KPM-PAR, Bener Meriah (Bagian III – Ngutip Kopi)


Sabtu (28/04) pagi, pak keuchik Bener Kelipah Utara (BKU), Kawasima, mengajak kami ke kebun kopi untuk membantu ngutip (memanen kopi). Kami tentu sangat senang. Sudah lama kami menunggu kesempatan ini. Teman-teman dari kelompok KPM desa lain sudah duluan melakukannya. Mendengar pengalaman mereka, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak merindukan kegiatan ini, apalagi musim panen hampir habis.

Kami berangkat berenam: saya, tiga orang teman KPM, Pak Kawasima, dan saudari beliau. Setengah perjalanan dari kampung BKU ke kebun yang terletak di jalan menuju kawasan Rambung, kami tempuh dengan sepeda motor. Jalan tidak beraspal. Kerikil-kerikil saling bergesek saat kami melintas. Debu-debu juga berterbangan. Sementara di kiri-kanan tampak pohon kopi yang berjejer rapi.


Tiba di komplek kebun, saya harus mengendarai sepeda motor sendiri sementara teman lain berjalan kaki. Jalanan setapak terlalu curam, licin, dan ukurannya hanya muat untuk sebuah sepeda motor. Saya kasihan juga dengan sepeda motornya. Biasanya, Pak Kawasima membawa Honda CB ke kebun, tapi karena bannya bocor, jadi terpaksa sepeda motor bebek yang dipilih. Mayoritas penduduk di sini memang menggunakan sepeda motor besar. Dan saya perhatikan, sepeda motor yang paling banyak digunakan adalah Honda GL-Pro. Mungkin karena tenaganya besar dan harganya yang cukup terjangkau saat ini.


Pekebun di sini tidak hanya menanam kopi di tempat yang datar, tapi di tanah yang miring dan bergelombang. Jadi sejauh mata memandang, pohon kopi menyelimuti deretan bukit. Beberapa pohon petai cina juga terlihat menyembul di sela-sela pohon kopi. Menurut penuturan beberapa pekebun, pohon kopi tidak bisa menerima terpaan sinar matahari langsung. Jadi petai cina dengan rimbunannya sangat membantu menguraikan sinar matahari.


Di sebuah titik di kebun, kami berhenti. Sepeda motor harus diparkir. Jalan setapak di depan terlalu curam. Kami harus melanjutkan perjalanan dengan kaki. Tapi menurut Pak Kawasima, saat puncak masa panen, dia ikut membawa Honda CB-nya ke atas. Bahkan ketika turun, dia juga tidak ragu mengendarai sepeda motornya itu lengkap dengan bawaan berupa satu karung buah kopi seberat sekitar 100 kilogram. Mantap! Hehe.

Pak Kawasima
Sekira pukul 08.00 WIB kami tiba di kebun Pak Kawasima. Sinar matahari sudah mulai tinggi. Udara dingin bertiup pelan. Kami berjalan ke sebuah pondok dan meletakkan segala bekal di sana. Waktu yang diperlukan untuk mencapai kebun sekitar 45 menit. Jaraknya tidak jauh sebenarnya, hanya medannya yang lumayan berat. Teman saya saja sempat terguling saat menuruni bukit. Terang saja, dia memakai sandal yang tidak sesuai dengan medan. Jatuh, deh. Hehe.

Setelah mengobrol sebentar, Pak Kawasima mempersilahkan kami mengikuti saudarinya ngutip. Saudari beliau sedang ngongkos di kebun Pak Kawasima. Ngongkos adalah membantu memanen kopi di kebun orang lain. Saat panen, para pekebun memerlukan jasa pengongkos untuk ngutip kopi yang jumlahnya melimpah. Bayangkan saja, 1 hektare kebun kopi yang produktif bisa menghasilkan 1,5 ton buah kopi dalam sekali panen. Terakhir saya tanya, upah ngongkos per kaleng kopi adalah sebesar Rp. 16 ribu. Biasanya dalam sehari, pengongkos profesional bisa memanen hingga 10 kaleng kopi (sekitar 100 kilogram). Mantap!



Ngutip pun dimulai. Masing-masing kami diberikan semacam tas selempang berbahan goni plastik. Instruksi ngutip tidak macam-macam: petik saja yang merah, biarkan buah kopi yang masih muda berkembang untuk waktu panen berikutnya. Pohon kopi bertekstur keras dan kuat. Cabang-cabangnya menjulang panjang ke samping. Pemetik tidak perlu kuatir cabang kopi patah saat ditarik. Hal ini tentunya cukup menguntungkan saat pekebun memetik kopi di lahan yang miring. Mereka bisa berpengangan di dahan kopi tanpa takut jatuh. Subhanallah. 


Biasanya, dalam sebulan, pekebun memanen kopi sebanyak dua kali. Masa panen sendiri berlangsung selama sembilan bulan: September hingga Mei. Jadi kami sekarang sedang berada di penghujung musim panen. Tidak heran, buah kopi tidak sebanyak di masa-masa awal panen. Bahkan beberapa pohon sudah mulai terlihat berbunga. Karena Bener Meriah bersuhu dingin, mayoritas jenis kopi yang ditanam di sini adalah arabika. Di wilayah yang bercuaca lebih panas, baru dapat ditemukan pekebun yang menanam robusta.

Saudari Pak Kawasima
Pekebun sendiri menjual hasil panen dalam berbagai bentuk. Ada yang langsung menjual buah kopi segar (atau disebut gelondongan), biji yang telah dijemur dan siap giling, ada pula yang menjual bubuk kopi siap minum. Kebanyakan pekebun saya perhatikan menjual biji kopi yang siap giling. Harga buah segar, terakhir saya tanya, Rp. 80 ribu per kaleng (sekitar 10 kilogram). Biji kopi siap giling Rp. 40 ribu per kilogram. Dan bubuk kopi siap minum Rp. 50 ribu per kilogram. Bayangkan saja jika petani memiliki 1 hektare saja kebun kopi yang produktif. Mereka dapat menghasilkan 1,5 ton buah kopi sekali panen. Berapa pendapatan mereka? Hehe.


Ngutip memang cukup melelahkan, tapi saya cukup dimanjakan dengan pemandangan pegunungan yang indah. Sinar matahari juga tidak menyengat, walau sudah semakin tinggi.

Pukul 11.00 WIB kami istirahat di pondok. Segelas kopi dan dua bungkus biskuit menjadi pengisi tenaga. Menikmati kopi disaat lelah begitu nikmat. Rasa manis-pahit dan aroma harum langsung menyeruak ke dalam dada. Setelah rasa lelah menguap, kami melanjutkan ngutip hingga pukul 13.00 WIB. Total kami berempat berhasil mendapatkan satu kaleng buah kopi arabika. Tidak buruk untuk pemula (walau malu-maluin juga! Hehe).



Setelah memakan bekal makan siang. Langit mulai mendung. Pak Kawasima menyuruh kami pulang, dia khawatir hujan akan segera turun, jalan pulang akan sulit. Kami pun bergegas berangkat. Sementara itu, Pak Kawasima, saudarinya, dan istri yang baru saja tiba, tetap berada di kebun. Mereka berencana ngutip hingga petang. Masih banyak kopi yang harus dipanen. Jika tidak segera dipetik, buah kopi akan jatuh dengan sendirinya ke tanah.

Ngutip adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Selain bisa menikmati indahnya pemandangan, saya juga bisa mengerti perjuangan para pekebun kopi. Menanam kopi bukan perkara mudah, tanah pegunungan tidak selalu datar. Merawatnya juga tidak gampang, pekebun harus rajin membersihkan lahan dari semak sembari melakukan pemupukan. Setelah dipanen pun, buah kopi tidak bisa langsung dikonsumsi. Ia harus melewati proses pengupasan, penjemuran, penggongsengan, dan penumbukan/ penggilingan. Baru kemudian bisa kita nikmati di rumah atau kedai-kedai. Perjuangan para pekebun mungkin cocok dengan rasa kopi yang pahit bercampur manis.

Semacam ulat bulu merayap di atas daun kopi

Selain memberikan pendapatan yang besar saat panen, saya juga merasa ngutip bisa dijadikan sebuah objek wisata. Pengalaman memanen kopi cukup menarik, terlebih bagi orang yang belum pernah melakukannya. Saya yakin, banyak wisatawan baik lokal dan mancanegara yang akan tertarik, apalagi jika akses jalan ke kebun kopi diperbaiki. Sekarang tinggal komitmen dari pemerintah setempat untuk memajukan wilayah Bener Meriah.

Akhirnya, terima kasih telah berkunjung. Sampai jumpa di postingan selanjutnya. Insya Allah. Salam.

Saturday, May 5, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: | 3 comments

Comments (3)

  1. Waaw, pertamax! Aku menemukan jejak tulisanmu. Hhhuuiick... ^0^

    Tulisan yang menarik, renyah dan senikmat kopi tentunya. Hhmn...

  2. Sial, aku bukan yg pertamax hahaha

    kal, btw untuk keperluan makan sehari-hari masih ditanggung ama pak kawasima ya?

  3. @isni: hehe, selamat datang.
    wah! alhamdulillah. makasih pujiannya.

    @hilman: iya. sebenarnya kami gak enak juga. tapi beliau gak mau memberatkan kami soal living cost. mungkin karena sedang masa panen kopi ya, jadi beliau lg banyak rezeki. hehe. alhamdulillah

    thank ya udh ngunjung

Leave a Reply