divisi artileri yang sempat ikut dalam perang Iran-Irak. Dia juga merupakan pimpinan suku Al-Khafaji dan komandan milisi Kata'ib Hezbollah, salah satu milisi Syiah yang berperang melawan ISIS di garis depan Irak.

Setelah kota Mosul jatuh ke tangan ISIS musim panas ini, Ayatollah Ali al-Sistani memfatwakan kepada rakyat Irak untuk mempertahankan negaranya, rakyatnya, dan kehormatan dari tempat-tempat suci mereka. Mereka harus turut serta mempertahankan agama mereka dalam perang suci ini.

Sheikh Raad mengatakan, ketika fatwa tersebut keluar, para pria datang ke kantornya untuk mendaftarkan diri berperang. Di antara mereka bahkan ada yang berumur sekitar 60 tahun, mereka memohon agar diizinkan bertempur melawan ISIS dan para pemberontak pimpinan Sunni.

Menurut Penasihat Deputi Keamanan Nasional Irak, Safa Hussein al-Sheikh, milisi Kata'ib Hezbollah didirikan pada tahun 2003 ketika invasi Amerika Serikat. Mereka terkenal dengan struktur yang ramping, namun lebih terorganisasi daripada milisi Syiah yang lain—serta dianggap tertutup dan cerdik, bahkan oleh standar intelijen Irak sendiri.

"Dulu, mereka fokus menargetkan Amerika. Mereka melakukannya dengan piawai, mematikan, dan tak terdeteksi oleh intelijen Amerika maupun Irak," kata al-Sheikh.

Dari wilayah Ajana, Pasukan Keamanan Irak dan milisi Syiah bergerak menuju Amerli. (01-09-2014) | Reuters
Ketika saya berkunjung, Sheikh Raad yang telah berumur 58 tahun sedang duduk dengan letih di kantornya. Ia mengenakan seragam perang dan cincin permata merah dan pirus. Di sebelahnya, istri keempatnya duduk. Yang mengejutkan, rambut gelapnya yang modis tidak ditutupi jilbab. Perempuan itu mengenakan celana panjang ketat dan sepatu hak tinggi. Dia ingin merekam percakapan suaminya melalui telepon genggamnya.

Friday, December 12, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: , Leave a comment

Resep Antisukses


Saya tidak bercanda. Ini adalah tulisan yang serius. Saya harap Anda membacanya baik-baik.

Sebut saja kiat-kiat di bawah ini sebagai “Resep Antisukses”. Resep ini telah dibuktikan kesaktiannya dari generasi ke generasi. Siapapun yang menerapkannya niscaya akan antisukses.

Berapa umur Anda sekarang? Jika Anda berusia muda, saya menyarankan Anda segera mengikuti kiat-kiat berikut agar antisukses. Semakin cepat, semakin baik. Atau jika Anda sudah berusia lanjut, jangan berkecil hati. Tidak ada kata terlambat dalam perjuangan, bukan?

Baiklah. Simak ini baik-baik.

Untuk menjadi orang yang antisukses, pertama Anda harus menjadi orang yang pesimis. Pesimislah sepesimis-pesimisnya. Rendahkanlah diri Anda. Anggaplah Anda tidak punya kemampuan dan kelebihan apa-apa. Atau jika Anda tak sanggup menganggap diri tidak punya keistimewaan, berpikirlah jika hal tersebut takkan membawa Anda ke mana-mana. Yakinlah bahwa setiap usaha yang Anda buat akan mengalami kegagalan. Jadilah orang bijak-antisukses yang lebih memilih tidak ikut berperang daripada kalah. Optimislah bahwa kepesimisan Anda itu 100% benarnya. Jadilah pessimist yang total. Jangan biarkan siapapun mempengaruhi kepesimisan Anda. Ingat, hal itu adalah anugerah terbesar dalam hidup Anda.

Kedua, tundalah segala rencana Anda. Eh, sebelumnya saya menyarankan ada baiknya Anda tidak memiliki rencana apapun dalam hidup. Itu tidak penting sama sekali. Buang-buang tenaga. Namun jika Anda telah kadung memilikinya, tak apa. Yang penting Anda harus terus menunda-nunda perbuatan agar rencana itu tak pernah terlaksana. Ulurlah waktu. Tidurlah sepanjang hari (saya menyarankan waktu pagi). Percayalah bahwa umur Anda masih panjang dan hari esok masih dapat Anda tentang. Jika masih terlalu sulit, saya menyarankan agar Anda sedikit mengakali hati Anda—yang sepertinya masih bercahaya—dengan berimajinasi seakan-akan rencana hidup Anda akan menemukan jalannya sendiri, tanpa perlu usaha sama sekali. Berangan-anganlah bahwa Anda sedang sukses dalam pikiran—ingat, dalam pikiran, bukan kehidupan nyata. Jadi dengan terpuaskannya Anda dengan angan-angan yang panjang itu, semakin sukseslah Anda dalam khayalan dan semakin antisukseslah Anda dalah kenyataan. Itu yang kita cari, bukan?

Nah. Itulah dua Resep Antisukses mumpuni yang telah terbuktikan kehandalannya oleh sejarah. Anda sudah paham? Atau tak sabar ingin segera praktik? Wah, tunggu dulu, hadirin di sebelah sana masih meminta kiat-kiat lainnya. Sebenarnya dua tadi sudah memadai. Tapi baiklah, kawan. Semakin banyak kiat, semakin bagus. Sekarang dengarkan.

Mulai sekarang, Anda harus mengabaikan segala kesempatan untuk berkembang. Jadilah orang yang biasa-biasa saja. Jangan pernah pergi dari zona nyaman Anda. Bergantunglah secara terus menerus dengan orang lain. Jika ada sebagian orang yang gemar merantau dalam kehidupan mereka, jangan ikuti itu! Mereka akan sukses! Ingat, Anda sedang belajar untuk antisukses. Maka, berusahalah untuk terus-menerus bergantung pada manusia. Misal, jangan sekalipun malu meminta uang pada orang tua sekalipun Anda sudah tua. Jadilah anak burung kecil yang mulutnya tidak pernah berhenti minta disuapi selamanya.

Langkah selanjutnya, Anda harus berprasangka buruk kepada Tuhan. Camkan di dalam jiwa bahwa Anda lahir tanpa membawa rezeki ke dunia, hanya ketelanjangan belaka. Percayalah bahwa segala usaha yang sedang Anda lakukan, takkan mengubah takdir yang telah dititahkan. Jadi daripada repot berjuang, lebih baik duduk berpangku tangan.

Terakhir, Anda harus mengeluh sepuas-puasnya. Katakan kepada dunia bahwa kehidupan Anda adalah kesialan belaka. Temui orang tua, teman-teman, atau kenalan Anda, dan sampaikanlah dengan berbusa-busa betapa membosankannya kehidupan Anda. Kutuklah semua hal yang bisa Anda kutuk. Hinalah diri Anda. Hinalah orang-orang yang berusaha dan anggaplah mereka hanya tukang cari perhatian semata. Tutup, tutup mata dan telinga Anda dari nasihat, kritik, perkataan, tulisan, atau apapun yang sifatnya positif. Anggaplah semua itu hanya gurauan dari orang-orang yang sok tahu akan makna kehidupan.

Habis!

Itulah Resep Antisukses yang saya jamin tak pernah gagal dalam membuat orang gagal. Ingat, jika Anda bermimpi untuk menjadi orang antisukses, itulah vitaminnya! 

Jangan lakukan sebaliknya, ya! Nanti Anda akan sukses! Oke, Anda sudah paham? 

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)


Friday, December 5, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: , 4 comments

Menyaingi Orang Asing dengan Jujur

foto: gramedia.tumblr.com
Oleh: P.K. Ojong*

Pengusaha luar negeri masih saja takut terhadap kemungkinan pengambil alihan, kalau mereka menanam modalnya di Indonesia.

Ini kembali ternyata dalam wawancara Kompas dengan Dr. Emil Salim yang baru kembali dari Australia.

Sebaliknya orang-orang seperti kami, pengisi ruangan ini juga takut kalau kita kembali ditulari penyakit zaman pra Gestapu itu.

Dua-dua sama takut, jadi cocok!

*

Kebetulan kami dari dekat dapat mengikuti nasib sebuah perusahaan asing (Belanda) yang kita ambil alih yakni toko buku Van Dorp.

Gedungnya yang baru besar dan mengesankan, dan buku-buku yang dijualnya ketika masih dipimpin pemiliknya, sangat mengesankan. Termasuk salah satu toko buku yang terbaik di ibu kota.

Kami setiap minggu paling sedikit sekali mengunjunginya.

Lalu terjadi pengambilan alih atau desakan halus untuk menjualnya.

Lewat beberapa minggu ketika kami kira-kira pukul 10 pagi ke sana, ternyata tokonya belum bisa dibuka. Pegawainya belum masuk. Karena apa? Karena mobil yang mengangkut pegawai belum datang.

Baru pukul 10.30 toko dapat dibuka. Sesuatu yang belum pernah kami alami. Belakangan ini sering begini bunyi keterangan seorang pegawai yang kami kenal baik. Ia menarik nafas panjang.

Suasana di seluruh toko buku yang besar itu pun berlainan sekali. Lesu. Lamban. Tanda-tanda pertama dari demoralisasi.

Dan semua ini karena satu dua orang pemimpin yang lama terpaksa meninggalkan negeri ini.

*

Monday, December 1, 2014 by Muhammad Haekal
Categories: , , Leave a comment