Skripsi, Sidang, dan Masa Depan


Bagaimana rasanya ketika skripsi belum selesai? Seperti memikul sebuah bukit ke mana pun kita pergi.

Menulis skripsi membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan pikiran. Proses mencari bahan tulisan seperti buku dan jurnal cukup membuat wajah cemberut. Belum lagi perkara sepele (sekaligus mengesalkan) yaitu masalah format skripsi: margin, spasi, font, cara pengambilan kutipan, dan lain sebagainya. Terkesan sederhana memang, tapi sedikit saja silap akan menghambat proses pengesahan (atau yang biasa disebut ACC).

Tidak hanya menguras fisik, skripsi juga menggerus mental. Terkadang ketika kita sudah mengetik sepenuh hati, memeriksa format tulisan dengan teramat hati-hati, namun ketika tiba di tangan dosen pembimbing ternyata masih terdapat kesalahan. Harus merevisi ulang. Walau dalam hati kesalahan itu diakui, tapi rasa kecewa muncul karena kadung menganggap bahwa skripsi sudah sempurna dan berharap pengesahan segera.

Di antara berbagai tantangan dalam penulisan skripsi (sila baca “Ada Apa dengan Skripsi?”), hal yang paling sulit adalah mengalahkan diri sendiri. Rasa malas seringkali datang tak terbendung. Terlebih saat masa skripsi, mata kuliah sudah habis. Praktis, tak ada lagi kesibukan akademik yang berarti. Tabiat buruk itu semakin menjadi dengan datangnya virus menunda-nunda pekerjaan. Khusus bagi para deadliner (hobi mengerjakan pekerjaan sesaat menjelang deadline), skripsi begitu ‘memanjakan’ mereka. Bagaimana tidak, rentang waktu penyelesaian skripsi sangat panjang: hingga semester 14. Alhasil, jadilah para deadliner lupa waktu, lalai, loncat sana-loncat sini, dan baru panik ketika menyadari bahwa teman-teman satu angkatan sudah wisuda semua.

Sidang

Bagaimana rasanya ketika skripsi sudah selesai? Seperti menurunkan bukit dari pundak dan terbang ke angkasa.

Setelah berbulan-bulan berkutat dengan lembaran A4 penuh coretan, akhirnya saya menyelesaikan sidang skripsi pada 21 Januari 2013. Alhamdulillah.

Skripsi pada dasarnya bukan hantu. Tidak ada dosen pembunuh kecuali kita yang membunuh diri sendiri. Tidak ada cerita bahan sulit jika kita rajin ke pustaka. Tidak ada kisah halaman skripsi stuck jika kita terus mengetik setiap hari. Ya, sesulit apapun proses skripsi, jika kita sudah berkomitmen, insya Allah akan selesai. Saya mengenal seorang abang letting yang baru melakukan penelitian seminggu sebelum penutupan sidang. Ketika semua orang berpikir dia akan gagal, ternyata kenyataan menjawab sebaliknya: dia berhasil!

Sidang pun berlangsung tanpa halangan yang berarti. Kita tinggal mempresentasikan apa yang telah kita tulis, menjawab satu-dua pertanyaan, selesai. Ya, hanya sesimpel itu.


Masa Depan

Bagaimana rasanya seminggu setelah sidang? Seperti berhasil menyingkirkan bukit dari pundak namun kemudian ditimpa gunung.

Menjelang Ujian Nasional (UN) saat SMA, sebagian dari kita berpikir, “Setelah UN aku bisa bebas!” Ternyata tidak. Kita masih harus berhadapan dengan SNMPTN, ujian masuk Perguruan Tinggi. Ketika kita bersuka-cita melihat pengumuman kelulusan SNMPN, beberapa dari kita bersorak, “Di kampus aku bisa bebas!” Ternyata tidak. Tantangannya malah lebih mengerikan. Dan selesai sidang skripsi, saat kita mendadak sadar bahwa tidak ada lagi yang harus dikerjakan, saat waktu luang mulai terasa membosankan, akhirnya kita menyadari bahwa semua belum selesai.

Kerja di mana? Bagaimana caranya membahagiakan orang tua? Kapan siap menikah? Itu hanya sebagian hal-hal besar yang sedang menanti jawaban. Saya selalu mengingat perkataan seorang sufi – yang saya lupa namanya, “Istirahat seorang muslim itu hanyalah di surga.” Kalau dipikir-pikir benar juga.

Akhirnya, masa depan menanti kita. Setiap tempat yang kita singgahi bukanlah akhir dari perjalanan, semua itu hanyalah gerbang untuk memudahkan kita melangkah di perjalanan berikutnya. Sekarang kita hanya perlu menanyai diri sendiri tentang apa yang akan kita lakukan selanjutnya, perjalanan apa yang nanti kita pilih untuk ditempuh, usia berapa kita berencana mengakhiri masa lajang, dan pertanyaan-pertanyaan lain tentang masa depan.

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca.




Terima Kasih


Dalam kesempatan kali ini, saya ingin berterima kasih kepada Allah SWT. Tanpa bantuan-Nya, saya tidak akan pernah menyelesaikan skripsi. Shalawat dan salam saya persembahkan kepada Nabi Muhammad SAW, sang teladan.

Terima kasih kepada Ayah dan Mamak, yang memberikan dukungan penuh selama kuliah dan selalu bertanya kapan skripsi selesai sehingga menjadi motivasi tersendiri. Juga kepada Apong (adik), yang tak pernah rewel selama proses penulisan skripsi (hehe).

Terima kasih kepada Muntasir, Fahrul, Armya, Arief, Syahrial, dan kawan-kawan TEN ’08 lain yang telah meluangkan waktu untuk menemani, memberi motivasi, dan solusi tentang skripsi. Terima kasih juga telah menjadi teman yang baik dari tahun 2008 hingga sekarang.

Terima kasih kepada Bu Chamisah dan Bu Suryani yang telah meluangkan segenap waktu, tenaga, dan pikiran dalam membimbing saya menyelesaikan skripsi.

Special Thank:

-Para penguji dan sekretaris sidang: Bu Chamisah, Bu Suryani, Bu Siti Khasinah, dan Kak Asma.

-Ibu dan bapak dosen yang telah mengizinkan kelasnya untuk diobservasi (baik secara terang-terangan, maupun sembunyi-sembunyi – kenapa hal ini dilakukan? Sila baca skripsi saya. Hehe).
Erry Zulakbar, T. Zulfikar, Yuni Setianingsih, Syamsul Bahri, M. Nasir, Fitria, Rahmi, Nur Akmaliyah, Ade Irma, Muna Muhammad, Ayunaneta, Syarwan, Ayyub AR, Maskur, Rissa Fitria, Evici Herianti, Khairil Razali, Siti Khasinah, Nur Aisyah, Adriansyah, Faishal Zakaria, Rahmat Yusni, Muhammad AR, Nashriyah, Risda Neva, Suraiya, dan Abdul Manan.

-Para responden penelitian:
(TEN '08) Juzamalia (TEN '09) Okvita Maufiza, Rizqi Putra Utama, Achyar, Evi Melisa, Desy Intan Fathiah, Rajabil Fahmi, Khairul Azmy, Reza Maulana, Muhammad Sufri, Sarah Fitri, Suci Rahmi Amjusfa, M. Ihsan, Muhammad Rizal, Ridhayatullah, Inas Astila, M. Qafrawi, Rizka Aulia, Indah Manda Humaira, dan Nidar Velayati (TEN '10) Rahil Helmi, Mutia Elviani, Balhaqi, Hendri Gayo,  Fauza Aulia Rahmi, R. Syauqi, Mukhsin, Julia Farlia, Maulida Ainul Yaqin, Nur Aini,  Intan Wulandari, Khalida, Khairul Ihsan, Novi Yanti, Ahmadi, Badral Rifqi, Walid Amri, Ulya Zuhairati, Tathahira, Rayhan Izzati Basith, Revalyani, Nurul Hudayani, dan Nurul Husna (TEN '11) Nurul Ulfah, Cut Sari Maylisa, Cut Rezcia Zahira, Pocut Shaliha Finzia, Nursarirati Fahrizqa, Farisqa Rahmayani, Nuril Islami, Aidatul Husna, Desi, Mutiana, Al Munawwarah, Amalia, Siska F. Yahya, Khairunnisak, Rini Keumala Sari, Khaira Ummah, Aries Saputra, Fakhrurradhi, Dara Fitria Munzaki, Maulida Dara Utami, Rita Zahara, Nurul Hikmah, Nanda Mursyida dan Khairul Fuad (TEN '12) Cut Santi Novita, Novi Yulinda Sari, Nyak Sukardi, Atikah Gyan Pradipta, Yulia Sari, Suci Pramadini, Widya Astuti, Rinaldi, Raihan, dan Zulfia.

-Para observer penelitian:
Fadhlurrahman, Suci Rahmi Amjusfa, Yulianda, Ella Yuzar, Tathahira, Cut Putri Ayasofia, Fitri Suci Mentari, Dewi Rahmayanti, Mutia Elviani, Dian Melisa, Aidatul Husna, Nadia Rahmadhana, Intan Selian AR, Farisqa Rahmayani, Fitri Anizar, dan Lia Lisyati.

-‘Dosen Pembimbing Bayangan’:
Nailul Asfar, dan Achie Febrianto.

-Pengolah Data SPSS:
Hearry Fernanda Hussein.

-Fotografer:
Rayhan Izzati Basith.

-The Transporter Sidang:
T. Alaidinsyah
       ..dan semua pihak yang telah membantu.

Maaf jika ada kesalahan penulisan nama atau angkatan. Semoga Allah SWT memberikan kalian kenikmatan dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Amiiin.



sumber foto: R.I.B
ilustrasi: vi.sualize.us

Saturday, January 26, 2013 by Muhammad Haekal
Categories: 14 comments

Tentang Jodoh dan Perpisahan



Agustus 2012, Idul Fitri datang. Saat itu kami sekeluarga berlebaran di Kuta Blang, Bireuen. Kampung ayah. Telah menjadi kebiasaan keluarga pula, pada hari kedua atau ketiga lebaran, kami bergerak ke Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Kampung mamak. Kami berlebaran beberapa hari di sana.

Sudah tiga tahun belakangan saya pulang kampung dengan mengendarai sepeda motor. Awalnya coba-coba, tapi lama-lama keasyikan. Memang aneh jika dilihat orang: keluarga saya naik mobil, tetapi saya naik motor sendirian. Tapi begitulah yang terjadi. Orang tua saya tidak mempermasalahkannya. Yang penting kami bisa berlebaran bersama-sama.

Jika kalian pernah berkendara jauh dengan sepeda motor, 30 menit pertama mungkin kalian masih memberikan perhatian dengan keadaan sekeliling: suara kenderaan lain, indahnya pemandangan, detail-detail ini dan itu. Memasuki dua jam, badan mulai pegal. Jika kalian berkendara sendirian, kantuk mulai menerjang. Tak ada teman bicara. Saat itu, kalian takkan mendengar apapun selain suara mesin. Takkan merasakan apapun selain angin yang menyusup melalui helm dan lengan jaket. Ketika itu pikiran kalian mulai menerawang. Berpikir ini dan itu: impian, mimpi, permasalahan, atau segala hal tentang kehidupan. Bisa jadi setelah sampai di tempat tujuan, segala hal yang terpikirkan itu menemui jawaban – atau mungkin malah melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru.

Agustus 2012. Saya baru saja berpisah dengan seseorang. Dalam perjalanan empat jam Banda Aceh – Kuta Blang, empat jam Kuta Blang – Kuala Simpang, dan delapan jam Kuala Simpang – Banda Aceh, saya menghabiskan waktu untuk berpikir. Dan mungkin sekarang saya sudah mendapatkan jawabannya.

Perpisahan

Tidak pernah terlintas di benak saya untuk berpisah dengan perempuan itu. Ia telah saya kenal sejak kelas XII SMA. Lebih-kurang empat tahun.

Surat itu tiba di bulan Juli. Sebuah surat yang terdiri atas 13 paragraf. Perpisahan. Itulah inti dari surat itu. Mendadak pikiran saya kosong.

Kebetulan ketika surat itu dikirim, sore itu saya sedang berada di rumah seorang teman. Saya pun memutuskan untuk pulang. Beberapa ratus meter meninggalkan rumah, saya tersadar bahwa novel saya tertinggal. Saya pun kembali. Alangkah terkejutnya saya ketika mengetuk pintu, ternyata yang membuka adalah orang lain! Saya salah rumah! Kalian perlu tahu, bahwa sudah sekitar lima tahun saya berkunjung ke rumah itu. Saya tidak mungkin bisa salah. Tapi sore itu, saya keliru. Ternyata efek patah hati mengerikan juga.


Malamnya saya tidak bisa tidur. Setiap memejamkan mata, bayangannya muncul. Saya menghidupkan lampu. Mengambil satu-dua buku dan membaca. Berharap bisa melelahkan mata. Entah di halaman ke berapa saya tertidur walau tak lama kemudian kembali terbangun. Saya bermimpi tentang dia. Kepala mulai sakit. Saya mengambil buku note di dalam tas. Menulis kalimat-kalimat yang saya sendiri tak pahami. Saya kembali berusaha memejamkan mata. Sekarang sudah lebih sulit karena rongga mata mulai basah. Saya duduk di tempat tidur. Terus begitu hingga tanpa sadar pagi tiba.

Esoknya saya pergi ke rumah seorang teman dekat. Bercerita, meminta pendapat. Saya pergi lagi ke rumah seorang teman dekat lain. Bercerita, meminta pendapat. Bisa jadi saya yang salah, bisa jadi dia juga keliru. Begitu pendapat mereka. Setelah itu, esok-esoknya, saya memilih di rumah saja. Tidak bernafsu pergi ke mana pun.

Bagaimana rasanya perasaan ini? Seperti seseorang datang, lalu mendekap hidung dan mulutmu hingga tak bisa bernafas. Menuangkan minyak lampu ke dalam hatimu lalu membakarnya. Membelah otakmu lalu menguras habis seluruh impian dan mimpi. Sesak, panas, kosong. “Hancur anak muda.” Mengutip kalimat seorang teman.

Mungkin Saya yang Salah

Saya marah karena sepertinya dia melupakan semua yang pernah kami jalani. Tapi mungkin saya yang salah. Terlalu percaya diri dengan ribuan hari yang telah kami lalui. Tanpa pernah sekalipun menunjukkan kedewasaan dalam hubungan, misalnya dengan bertemu dengan orang tua si perempuan. Menyatakan keseriusan.

Saya kecewa karena sepertinya dia tidak memberikan saya waktu lebih banyak. Tapi mungkin saya yang salah. Terlalu banyak membaca novel cinta. Terlalu yakin bahwa seorang perempuan bisa menunggu selamanya. Melupakan sebuah fakta bahwa pada umur 20-an, seorang perempuan sudah digempur oleh banyak lamaran. Mereka harus menjaga kesuciannya dengan menikah.


Jodoh

Sekarang saya memahami jodoh sebagai orang yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk mendampingi kita. Dia bisa siapa saja. Dia tidak mesti seseorang yang telah bersama kita selama bertahun-tahun. Mungkin dia adalah orang yang baru kita temui kemarin sore. Bisa jadi dia adalah orang yang sudah lama kita kenal – yang dulu hanya kita anggap sebagai teman. Setiap orang berkemungkinan menjadi jodoh bagi siapa pun. Manusia tidak pernah benar-benar tahu.

Juli 2012 mengajarkan saya bahwa sebagai lelaki, saya harus menunjukkan keseriusan dalam hubungan. Memang pada saat itu saya belum siap secara mental, finansial, atau apapun. Tapi bukankah saya bisa menemui orang tua si perempuan untuk menyatakan keseriusan? Paling tidak saya meminta tenggang waktu. Misal 2 – 3 tahun lagi. Minimal tercapai semacam deal. Calon mertua akan lebih yakin, si perempuan akan lebih lega.

Patah hati itu sakit, jenderal! Pesan saya, bagi kalian yang sekarang sedang sedang bersama seseorang, jika memang serius dalam hubungan, datangilah orang tuanya untuk menyatakan hal itu. Paling tidak, mereka tahu jika kalian tidak main-main.

Bagi kalian yang sekarang masih sendirian, inilah waktu yang tepat untuk mempersiapkan diri secara religius, mental, dan finansial. Dan ketika suatu hari nanti kalian menemukan perempuan itu, jangan tunda sedikit pun untuk melamarnya!

Akhirnya, semoga tulisan kali ini bermanfaat. Insya Allah. Sebagai catatan, tulisan ini tidak saya tulis untuk membangkitkan segala memori bulan Juli dan merekatkan puing-puing cinta yang masih ada. Oh, saya tidak sebusuk itu! Saya hanya berharap pengalaman saya ini bisa menjadi pelajaran bagi para pembaca (terutama para lelaki).

Sampai jumpa di tulisan berikutnya, insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca. Mohon maaf minggu lalu saya tidak update tulisan. Skripsi, oh skripsi! (#alasan)

sumber gambar: vi.sualize.us

Wednesday, January 9, 2013 by Muhammad Haekal
Categories: 21 comments

Teladan



Suatu hari, seorang bapak tidak sengaja memergoki anaknya merokok. Dia marah besar. Anaknya dinasihati panjang-lebar. Uang jajannya juga terancam dikurangi. Setelah melakukan itu semua, si bapak merogoh saku baju untuk mencari sesuatu. Tidak ditemukan. Ia pun berganti merogoh saku celana tapi benda itu belum juga didapat. Putus asa dengan pencariannya, ia memanggil sang anak yang sudah masuk ke kamar setelah diceramahi.

“Andi, bisa tolong beli rokok bapak di warung?”

Mereka Melihat

Sebagai orang dewasa, disadari atau tidak, kita gemar menasihati: anak-anak tidak boleh merokok, buang sampah pada tempatnya, shalat tepat waktu, dan berbagai macam jangan ini-harus itu lain.

Lucunya, sebagai penasihat, kita terkadang lupa bahwa (secara tak sadar) kita memberikan teladan buruk bagi anak-anak. Banyak orang tua menyuruh anak mereka shalat tepat waktu, sementara sang anak juga setiap hari melihat orang tuanya menonton sinetron saat azan. Hampir semua orang tua marah melihat anaknya merokok, dan hampir setiap saat pula seorang ayah menyuruh anaknya membelikan rokok untuknya.

Anak-anak melihat yang kita lakukan. Mereka mempelajarinya. 

“Kenapa ayah boleh merokok? | Kenapa ibu buang sampah sembarangan? | Kenapa abang boleh pacaran? | Kenapa aku tidak boleh melakukan itu semua?

Penasihat yang Baik

Mulai sekarang, ada baiknya kita menjadi penasihat yang baik: penasihat yang melakukan apa yang ia nasihati. Dengan memberikan teladan langsung lewat perbuatan, mudah-mudahan segala macam nasihat akan lebih mudah berjalan.

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca :)



Sunday, December 30, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 5 comments

2013


Dalam hitungan jari, bulan Desember akan segera berlalu. Januari datang. Tahun baru! Banyak hal yang telah kita lakukan di tahun ini. Jumlah rencana-rencana yang berhasil juga mungkin sama banyaknya dengan yang gagal.  Banyak momen-momen yang terjadi. Entah itu membahagiakan atau yang membuat kehidupan kita mendadak berubah. Ya, apapun itu, semua telah berlalu. Saatnya menyusun rencana baru untuk satu tahun ke depan!

Membuat rencana adalah hal yang menarik juga produktif. Ya, minimal kita memiliki target, tidak bingung lagi dengan apa yang nanti akan kita lakukan. 

Rencana dalam hal ini haruslah jelas, gamblang, realistis, dan tidak bersifat umum – seperti “di tahun 2013, aku ingin menjadi sukses.” Ya, rencana seperti itu hebat, cuma masih terlalu kabur. Kita harus membuatnya lebih spesifik, misal “Pada tahun 2013, aku akan mengirim 7 tulisan setiap minggu ke media massa. Menulis minimal dua halaman naskah novel setiap hari. Mengikuti perlombaan menulis apa saja. Membuka jasa terjemahan Inggris – Indonesia. Mempertimbangkan lowongan kerja yang berhubungan dengan kepenulisan.”

Rencana yang saya contohkan di atas adalah perihal karir. Tentunya masih banyak bidang-bidang lain yang bisa kita susun perencanaannya. Mudah-mudahan dengan berbuat demikian, kita akan lebih sukses di tahun 2013. Dan ingat, setelah berencana, jangan lupa untuk beraksi!

Akhirnya, semoga tulisan kali ini bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca. Salam :)

Sunday, December 23, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 4 comments

Guruku dan Gurumu



Biarkan engkau menjadi guruku
Membukakan setiap lembar buku
Menulis segala pengetahuan dengan kapur putih
Lalu menghapusnya hingga bersih

Biarkan aku menjadi gurumu
Membukakan setiap lembar buku
Menulis segala pengetahuan dengan kapur putih
Lalu menghapusnya hingga bersih

Biarkan kita
Menjadi guru sekaligus murid
Untuk mata pelajaran cinta
Dengan silabus suka dan duka

Biarkan kita
Menjadi guru sekaligus murid
Untuk mata pelajaran cinta
Yang tidak pernah kita mengerti.


Thursday, December 20, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 7 comments

Seakan Wajar



Sabtu malam, pukul 23.30 WIB. Saya bersama seorang teman baru selesai main Pro Evolution Soccer di rental Playstation kawasan Darussalam. Kami tidak langsung pulang ke rumah tapi “mencari angin” dulu ke arah kota.

Malam sudah cukup larut, namun jalanan belum sepi. Banyak muda-mudi yang masih berkeliaran. Sebagian dari mereka berkendara dengan pasangan, sebagian lain memilih nongkrong di kedai kopi atau gerobak burger yang buka hingga dini hari.

Setelah melaju di Jalan Tgk Daud Beureueh, berputar di depan Masjid Raya, dan berbelok ke Peunayong, kami memutuskan pulang.

Udara dingin menyusup ke dalam sweater. Jarum panjang telah melewati angka dua belas saat kami melaju di Jalan T. Nyak Arief, depan Kantor Gubernur Aceh. Hanya satu-dua kenderaan yang melintas. Jalanan mulai sepi. Namun perhatian kami sontak terenggut saat berpapasan dengan sepasang muda-mudi. Selain karena jam yang sudah sangat larut, ada sesuatu yang sangat mencolok di mata; gaya mereka berboncengan. Si lelaki membawa motor. Si perempuan yang dibonceng menaikkan kedua kakinya ke atas paha sang lelaki dan mengapitnya. Bisa dibayangkan? Canggihnya lagi, begitu kami mendahului mereka, pasangan itu tidak risih, tidak mengubah posisinya. Jika ingin berprasangka baik, mungkin mereka sedang ber-safety riding.

Teman saya yang mengajar di sebuah SMA di Banda Aceh juga memiliki pengalaman yang mirip. Suatu hari ia diundang untuk merayakan ulang tahun seorang murid di pantai. Sebagian undangan (yang juga siswa) membawa serta pacarnya. Mereka tidak ragu untuk berpegangan tangan. Membawa serta pasangannya mandi bersama. Tidak merasa segan sama sekali dengan keberadaan guru mereka di sana. Teman saya pun merasa bingung tentang apa yang harus ia lakukan. Jika melarang, ia takut ‘merusak’ suasana. Bila didiamkan juga bukan pilihan yang bijak. Akhirnya ia terpaksa harus memilih opsi kedua dan berjanji kepada diri sendiri untuk lebih memperbanyak materi tentang pergaulan yang Islami di kelas.

Filter

Kita hidup di masa ketika segala informasi disajikan. Kita menonton televisi, menikmati musik, dan membaca buku yang diciptakan oleh orang lain. Sialnya, tidak semua hal yang tersaji itu baik bagi budaya dan agama kita. Gawatnya lagi, gempuran arus informasi itu membuat segala hal terkesan wajar, seakan baik-baik saja jika dilakukan.

Pacaran hanyalah sebuah contoh sikap buruk yang telah dianggap wajar. Malah jika ada orang yang menghindarinya, ia akan diteriaki ‘munafik’ – walau tentu patut dipertanyakan: siapa yang sebenarnya munafik?

Yang patut kita waspadai adalah efek jangka panjang. Ambil contoh pacaran tadi. Sekarang pacaran biasa, pegangan tangan di depan umum wajar, mandi bersama di laut tidak apa. Maka bagaimana dengan standar kewajaran sepuluh tahun lagi?

Generasi muda adalah penerus bangsa. Suatu hari mereka akan memimpin bangsa ini. Melindungi mereka dari segala keburukan adalah tanggung jawab kita bersama. Membuat peraturan, teguran, atau larangan saja tidak cukup. Kita harus memberikan pemahaman. Jika tidak, peraturan hanya hadir untuk dilanggar – tanpa dipahami benar maksud yang terkandung di dalamnya.

Proses ini tidak mudah tentu saja. Harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan teman dekat. Namun, sepanjang kita berkomitmen, apa yang tidak mungkin?

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca :)

Sunday, December 16, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 13 comments

Jejaring Sosial




Urban Sosial melansir jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 39.600.000 jiwa. Angka tersebut adalah 16% dari populasi warga yang berjumlah 238.600.000 jiwa. Survey itu dilakukan dari tahun 2000-2010. Perkembangan pengguna internet dalam rentang tahun tersebut juga menunjukkan statistik yang mencengangkan: 1400%. Facebook menduduki posisi pertama sebagai situs dengan pengunjung terbanyak dengan 6 milyar page views.

Eksistensi

Coba tanya teman-teman kalian? Jika mereka masih bersekolah atau kuliah, bisa dipastikan mereka memiliki akun jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter. Beberapa mungkin tidak, tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Memiliki akun di jejaring sosial (kita fokus di FB dan Twitter) agaknya telah menjadi sebuah kebutuhan. Ia adalah lambang eksisnya seseorang di tengah hegemoni modernitas. Dengan akun maya ini, pemiliknya dapat dengan mudah berinteraksi dengan teman-teman dunia maya mereka, memberi atau mendapatkan informasi terbaru, atau sekadar menjadi tempat menuangkan keluh kesah dan ekspresi.

Hitam-Putih

Belum ada angka resmi, tapi kita bisa melihat di sekeliling bahwa terdapat orang-orang yang candu terhadap jejaring sosial. Jika melakukan sesuatu di dunia nyata, harus diinformasikan juga di dunia maya. “Lagi makan..lagi sedih..lagi hadiri nikahan..midterm gagal..putus..nyambung..” dan berbagai informasi random lain. Rentang waktunya pun dekat. Bahkan ada yang melakukannya dalam hitungan menit. Jika sebentar saja berhenti update status atau nge-tweet rasanya tidak enak. Tidak heran belakangan ini muncul istilah Facebook Addiction Disorder (FAD) dan Twitter Addictions, sebagai sebutan untuk kecanduan Facebook atau Twitter. Kecanduan ini sendiri dipandang cukup berbahaya karena bisa membuat korbannya melalaikan tanggung jawab pribadi dan sosial. Bahkan di beberapa kasus, pecandu sampai merasa bahwa kehidupan nyatanya adalah di dunia maya itu sendiri. 


Namun lebih dari itu semua, banyak juga orang yang memanfaatkan jaring sosial sebagai tempat berbagi ilmu, memasarkan produk bisnis, mempromosikan karya seni, hingga membagikan kata-kata motivasi. Bahkan seringkali, pergerakan-pergerakan sosial, seperti aksi tanggap bencana atau kegiatan sukarelawan, justru bermula dari status atau tweet.

Akhirnya, pilihan terletak di tangan kita. Gunakanlah jejaring sosial secara bijak. Jangan sampai ia justru membuat kita tidak mendapatkan apa-apa selain waktu yang hilang dan impian yang terbang. 

Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca. Salam :)

sumber gambar: behance.vo.llnwd.net

Sunday, December 9, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 10 comments