Showing posts with label terbit di media. Show all posts

Puisi Kampus


Sumber: Serambi Indonesia, 21 Oktober 2018

Saturday, October 20, 2018 by Muhammad Haekal
Categories: , , , , Leave a comment

12 Desember 2016


12 Desember lalu saya genap berusia dua puluh enam tahun. Saya bersyukur kepada Tuhan untuk semuanya. Pengalaman baik dan buruk. Kesempatan bertemu dan berpisah. Penerimaan dan penolakan. Kebenaran dan kebodohan. Saya banyak belajar. Di titik ini, saya tidak ingin menyesali dan meratapi apapun. Saya yang sekarang, dengan segala yang telah diberikan oleh Tuhan, telah lebih dari cukup.

Siang hari itu, saya juga alhamdulillah menyelesaikan sebuah esai sederhana. Saya mengirimkannya ke Tirto.id, sebuah media baru yang sekarang menjadi salah satu yang paling saya hormati. Saya menulis tentang pengalaman menjadi minoritas beragama di Australia (silakan ketik tautan berikut untuk membaca). Itulah tulisan pertama saya setelah bertahun-tahun absen dari media. Saya bahagia dan bersyukur sekali. Semoga menjadi awal dari tulisan-tulisan berikutnya. Insya Allah.

Desember melaju cepat. Tak terasa sudah sampai di pertengahan bulan. Saya menghitung hari untuk mudik ke Aceh. Di dalam kepala saya sekarang adalah "agenda besar" itu. Saya tidak tahu bagaimana akhirnya. Seperti yang telah berulang kali saya katakan kepada diri sendiri: saya hanya bisa mencoba dan berdoa. Terserah Tuhan sang maha bijaksana yang menentukan hasilnya. Namun, sampai sekarang saya tidak bisa berhenti berharap: sebuah harapan yang besar dan positif.

Sekarang saya banyak menghabiskan hari dengan membaca dan menulis. Kepala saya mulai enteng karena saya tidak menahan-nahan lagi apa yang saya pikirkan. Semuanya perlahan saya salurkan dalam tulisan atau dialog. Saya sempat mengidap penyakit akut yaitu ketakutan mengutarakan pendapat. Kini hal tersebut perlahan mulai surut. Keberanian mulai bangkit. Sebuah modal awal untuk menjadi manusia yang merdeka.

Saya percaya manusia dibentuk dari apa yang ia lakukan terus-menerus. Oleh karenanya, saya berharap betul kebiasaan membaca dan menulis merasuk abadi di dalam kehidupan saya. Bukan sekadar euforia. Bukan hanya ketika ada tugas kuliah.

Akhirnya, saya ingin berkata bahwa menjadi diri sendiri itu membahagiakan dan melegakan. Dan bertemu dengan seseorang yang mau menerima semua itu adalah salah satu keajaiban di dunia. Eh, mengapa tiba-tiba ngomongin itu?

Wednesday, December 14, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: , Leave a comment

Kepala Berkutu


Alhamdulillah puisi ini terbit di Serambi Indonesia tanggal 21 April 2013. Klik di sini untuk langsung menuju situs.
------------------------------------------------------------------
Kepala kami berkutu
Pikiran kami pun gatal
Tindakan kami ikut kumal

Kepala kami berkutu
Dimantra tak bisa
Digaruk tak kuasa

Tuhan, hari ini kepala kami masih berkutu
Bolehkah  kami meminta Kepala yang baru?
Kami malu


Tuesday, May 7, 2013 by Muhammad Haekal
Categories: 2 comments

Puisi - Lembar Demi Lembar





Alhamdulillah puisi ini terbit di Serambi Indonesia tanggal 25 November 2012. Klik di sini untuk langsung menuju situs.

-------------

Lembar demi Lembar

Lembar demi lembar
Jemari kita mengayuh
Tak hirau sapuan peluh
Atau layar putih yang mengaduh

Lembar demi lembar
Otak kita berpacu
Nafas kita menderu
Lupakan sejenak nafsu dan waktu

Lembar demi lembar
Di tengah gempuran menuanya usia
Di tengah harapan orang tua
Di tengah beban menjadi seorang legenda

Lembar demi lembar
Menyatukan segenap jantung hati
Menambatkan setiap nadi
Para mahasiswa

(Kampus Biru, 23 November 2012)


Tuesday, November 27, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 2 comments

Puisi - Perempuan Pasir



Alhamdulillah puisi ini terbit di Serambi Indonesia tanggal 21 Oktober 2012

_______
Kau, perempuan pasir
Yang pergi ke pergelaran ombak
Menutup matamu untuk tidak buta
Membuka hatimu untuk bisa peka

Kau, perempuan pasir
Yang berjalan tanpa alas kaki
Membiarkan butiran-butiran asin meresap di kulitmu
Merelakan buih-buih mengkilap di kukumu

Kau, perempuan pasir
Yang memahami segala risau angin
Memaknai setiap teriakan debur
Tapi,  tidak lari dari hidup yang mengabur

Kau, perempuan pasir
Yang mengumpulkan setiap butirannya
Memasukkannya ke dalam botol
Dan membawanya pulang.


Wednesday, October 24, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Cerpen - Wisuda



Alhamdulillah cerpen ini terbit di Aceh Kita tanggal 21 Oktober 2012
___________

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Sontak aku terkejut dan menjerit. Teman-teman yang dari tadi asyik bercanda dan tertawa pun mendadak diam. Pandangan mereka beralih kepadaku. Berpaling sejenak dari keriuhan kedai kopi.

“Siapa, Din?” Andi bertanya. Tangannya kini berada di bahuku.

Aku terpaku. Tidak menjawab sepatah kata pun.

“Bukan Mamak, kan?” Reza bertanya takut-takut. Tangannya pun kini berada di bahuku.

Aku menggeleng.

“Jangan bilang yang meninggal si Yusniar! Dia aktris favorit aku!” Hasbi bertanya setengah berteriak. Kedua tangannya ikut menempel di bahuku.

Aku menarik nafas dalam-dalam, menggeleng dua kali, bersiap-siap mengabarkan kematian terbesar tahun ini.

“Pembimbing skripsi aku.”

“Apa?!” Teriak ketiga sahabatku serentak.

“Beliau meninggal barusan.”

***

Siapa yang tidak kenal Pak Rahmat. Beliau dosen favorit di kampus kami. Walau sudah bolak-balik dari luar negeri, beliau tidak pernah meninggalkan adat ketimuran: ramah dan selalu memikirkan orang lain. Jika bertemu dengan kami di kedai kopi, beliau duluan yang menyapa. Tak jarang semua pesanan kami dibayarnya. Padahal kami tak pernah meminta. Beberapa mahasiswa lain bahkan suka memanfaatkan kebaikan Pak Rahmat. Mereka sengaja pergi ke kedai kopi favorit beliau di kawasan Ulee Kareng. Melintasi mejanya lalu sengaja menegur. Tujuannya tentu saja agar mendapatkan kopi gratis. Pak Rahmat akan dengan senang hati mengeluarkan dompetnya.

Dalam hal akademik, Pak Rahmat juga tidak keberatan dihubungi di akhir pekan. Tidak ada nada marah dalam suaranya. Malah beliau sangat senang jika ada mahasiswa yang bertanya saran. Katanya, jarang-jarang mahasiswa sekarang peduli dengan pelajaran. Mereka cenderung cuek. Hanya peduli dengan nilai semata.

Namun yang membuat kami menghormati Pak Rahmat setengah mati adalah keadilan beliau. Walau dekat dengan mahasiswa, tapi beliau tidak pernah memberikan nilai karena unsur ‘kedekatan’. Joni misalnya, dia selalu membantu Pak Rahmat mengangkat proyektor ke kelas, memfotokopi tugas, bahkan saat acara akikah di rumah Pak Rahmat, Joni-lah yang paling rajin bekerja. Saat semua orang menyangka bahwa dia akan mendapatkan nilai ‘A’, ternyata dia hanya mendapatkan ‘B’. Pak Rahmat memberikan nilai tersebut karena Joni alpa mengumpulkan sebuah tugas.

Dengan segala kebaikan itu, banyak mahasiswa berdoa dan bahkan melakukan tahajud agar Pak Rahmat menjadi penasehat akademik, pembimbing skripsi, atau sekedar dosen mata kuliah yang sedang mereka ambil.

***

Barusan Mamak meneleponku lagi. Belakangan beliau lebih sering menghubungiku untuk bertanya kapan wisuda. Jelas saja Mamak gusar. Adikku, Raisa, yang usianya dua tahun lebih muda, bulan lalu sudah memakai toga. Aku, abangnya, yang kuliah dua tahun lebih cepat, hanya menjadi tukang pegang kamera saat adikku itu diwisuda. Dan tadi sebelum menutup telepon, Mamak tak lupa memberikan ultimatum: jika tidak lulus semester ini, subsidi SPP dicabut!

Sekarang aku sudah semester sepuluh. Walau masih dua tahun lagi menuju drop-out, tapi aku sudah sah menjadi legenda di kampus. Legenda adalah sebutan kami untuk mahasiswa leting tua yang belum kunjung menyelesaikan kuliah. Dulu aku yang menggoda seniorku dengan sebutan itu, sekarang malah sebaliknya.

Untuk kesekian kali, aku mengkambing-hitamkan skripsi atas keterlambatanku wisuda. Tapi jika kupikir dengan pikiran yang jernih, kenapa ya aku bisa terkendala dengan skripsi? Dosen pembimbingku tak ada masalah. Dia terkenal ramah. Punya waktu luang yang luas untuk mahasiswa. Malahan dia kelihatan lebih serius memikirkan tentang skripsiku daripada diriku sendiri.

Mengenai bahan skripsi. Memang terbilang cukup sulit dicari. Aku kuliah di Fakultas Keguruan. Namun judul skripsiku membahas mengenai aspek psikologi mahasiswa. Jadilah aku sibuk mencari referensi tentang psikologi. Sesuatu yang tidak kupahami sama sekali. Tapi bukankah sekarang zamannya informasi menggantung seperti jaring laba-laba. Segala macam berita, pengetahuan, bahkan hal-hal tak penting sekalipun cukup mudah digapai.

Mungkin memang kesalahannya terletak pada diriku sendiri. Aku tak pernah mampu menolak ajakan teman-teman bertanding play station. Pernah aku bermain hingga Subuh. Belum lagi tentang kegemaranku cang panah di kedai kopi. Tak terhitung berapa kali aku ke sana dalam sehari. Karena aku lalai, skripsiku terbengkalai. Kurasa fakta ini yang masih sulit kuterima.

***

Setelah mendengar kabar kematian dosen pembimbingku, dengan terburu-buru kami tancap gas ke rumah duka. Jam menunjukkan pukul 2 siang. Matahari bersinar terik. Abu-abu di jalanan beterbangan disapu angin.

Reza yang memboncengi aku, melajukan sepeda motornya dengan kencang. Hasbi dan Andi membuntuti di belakang. Perjalanan kami sedikit melambat di Jembatan Lamnyong. Kami berpapasan dengan rombongan wisudawan bersama iringan sanak-saudara mereka. Memang hari ini universitas kami mengadakan wisuda, namun kami kompak tak pergi. Maklum, yang diwisuda adalah adik letting semua.

Lima belas menit berlalu, kami tiba di rumah duka. Deretan motor dan mobil terlihat memenuhi jalan di depan rumah almarhum. Pelayat kebanyakan mahasiswa dan dosen. Beberapa dari mereka kukenal.

Tanpa buang waktu, kami melangkah masuk ke dalam rumah. Jenazah terbujur di lantai ruang tamu. Sejenak aku terbayang dengan almarhum dosen pembimbingku itu. Baru saja kemarin kami bertemu. Aku teringat bagaimana belakangan ini dia terus menyemangatiku menulis skripsi. Mengenalkanku dengan teman-temannya yang berprofesi sebagai dosen di jurusan psikologi. Bahkan kemarin dia turut membantuku merancang kuesioner. Aku merasa sangat terbantu. Tak terasa air mataku menetes.
***

Seminggu berlalu sejak kematian Pak Fadhil. Sekarang aku sedang berada di kampus. Bersiap bertemu pembimbing baruku.

“Dua puluh hari lagi. Kamu pasti bisa. Tugas dari bapak saja kamu selesaikan dalam semalam, bukan?” Bapak itu berkata ramah. Benar kata teman-teman. Dia memang baik. Aku pun hanya mengangguk saja.

“Baiklah. Siang ini, kamu langsung sebar kuesionernya. Lusa kamu temui saya. Saya bantu kamu mengolah data. Oke?”

Aku mengangguk lagi dan menyalami dosen pembimbing baruku. Lalu berbalik hendak meninggalkan ruangan.

“Tunggu, Din!”

Aku mendadak menghentikan langkah.

“Fadhil bangga sama kamu. Dia selalu bilang sama saya kalau kamu itu pintar. Hanya terkadang kamu suka malas-malasan. Sudah, pokoknya bulan November ini kamu harus sidang! Kamu harus buat Fadhil bangga!”

“Baik, Pak Rahmat! Saya yakin Insya Allah bulan depan saya wisuda! Terima kasih sudah mau menjadi dosen pembimbing baru saya.”

Aku meninggalkan ruangan dengan senyuman dan harapan baru. 

SELESAI

MUHAMMAD HAEKAL, Mahasiswa IAIN Ar-Raniry Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
Pemilik akun twitter @haekalism


sumber gambar: sofie05.wordpress.com

by Muhammad Haekal
Categories: 4 comments

Cerpen - Mati Lampu


Alhamdulillah cerpen saya diterbitkan oleh Serambi Indonesia, 10 Juni 2012. (klik di sini utk langsung menuju situs).
-----------------------------------------------------------------
“Sial!” Din kembali mengutuk PLN karena lampunya mati tiba-tiba. Mesin printer baru mencetak setengah dari kertas. Lembaran itu kini bahkan tersangkut  di mesin. Sambil menggaruk-garuk kepala yang tak gatal, dia menghela nafas dengan berat. Pukul 10.00 WIB dia harus menjumpai Pak Faisal, dosen pembimbing skripsi. Din hanya memiliki waktu 20 menit lagi untuk menyiapkan BAB III skripsinya. Din gusar mengingat Pak Faisal terkenal sebagai dosen yang  berdisiplin waktu. Satu menit saja melenceng dari janji marahnya minta ampun.

Tanpa pikir panjang, Din segera beranjak dari rumah setelah sebelumnya buru-buru mencuci muka dan gosok gigi. Bu Aisyah, Mamaknya Din, yang sedang menyapu rumah hanya bisa geleng-geleng kepala. “Kalau sudah mati lampu,  baru kau sibuk!” celetuk Bu Aisyah. Terang saja sang bunda  kesal. Sudah beberapa kali diingatkan  untuk tak lalai membuat skripsi.  Tapi, Din, anak semata wayangnya itu, memang sibuk sendiri saban hari di warung kopi. Ditegur sang bunda, Din cuek saja. Dia bahkan buru-buru menghidupkan sepedamotornya menuju sebuah rental komputer di Darussalam.  

***

Dua hari yang lalu, Din sudah  pergi ke kampus. Bagi mahasiswa angkatan tua seperti dirinya, alasan mengunjungi kampus hanya dua: Mengurus beasiswa atau mengikuti bimbingan skripsi. Tidak ada aktivitas lain.  Din juga malu, karena banyak teman seangkatannya yang telah diwisuda. Beberapa teman perempuan bahkan telah menikah dan punya anak. Dan yang lebih  menyakitkan kalau ada teman yang bertanya, “Belum selesai juga kau, Din?”

Baru saja memasuki gerbang kampus,  Din berpapasan dengan adek letingnya. “E, bang Din, udah siap skripsinya?” Din hanya menggeleng kepalanya sambil tersenyum. Dia terus berjalan hingga  matanya kemudian  menangkap secarik kertas bertulis “Pengumuman untuk Mahasiswa Tingkat Akhir”. Merasa maklumat itu penting baginya,  Din pun membacanya dengan seksama. Pada baris ketiga dahinya mengerut. Batas terakhir pendaftaran sidang skripsi tanggal 9 Juni    2012.

***

Dari tiga rental komputer yang ada, hanya satu yang memiliki genset. Tidak heran, tempat itu dipenuhi oleh belasan orang yang mengantre. Hampir semuanya ingin mengeprint tugas atau makalah. Rata-rata waktu yang dibutuhkan satu orang  sekitar 10 menit. Tidak lama sebenarnya. Namun,  perasaan buru-buru membuat menunggu terasa panjang.

“Masuk nggak,  bang?” Kata  seorang perempuan kepada Din. Dia tidak sabar melihat Din yang sedari tadi sibuk memasuk-cabutkan flashdisk-nya. Memang alat itu sudah lama dia miliki. Jadi, suka bermasalah dengan koneksi.

Setelah bergulat dengan flashdisk, Din akhirnya berhasil mencetak seluruh halaman. Dia pun bergegas membayar semua biaya ke kasir. Tanpa sempat mengambil uang kembalian, dia melompat ke atas sepedamotor. Suara deru mesin bersahutan dengan suara genset rental komputer yang tiba-tiba mati. Sepedamotor Din melesat meninggalkan seisi rental yang mendadak gempar dengan tingkahnya.

Jam menunjukkan pukul 10.20 WIB. Din tahu benar dia akan disemprot oleh Pak Faisal.  Atau yang  lebih buruk lagi, dosen pembimbingnya itu akan  berpura-pura tidak mengenal dirinya.

Sepedamotor melambat dan berhenti di sebuah kedai kopi kawasan Lampineung. Dari tempat parkir terlihat para pengunjung memenuhi tempat itu. Din bergerak masuk. Tidak sulit menemukan Pak Faisal. Pria berkepala hampir botak itu duduk di bagian depan kedai bersama dua lelaki. Sepertinya mereka juga dosen.

“Assalamualaikum.” Din menyapa singkat. Tiga lelaki yang sebelumnya tertawa-tawa kini mendadak diam. Sejenak mereka memandang wajah Din. Dalam beberapa detik, dosen-dosen itu sukses mendeteksi bahwa lelaki gondrong yang berada di depan mereka adalah mahasiswa skripsi.

“Jam berapa kita buat janji?” Pak Faisal bertanya dingin. Raut wajahnya seperti pulpen yang siap mencoret lembaran skripsi. Sementara dua temannya kompak meneguk kopi secara bersamaan.

“Maaf, pak. Tadi lampu mati. Jadi, saya....”

“Kamu pulang saja.” Pak Faisal memotong jawaban Din. “Saya paling tidak suka sama orang yang melanggar janji. Apalagi kamu mahasiswa. Apa jadinya bangsa ini kalau semua mahasiswa seperti kamu?”

“Tapi pak, bulan depan saya harus daftar sidang. Paling tidak bapak melihat dulu lah skripsi saya ini.”

Tanpa menjawab pernyataan Din, Pak Faisal beserta dua temannya beranjak pergi. Meninggalkan Din di tengah ingar-bingar kedai kopi.

Ditinggal  dosen pembimbing,   Din memilih pergi ke kampus. Sebenarnya dia tidak memiliki keperluan apa pun. Hanya ingin duduk-duduk melepas penat.  Untungnya dia bertemu Syahrial, mahasiswa tingkat akhir,  sama seperti dirinya. Mereka pun duduk di dalam sebuah ruangan belajar  yang kosong. Walau listrik padam, tapi pihak kampus menghidupkan genset demi kelancaran perkuliahan.

“Hahaha! Apa kubilang, kalau milih judul jangan susah-susah. Nanti kena bimbing sama dia!” Syahrial tak henti-hentinya tergelak. Menertawakan Din yang baru saja didamprat Pak Faisal. Din juga ikut menertawakan dirinya sendiri. Walaupun kejadian tadi sangat menyakitkan hati, tapi ketika bertemu dengan teman seangkatan, semuanya jadi terasa lucu, bahkan hinaan sekalipun.

Klek. Pintu ruangan terbuka. Din dan Syahrial mendadak diam. Mereka mengira ada dosen yang masuk. Tapi ternyata yang membuka pintu adalah seorang mahasiswi. “Eh, Dek Rina rupanya! Abang kira dosen!” Syahrial menyatakan keterkejutannya sambil memukul kursi. Suasana kembali riuh. Apalagi sekarang mereka ditemani oleh Rina yang terkenal ramah dan enak diajak bicara. Mereka pun asik berbicara tentang berbagai hal. Waktu berjalan tanpa terasa.

“Hehehe. Besok jangan lupa datang ya di acara seminar itu! Awas kalau abang nggak datang!” Kata Rina dengan ramah. “Sip. Insya Allah!” Jawab Din dan Syahrial kompak. Mereka berdiri, siap-siap pergi karena kuliah di ruangan itu akan segera dimulai. Para mahasiswa juga sudah mulai memenuhi kursi. “Oya bang, skripsinya gimana?” Rina bertanya basa-basi. Lampu ruangan tiba-tiba mati. Din dan Syahrial mendadak terdiam. Minyak genset pun rupanya telah   habis.

Karya Muhammad Haekal, Mahasiswa IAIN Ar-Raniry Jurusan PBI, penulis naskah komik Mamat bin Baba yang  diterbitkan oleh Bukune dalam komik kompilasi Ngomik Attack!!! (2012)


sumber gambar: blog.arcadianlighting.com

Tuesday, June 12, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Seteru Warna



Alhamdulillah puisi ini terbit di Serambi Indonesia. (klik di sini untuk langsung menuju situs)
---------------------------------------------------

Warna-warna saling berseteru
Mengadu mulut manis dan merdu
Di belakang tangannya melempar batu


Warna-warna saling berseteru
Merebut kursi nomor satu
Saling menyikut tanpa malu


Warna-warna saling berseteru
Sementara rakyat menonton gelisah
Bergidik melihat darah yang tumpah


Muhammad Haekal, mahasiswa jurusan PBI IAIN Ar-Raniry


sumber gambar: flickr

Sunday, April 1, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 2 comments

Pornografi Ancam Anak Aceh

Alhamdulillah opini ini terbit di Serambi Indonesia. (klik di sini untuk langsung menuju situs)
-----------------------------------------------------------------------------------------

Bumi Aceh kembali dihebohkan oleh peristiwa pemerkosaan yang diikuti pembunuhan. Tersangkanya  berusia 16 tahun, sementara korbannya berumur 4,5 tahun (Serambi Indonesia, Rabu, 22 Februari 2012). Mengapa  kasus ini bisa dilakukan oleh anak umur 16 tahun?

Menurut Ekandari Sulistyaningsih, sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, pada kasus perkosaan, setiap orang dapat menjadi pelaku perkosaan tanpa mengenal usia, status, pangkat, pendidikan, dan jabatan. Selama individu masih mempunyai daya seksual, dari anak-anak hingga kakek-kakek masih sangat mungkin melakukan perkosaan. Demikian pula dengan korban. Setiap perempuan dapat menjadi korban dari kasus perkosaan tanpa mengenal usia, kedudukan, pendidikan, dan status (Buletin Psikologi, 2002).

Dari berbagai kasus perkosaan, salah satu penyebabnya adalah karena pelaku terobsesi oleh konten yang mengandung unsur pornografi. Seperti halnya kejadian di Tangerang. Siswi SMP berusia 14 tahun diperkosa oleh enam siswa yang juga berusia sebaya dengannya. Menurut penyelidikan polisi, tiga pelaku mengaku nekat melakukan tindakan bejat itu lantaran terobsesi film porno (Tempo.co, Sabtu, 4 Februari 2012).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pornografi berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi.

Dewasa ini pornografi bukan barang langka. Dengan uang seribu rupiah saja, gambar porno sudah bisa dilihat di internet. Tinggal ketik kata kunci ‘seks’ di mesin pencari,  dalam sekejap  gambar-gambar yang membelalakkan itu pun muncul. Belum lagi sekarang penggunaan ponsel dengan kemampuan internet sudah sangat jamak di kalangan remaja, bahkan anak-anak. Mirisnya lagi, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia melansir bahwa Indonesia adalah negara pengakses situs porno terbesar ketiga di dunia setelah Cina dan Turki.  Barang-barang yang terkesan ‘aman’ pun kini mulai terjangkit konten porno. Di pasaran, banyak beredar majalah, koran, bahkan komik dengan gambar  seronok. Khusus untuk komik, ada jenis komik yang memang khusus menawarkan adegan seksual sebagai sajian utama. Saya beberapa kali menjumpai anak-anak umur Sekolah Dasar (SD) di sebuah rental komik di Aceh. Biasanya mereka pergi dalam kelompok (3-5 orang). Suatu hari saya melihat mereka berdiri bertumpuk di sudut ruangan. Anak-anak itu membaca sebuah komik dengan cepat. Anehnya, ketika ada orang yang mendekat, mereka buru-buru meletakkan komik itu di rak dan beranjak pergi. Setelah komik itu saya lihat, ternyata isinya  porno.

Serangan konten berbau pornografi tidak berhenti di situ. Tayangan televisi sekarang juga tidak lepas dari umbaran nafsu. Lihatlah beberapa film, talkshow, bahkan acara memasak yang “menjual” dada dan paha. Belum lagi tayangan itu disiarkan pada waktu keluarga yang membuat anak kita dengan mudah menontonnya.

Apa pun ceritanya, generasi muda kita harus diselamatkan dari pornografi. Tentunya kita tidak mau masa depan kita dihuni oleh orang-orang berpikiran porno dan mesum. 

Kita harus menyadari bahwa remaja adalah saat-saat di mana pikiran labil dan rasa ingin tahu memuncak. Semakin dilarang melakukan sesuatu, mereka semakin ingin melakukannya. Oleh karena itu, hal pertama yang harus dilakukan adalah memberikan edukasi mengenai dampak negatif pornografi.

Selain dapat memicu gejolak syahwat, ternyata pornografi juga dapat memicu kerusakan otak. Ahli bedah syaraf dari Rumah Sakit San Antonio, Amerika Serikat, Donald L. Hilton Jr, MD, mengatakan, pornografi dapat menyebabkan kekacauan kerja neurotransmiter yakni zat kimia otak yang berfungsi sebagai pengirim pesan. Bahkan lanjutnya, kerusakan otak yang diakibatkan konsumsi pornografi lebih parah ketimbang efek kecanduan kokain: Otak jadi sulit menyimpan memori dan mengontrol prilaku (inilah.com, 2009).

Tentunya, persoalan kerusakan otak di atas bisa dikaitkan dengan kesulitan belajar. Bayangkan saja, bagaimana seseorang bisa belajar jika otaknya dipenuhi oleh gambar-gambar vulgar? Belum lagi persoalan pergaulannya di tengah masyarakat. Bersosialisasi akan semakin sulit jika fantasi mengenai hal-hal erotis terus berputar di dalam kepala.

Selain itu, kita bisa memberi tahu mereka mengenai sanksi religius apabila mereka melihat konten-konten porno. Dengan penjelasan yang menarik, diharapkan mereka bisa mengerti akan besarnya dosa seseorang yang mengonsumsi “gambar polos” itu. 

Setelah mereka paham akan dampak mengerikan pornografi, kita bisa memberikan bimbingan dan pengawasan lebih lanjut. Sedapatnya kita menjauhkan anak-anak a dari segala hal yang berbau pornografi. Kita harus memilih tayangan apa yang mereka tonton, majalah apa yang mereka baca, bahkan sekarang sudah tersedia perangkat lunak (software) untuk menyetop akses terhadap situs porno.  

Diperlukan kerja sama semua pihak untuk melindungi generasi muda dari pornografi. Pemerintah, ulama, orang tua, guru, polisi, penyelenggara media, semuanya memiliki kewajiban. Kita tentu tidak bisa 24 jam mengontrol mereka. Ada saatnya mereka berada di luar rumah dan jauh dari pengawasan. Saat itulah iman mereka diuji. Dan semoga mereka dapat mengalahkan setan pornografi!

Muhammad Haekal, mahasiswa IAIN Ar-Raniry



sumber gambar: silhouettesclipart.com

Sunday, March 18, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 4 comments

Mencari Meuseukat

Alhamdulillah cerpen ini terbit di Aceh Kita. (klik di sini untuk langsung menuju situs)
------------------------------------------------------------------------------------
ANISSA meraung-raung dari dalam kamar. Dia dirasuki jin. Kelopak matanya menghitam. Suaranya menjadi berat seperti lelaki. Sementara rambutnya acak tak karuan. Orang pintar sewilayah Kutaraja sudah dipanggil. Tidak ada reaksi. Bahkan salah satu dari mereka harus masuk rumah sakit karena tiba-tiba epilepsi.


Satu minggu berlalu. Jin itu tetap tidak mau keluar. Entah karena satu permintaannya yang tidak dipenuhi.

“Aku mau meuseukat,” kata Jin.

***

Ditemani secangkir kopi yang masih mengepul, Cek Bad sedari tadi khusyuk memilih-milih ikon di komputer tabletnya. Tap, Cek Bad mengetuk gambar bola dunia di permukaan tablet yang memang memiliki fasilitas layar sentuh. Dan kini benda persegi panjang itu pun membawanya berselancar di dunia maya mencari informasi.

Cek Bad tiba di situs sebuah koran. Koran pada tahun ini tidak ada lagi yang dicetak menggunakan kertas. Sebuah organisasi lingkungan hidup berhasil membujuk pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan anti perambahan hutan. Jadi segala yang menggunakan bahan baku kayu (termasuk kertas) dialihkan ke dalam bentuk yang lebih ramah lingkungan.

Cek Bad menyesap kopinya hingga tandas. Dia telah menemukan yang dicari. Layar tablet kini menampilkan sebuah toko kue bernama Le Kutaradja Bakery (LKB). Dia beranjak bangkit dari kursi. Dengan setengah berlari dia masuk ke dalam rumah. Tabletnya yang masih menyala ditinggal begitu saja di atas meja. Menampilkan koran yang baru saja dia baca: Koran Kutaradja – 15 Januari 2032.

***

Jam menunjukkan pukul 06.15 WIB. Dek Mun kesal bukan kepalang. Sudah tidak bisa tidur malam gara-gara raungan non-stop Annisa, tidur paginya kembali diganggu oleh gedoran Cek Bad dari balik pintu kamar.

“Mun, mun, mun!” Cek Bad memanggil dari balik pintu. Sementara itu tangannya terus menggedor pintu.

“Apa?” terdengar sebuah jawaban singkat yang penuh kantuk.

“Keluar dulu. Ada yang ayah mau bilang.” Tangan Cek Bad sekarang sibuk menaikkan kain sarung yang tadi sempat melorot.

Tiga puluh detik berlalu. Yang ditunggu tidak keluar juga. Tanpa sungkan, Cek Bad kembali melanjutkan gedoran.

”Ada apa, sih?” Dek Mun tiba-tiba membuka pintu. Raut wajahnya tidak karuan. Gabungan antara rasa kantuk dan marah.

“Pak Cikmu sudah pulang.”

“Terus?!” Dek Mun menimpali dengan garang. Tidak mengerti apa maksud Cek Bad membangunkannya.

Cek Bad pun menjelaskan. Sekarang sudah genap sepuluh hari jin merasuki tubuh Annisa. Tidak ada cara lain selain memenuhi permintaan si jin yang aneh: meuseukat. Karena Pak Cik Juki sudah pulang ke rumahnya setelah semalaman menjaga Annisa, terpaksalah Dek Mun yang disuruh pergi membeli.

“Meuseukap? Apa itu meuseukap?” Dek Mun mengucek-ngucek matanya, berpikir mungkin dia sedang bermimpi. Ayahnya mengatakan sesuatu yang begitu asing di telinga.

“Bukan meuseukap! Tapi meuseukat! Pakai ‘T’!” Cek Bad menaikkan suaranya. Dia tidak menyangka Dek Mun bisa sebodoh ini. “Kamu gimana, sih? Itu lho, kue yang seperti dodol. Warnanya…….”

“Hah?!” Dek Mun memotong. Di kepalanya tidak ada gambaran sama sekali.

“Alahai! Yang dulu kamu makan waktu kecil di rumah nenek. Kamu ingat?”

“Udah, udah, udah. Mun lupa!” jawab Dek Mun sambil mengambil handuk yang tergantung di pintu. “Terus kenapa pakai beli langsung ke toko? Kan bisa di-video call! Jaman udah secanggih ini, masih mau repot-repot!” mata Dek Mun melotot.

“Iya, tadi ayah udah hubungi langsung. Tapi mereka gak tahu meuseukat.” Cek Bad menggaruk-garuk kepalanya. “Kalau ada resep mereka bisa buat. Tapi bunda kamu juga gak tahu caranya. Jadi sekarang kamu pergi dulu ke tempat nenek tanya resepnya!”

“Meuseukap,” kata Dek Mun pelan sambil berlalu ke kamar mandi. “Betul-betul kue yang kuno.” Dia tidak menyangka bahkan toko kue internasional seperti LKB saja tidak tahu kue itu.

“Meuseukat hai!” terdengar teriakan Cek Bad dari atas tangga.

***

Trotoar Jalan Tgk. Daud Beureueh dipenuhi oleh pejalan kaki yang baru turun dari trem. Kereta listrik tengah kota itu berhenti di Halte-A yang berada tepat di seberang kantor DPRA, menurunkan penumpangnya yang mayoritas pekerja kantor. Puluhan pesepeda berdasi juga terlihat memasuki deretan gedung yang berada di sepanjang jalan. Jalanan kini tidak sesak lagi oleh kenderaan pribadi semenjak pemerintah memberlakukan sistem ‘genap-ganjil’ dan pajak tinggi bagi pembelian kenderaan. Terlebih jasa angkutan umum sudah semakin bagus kualitasnya.

Dek Mun memacu skuter listriknya dengan kencang. Dia baru saja selesai menemui neneknya di Tungkop. Nek Limah memang masih kuat berjalan, walau dibantu tongkat. Tapi ingatannya mulai pikun. Dia tinggal bersama Cek Lina, adik dari Cek Bad yang baru pulang dari Amerika setelah tinggal di sana selama tiga puluh tahun.

Salinan resep kini telah berada di dalam tablet milik Dek Mun. Resep yang mati-matian digali dari ingatan Nek Limah yang lemah. Cek Lina juga bukannya membantu.

“What? Meuseukat. Aduh Dek Mun, come on! Jaman sekarang masih makan yang begituan?!” Entah benar-benar lupa atau sengaja dilupakan. Yang jelas Cek Lina memang tidak suka hal-hal yang berbau lokal.

Skuter Dek Mun sampai di Bundaran Simpang Lima, membelok ke kanan menuju Jalan Teuku Panglima Polem. Dia memperlambat kecepatan dan berhenti tepat di sebuah toko kue berlantai tiga: Le Kutaradja Bakery.

***

Di kamar. Cek Bad dan Yanti, istri mudanya, duduk mengapit Annisa yang mulai kumat. Keringat mengalir dari dahi mereka menahan tubuh kurus Annisa yang meronta-ronta. Tenaganya cukup kuat. Mungkin karena bercampur dengan energi dari jin.

“Aduh, Dek Mun ke mana, sih?” Yanti mendengus kesal. Tangannya sudah pegal menahan Annisa.

“Sabar, dek. Untuk membuat meuseukat memang memerlukan waktu lama. Setidaknya empat jam lah.” Cek Bad menjawab dengan nafas ngos-ngosan. “Sudah tiga jam dia pergi. Berarti satu jam lagi lah kira-kira.”

Satu jam kemudian, Dek Mun pun datang. Semua orang tersenyum, kecuali Annisa yang matanya masih melotot. Tanpa menunggu komando, Dek Mun dengan percaya diri segera menyuapi Annisa dengan sepotong meuseukat bawaannya. Ruangan hening. Semuanya harap-harap cemas menunggu reaksi yang terjadi.

Annisa berhenti meronta. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan, tepat ke arah Cek Bad dan Yanti. Yang dilirik pun tersenyum kaku. Tidak mengerti maksud dari lirikan itu.

“Arrggghhh!!” Annisa menjerit sejadi-jadinya. Dia menepis tangan Cek Bad dan Yanti. Tidak hanya itu, Annisa juga menyepak Dek Mun yang memang berada tepat di depannya.

“Ah, ada apa ini? Mengapa kau tidak juga mau keluar?!” Cek Bad kembali memegang Annisa, kali ini dengan kedua tangannya. “Kami kan sudah penuhi pesananmu. Meuseukat!”

“Arrggghhh!” Annisa meraung-raung tak karuan. “Ini halua, bangai!!!”

Sepertinya jin itu tidak akan keluar hari ini. []

Muhammad Haekal
Mahasiswa IAIN Ar-Raniry Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Alumnus Seuramoe Teumuleh

sumber gambar: gotobandaacehnow.co.cc

Sunday, March 11, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Menulis

Alhamdulillah puisi ini terbit di Serambi Indonesia. (klik di sini untuk langsung menuju situs)
---------------------------------------------------------------------
Kadang aku menjadi tua renta
Wanita gila
Bahkan lelaki durjana

Kadang aku melihat anjing,
Setan,
Jika beruntung bidadari

Kadang aku menjadi kamu,
Dia,
Sesekali diriku sendiri

Dan terkadang semua berakhir dengan suka,
Tawa,
Atau  mungkin air mata.

Oh, menulis!

*Muhammad Haekal, mahasiswa jurusan PBI IAIN Ar-Raniry

sumber gambar: fanpop.com

by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Kusangka

Puisi ini terbit di Serambi Indonesia. (klik di sini untuk langsung menuju situs)
-----------------------------------------------------------------------------

Aku berpapasan denganmu
Aku sangka benar
Ternyata hanya bayanganmu

Kupanggil engkau
Kuberteriak
Kutunjuk
Tak kau hirau
Apa salahku?

Aku terpaku
Melihat bibirmu bergerak
Membalas setiap panggilan
Menoleh di setiap tunjukan
Yang mereka berikan
Aku?

Aku tidak meminta
Bukan pula mengiba
Hanya tidak mengerti ke mana pikiranmu bermuara

Kejauhan bukan persoalan raga yang berpisah pulau
Tapi hati yang bersekat daki
Perpisahan bukan persoalan kepergian tubuh
Tapi kalbu yang tidak pernah pulang

Dan aku kembali bertanya
Aku hanya tidak mengerti
Kali ini aku tidak paham
Dan esok hari aku tidak berharap semua masih demikian

Aku berpapasan denganmu
Aku sangka benar
Ternyata hanya bayanganmu

(Februari, 2012)

* Muhammad Haekal, mahasiswa jurusan PBI, IAIN Ar-Raniry

sumber gambar:  vi.sualize.us

Monday, March 5, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Memanusiawikan Anak-anak

Opini ini terbit di Serambi Indonesia. (klik di sini untuk langsung menuju situs)
-----------------------------------------------------------------------------

Menurut catatan data Komisi Nasional Perlindungan Anak, selama semester pertama tahun 2011, ada sebanyak 23 anak Indonesia yang melakukan bunuh diri. Enam kasus di antaranya terjadi karena masalah di sekolah, delapan lainnya disebabkan persoalan dalam keluarga, sedangkan selebihnya karena masalah putus cinta. Rentang usia mereka dari 6-17 tahun (Tempo, Selasa, 20/12/2011).

Melihat realita di atas, sekolah sepertinya merupakan tempat yang rentan terhadap stres. Tumpukan tugas, dan tuntutan memperoleh prestasi tinggi membuat anak-anak terbebani. Hal itu dapat diperparah dengan tindakan orang tua sekarang yang menambah-nambah beban pendidikan anak dengan menyertakan mereka ke tempat bimbingan belajar. Waktu bermain dan berkumpul bersama keluarga pun kian terbatas.

Semua orang tua mungkin setuju jika pendidikan itu penting. Tapi, apakah dengan menambah beban belajar akan membuat anak lebih siap menghadapi masa depannya?  

Pada tahun 1982, di Amerika Serikat muncul sebuah program yang diberi nama Supercamp. Program ini diprakarsai oleh Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, dua pakar pendidikan asal Amerika Serikat. Supercamp adalah istilah untuk kemah remaja yang bertujuan melambungkan prestasi para peserta. Tidak hanya dalam hal akademik, Supercamp terbukti meningkatkan kemampuan para remaja dalam hal hubungan sosial dan interpersonal.

Dalam praktiknya, para trainer Supercamp menyuruh para peserta memanjat pohon, berjalan di atas tali, menjatuhkan diri dari ujung tangga ke rengkuhan peserta lain, dan beberapa kegiatan fisik lainnya. Kegiatan itu dipadukan dengan keterampilan how to learn, bagaimana cara belajar, yang meliputi teknik menghafal, mencatat, membaca cepat, menulis, dan berpikir kreatif. 

Tidak berhenti di situ, para peserta diajarkan bagaimana cara membangun hubungan antarsesama, berkomunikasi secara efektif, dan mendapatkan integritas pribadi. Hasilnya, para peserta sukses di sekolah, komunitas, dan karier. Tidak heran, Supercamp terus berlanjut hingga sekarang dengan 60 ribu alumni yang tersebar di seluruh dunia.     

Inti dari kegiatan di atas adalah membiarkan anak bersenang-senang. Dunia anak adalah dunia yang penuh dengan tawa dan warna (Papalia, 1995). Jika kita mengabaikan dunia anak itu, maka ditakutkan mereka akan lemah dari segi mental dan karakter.

Menurut Nia Hidayati, seorang pemerhati anak, stres pada dapat dipicu oleh beberapa hal, antara lain ekspektasi berlebihan orang tua terhadap prestasi anak, rendahnya kualitas hubungan antara anak dan keluarga, dan padatnya jadwal anak untuk belajar. 

Christine M Todd, seorang pakar kejiwaan dari University of Illinois, menambahkan, dari semua penyebab stres, stres fisik seperti rasa lapar, mengantuk atau kurang tidur, merupakan faktor utama yang menyebabkan munculnya masalah tingkah laku pada anak. Jika situasi tersebut terus dibiarkan berlanjut bisa menyebabkan dampak yang membahayakan.

Dalam jangka pendek, dampak negatif stres ialah mengacaukan dan merusak emosi anak yang ditandai dengan gampang marah, sulit berkonsentrasi, dan mengalami kegelisahan. Dampak jangka panjangnya ialah bisa membuat anak mengalami kesulitan dalam mengembangkan bakat dan minatnya. 

Nah, bukan prestasi yang malah akan diperoleh, malah sebaliknya. Saya percaya tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya terpuruk.

Disadari atau tidak, kita bisa membuat “Supercamp” sendiri. Biarkanlah anak-anak melakukan apa yang mereka sukai setelah sekolah. Jika mereka gemar bermain bola, biarkan, apabila mereka tertarik dengan masak-masakan, persilahkan. Dengan demikian, anak-anak bisa melepas stres yang mereka peroleh di sekolah.

Dan tanpa mereka sadari, mereka mengalami peningkatan dari segi pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik). Mereka menjadi lebih cakap dalam membangun hubungan sosial dan keterampilannya pun terasah.   

Sementara itu, orang tua juga harus berusaha menemukan formula belajar yang tepat bagi anak. Carilah informasi mengenai cara belajar yang efektif. Cukup hal-hal kecil, misalnya trik mengingat kata-kata. Apabila kata-kata ditulis dalam bentuk peta pikiran (mind map) ternyata akan lebih mudah diingat daripada kata yang berbentuk daftar (list).

Orang tua juga sebaiknya menyusun waktu berkualitas bersama anak: bertamasya, memainkan permainan favorit anak, mengajak mereka pergi ke mesjid bersama, dan berbagai kegiatan mengasyikkan lainnya. Sekolah adalah tempat yang rentan terhadap stres. Melakukan hal-hal tadi di sela-sela kegiatan pendidikan formal tentu saja dapat mengurangi potensi stress yang ditemui anak-anak dan tentunya dapat meningkatkan hubungan emosional anak dan orang tua. 

Selanjutnya, bangunlah komunikasi. Orang tua harus mengetahui kesulitan apa yang diperoleh anak di sekolah, seperti kesulitan mengikuti pelajaran, permasalahan dengan teman, atau ketidak-sukaan anak dengan lingkungan sekolah. Orang tua juga harus mengetahui apa sebenarnya yang menjadi kegemaran anak, atau kegiatan apa yang membuat mereka nyaman.

Dengan mengetahui hal-hal tersebut, selain dapat memantau perkembangan anak di sekolah, orang tua juga dapat dengan mudah memberikan solusi bagi permasalahan mereka. Jangan lupa melibatkan guru apabila merasa masalah yang timbul tidak dapat diselesaikan sendiri.

Akhirnya, anak-anak adalah manusia yang memiliki hak bermain, disayangi, dan berkumpul bersama keluarga. Jangan sampai, gara-gara perlakuan orang tua yang kurang bijak, anak-anak sampai melakukan hal-hal yang membahayakan sebagai pelampiasan. Setidaknya kita menyadari bahwa kepintaran bukan hanya persoalan akademik, tapi juga kecakapan sosial. Suatu hari anak-anak akan keluar dari sekolah dan mengabdikan diri mereka di dalam masyarakat. 

* Muhammad Haekal adalah mahasiswa IAIN Ar-Raniry, alumnus Muharram Journalism College

sumber gambar: vi.sualize.us

by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Berkampanye

Cerpen ini terbit di Serambi Indonesia. (klik di sini untuk langsung menuju situs)
-------------------------------------------------------------------------------
“Lebih baik kau pulang! Apa yang engkau janjikan tidak pernah kau buktikan!” Makian Cek Din menggema di dalam ruang sekretariat desa. Semua orang di ruangan itu tertunduk. Suasana hening.  “Saya harap Saudara tenang. Tahun kemarin keadaan sedikit sulit. Ada beberapa daerah yang harus diprioritaskan pembangunannya. Dan tahun ini giliran daerah bapak. Saya jamin,”  kata lelaki berkacamata yang duduk di depan Cek Din. Dia  menjawab dengan tenang. Mimik wajahnya bagai seorang lelaki tua yang bijak.

“Dan lagi pula, saya yakin di dalam ruangan ini tidak ada yang mengenal calon nomor dua,” lelaki itu menambahkan. Dua lelaki yang berdiri di samping Cek Din saling menatap. “Keluar! Kami tidak butuh kau,” jawab Cek Din, sambil meremas-remas selebaran kampanye dan melemparkannya ke muka si lelaki.

***

Beberapa tahun lalu, saat kampanye sedang berlangsung, lelaki yang sama datang ke kampung kami. Dia membawa sebuah map berisi dua lembar kertas. Lembaran pertama berisi harapan kami: Bangunan apa yang ingin kami bangun, jalan bagian mana yang ingin kami aspal, atau berapa ekor ternak yang kami butuhkan. Terserah kami mau menulis apa.  Lembaran kedua berisi pernyataan dukungan: Perjanjian bahwa kami semua pasti akan memilih si calon. Tak lupa kami sertakan kopian Kartu Tanda Penduduk.

Saat itu, kami semua tersenyum. Pak Sulaiman berseri-seri wajahnya membayangkan sekolah dasar kami akan direnovasi. Dindingnya akan dicat, kursi dan meja akan diganti, dan loteng akan ditambal. Janda Halimah tidak kalah girangnya. Dia tersenyum membayangkan beberapa bulan lagi seekor sapi betina akan terikat di belakang rumahnya. Dan dia pun terlihat sibuk bertanya kepada Bang Ali tentang biaya membangun sebuah kandang. Hal yang sama juga terjadi pada mamakku. Dia bilang,  “Mat, tak lama lagi mamak bisa menjahit. Ada seorang dermawan yang mau menyedekahkan mesin jahit buat kita.” Singkat kata, dalam beberapa bulan itu, tidur masyarakat selalu dihiasi oleh mimpi-mimpi akan kesejahteraan.

***

“Gimana ini, pak? Kenapa sapi bantuan belum tiba? Uang saya sudah habis untuk membangun kandang!” suara Janda Halimah menggelegar di meunasah. “Iya pak! Anak-anak sekolah juga setiap hari bertanya kepada saya kapan sekolah mereka direnovasi. Saya tidak bisa mengelak lagi,”  kata Pak Sulaiman  yang turut menyambung keluh kesah warga.

Warga saling berbisik. Mereka khawatir mimpi mereka selama ini tidak akan menjadi kenyataan.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu harap tenang. Perlu saya jelaskan, saya telah berulangkali menghubungi langsung pihak terkait. Bahkan, kemarin saya juga pergi langsung ke rumah beliau. Tapi belum ada jawaban pasti,” kini giliran Cek Din, kepala desa kami, yang angkat bicara. Raut mukanya terlihat lelah. Rambutnya juga acak-acakan.

Hampir setahun lebih pengumuman hasil pemilihan kepala daerah diumumkan. Belum ada tanda-tanda harapan kami akan terlaksana. Kini senyum kami telah digantikan oleh rasa kesal yang amat besar. Kami dibohongi oleh orang yang sekarang  memimpin kami.

Decitan rem mobil terdengar samar. Blam-blam, suara dua pintu mobil  saat dibanting  bersamaan.  Tok-tok-tok.  Aku kaget suara ketukan di pintu rumahku. Siang-siang begini siapa sih! Dengan hati kesal dan kantuk yang mulai menguap hilang, pintu pun aku buka.    “Wa’alaikum salam. Cari siapa, bang?” Ternyata dua orang abang yang turun dari mobil pick-up tadi. “Maaf dek menganggu. Kami bingung mencari rumah Halimah. Apa adek tahu di mana?” tanya seseorang yang memakai topi pet hitam.     “Halimah ada dua orang, bang. Yang satu masih gadis,  satunya lagi janda. Abang cari yang mana?”

“Ehem, sepertinya yang janda. Di kertas ini hanya tertera nama ‘Halimah’, tidak lebih. Lgi pula, saya tidak pernah mendengar ada gadis yang memesan lembu.”

“Oh, kalau yang janda, di ujung jalan itu, bang. Abang lihat di situ ada pohon mangga? Nah, belok kanan, dan cari rumah yang di depannya ada pohon jamblang. Itu rumah janda Halimah.”  

“Cukup jelas, dek. Terima kasih banyak. Kami pergi dulu.”

 “Sama-sama bang. Ngomong-ngomong, Bu Halimah sepertinya sedang banyak uang ya, di zaman sulit ini masih mampu membeli lembu. Oke lah, hati-hati di jalan bang.”

“Baik, dek. Tapi sepertinya bukan ibu Halimah yang membeli lembu ini. Ini bantuan dari gubernur.”

 “Gubernur beserta jajarannya  melakukan kunjungan ke Panti Asuhan. Para rombongan disambut oleh tarian ranub lampuan yang dimainkan  langsung oleh  anak-anak  panti asuhan. Dalam sambutannya, gubernur menyebutkan bahwa tujuan dari kunjungan  untuk berbagi kasih. Demikian laporan kami dari Panti Asuhan.”  

“Lihat, Mat! Itu orang yang menipu kita!” kata  Bang Wan sambil menepuk pundakku dan menunjuk ke televisi 14 inc yang sedang berkoar-koar. Kami sedang minum kopi di warung. Larutan hitam itu terasa begitu kelat, dan semakin kentara kelatnya kala melihat sesosok figur yang bergerak di televisi: figur yang telah menipu, memainkan hati, dan melupakan kami. Kalaupun beberapa tahun kemudian ada bantuan lembu ke desa kami, bisa dipastikan lembu kurapan, dan mati setelah beberapa bulan diserahkan.

“Tapi Mat, setidaknya dengan ini kita belajar,” kata  Bang Wan  lagi, lalu dia cukup lama terdiam. Sepertinya dia merenung.   “Pilihlah calon kepala daerah yang sudah kau kenal. Kenal orangnya dan kenal rekam jejak perbuatannya.” Kepulan asap rokok berputar-putar dari mulut Bang Wan. Agaknya dia cukup puas dengan kata-katanya itu. Aku hanya mengangguk saja. Jujur aku kurang paham dan bingung.

“Dan satu lagi, Mat,”

“Apa, bang?”

“Jangan lupa kau pilih aku di pemilihan kepala desa nanti! Kalau aku terpilih, aku akan memperluas lapangan kerja. Tidak akan ada lagi pengangguran. “Oke-oke.” Aku meneguk kopi sampai habis. Dalam hatiku: Bagaimana dia akan memperluas lapangan kerja, dia sendiri  masih  pengangguran!

* Muhammad Haekal , mahasiswa IAIN Ar-Raniry Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris


sumber gambar: innislife.utoronto.ca

by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Parade Puisi Mahasiswa

Dua puisi di bawah ini adalah tulisan pertama saya yang dimuat di media. Editor Harian Aceh memberi judul 'Parade Puisi Mahasiswa' karena memang puisi yang terbit berasal dari tiga perguruan tinggi: IAIN Ar-Raniry, Al-Muslim, dan Unsyiah.
(klik di sini untuk langsung ke situs)


GULITA YANG BERGANTI

Dan semua tanpa warna…
Semu malam gulita…
Bersemilir angin tak berkala…
Aku mewajah gerah…
Tanpa usang semua terbang…
Dengan debu melekat hampa…
Kutawar berada pagi…
Yang biasa bermatahari tanpa bintang abadi…

Dan semua memberkas kilaunya…
Petang yang datang…hilang…
Kesempurnaan awan yang menghujan…
Malam yang mengembun…menantang…
Tanpa selimut aku duduk di haluan…
Berteman angin meyakin Tuhan…

Dan semua sejalan berpaling…
Tak mampu kulupakan dengan sekepul asap…
Tak mampu hilang dengan secangkir panas hitam…

Dan kusapa jenuh sang bulan pagi…
Yang sebentar lagi tergantikan oleh matahari…
Sang cahaya yang terkadang menepi namun memberi…
Berkias alam menebar wangi…
Tempat ombak biru yang tak pernah kudaki…
Ruang kenyataan tanpa palung hati…
Sebuah hiasan terbaik yang kumiliki di semua dimensi hari…
-----------------------------------------------------------

MAHASISWA?

Hanya itukah ilmu mu?
Belajar untuk melempar batu…
Di tengah jembatan kau adu uratmu…
Sesama saudara membunuh tanpa malu…
Hanya itukah ilmu mu?
Meneriakkan kata setia dengan jiwa…
Namun melepasnya dalam sekejap mata…
Dan lihatlah pendahulumu di ’98…
Mereka berdarah….berkorban…
Tumbangkan rezim tegakkan reformasi…
Dan lihat dirimu…
Yang darahnya tertumpah sia-sia..
Tanpa guna suatu apa..hanya derita dan jerit tanpa nyawa…
Hai kau di sana!!!!!
Masihkah kau mengaku mahasiswa?!

sumber gambar: vi.sualize.us

by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment