I Love Aceh: Ngutip Kopi

I Love Aceh
Ke mana sih biasanya kamu menghabiskan liburan? Pergi ke pantai? Atau cuci mata di pusat perbelanjaan? Itu sih biasa. Jika kamu berkunjung ke Aceh, kamu akan mendapatkan pengalaman yang berbeda!

Kali ini saya akan mengajak kamu jalan-jalan ke kawasan Bener Meriah. Sebelum dimekarkan, dulunya kabupaten ini bergabung dengan wilayah Aceh Tengah (ibukota Takengon). Bener Meriah sendiri bersuhu dingin. 

Di samping tersohor dengan budaya tari dan pacuan kuda, kabupaten ini terkenal dengan kopinya: kopi Gayo. Selain bisa menikmati kekayaan rasa dan aroma kopi arabika dan robusta, kamu juga bisa mengikuti kegiatan yang takkan terlupakan: ngutip kopi. Apa itu ngutip? Ikuti perjalanan saya.


Menuju Bener Meriah


Untuk bisa menuju Bener Meriah, kamu bisa naik pesawat menuju Banda Aceh. Dari sana, kamu tinggal menyewa bus atau minibus L-300 untuk menuju ke lokasi. Biayanya terjangkau. Kamu cukup merogoh kocek 85 ribu rupiah saja. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 6 jam. Tapi tidak perlu kuatir. Sepanjang perjalanan, dijamin mata kamu akan dimanjakan dengan panorama alam Aceh yang luar biasa! Atau sebagai alternatif, kamu juga bisa langsung berangkat dengan bus dari Medan.

Setelah tiba di Bener Meriah, tubuhmu akan sedikit dikejutkan dengan suhu yang dingin! Malah jika tiba di waktu subuh, udara yang keluar dari mulut akan berbentuk asap! Cool!


Di Bener Meriah, kamu bisa menginap di Mess Pemda yang berada di Komplek Perkantoran Bener Meriah, 
Serule Kayu - Redelong. Atau jika kamu ingin sedikit tantangan, kamu bisa langsung pergi ke suatu kampung, menemui Pak Keuchiek (kepala desa), dan menyampaikan maksud kedatangan. “Pak, saya turis. Saya ingin mengenal budaya dan menikmati alam Gayo.” Insya Allah izin menumpang akan diberikan. Masyarakat di sana ramah-ramah, lho.

It’s Show Time!

September hingga Mei adalah bulan paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat Bener Meriah. Pada bulan-bulan tersebut, deretan pohon kopi yang sebelumnya berbunga, kini mulai berbuah. Tidak tanggung-tanggung, sebuah kebun kopi yang produktif bisa menghasilkan buah kopi segar atau biasa disebut gelondongan seberat 1,5 ton dalam sekali panen. Dalam sebulan, kopi bisa dipanen sebanyak dua kali. 

Buah kopi yang siap petik adalah yang berwarna merah. Jika tidak segera dipetik, buah itu akan jatuh. Memang masih bisa diolah, tapi akan mengurangi kualitas. Alhasil, dibutuhkan banyak tenaga pemanen. Nah, prosesi pemanenan itulah yang disebut ngutip.

Kebun kopi berada di setiap kecamatan di Bener Meriah. Foto-foto yang ditampilkan kali ini, berlokasi di Kampung Bener Kelipah Utara, Kecamatan Bener Kelipah.


Kebanyakan kebun kopi, berada di perbukitan. Jalan menuju ke lokasi cukup terjal dan licin. Biasanya, setengah perjalanan bisa ditempuh dengan sepeda motor, sedangkan sisanya harus berjalan kaki. Minimal kamu perlu memakai sandal gunung agar tidak tergelincir.

Karena pekebun di sini tidak hanya menanam kopi di tempat yang datar, tapi di tanah yang miring dan bergelombang, kamu harus hati-hati. Namun tidak perlu khawatir, pohon kopi bertekstur keras dan kuat. Cabang-cabangnya menjulang panjang. Kamu bisa menggunakannya sebagai pegangan.

Sekarang kita mulai ngutip! Peralatan yang kamu butuhkan cukup sederhana: sebuah tas selempang dari goni plastik. Gunanya untuk menampung buah kopi yang kamu petik. Para pekebun akan sukarela meminjamkannya untukmu. Apalagi yang kamu lakukan sebenarnya sangat membantu meringankan beban kerja mereka.

Cara ngutip sangat mudah. Kamu cukup memetik buah yang berwarna merah dan memasukkannya ke dalam selempang. Beres!

Selain bisa menikmati pemandangan dan sensasi ngutip, kegiatan ini juga akan memberikan pemahaman baru bagi setiap orang yang melakukannya. Kita bisa mengerti bagimana perjuangan para pekebun kopi. Menanam kopi bukan perkara mudah, tanah pegunungan tidak selalu datar. Merawatnya juga tidak gampang, pekebun harus rajin membersihkan lahan dari semak sembari melakukan pemupukan. Setelah dipanen pun, buah kopi tidak bisa langsung dikonsumsi. Ia harus melewati proses pengupasan, penjemuran, penggongsengan, dan penumbukan/ penggilingan. Baru kemudian bisa kita nikmati di rumah atau kedai-kedai. Perjuangan para pekebun mungkin cocok dengan rasa kopi yang pahit bercampur manis.


Mm, bagaimana? Apakah kamu tertarik? Kami menanti kunjungannya :)
follow Twitter @iloveaceh untuk mendapatkan berbagai informasi menarik mengenai Aceh

*Pengalaman ngutip adalah satu dari sekian banyak cerita lain yang menghiasi kegiatan saya dan teman-teman di Kabupaten Bener Meriah. Kami adalah mahasiswa utusan IAIN Ar-Raniry yang bergabung dalam Kuliah Pengabdian Masyarakat ( disingkat KPM – di beberapa universitas disebut KKN). Selain terkesan dengan keramahan dan adat istiadat masyarakatnya, kegiatan ini juga memberikan kami pencerahan tentang betapa hebatnya potensi daerah Aceh.

Allah SWT telah menganugerahkan ini semua. Kita hanya tinggal memanfaatkannya.

foto: dokumen pribadi

Saturday, February 16, 2013 by Muhammad Haekal
Categories: 7 comments

Are You Okay?



“Are you okay?” adalah salah satu pertanyaan yang sering menghampiri saya setelah saya menggunduli kepala. Jelas saja, beberapa teman mengira saya sedang stres atau ditimpa kanker. Mm, tapi sangkaan yang pertama cukup dekat juga. Hahaha!

Selama saya sadar, saya secara sengaja menggunduli kepala sebanyak tiga kali: kelas II SD, semester  IV kuliah, dan sekarang.  Saat SD, seingat saya alasannya adalah karena cuaca yang panas. Sewaktu semester IV, alasannya karena galau! Saat itu, saya sedang sibuk-sibuknya kuliah dan ada banyak tekanan batin lain yang mengguncang. Lalu, bagaimana dengan sekarang?

Pertama, karena saat sedang menulis skripsi, saya berjanji dengan seorang teman untuk sama-sama menggunduli rambut ketika skripsi selesai (bro, ingat janji bro!). Kedua, karena saya ie cah (bahasa Aceh yang kira-kira berarti kesal atau marah) dengan seseorang yang menghubungi saya – dengan menutupi jati dirinya – tengah malam, dini hari, pagi-pagi, untuk bertanya kabar dan hebatnya menyampaikan rasa rindu kepada saya. Oh, siapapun dirimu, nak! Bertobatlah! Aku sudah botak! (nah lho??). Dan alhamdulillah, setelah saya botak, dia tidak pernah menghubungi saya lagi. Mungkin ia terkena ephemera. Alasan terakhir, saya sedang susah memikirkan apa langkah selanjutnya dalam kehidupan saya. Begitu banyak opsi. Saya pun galau dalam memilih. Dan saya pun membotaki kepala dengan harapan bisa berpikir lebih jernih. Hasilnya, saya malah tambah galau! Hahaha!

Rasanya Botak

Botak licin sepertinya bukanlah tren rambut 2013. Itu terbukti, saat saya ngopi sehari pasca botak. Di kedai kopi, yang botak hanya saya sendiri. Di masjid pun demikian, malah beberapa jemaah terpergok memperhatikan kepala saya lebih dari 5 detik! Hahaha! Bisa disimpulkan, rasio pria botak adalah 1000 : 1.

Seperti bagian tubuh yang jarang disentuh, kulit kepala yang gundul menjadi amat sensitif. Ketika mengguyur kepala saat mandi, saya langsung teringat dinginnya air di Tanah Gayo. Rambut-rambut kecil yang tumbuh setelah dicukur (rambut manusia tumbuh 0,3 mm setiap hari), juga begitu lucu. Bagaimana tidak, karena kasar, bila saya melintasi pintu, kepala saya nyangkut di kain gorden! Kepala juga tertahan saat memakai baju atau peci. Hahaha!

Selain itu, dengan kepala botak, entah kenapa saya jadi teringat dengan seorang figuran botak (saya lupa namanya) dalam film 30 Hari Mencari Cinta. Sialnya, dia begitu mesum di film itu! Dan saya pun mendadak merasa demikian! Hahaha!

Hikmah Botak

Apakah botak memiliki hikmah? Tentu saja. Setiap hal di dunia ini ada hikmahnya. (serius).

Dengan membotaki kepala, kita akan menjadi orang yang apa adanya. Tidak ada kesempatan untuk sombong. Dan jika berjalan selalu dalam keadaan menunduk. (serius).

Dengan membotaki kepala, kita menjadi ujian bagi orang-orang yang mencintai kita. Apakah dia hanya mencintai kita saat kita keren? Atau malah berpaling saat kita botak? (serius)

Ya, begitulah kira-kira. Intinya, menggunduli rambut asik juga! Bagian kalian yang belum pernah botak, saya rekomendasikan untuk mencobanya! Biaya pangkas saya tanggung, deh!

Okelah. Ini saja. Semoga bermanfaat ya. insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca. Pesan terakhir saya: botaklah sebelum botak itu dilarang. Salam.


sumber foto: koleksi pribadi

Monday, February 11, 2013 by Muhammad Haekal
Categories: 13 comments

A Break

Dear friends and readers. Saya jeda sejenak dalam menulis blog. Saya sedang meluangkan waktu untuk beristirahat, berpikir, dan menata ulang rencana untuk ke depan.

See you soon! Insya Allah :)

Saturday, February 9, 2013 by Muhammad Haekal
Leave a comment

Koper


Koper-koper  terbungkus rapi
Sebagian malah masih menyisakan bau baru dibeli
Tak akan ke mana bulan ini
Belum akan

Pagi bangun
Mandi
Sujud
Ngopi
Begitu terus hingga 30 hari

Koper-koper mulai berdebu
Berlaba-laba
Tersudut di pojok lemari
Entah kapan akan disentuh lagi

Keberanian hilang
Bahkan untuk melangkahkan kaki
Takut tak menentu
Manusia
Atau bahkan lebih buruk lagi

Koper-koper menggerutu
Kehilangan semangat
Hati tak menentu
Lambaian jari padam
Di tengah segala janji kehidupan

Kala berlari bukan jawaban
Kala berdiam bukanlah titik aman
Kala bergerak ditakutkan
Kala segalanya dijadikan kambing hitam

Aku
Yang sekarang
Bukan aku
Yang sebenarnya.

Tuesday, February 5, 2013 by Muhammad Haekal
Categories: 5 comments

Kita dan Waktu



Dedi (sebut saja namanya begitu) ingin mencetak makalah, tapi printer mendadak macet. Lalu ia terburu-buru pergi ke rental, di tengah jalan ban motornya bocor. Setelah selesai ditempel dan ingin membayar ternyata ia lupa membawa dompet. Di tengah rentetan musibah itu, kawannya menelepon, “Gimana? Tugas kelompok kita udah siap di-print? 30 menit lagi kita tampil.”

Saat itu, selain tercetus keinginan untuk pura-pura pingsan, hatinya membenak: mengapa waktu begitu sempit? Mengapa aku begitu sial? Mengapa kehidupan sepertinya sedang menyusun rencana licik untuk menggagalkan setiap rencanaku?

Manusia kesal terhadap waktu. 

Waktu

Sang Waktu memberikan Dedi kelonggaran waktu dari pagi hingga siang. Ia tahu benar dedi sedang memiliki tugas untuk dikerjakan. Tapi sayangnya, Dedi terlena di warung kopi hingga waktu luang itu habis. Sang Waktu tak jera. Ia memberikan lagi malam hingga pagi untuk Dedi manfaatkan. Gawatnya ia lupa karena kadung bermain futsal hingga lelah mendera lalu memilih tidur sebagai penawarnya. Namun bukan Sang Waktu namanya jika menyerah begitu saja. Ia memberikan sahabatnya ini tiga hari berturut-turut hari libur nasional dengan harapan Dedi dapat menyelesaikan semua kewajiban. Canggihnya, Dedi malah membeli tiket kapal ke Sabang dan baru kembali tiga hari berikutnya.

Saat itu, Sang Waktu marah karena Dedi begitu susah bersyukur atas kelonggaran waktu yang ia berikan. Maka mulailah Sang Waktu menghubungi para anak buahnya berupa printer, ban motor, dompet, untuk berkomplot menggagalkan rencana Dedi pada hari itu.

Sang Waktu kesal terhadap manusia.

Berdamai

Setiap kita memiliki waktu 24 jam.  Apapun status dan jabatan, hanya segitulah waktu yang Tuhan berikan.

Sekarang adalah saatnya bagi kita untuk berdamai dengan waktu. Memanfaatkan waktu dengan sebaik-sebaiknya. Menyelesaikan satu pekerjaan, dan beralih ke pekerjaan lain. Percayalah, jika kita menyediakan waktu untuk membereskan kewajiban, kita juga insya Allah akan memiliki waktu untuk bersenang-senang.

Nasihat tentang waktu memang barang usang. Disampaikan dari zaman ke zaman. Kapan kita benar-benar percaya hal ini? Saat melihat diri masih di situ-situ saja, di tempat yang sama, melakukan hal yang sama, tanpa perubahan. Sementara orang lain justru semakin berprestasi, semakin jauh mendaki. 

Akhirnya, semoga tulisan kali ini bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca :)

Sunday, February 3, 2013 by Muhammad Haekal
Categories: 3 comments

Skripsi, Sidang, dan Masa Depan


Bagaimana rasanya ketika skripsi belum selesai? Seperti memikul sebuah bukit ke mana pun kita pergi.

Menulis skripsi membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan pikiran. Proses mencari bahan tulisan seperti buku dan jurnal cukup membuat wajah cemberut. Belum lagi perkara sepele (sekaligus mengesalkan) yaitu masalah format skripsi: margin, spasi, font, cara pengambilan kutipan, dan lain sebagainya. Terkesan sederhana memang, tapi sedikit saja silap akan menghambat proses pengesahan (atau yang biasa disebut ACC).

Tidak hanya menguras fisik, skripsi juga menggerus mental. Terkadang ketika kita sudah mengetik sepenuh hati, memeriksa format tulisan dengan teramat hati-hati, namun ketika tiba di tangan dosen pembimbing ternyata masih terdapat kesalahan. Harus merevisi ulang. Walau dalam hati kesalahan itu diakui, tapi rasa kecewa muncul karena kadung menganggap bahwa skripsi sudah sempurna dan berharap pengesahan segera.

Di antara berbagai tantangan dalam penulisan skripsi (sila baca “Ada Apa dengan Skripsi?”), hal yang paling sulit adalah mengalahkan diri sendiri. Rasa malas seringkali datang tak terbendung. Terlebih saat masa skripsi, mata kuliah sudah habis. Praktis, tak ada lagi kesibukan akademik yang berarti. Tabiat buruk itu semakin menjadi dengan datangnya virus menunda-nunda pekerjaan. Khusus bagi para deadliner (hobi mengerjakan pekerjaan sesaat menjelang deadline), skripsi begitu ‘memanjakan’ mereka. Bagaimana tidak, rentang waktu penyelesaian skripsi sangat panjang: hingga semester 14. Alhasil, jadilah para deadliner lupa waktu, lalai, loncat sana-loncat sini, dan baru panik ketika menyadari bahwa teman-teman satu angkatan sudah wisuda semua.

Sidang

Bagaimana rasanya ketika skripsi sudah selesai? Seperti menurunkan bukit dari pundak dan terbang ke angkasa.

Setelah berbulan-bulan berkutat dengan lembaran A4 penuh coretan, akhirnya saya menyelesaikan sidang skripsi pada 21 Januari 2013. Alhamdulillah.

Skripsi pada dasarnya bukan hantu. Tidak ada dosen pembunuh kecuali kita yang membunuh diri sendiri. Tidak ada cerita bahan sulit jika kita rajin ke pustaka. Tidak ada kisah halaman skripsi stuck jika kita terus mengetik setiap hari. Ya, sesulit apapun proses skripsi, jika kita sudah berkomitmen, insya Allah akan selesai. Saya mengenal seorang abang letting yang baru melakukan penelitian seminggu sebelum penutupan sidang. Ketika semua orang berpikir dia akan gagal, ternyata kenyataan menjawab sebaliknya: dia berhasil!

Sidang pun berlangsung tanpa halangan yang berarti. Kita tinggal mempresentasikan apa yang telah kita tulis, menjawab satu-dua pertanyaan, selesai. Ya, hanya sesimpel itu.


Masa Depan

Bagaimana rasanya seminggu setelah sidang? Seperti berhasil menyingkirkan bukit dari pundak namun kemudian ditimpa gunung.

Menjelang Ujian Nasional (UN) saat SMA, sebagian dari kita berpikir, “Setelah UN aku bisa bebas!” Ternyata tidak. Kita masih harus berhadapan dengan SNMPTN, ujian masuk Perguruan Tinggi. Ketika kita bersuka-cita melihat pengumuman kelulusan SNMPN, beberapa dari kita bersorak, “Di kampus aku bisa bebas!” Ternyata tidak. Tantangannya malah lebih mengerikan. Dan selesai sidang skripsi, saat kita mendadak sadar bahwa tidak ada lagi yang harus dikerjakan, saat waktu luang mulai terasa membosankan, akhirnya kita menyadari bahwa semua belum selesai.

Kerja di mana? Bagaimana caranya membahagiakan orang tua? Kapan siap menikah? Itu hanya sebagian hal-hal besar yang sedang menanti jawaban. Saya selalu mengingat perkataan seorang sufi – yang saya lupa namanya, “Istirahat seorang muslim itu hanyalah di surga.” Kalau dipikir-pikir benar juga.

Akhirnya, masa depan menanti kita. Setiap tempat yang kita singgahi bukanlah akhir dari perjalanan, semua itu hanyalah gerbang untuk memudahkan kita melangkah di perjalanan berikutnya. Sekarang kita hanya perlu menanyai diri sendiri tentang apa yang akan kita lakukan selanjutnya, perjalanan apa yang nanti kita pilih untuk ditempuh, usia berapa kita berencana mengakhiri masa lajang, dan pertanyaan-pertanyaan lain tentang masa depan.

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca.




Terima Kasih


Dalam kesempatan kali ini, saya ingin berterima kasih kepada Allah SWT. Tanpa bantuan-Nya, saya tidak akan pernah menyelesaikan skripsi. Shalawat dan salam saya persembahkan kepada Nabi Muhammad SAW, sang teladan.

Terima kasih kepada Ayah dan Mamak, yang memberikan dukungan penuh selama kuliah dan selalu bertanya kapan skripsi selesai sehingga menjadi motivasi tersendiri. Juga kepada Apong (adik), yang tak pernah rewel selama proses penulisan skripsi (hehe).

Terima kasih kepada Muntasir, Fahrul, Armya, Arief, Syahrial, dan kawan-kawan TEN ’08 lain yang telah meluangkan waktu untuk menemani, memberi motivasi, dan solusi tentang skripsi. Terima kasih juga telah menjadi teman yang baik dari tahun 2008 hingga sekarang.

Terima kasih kepada Bu Chamisah dan Bu Suryani yang telah meluangkan segenap waktu, tenaga, dan pikiran dalam membimbing saya menyelesaikan skripsi.

Special Thank:

-Para penguji dan sekretaris sidang: Bu Chamisah, Bu Suryani, Bu Siti Khasinah, dan Kak Asma.

-Ibu dan bapak dosen yang telah mengizinkan kelasnya untuk diobservasi (baik secara terang-terangan, maupun sembunyi-sembunyi – kenapa hal ini dilakukan? Sila baca skripsi saya. Hehe).
Erry Zulakbar, T. Zulfikar, Yuni Setianingsih, Syamsul Bahri, M. Nasir, Fitria, Rahmi, Nur Akmaliyah, Ade Irma, Muna Muhammad, Ayunaneta, Syarwan, Ayyub AR, Maskur, Rissa Fitria, Evici Herianti, Khairil Razali, Siti Khasinah, Nur Aisyah, Adriansyah, Faishal Zakaria, Rahmat Yusni, Muhammad AR, Nashriyah, Risda Neva, Suraiya, dan Abdul Manan.

-Para responden penelitian:
(TEN '08) Juzamalia (TEN '09) Okvita Maufiza, Rizqi Putra Utama, Achyar, Evi Melisa, Desy Intan Fathiah, Rajabil Fahmi, Khairul Azmy, Reza Maulana, Muhammad Sufri, Sarah Fitri, Suci Rahmi Amjusfa, M. Ihsan, Muhammad Rizal, Ridhayatullah, Inas Astila, M. Qafrawi, Rizka Aulia, Indah Manda Humaira, dan Nidar Velayati (TEN '10) Rahil Helmi, Mutia Elviani, Balhaqi, Hendri Gayo,  Fauza Aulia Rahmi, R. Syauqi, Mukhsin, Julia Farlia, Maulida Ainul Yaqin, Nur Aini,  Intan Wulandari, Khalida, Khairul Ihsan, Novi Yanti, Ahmadi, Badral Rifqi, Walid Amri, Ulya Zuhairati, Tathahira, Rayhan Izzati Basith, Revalyani, Nurul Hudayani, dan Nurul Husna (TEN '11) Nurul Ulfah, Cut Sari Maylisa, Cut Rezcia Zahira, Pocut Shaliha Finzia, Nursarirati Fahrizqa, Farisqa Rahmayani, Nuril Islami, Aidatul Husna, Desi, Mutiana, Al Munawwarah, Amalia, Siska F. Yahya, Khairunnisak, Rini Keumala Sari, Khaira Ummah, Aries Saputra, Fakhrurradhi, Dara Fitria Munzaki, Maulida Dara Utami, Rita Zahara, Nurul Hikmah, Nanda Mursyida dan Khairul Fuad (TEN '12) Cut Santi Novita, Novi Yulinda Sari, Nyak Sukardi, Atikah Gyan Pradipta, Yulia Sari, Suci Pramadini, Widya Astuti, Rinaldi, Raihan, dan Zulfia.

-Para observer penelitian:
Fadhlurrahman, Suci Rahmi Amjusfa, Yulianda, Ella Yuzar, Tathahira, Cut Putri Ayasofia, Fitri Suci Mentari, Dewi Rahmayanti, Mutia Elviani, Dian Melisa, Aidatul Husna, Nadia Rahmadhana, Intan Selian AR, Farisqa Rahmayani, Fitri Anizar, dan Lia Lisyati.

-‘Dosen Pembimbing Bayangan’:
Nailul Asfar, dan Achie Febrianto.

-Pengolah Data SPSS:
Hearry Fernanda Hussein.

-Fotografer:
Rayhan Izzati Basith.

-The Transporter Sidang:
T. Alaidinsyah
       ..dan semua pihak yang telah membantu.

Maaf jika ada kesalahan penulisan nama atau angkatan. Semoga Allah SWT memberikan kalian kenikmatan dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Amiiin.



sumber foto: R.I.B
ilustrasi: vi.sualize.us

Saturday, January 26, 2013 by Muhammad Haekal
Categories: 14 comments

Tentang Jodoh dan Perpisahan



Agustus 2012, Idul Fitri datang. Saat itu kami sekeluarga berlebaran di Kuta Blang, Bireuen. Kampung ayah. Telah menjadi kebiasaan keluarga pula, pada hari kedua atau ketiga lebaran, kami bergerak ke Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Kampung mamak. Kami berlebaran beberapa hari di sana.

Sudah tiga tahun belakangan saya pulang kampung dengan mengendarai sepeda motor. Awalnya coba-coba, tapi lama-lama keasyikan. Memang aneh jika dilihat orang: keluarga saya naik mobil, tetapi saya naik motor sendirian. Tapi begitulah yang terjadi. Orang tua saya tidak mempermasalahkannya. Yang penting kami bisa berlebaran bersama-sama.

Jika kalian pernah berkendara jauh dengan sepeda motor, 30 menit pertama mungkin kalian masih memberikan perhatian dengan keadaan sekeliling: suara kenderaan lain, indahnya pemandangan, detail-detail ini dan itu. Memasuki dua jam, badan mulai pegal. Jika kalian berkendara sendirian, kantuk mulai menerjang. Tak ada teman bicara. Saat itu, kalian takkan mendengar apapun selain suara mesin. Takkan merasakan apapun selain angin yang menyusup melalui helm dan lengan jaket. Ketika itu pikiran kalian mulai menerawang. Berpikir ini dan itu: impian, mimpi, permasalahan, atau segala hal tentang kehidupan. Bisa jadi setelah sampai di tempat tujuan, segala hal yang terpikirkan itu menemui jawaban – atau mungkin malah melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru.

Agustus 2012. Saya baru saja berpisah dengan seseorang. Dalam perjalanan empat jam Banda Aceh – Kuta Blang, empat jam Kuta Blang – Kuala Simpang, dan delapan jam Kuala Simpang – Banda Aceh, saya menghabiskan waktu untuk berpikir. Dan mungkin sekarang saya sudah mendapatkan jawabannya.

Perpisahan

Tidak pernah terlintas di benak saya untuk berpisah dengan perempuan itu. Ia telah saya kenal sejak kelas XII SMA. Lebih-kurang empat tahun.

Surat itu tiba di bulan Juli. Sebuah surat yang terdiri atas 13 paragraf. Perpisahan. Itulah inti dari surat itu. Mendadak pikiran saya kosong.

Kebetulan ketika surat itu dikirim, sore itu saya sedang berada di rumah seorang teman. Saya pun memutuskan untuk pulang. Beberapa ratus meter meninggalkan rumah, saya tersadar bahwa novel saya tertinggal. Saya pun kembali. Alangkah terkejutnya saya ketika mengetuk pintu, ternyata yang membuka adalah orang lain! Saya salah rumah! Kalian perlu tahu, bahwa sudah sekitar lima tahun saya berkunjung ke rumah itu. Saya tidak mungkin bisa salah. Tapi sore itu, saya keliru. Ternyata efek patah hati mengerikan juga.


Malamnya saya tidak bisa tidur. Setiap memejamkan mata, bayangannya muncul. Saya menghidupkan lampu. Mengambil satu-dua buku dan membaca. Berharap bisa melelahkan mata. Entah di halaman ke berapa saya tertidur walau tak lama kemudian kembali terbangun. Saya bermimpi tentang dia. Kepala mulai sakit. Saya mengambil buku note di dalam tas. Menulis kalimat-kalimat yang saya sendiri tak pahami. Saya kembali berusaha memejamkan mata. Sekarang sudah lebih sulit karena rongga mata mulai basah. Saya duduk di tempat tidur. Terus begitu hingga tanpa sadar pagi tiba.

Esoknya saya pergi ke rumah seorang teman dekat. Bercerita, meminta pendapat. Saya pergi lagi ke rumah seorang teman dekat lain. Bercerita, meminta pendapat. Bisa jadi saya yang salah, bisa jadi dia juga keliru. Begitu pendapat mereka. Setelah itu, esok-esoknya, saya memilih di rumah saja. Tidak bernafsu pergi ke mana pun.

Bagaimana rasanya perasaan ini? Seperti seseorang datang, lalu mendekap hidung dan mulutmu hingga tak bisa bernafas. Menuangkan minyak lampu ke dalam hatimu lalu membakarnya. Membelah otakmu lalu menguras habis seluruh impian dan mimpi. Sesak, panas, kosong. “Hancur anak muda.” Mengutip kalimat seorang teman.

Mungkin Saya yang Salah

Saya marah karena sepertinya dia melupakan semua yang pernah kami jalani. Tapi mungkin saya yang salah. Terlalu percaya diri dengan ribuan hari yang telah kami lalui. Tanpa pernah sekalipun menunjukkan kedewasaan dalam hubungan, misalnya dengan bertemu dengan orang tua si perempuan. Menyatakan keseriusan.

Saya kecewa karena sepertinya dia tidak memberikan saya waktu lebih banyak. Tapi mungkin saya yang salah. Terlalu banyak membaca novel cinta. Terlalu yakin bahwa seorang perempuan bisa menunggu selamanya. Melupakan sebuah fakta bahwa pada umur 20-an, seorang perempuan sudah digempur oleh banyak lamaran. Mereka harus menjaga kesuciannya dengan menikah.


Jodoh

Sekarang saya memahami jodoh sebagai orang yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk mendampingi kita. Dia bisa siapa saja. Dia tidak mesti seseorang yang telah bersama kita selama bertahun-tahun. Mungkin dia adalah orang yang baru kita temui kemarin sore. Bisa jadi dia adalah orang yang sudah lama kita kenal – yang dulu hanya kita anggap sebagai teman. Setiap orang berkemungkinan menjadi jodoh bagi siapa pun. Manusia tidak pernah benar-benar tahu.

Juli 2012 mengajarkan saya bahwa sebagai lelaki, saya harus menunjukkan keseriusan dalam hubungan. Memang pada saat itu saya belum siap secara mental, finansial, atau apapun. Tapi bukankah saya bisa menemui orang tua si perempuan untuk menyatakan keseriusan? Paling tidak saya meminta tenggang waktu. Misal 2 – 3 tahun lagi. Minimal tercapai semacam deal. Calon mertua akan lebih yakin, si perempuan akan lebih lega.

Patah hati itu sakit, jenderal! Pesan saya, bagi kalian yang sekarang sedang sedang bersama seseorang, jika memang serius dalam hubungan, datangilah orang tuanya untuk menyatakan hal itu. Paling tidak, mereka tahu jika kalian tidak main-main.

Bagi kalian yang sekarang masih sendirian, inilah waktu yang tepat untuk mempersiapkan diri secara religius, mental, dan finansial. Dan ketika suatu hari nanti kalian menemukan perempuan itu, jangan tunda sedikit pun untuk melamarnya!

Akhirnya, semoga tulisan kali ini bermanfaat. Insya Allah. Sebagai catatan, tulisan ini tidak saya tulis untuk membangkitkan segala memori bulan Juli dan merekatkan puing-puing cinta yang masih ada. Oh, saya tidak sebusuk itu! Saya hanya berharap pengalaman saya ini bisa menjadi pelajaran bagi para pembaca (terutama para lelaki).

Sampai jumpa di tulisan berikutnya, insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca. Mohon maaf minggu lalu saya tidak update tulisan. Skripsi, oh skripsi! (#alasan)

sumber gambar: vi.sualize.us

Wednesday, January 9, 2013 by Muhammad Haekal
Categories: 21 comments