Desember '16


Dari sekian banyak pilihan, menjadi bedebah adalah yang terburuk. Bagi saya, tidak ada yang lebih menyakitkan diri sendiri daripada menyakitkan orang lain. Sialnya, rasa pahit justru datang jauh-jauh hari setelah semua terjadi. Meminta maaf, sekalipun dimaafkan, rasanya tidak cukup. Di titik ini saya menyadari, menjadi pelaku kejahatan sama sekali tidak gampang. Teror rasa bersalah menjadikan hidup terasa tidak baik-baik saja.

Saya menganggap ini hukuman. Barangkali yang saya rasakan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orang yang telah saya sakiti. Di Desember ini saya merasakan betul, apa yang saya perbuat berbulan-bulan lalu buruk sekali. Semua memang sudah berlalu dan yang tersisa dari semua ini adalah pelajaran bagi kami. Tentu dengan konteks dan sudut pandang masing-masing.

Jika mengingat-ingat kejadian itu, saya jadi takut sekali menyakiti lagi. Tidak. Sungguh. Saya tidak mau lagi.

***

Pertengahan November lalu, saya alhamdulillah berkesempatan ke Roma, Italia, untuk menghadiri konferensi. Saya tidak pernah berpikir bisa berjalan di aspal Roma, mencicipi croissant dan secangkir cappuccino, menghirup udara di negara yang akrab dengan kehidupan saya karena Liga Serie A.

Saya kerap merasa tidak pantas untuk apapun, termasuk kemewahan ini. Namun yang saya ingin katakan, tidak ada yang tidak mungkin. Setiap orang berkemungkinan mendapatkan yang ia inginkan. Satu hal yang paling penting adalah mencoba. Itulah saat kita akhirnya mengetahui Tuhan membawa kita ke mana.

Jangan pernah putus asa.

***

14 Januari 2017, insya Allah saya akan mudik ke Aceh.

Saya memiliki sebuah agenda besar. Entahlah. Saya masih tidak tahu akhirnya bagaimana. Saya pun masih belum terlalu percaya diri menyampaikan ini kepada banyak orang. Hanya keluarga dan beberapa teman dekat saja yang tahu.

Apapun akhirnya, insya Allah saya akan terima. Mencoba dan berdoa, hanya itu yang saya bisa.

***

4 Desember 2016, saya masih berusaha menemukan satu kepingan diri saya di masa lalu. Seorang Haekal yang memiliki keberanian, kualitas, dan produktivitas yang tinggi dalam menulis.

Saya kecewa dan kesal karena ia belum kunjung saya temukan. Saya masih terlalu takut bahkan untuk memulai. Saya harus menemukan ia segera. Saya khawatir, bagian diri saya itu hilang dan takkan pernah lagi kembali. Jika itu yang terjadi, sungguh buruk sekali sisa kehidupan saya.

Saya rindu sekali padanya []

Sunday, December 4, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: 1 comment

Kehilangan


Di dalam kompleks Monash University, burung-burung hidup bebas.

Siang tadi, saya melihat dua parrot berkerumun di tubuh temannya yang tergeletak di atas tanah. Salah satunya berusaha menyuapkan kulit kayu, satu lagi mematuk-matuk tubuh tak berdaya itu. Mereka mencoba berkali-kali, sesekali berciap di kepala burung malang itu, entah apa yang mereka bisikkan. Setelah beberapa menit, parrot itu tetap tak bergerak. Sepertinya ia sudah mati.

Kehilangan barangkali tak pernah mudah bagi siapapun, termasuk burung-burung parrot itu.

Wednesday, September 28, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: 4 comments

Lin dan Detik-detik yang Dimilikinya


Lin, mahasiswi berdarah Padang itu, pernah marah sekali dengan saya. Ketika dia baru tiba di Australia, saya termasuk orang yang menurutnya susah dihubungi. Percakapan terakhir pun berlangsung tidak baik. Ketika itu bulan puasa, kuliah sedang libur, dan saya bekerja paruh waktu di sebuah perusahan jasa kebersihan (cleaning service). Dia mengirimkan pesan singkat yang saya balas satu-dua kata karena sedang bekerja. Dia kemudian bertanya mengapa saya membalas pesan dengan sepele sekali, apa saya tidak suka ia hubungi? Saya yang sedang capek tidak lagi membalas pesan itu. Mulai hari itu, dia mengaku sangat malas menghubungi saya.

Semalam, di sebuah grup Whatsapp yang beranggotakan mahasiwa asal Aceh (Lin berdomisili di Gayo, Aceh Tengah), dia mengaku sakit. Dokter mendiagnosanya gagal ginjal dan bulan depan ia akan menjalani operasi. Setelah bernegosiasi panjang dengan pihak pemerintah Australia sebagai pemberi beasiswa, alhamdulillah mereka bersedia menanggung semua biaya medis yang jika saya tidak salah, berjumlah $17000.

Saya menghubunginya malam itu. Bertanya sekali lagi tentang penyakitnya dan apakah dia ada waktu ngopi besok. Dia mengiyakan dan secara bercanda bertanya apakah saya bersedia mendonasikan satu ginjal saya untuknya? Saya menjawab tidak. "Aku sudah memberikan hatiku untuk orang lain, masak mau kasih ginjal lagi," saya balik bercanda.

Dia berkuliah di sebuah universitas yang terletak di Bundoora. Ini kali pertama saya berkunjung ke kampus itu. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam empat puluh menit. Saya menumpang bus dari Clayton pukul 07.15. Suhu pagi itu sekitar delapan derajat celcius, namun matahari bersinar sangat cerah. Saya dengan percaya diri memakai kaos tipis yang berpadu dengan kemeja lengan panjang. Uap udara terlihat jelas ketika saya bernafas.

Genangan hujan semalam masih membekas di aspal ketika saya tiba di Stasiun Oakleigh. Dari sana saya naik kereta ke Stasiun Parliament dan menyambung perjalanan dengan tram ke Bundoora. Saya mengutuk diri sendiri karena buru-buru mengejar tram, alih-alih singgah dulu di toilet stasiun. Menahan kencing di dalam moda transportasi yang hanya melaju 16 kilometer per jam bukan hal yang menyenangkan.

Melbourne, ibukota dari negara bagian Victoria, terkenal dengan sebutan "kota yang memiliki empat musim dalam satu hari". Perubahannya terkadang begitu labil. Pagi itu saya menyesal tidak membawa sweater dan payung. Hujan mulai merintik dan angin dingin berhembus menembus kemeja.

Lin adalah perempuan yang ceria. Setidaknya begitulah yang saya nilai dari beberapa kali pertemuan dengannya. Begitu pula pagi ini. Saya kemudian ingat bahwa di balik sebuah keceriaan, terkadang ada kesedihan yang dikubur dalam. Setelah berbasa-basi dan menertawakan rambut cepak saya serta dua garis 'metal' di sisinya, kami berdua berjalan ke sebuah kedai minuman yang dikelola warga Tiongkok.

***

Segelas latte dan cappucino telah dihidangkan di meja kami. Lin sejenak bangun, berjalan ke pelayan dan memintanya menghangatkan sebuah muffin.

"Jadi kenapa rupanya dengan kalian?" Lin bertanya sambil tertawa. Saya sudah menduga dia akan bertanya soal hubungan saya yang berakhir prematur. Saya bilang kalau dia menginterogasi soal ini, lebih baik saya pulang saja. Tapi tentu saja dia tidak berhenti. Setelah berputar-putar ke topik lain, dia masih kembali ke pertanyaan semula. Saya merengut karena tidak punya pilihan. Kami pun menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk membicarakan ini. "Kalian berdua sepertinya salah," simpulnya.

Setelah sesi ice-breaking tentang saya, Lin membetulkan kacamata dan mulai bercerita tentang dirinya.

Sejak 2010 ginjalnya sudah bermasalah. Salah satu penyebabnya karena sistem autoimun yang menyerang sel-sel sehat tubuhnya sendiri. Penyakit ini membuatnya melemah dan cepat lelah. Semuanya semakin terasa ketika di saat yang sama ia harus menyelesaikan pendidikan sarjana. Kondisi kesehatan yang buruk ditambah dengan beban kuliah tak jarang membuatnya begitu tertekan dan melampiaskannya dalam tangisan.

Penyakit ini sendiri adalah antitesis dari diri Lin. Dia adalah seorang yang aktif dan gemar berorganisasi. Kondisi tubuhnya yang terus memburuk membuatnya terbatas. Ini barangkali salah satu alasan yang membuatnya kembali ke Gayo selama dua tahun pasca kuliah S1. Namun bagaimana pun, saat ini ia mensyukuri momen itu. "Paling tidak, aku bisa menghabiskan waktu bersama ibu," kenangnya. Sesuatu yang teramat ia rindukan saat ini.

Ibunda Lin juga hampir pasti tidak bisa menemani anaknya menjalani operasi. Tiket pesawat mahal. Hal ini cukup membuatnya kesepian, walau beberapa teman sudah menawarkan diri untuk menemaninya ke rumah sakit bulan depan. Lin bercerita sambil menahan air mata.

Hujan semakin menderas di langit Bundoora. Kumpulan gagak hinggap di cabang sebuah pohon seakan menantang cuaca. Beberapa mahasiswa terlihat berjalan cepat.

"Jadi sekarang sedang dekat sama siapa?" tanya Lin tanpa dosa.

Saya menepuk kepala. "Ada seorang perempuan dari daerahmu. Ya belum gimana-gimana, masih teman saja," jawab saya pelan.

"Hah?! Siapa namanya?"

Tentu saya tidak katakan.

Namun hidup ini kadang-kadang aneh. Satu pesan singkat masuk ke ponsel saya yang sedang berada dekat dengan jangkauan mata Lin. Dia membaca nama pengirimnya dan tertawa keras-keras. Adakalanya rahasia menunjukkan wajahnya tanpa diminta.

"Tapi ingat, kali ini harus pelan-pelan, jangan buru-buru, jangan ulangi lagi kesalahanmu dulu," katanya serius.

*** 

Di belakang kampus Lin terhampar cagar alam seluas 28 hektar. Dia mengajak saya ke sana. Katanya ingin sekali melihat kangguru dan binatang endemis Australia lainnya.

Lin berjalan agak kepayahan. Dia bertanya kepada petugas di sana apakah boleh menitipkan tasnya yang berat. Sayang sekali loker hanya diperuntukkan bagi para staf. Saya pun menawarkan agar tasnya saya panggul. Kebetulan ransel saya juga tidak berat.

Pintu masuk hutan terbuat dari besi. Hujan mulai reda ketika kami memasukinya. Aroma daun mulai terasa.

Baru dua ratus meter berjalan, empat kangguru terlihat sedang melahap tumbuhan. Salah satunya memperhatikan kami yang mendekat, lalu kembali makan. Lin ingin sekali berfoto bersama mereka, tapi sayangnya binatang itu sedang tidak ingin diganggu.

Kami terus berjalan memasuki hutan. Ada dua kelompok anak taman kanak-kanak yang sedang memperhatikan tumbuhan di bawah pengawasan gurunya. Langit mendung lagi. Hujan kembali merintik. Lin mengambil payung dari tasnya dan memberikannya kepada saya.

Lin bercerita bahwa dia suka sekali jalan-jalan, khususnya ke tempat yang belum pernah ia kunjungi. Ia jarang mengunjungi tempat yang sama berkali-kali. Kondisinya yang terus menurun membuatnya tidak bisa sering lagi melakukan itu. "Suatu hari aku ingin sekali jalan-jalan sebuah tempat di kota. Kuajak seorang teman. Sampai di sana, aku malah banyak duduk karena gak sanggup jalan. Temanku marah-marah," katanya sambil tertawa.

Di hutan ini dia juga sudah beberapa kali minta istirahat. Sialnya, kami beberapa kali salah menebak arah pulang. Dalam hati, saya khawatir jika kami tersesat di tempat seluas ini. Warna langit juga semakin kelabu. Rinai hujan berubah lebat. Saya bercanda dengan pura-pura membaca berita tentang dua orang mahasiswa yang tersesat di hutan kampus dan terpaksa dijemput tim SAR.

Kami berhenti lagi di sebuah batang kayu yang telah mati. Lin merasa capek sekali dan dia ingin duduk beberapa menit di situ.

"Andai aku punya kesehatan sepertimu, aku mau melakukan banyak hal," kata Lin. Dia ingin mencoba berbagai olahraga ekstrem dan berpetualang antar negara. Dengan kondisinya sekarang memang itu tidak mungkin, tapi ia menyukuri satu hal. "Sekarang aku menjalani hari dengan sepenuhnya. Kalau aku fit sedikit aja, aku mau maksimal melakukan banyak hal selagi masih bisa. Dengan penyakit ini, aku bisa lebih menghargai setiap detik yang kumiliki. Tak lagi take for granted."

Hujan semakin deras.

"Kamu pernah dengar lagu ini?" Lin mengeluarkan ponselnya, membuka Youtube, dan memutar lagu OneRepubic berjudul I Lived.

Saya tahu kenapa ia menyukai lagu itu. Orang yang diceritakan lagu tersebut mirip seperti dirinya.

***

Lin mengantar saya sampai ke halte bus kampus. Katanya saya harus naik bus nomor 350 jurusan kota dan turun di Jalan Spring. Bus yang kami tunggu datang sepuluh menit kemudian.

Insya Allah pertengahan Oktober Lin akan menjalani operasi. Saya lupa jenis gagal ginjal apa yang ia derita, tapi jika saya tidak salah tangkap, ia harus melakukan cuci darah setiap hari di rumah pasca pembedahan. Alatnya akan dipinjamkan rumah sakit dan ia akan diajari cara pemakaiannya.

Semoga semuanya berjalan lancar untuknya. Insya Allah.

Mohon doakan Lin, teman saya []

Tuesday, September 27, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: 1 comment

Desember untuk Yu


Yu sudah tiba di Queen Victoria Market (QVM) sekitar pukul 10.00 pagi. Hira dan Zati masih dalam perjalanan dari Burwood. Sementara saya harus meminta maaf dua kali karena kelamaan mencuci pakaian (sehingga terlambat berangkat) dan setelah sampai di Stasiun Clayton rupanya rel sedang mengalami perbaikan. Saya pun harus menumpang bus ke Caulfied dan menyambung lagi dengan kereta tujuan kota.

Matahari musim semi sedang bagus hari itu. Banyak orang memakai kaos. Setelah sekian bulan berkutat dengan dingin, orang-orang sepertinya merindukan kehangatan. Jam hampir menunjukkan pukul 11.00 ketika kereta yang saya tumpangi tiba di Stasiun Melbourne Central. Saya memutuskan jalan kaki ke QVM yang jaraknya tidak sampai satu kilometer.

Setelah celingukan beberapa saat, saya melihat Yu duduk di sebuah bangku baja dekat jalan masuk pasar. Ia membaca buku dan mendengar musik. Entah lagu apa. Saya pun segera berjalan menghampirinya. Aroma kopi dan roti mulai menggoda hidung.

Beberapa hari yang lalu, Yu mengirimkan pesan singkat. Ia bertanya, kapan saya ada waktu ngopi. Barangkali ia agak stres dengan perkuliahan. Selain kuliah di sebuah kampus yang terkenal dengan ketatnya studi, ia pun kurang piknik. Saya juga menduga, ia punya sebuah cerita yang perlu ia sampaikan.

Setelah berbasa-basi beberapa kalimat dan menertawai rambut baru saya, kami berkeliling di QVM sambil menunggu dua teman lain tiba. QVM yang mulai dibangun sejak 1878 ini adalah pasar seluas tujuh hektar. Kami masuk dari sisi samping yang dipenuhi pedagang kulit putih yang menawarkan aneka sosis, keju dan roti, dan berjalan ke kawasan pasar buah dan sayur yang didominasi oleh wajah Asia. Ucapan "maaf" seringkali terucap ketika kami tanpa sengaja menghalangi jalan orang lain. Ini adalah kebiasaan warga lokal yang mulai menjadi kebiasaan kami sebagai pendatang.

Sambil jalan, saya bertanya kepada Yu tentang Fadh, kekasihnya. Dia tersenyum. Fadh baru saja lulus di sebuah program beasiswa. Dia akan studi di Australia tahun depan. Kabar baiknya, Yu bilang, Desember ini mereka akan melangsungkan pernikahan. Insya Allah.

Saya sudah mengenal mereka sejak kuliah S1 dulu, sempat berinteraksi ketika kami berada dalam sebuah organisasi. Yu sendiri mulai akrab ketika kami satu pesawat dalam perjalanan menuju pembekalan beasiswa di Yogyakarta. Sementara saya dan Fadh mulai banyak bercakap sejak sama-sama mengikuti tes masuk di sebuah kampus di Bandung—ketika itu, saya belum beruntung.

Pembicaraan yang semakin menarik membuat kami merasa perlu mencari kopi, roti, dan tempat duduk yang nyaman. Kami pun mengantre kopi di sebuah kedai yang paling ramai di sana. Saya memesan cappucino dan Yu memilih latte. Selesai dengan kopi, mata kami mendadak lapar melihat panjangnya antrean di depan truk American Doughnut Kitchen. Kami memesan satu bungkus yang berisi lima donat. Mereka hanya punya satu menu hari itu: donat panas isi selai stroberi yang ditaburi gula bubuk. Simpel sekali, pikir saya. Terkadang ketika negara sudah terlampau maju, orang-orangnya mulai merindukan hal-hal yang sederhana.

Hira dan Zati juga telah tiba. Setelah menemani mereka mencari minuman, kami menemukan tempat duduk di bawah kanopi di tengah pasar. Matahari mulai meninggi. Alunan blues dari seorang pemusik jalanan yang murah senyum melaju bersama sepoi angin. Tepat di hadapan kami, anak-anak mengantre untuk naik ke rodeo banteng. Kebanyakan dari mereka hanya bertahan sekitar 15 detik di atas punggung binatang mainan itu. Pemilik usaha mainan dan anak-anak sama-sama tertawa, walau barangkali dengan maksud yang berbeda.

Yu ingin bertukar pikiran tentang rencana pernikahannya. Dia memang belum bisa berbuat banyak selama di sini selain menghubungi keluarga di kampung dan berdoa semoga semuanya lancar. Sementara Fadh sendiri telah memutuskan jeda dari kuliahnya di Bandung dan fokus mengurus persiapan pernikahan.

Hira dan Zati baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Mereka adalah narasumber yang baik bagi Yu. Sementara saya, entah kenapa, kadang-kadang dilibatkan dalam diskusi seperti ini. Mungkin karena punya banyak pengalaman buruk untuk dibagi-bagi.

***

Pasangan ini berumur 24 tahun ketika mereka menikah. Mereka mengaku ini keputusan yang berani karena selain masih cukup muda, mereka menganggap diri belum stabil dalam hal apapun. Hira tertawa ketika mengingat ibunya berkata kepada Zati: "Tolong, jaga suamimu baik-baik." Sebagai laki-laki, dia memang merasa belum cukup dewasa dan terkadang masih berpikir untuk menikmati masa lajang dulu sebelum menikah. Namun, kenyataan bahwa sekarang dia telah memiliki istri membuatnya bersyukur. Ada kebahagiaan dan ketenangan tersendiri yang belum pernah ia rasakan.

Zati juga masih mengingat jelas bagaimana rusuh dan gaduhnya situasi menjelang pernikahan. Mereka saat itu hanya memiliki waktu satu minggu untuk mempersiapkan semuanya! Dia dan Hira lulus sebuah program beasiswa. Kampus dan tanggal masuk mereka juga sama. Waktu keberangkatan yang semakin dekat menjadi salah satu alasan mengapa mereka mempercepat pernikahan.

Pernikahan juga rumit karena bukan hanya tentang dua individu, tapi dua keluarga. "Rawan sekali ribut mengenai hal-hal sepele, seperti jenis suvenir atau bentuk pelaminan," kata Zati. Untuk hal ini ia menyarankan agar tetap tenang, jangan ingin menang sendiri atau memaksanakan kehendak. Bagaimana pun, pernikahan berarti "pernikahan", bukan  tentang hal-hal kecil yang sifatnya dekoratif atau hiasan.

Selain memberikan tekanan bagi calon pengantin, pernikahan juga menggoyang mental orang tua. Zati ingat sekali bagaimana ayahnya sempat silap mengingat nama abang iparnya. "Saat itu pernikahan kakak. Ayah sempat dua kali salah menyebut nama menantunya. Pertama, beliau menyebut nama sebuah kecamatan di Aceh Besar (karena memang mirip). Kedua, beliau tanpa sadar menyebut nama ayah si menantu ketika ijab." Walau momen tersebut memecahkan tawa hadirin, tapi dia tak ingin ayahnya mengulangi hal yang sama. Ia pun menulis besar-besar nama lengkap Hira di depan pintu kamar orang tuanya. "Alhamdulillah, proses ijab-kabul kami lancar."

Pernikahan juga rasanya seperti mimpi. Paling tidak begitulah yang Hira rasakan sesaat setelah ijab-kabul. Dia seakan belum percaya ia sudah sampai di tahap itu. Dia pun sempat bengong, melihat kiri-kanan, ketika staf KUA menyampaikan nasihat pernikahan. Sejenak pikirannya melayang entah ke mana sebelum deheman seorang tokoh masyarakat mengembalikannya ke alam nyata.

Setelah resmi menjadi suami-istri dan mulai menjalani kehidupan berumah tangga, banyak perubahan yang mereka rasakan. Salah satu di antaranya, mereka jadi mengenal satu sama lain secara lebih jelas. "Semuanya seperti tidak ada rahasia lagi. Kita menjadi apa adanya. Aku bahkan terkejut melihat istriku (dia memberi beberapa contoh). Ketika berpacaran dulu, aku tidak mengenalnya seperti itu," kata Hira. Hal yang senada juga diakui Zati. Realitas yang kemudian muncul tersebut bisa disukai atau justru sebaliknya. Yang paling penting menurut mereka adalah penerimaan bahwa mereka sama-sama manusia.

Pernikahan juga menuntut rasa pengertian yang hebat. Zati bertanggung jawab di dapur, tetapi ketika ia sedang sibuk mengerjakan tugas akhir, Hira dengan senang hati akan menggantikannya. Hira mengetahui pula jika Zati adalah orang yang pencemburu. Oleh karenanya dia akan sebisa mungkin menjaga perasaan istrinya itu. Menurut mereka, bagaimana pun masalah yang muncul di rumah tangga, jika kedua belah pihak bisa saling memahami, bersedia mengalah sesekali, dan menjaga kualitas komunikasi, insya Allah semuanya akan berakhir baik. Mereka juga menambahkan, di balik segala macam logika yang manusia produksi, ada hal-hal lain di luar itu yang terjadi, seperti bertambahnya rezeki, ketenangan hati, dan lain-lain. "Intinya, Allah pasti membantu," kata mereka kompak.

***

Setelah menuntaskan rindu kampung halaman dengan makan di Ayam Penyet Ria di kawasan Clarendon, kami memutuskan menghabiskan sore di pantai St Kilda, Port Phillip.

Kami masih di dalam tram ketika garis pantai mulai mengintip dari deretan perumahan. Aroma laut mulai tercium tipis. Senyum menyungging di bibir kami. Matahari sudah tidak panas lagi.

Berbeda dengan di Aceh, pantai di Australia berada dekat dengan kawasan perkotaan. Jika kita berdiri di pantai St Kilda, barisan gedung akan terlihat seperti memagarinya. Pantai ini sendiri terdiri dari kawasan berpasir sekitar 700 meter. Di tepinya, terdapat sebuah jembatan yang mengarah ke tumpukan bebatuan, di sela-selanya dapat ditemui beberapa ekor penguin yang sepertinya masih baru lahir. Jembatan ini juga memiliki cabang yang membawa pengunjung ke barisan yacht yang parkir rapi.

Pantai sedang ramai. Sebuah keluarga terlihat sedang mengambil foto bersama. Beberapa anak saling berteriak ketika menemukan pokemon. Seorang lelaki fokus membidik penguin di sela-sela batu dengan kameranya. Ada yang duduk saja termenung bersama anjing di tepi jembatan. Sementara beberapa pemancing sibuk berkonsentrasi dengan buruannya. Debur ombak dan camar yang berterbangan memunculkan rindu di hati saya untuk sejenak saja pulang. Suasananya mengingatkan saya akan kawasan Ulee Lheue. Bedanya di sini tidak ada yang menjual jagung bakar atau bakso goreng.

Ketika Hira dan Zati sedang ke toilet, saya dan Yu berjalan-jalan menyusuri jembatan tempat yacht bersandar.

"Selesai kuliah kamu mau ke mana?" Yu bertanya.

"Aku tidak tahu. Terlalu banyak kemungkinan," jawab saya.

Saya menjelaskan tentang rencana saya mencari posisi mengajar. Prioritasnya mencari kontrak jangka panjang di kampus kabupaten, seperti Gajah Putih (Gayo) atau Teuku Umar (Aceh Barat). Jika belum ada, saya berencana mengajar beberapa mata kuliah di UIN Ar-Raniry. Insya Allah. Yu sendiri memiliki rencana yang relatif sama. Selain kembali ke almamater kami, ia juga ingin melanjutkan mengajar sebagai tentor di sebuah bimbel.

Kami berdua tertawa ketika mengingat-ingat pengalaman mengajar dulu, sebelum berangkat kuliah. Menjadi dosen di Indonesia, apalagi jika bukan pegawai tetap, harus bertahan dengan kondisi yang tidak masuk akal. Gaji sedikit, cairnya entah kapan. Makanya kalau bicara pendapatan, masih lebih baik mengajar les saja, atau berbisnis jika bisa. Kami menyimpulkan menjadi akademisi, dengan sistem seperti saat ini, adalah pertarungan hebat antara idealisme dan realitas bertahan hidup.

Suhu turun. Angin mulai terasa dingin.

Yu secara pelan dan agak hati-hati bertanya, ada apa dengan saya. Lebih tepatnya, apa yang terjadi dengan hubungan saya dengan seseorang baru-baru ini. Yu mengetahui itu karena orang itu juga merupakan temannya.

Saya tidak pernah bercerita secara detail selama ini kepada siapapun. Saya hampir tidak punya orang yang bisa saya percayai. Selama ini, jika ada sesuatu, saya hanya menceritakannya kulitnya saja kepada orang yang bertanya. Sore itu saya bersyukur bisa menceritakan dengan lebih dalam kepada Yu. Saya sendiri tidak tahu apa dia orang yang bisa saya percayai. Namun paling tidak beban yang selama ini rasanya saya tanggung sendiri, mulai bisa saya urai sebagiannya. Sekalipun di ujung cerita dia berkata pelan, "Sepertinya itu salahmu." Saya mengangguk dan tidak membantah. Itu memang salah saya.

Saya juga berkata kepada Yu jika saat ini saya sedang capek dan agak muak dengan hubungan percintaan. Ada satu ruang di diri saya yang mual jika mendengar orang lain menggoda-goda saya dengan seseorang. Walau saya akui juga, ada sebuah ruang lain yang begitu memerlukan teman, sosok pendamping hidup. "Paling jauh, jikapun berhubungan dengan seseorang saat ini, cuma sampai batas 'teman baik' saja. Aku pusing dan sedang tidak stabil," kata saya. Saya juga merasa kehilangan rasa percaya diri karena gagal berkali-kali. Saya takut menyakiti orang lagi. Saya berharap bisa fokus berpikir ke arah sana setelah saya menyelesaikan kuliah. Mudah-mudahan juga "calon" tersebut bisa saya temukan dari sekarang. Jadi harapannya tidak memakan waktu lama lagi. Insya Allah. Mendengar itu, Yu hanya tersenyum.

***

Yu dan Fadh akan menikah di akhir Desember. Insya Allah. Kami bertanya apakah dia akan menyediakan tiket pulang kalau kami datang. Dengan wajah merengut, ia menggeleng. Belum nikah masak sudah diperas! Kami meledak dalam tawa.

Saya berdoa restu Allah Swt menyelimuti mereka. Desember biasanya musim hujan dan semoga rintik-rintik itu membawa kebahagiaan []

Sunday, September 25, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Harapan di 26


Ketika seseorang sudah memiliki kehidupannya sendiri, kaki sudah mampu berjalan mandiri, apa lagi yang sebenarnya perlu dicari?

Bagi saya, kesendirian, sesempurna apapun bentuknya, selalu memiliki ruang kosong: berjengkal-jengkal spasi yang berbisik agar segera diisi.

***

Malam itu, di sebuah grup Whatsapp yang hanya berisi lima orang, semuanya teman SMA dulu, kami mendiskusikan sebuah pertanyaan: menurut pengalaman masing-masing, bagaimana tekanan untuk menikah di usia 26 tahun?

Dari perspektif perempuan di grup tersebut, 26 adalah angka yang dipenuhi harapan dan pertanyaan.

Orang tua mulai berharap agar anaknya segera menikah. Sebagian terang-terangan bertanya, sebagian lain menunjukkannya dengan kode menggelitik: menggendong bayi dengan ekspresi wajah yang perempuan lajang mana pun akan tahu itu isyarat "mama minta cucu". Ada pula yang terlalu malu sehingga memilih mencari tahu melalui para kenalan (atau sebut saja mata-mata) tentang informasi percintaan anaknya.

Tekanan juga datang dari lingkungan. Satu per satu teman menikah. Ketika itu, menghadiri resepsi tidak sepenuhnya tentang perayaan dan kegembiraan. Ada rasa sendu di dalam hati. Belum lagi beberapa kenalan yang kurang sensitif bertanya (atau bercanda), "Kamu kapan? Kenapa belum menikah? Kamu sih terlalu milih-milih!". Oleh karena itu, di setiap foto resepsi, orang yang paling ikhlas tersenyum barangkali hanyalah pengantin itu sendiri.

26 juga menjadi angka ketika ketakutan terus hidup melajang muncul. Maksudnya perasaan tidak aman kalau-kalau lelaki yang dinantikan itu takkan pernah datang. Di samping itu, ada pula kekhawatiran jika terlalu lama sendirian, pada akhirnya mereka tidak memiliki terlalu banyak pilihan. Bahasa teman saya: geli kalau nanti yang datang om-om. Dari dalam diri juga mulai muncul kebutuhan untuk memiliki pendamping hidup. Hidup mandiri bisa, tapi akan lebih sempurna jika itu dilakukan bersama lelaki yang dicinta.

Lalu kalau menurut lelaki bagaimana? Berhubung saya adalah satu-satunya lelaki di grup tersebut, jadi saya hanya berbicara menurut diri saya sendiri. Bisa jadi ada yang punya pengalaman sama, atau ya sebaliknya.

Tekanan dari orang tua hampir tidak ada. Bahkan lucunya beberapa kali saya minta malah tidak direstui. Saya masih terlalu anak-anak katanya. Pertanyaan tentang pernikahan saja, baru muncul beberapa waktu lalu dari mamak saya. Maksud saya yang benar-benar muncul tanpa saya pancing. Beliau bertanya apakah saya sedang berhubungan dengan seseorang. Saya menggeleng dan pura-pura santai: "Itu gampanglah. Nanti-nanti saja!" Mengenai hal ini, teman-teman di grup bercanda: "Sebenarnya ibumu hanya ingin memastikan: kamu gay atau bukan!" Kami semua terbahak.

Selain bully yang kerap muncul di kala ngopi, tak ada tekanan berarti dari lingkungan. Teman-teman menikah, ya mantap. Mantan menikah, ya selamat (dengan tanda seru)! Saya bahagia dan makan dengan lahap ketika resepsi, apalagi jika ada kakap goreng tepung plus saus asam-manis.

Bagi saya, tekanan yang lumayan berarti justru muncul dari diri sendiri. Saya merasa butuh pendamping. Ada masa ketika seseorang keluar dari rumah dan hidup benar-benar di atas kakinya sendiri. Saya butuh teman untuk menemani saya melewati proses ini. Sendiri sebenarnya bisa, tapi barangkali berdua lebih baik. Saling berbagi, mendukung, menguatkan, dan melengkapi.

Untuk yang sedang mencari, menanti, atau apapun itu, semoga Allah Swt memberikan akhir yang terbaik bagimu.

Foto: Tim Wright

Thursday, September 22, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: 2 comments

3 Puisi



Beberapa hari lalu, saya iseng membaca dan merekam tiga puisi lama. Seorang teman saya yang baik hati menambahkan latar suaranya. Silakan didengar dan mudah-mudahan bisa dinikmati. Insya Allah. Maafkan beberapa kali saya terselip lidah!

"Mendustai Dingin"

"Membacamu"

"Setelah Badai Usai"

Salam.

Monday, September 19, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: 2 comments

Rahasia


Bicara tentang rahasia, sebagian orang memang tidak bisa dipercaya. Mereka tenang saja menjualnya dengan harga murah bahkan cuma-cuma. Mereka memiliki kesulitan besar membedakan mana informasi yang seharusnya disimpan dan mana yang boleh diumbar. Orang-orang seperti ini sulit menutup mulut bahkan ketika kita sudah berkata, "Tolong jangan ceritakan ke siapa-siapa."

Orang-orang kemudian terbagi ke dua kelompok besar: mereka yang perhatian dan mereka yang sekadar penasaran. Sialnya, keduanya kadang-kadang susah dibedakan sebelum kita membagi rahasia dan melihat bagaimana mereka memperlakukannya.

Pengalaman saya buruk dalam hal ini. Beberapa kali hal-hal yang sangat pribadi berakhir di bualan meja makan atau kedai kopi. Saya terkadang berpikir apakah orang tersebut tahu apa yang sedang ia lakukan, apa implikasinya bagi rasa saling percaya antara teman. Sayang sekali sepertinya tidak.

Saya hampir tidak memiliki manusia yang bisa saya percayai sekarang.


Friday, September 16, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: 4 comments