21 Juli 2016


Kata seorang teman, akhir Juli ini adalah puncak dari musim dingin. Melbourne sehari-hari hanya terdiri dari hujan dan angin. Jika ada sedikit saja matahari di pagi hari, orang-orang akan tersenyum dan bergegas mencuci baju. Tidak semua orang suka atau punya banyak uang mencuci di laundri koin yang selalu populer ketika musim dingin. Sebagian orang juga, walaupun mempunyai mesin cuci termutakhir yang memiliki sistem pengeringan bagus, biasanya lebih takut rekening listrik membengkak daripada jemuran yang berhari-hari lembab.
 
Semester satu telah berakhir dengan baik. Alhamdulillah. Saya mendapatkan D (Distinction) dengan nilai rata-rata tipis saja di atas standar minimal untuk mengambil mata kuliah penelitian (minor thesis). Walau demikian, dalam banyak hal saya belum puas. Saya belum kunjung ‘memecahkan telur’ keabsenan saya dari dunia tulis-menulis. Maksud saya, bukan tulisan tidak jelas yang rutin menyampah di blog, tetapi tulisan berbobot yang nilai gunanya lebih besar dari sekadar curahan hati pribadi. Saya pikir, yang bisa saya lakukan saat ini adalah mengatakan sesuatu, menginformasikan apa yang saya tahu dan dapatkan dari bangku kuliah. Paling sederhana dalam bentuk esai atau opini—yang juga belum kunjung saya lakukan. Ada titik-titik ketika saya merasa begitu tak berguna sebagai anak bangsa yang pendidikannya dibiayai oleh negara.

Masalah terbesar ada di diri saya sendiri dan seingat saya hal ini sudah saya ketahui jauh-jauh hari. Jika ada hal yang sulit saya pelajari, perbaikan diri adalah salah satunya. Sebagai pribadi yang kerap kali digerakkan oleh ketergesa-gesaan dan deadline, saya justru gagal menghadapi realitas kehidupan yang tidak memiliki tenggat waktu. Dalam hal ini, saya merasa diri belum dewasa sebagai manusia. Saya juga merasa hampir putus asa dan kerap bertanya: apakah saya akan selalu kalah dalam pertarungan dengan diri sendiri?

Saya merasakan ada lubang kosong di keseharian yang hanya diisi oleh belajar tanpa bentuk konkret dari hasil belajar itu sendiri. Barangkali seperti seseorang yang sibuk menghafal resep masakan tapi tak pernah berani memasak. Pengetahuan seperti ini hanya akan menyenangkan pelakunya di dalam pikiran. Dia sendiri bahkan takkan begitu mendapatkan manfaatnya. Semu sekali.

Mengapa saya tidak kunjung menulis? Saya mungkin takut. Takut jika tulisan saya menyinggung orang lain, takut jika hasilnya jelek, takut jika orang salah paham. Rasanya ini naif dan negatif sekali. Saya malu menyadari jika saat ini saya terlalu memikirkan nama baik sendiri dan main aman untuk sesuatu yang sebenarnya merugikan. Malu sekali. Saya rindu dengan diri saya ketika masih kuliah S1 dulu dan masih berharap suatu hari saya berhasil membangkitkan kembali sosok itu.

Suhu dalam tiga puluh hari ke depan akan terus menurun. Dan dalam dingin yang tidak selalu menyenangkan ini, saya harus segera mengalahkan diri saya sendiri. Penyakit.

Foto: Reginar

Wednesday, July 20, 2016 by Muhammad Haekal
Leave a comment

Leave a Reply