Archive for March 2012

Bacalah Pelan-pelan


Bacalah pelan-pelan
Buang prasangka
atau segala yang membuatmu curiga

Tidak ada yang salah dari kita
dari kamu atau aku
Semua baik-baik saja

Sekarang lihatlah ke depan
Jalan masih panjang
Bersama mari kita jelang.


sumber gambar: vi.sualize.us

Saturday, March 31, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Ephemera


Sekira delapan tahun lalu, saya pernah tertarik dengan seorang perempuan. Bertemu dengannya membuat saya sesak nafas. Malu tidak menentu. Jika berpapasan di jalan saya menghindar. Bila teman menggoda saya menyangkal. Tapi diam-diam saya menikmati. Hingga apabila hari sepi, saya terang-terangan merindukannya dalam hati.

Saya melakukan segala hal agar bisa dekat dengannya: sms, bercanda-canda, mengirim salam, dan kalian tahu lah, hehe. Dan akhirnya dia menangkap sinyal itu. Pertemuan yang sebelumnya hanya terjadi di koridor rahasia, kini terbuka untuk semuanya. Di mana ada dia, di situ ada saya. Seperti saudara kembar layaknya. Tidur malam kembali tak nyenyak. Mimpi bukan menjadi tujuan malam lagi. Karena saya telah menganggap dunia nyata lebih berseri. Bahkan terkadang saat pagi, hp masih tergenggam di jari.

Beberapa minggu berlalu. Ada yang berubah. Semua pertemuan seperti tidak indah lagi. Tidak ada alasan sebenarnya untuk menjawab kenapa. Perasaan di hati tiba-tiba berubah tanpa terkira. Pertemuan semakin jarang. Sms-an semakin membosankan. Orang-orang pun bertanya ada apa gerangan. Sebagian berkata, "mungkin mereka sudah bosan."

Kata 'putus' pun akhirnya keluar, dengan berbagai macam versi. Kita tidak cocok/ kamu gak pernah ngertiin aku/ kita bukan jodoh/ lebih baik kita berteman saja/ aku menganggapmu adikku/ dan berbagai macam versi kalimat putus pun bangkit dari kubur. Tangis pun berderai dari satu pihak yang ingin 'serius'. Sementara nafas lega berhembus dari lain pihak yang ingin 'lepas'. Saya tidak tahu berada di bagian mana.

Ephemera

Saya sebenarnya baru mendengar kata Ephemera beberapa hari lalu. Menurut kamus artinya 'sesuatu yang tidak kekal'. Makna lainnya adalah sesuatu hal yang dicetak dan biasanya tidak diniatkan untuk disimpan. Seperti struk belanja: setelah kita mengambilnya dari kasir, tentu potongan kertas itu akan berakhir di tong sampah.

Walau mungkin kesannya tidak tepat/ nyambung, boleh kan saya menyebut cinta sesaat sebagai ephemera? Seperti cerita saya di awal tadi: cinta timbul dengan kuat, seakan-akan sejati, tapi tiba-tiba hilang pergi seperti tidak pernah ada yang terjadi. Halah.

Mengapa?

Cinta itu aneh. Bahkan tidak ada pujangga yang benar-benar tepat mendefinisikannya. Sebagai manusia, tentu hal yang alamiah jika kita connect kala melihat atau bertemu sesuatu yang menarik hati. Katakanlah laki-laki, jika bertemu perempuan yang enak diajak bicara, bisa bercanda, dan menarik pula, maka bisa dipastikan "sinyal wifi-nya" akan mencari "pasword" si perempuan. Ngerinya, saat perempuan memberikan kode dan jaringan menjadi "connected", beberapa saat kemudian si lelaki memilih "disconect". Jaringan pun putus. Si lelaki pergi dengan biasa. Nah giliran si perempuan bingung luar biasa. Halah (berlaku juga sebaliknya, lho!).

Terus?

Lagi-lagi cinta itu aneh. Saya tidak pernah merencanakan untuk bertahan lama dengan dia yang sekarang. Di awal hubungan, saya bahkan berpikir, "Ini seperti yang sudah-sudah. Palingan seminggu." Tapi semua tidak terjadi, entah kenapa, saya merasa dia orangnya. Kalau ada yang tanya tipsnya, saya tidak tahu. Apalagi kalau ditanya alasan saya cinta, saya lebih tidak mengerti. Di awal saya pikir ephemera, ternyata benar-benar cinta.

Saran saya sih, hati-hati saja. Saya sendiri tidak tahu bedanya antara ephemera dan cinta. Di awal-awal hubungan rasanya perasaan itu tidak bisa dibedakan. Dan karena ini adalah persoalan perasaan, jika sudah terlanjur connected, berusahalah untuk bertanggung-jawab (hayooo!). 

Sekarang, adakalanya saya terjerumus, hampir. Entah karena tidak pas kepala atau bagaimana, terkadang saya hampir terjebak ephemera. Tapi tenang, cuma ephemera, sekali lagi ephemera! dan belum terjebak! tapi hampir! Hehehe. Saya sih berharap, kami segera menikah! Hahahahaha. Biar "aku cinta padamu"nya terkesan sah.   

Akhirnya, karena sekarang sudah ada istilah ephemera, di awal-awal hubungan, jika belum yakin cinta, katakanlah:

"Aku ephemera padamu!"

Sekian. Salam.

sumber gambar: tekfin.com


Friday, March 30, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 20 comments

Berjiwa Muda dan Bijak


Dulu saat masih tujuh belasan, saya begitu mudah melakukan sesuatu. Tanpa peduli konsekuensi. Seperti ketika membangun bisnis. Saya dengan mudah memikirkan konsep, mengeluarkan uang, tanpa menghitung risiko, apalagi ambil pusing soal untung-rugi. Bagusnya, bisnis sempat berdiri, jeleknya yaa saya rugi, hehe.

Sekarang, saat umur menginjak kepala dua, pikiran logis semakin merajalela. Kalau mau buat sesuatu selalu mikir baik-buruk, risiko, untung-rugi. Baiknya, saya tidak rugi, jeleknya yaa saya tidak melakukan apa-apa.

Terus bagaimana?

Jadilah orang dewasa. Orang yang berjiwa muda dan bijak.

Maksudnya?

Berjiwa muda di sini adalah berani. Misal ‘aku pintar berbisnis, maka aku berbisnis’. ‘Aku pintar mengajar, maka aku mengajar’. ‘Aku pintar menulis, maka aku menulis’. Orang muda adalah orang yang berani memulai.

Namun, berjiwa muda saja tentu tidak cukup. Diperlukan pribadi muda yang bijak. Bijak di sini adalah ketika sesuatu itu telah dimulai, belajar lah lebih banyak. Carilah segala informasi yang berkaitan. Berdiskusilah dengan orang-orang yang telah terlebih dahulu menekuninya. Serap pengalaman mereka. Dan teruslah setia menjalani proses.

Contoh?

Wah, banyak sekali! Lihatlah Elang Gumilang, pemuda yang sekarang berumur 27 tahun ini memulai bisnis dari SMA. Dari mulai berjualan donat, sekarang dia telah memiliki perusahaan perumahan yang terkenal karena  program perumahannya yang diprioritaskan untuk rakyat miskin. Elang tidak takut memulai. Dia tidak pula malas belajar. Dan dia setia pada proses. Ada banyak contoh lain tentunya.

Dunia memerlukan orang-orang yang kreatif, inovatif, dan produktif. Orang-orang yang tidak cengeng. Orang-orang yang tidak hanya pandai memprotes, tapi juga memiliki solusi. Dan akhirnya, karena kita tidak pernah tahu berapa lama waktu yang kita miliki di dunia ini, sekarang juga, mulailah menjadi manusia yang berjiwa muda dan bijak: tidak takut memulai sesuatu, serta tekun belajar dan terus setia menjalani proses.

Gak peduli usia muda atau tua, yang penting jiwanya muda dan bijak! Kita bisa! Insya Allah.
  
sumber gambar: vi.sualize.us

Wednesday, March 28, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 2 comments

Jangan Ada


Jangan ada kesimpulan
Yang tergesa
Karena saat ini
Semua sedang tidak biasa

Tidak ada kebetulan seperti dulu, bukan?
yang membuat kita berkata,
“Oh! Pikiran kita sama.
”Oh! Kau orangnya!”

Bolehkah jika kuberkata ‘bukan tidak ada’?
Jengahkah engkau jika kutulis ‘semua belum saatnya’?
Percayakah engkau aku masih berjalan?
Memikirkanmu setiap malam

Dan janganlah ada 
Kesimpulan yang tergesa
Karena saat ini
Semua sedang tidak biasa
 
sumber gambar: google.com 

Tuesday, March 27, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Laut

Jika engkau punya masalah
Pergilah ke laut
Tatap deburan ombak
dan hayatilah semuanya

 “Buat apa aku di sini?”
laut memang tidak bisa berbicara
Namun saat kau kembali
semua telah lebih baik dari sebelumnya.


sumber gambar: vi.sualize.us

Sunday, March 25, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 2 comments

Ketika sedang di Atas

Saat kita meraih prestasi, banjir pujian pun datang. Ke mana saja kita pergi, orang-orang riuh mengelu-elukan. Sampai seringkali sebuah perasaan yang paling berbahaya itu pun datang: puas.

Kepuasan memang tidak haram. Tapi dalam beberapa hal cukup berbahaya. Ketika puas, kita cenderung tidak meningkatkan lagi kemampuan. Kita merasa sudah menjadi orang yang paling hebat. Sementara tanpa kita sadari, dunia terus berputar. Orang-orang terus belajar, mengejar, dan akhirnya kita kembali tertinggal.

Selalu merasa kekurangan itu baik. Dengan perasaan demikian, kita akan termotivasi untuk terus belajar, bertanya, dan berkembang. Kita juga akan terhindar dari sifat angkuh.

Setiap hari, hal-hal baru terus lahir. Dulu kakek-nenek kita mungkin hanya bisa menikmati televisi hitam-putih, sekarang cucu-cucu mereka bisa menyaksikan gambar 3D. Dan tentunya masih banyak perkembangan lain. Dunia terus melaju, orang-orang terus berpacu. Tinggal kita saja yang memilih untuk ikut atau diam di tempat.

Akhirnya, jangan pernah puas. Teruslah menyelam lebih dalam, mendaki lebih tinggi, berlari lebih kencang. Dan yakinlah kesuksesan akan terus menyertai kita. Insya Allah.

Terima kasih telah berkunjung. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat. Saya tunggu komentarnya! Salam. 



sumber gambar: vi.sualize.us

Tuesday, March 20, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 2 comments

16 Tahun


16 tahun itu takkan ke mana
Karena dia telah mendaging di hati
Mengurat di pikiran

16 tahun itu takkan hilang
Tentang pertemuan
Tentang kebersamaan

16 tahun itu takkan terlupa
Walau secara wujud entah di mana
Walau mereka mengira itu tak lagi ada.

sumber gambar: kaskus.us

Sunday, March 18, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 2 comments

Pornografi Ancam Anak Aceh

Alhamdulillah opini ini terbit di Serambi Indonesia. (klik di sini untuk langsung menuju situs)
-----------------------------------------------------------------------------------------

Bumi Aceh kembali dihebohkan oleh peristiwa pemerkosaan yang diikuti pembunuhan. Tersangkanya  berusia 16 tahun, sementara korbannya berumur 4,5 tahun (Serambi Indonesia, Rabu, 22 Februari 2012). Mengapa  kasus ini bisa dilakukan oleh anak umur 16 tahun?

Menurut Ekandari Sulistyaningsih, sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, pada kasus perkosaan, setiap orang dapat menjadi pelaku perkosaan tanpa mengenal usia, status, pangkat, pendidikan, dan jabatan. Selama individu masih mempunyai daya seksual, dari anak-anak hingga kakek-kakek masih sangat mungkin melakukan perkosaan. Demikian pula dengan korban. Setiap perempuan dapat menjadi korban dari kasus perkosaan tanpa mengenal usia, kedudukan, pendidikan, dan status (Buletin Psikologi, 2002).

Dari berbagai kasus perkosaan, salah satu penyebabnya adalah karena pelaku terobsesi oleh konten yang mengandung unsur pornografi. Seperti halnya kejadian di Tangerang. Siswi SMP berusia 14 tahun diperkosa oleh enam siswa yang juga berusia sebaya dengannya. Menurut penyelidikan polisi, tiga pelaku mengaku nekat melakukan tindakan bejat itu lantaran terobsesi film porno (Tempo.co, Sabtu, 4 Februari 2012).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pornografi berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi.

Dewasa ini pornografi bukan barang langka. Dengan uang seribu rupiah saja, gambar porno sudah bisa dilihat di internet. Tinggal ketik kata kunci ‘seks’ di mesin pencari,  dalam sekejap  gambar-gambar yang membelalakkan itu pun muncul. Belum lagi sekarang penggunaan ponsel dengan kemampuan internet sudah sangat jamak di kalangan remaja, bahkan anak-anak. Mirisnya lagi, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia melansir bahwa Indonesia adalah negara pengakses situs porno terbesar ketiga di dunia setelah Cina dan Turki.  Barang-barang yang terkesan ‘aman’ pun kini mulai terjangkit konten porno. Di pasaran, banyak beredar majalah, koran, bahkan komik dengan gambar  seronok. Khusus untuk komik, ada jenis komik yang memang khusus menawarkan adegan seksual sebagai sajian utama. Saya beberapa kali menjumpai anak-anak umur Sekolah Dasar (SD) di sebuah rental komik di Aceh. Biasanya mereka pergi dalam kelompok (3-5 orang). Suatu hari saya melihat mereka berdiri bertumpuk di sudut ruangan. Anak-anak itu membaca sebuah komik dengan cepat. Anehnya, ketika ada orang yang mendekat, mereka buru-buru meletakkan komik itu di rak dan beranjak pergi. Setelah komik itu saya lihat, ternyata isinya  porno.

Serangan konten berbau pornografi tidak berhenti di situ. Tayangan televisi sekarang juga tidak lepas dari umbaran nafsu. Lihatlah beberapa film, talkshow, bahkan acara memasak yang “menjual” dada dan paha. Belum lagi tayangan itu disiarkan pada waktu keluarga yang membuat anak kita dengan mudah menontonnya.

Apa pun ceritanya, generasi muda kita harus diselamatkan dari pornografi. Tentunya kita tidak mau masa depan kita dihuni oleh orang-orang berpikiran porno dan mesum. 

Kita harus menyadari bahwa remaja adalah saat-saat di mana pikiran labil dan rasa ingin tahu memuncak. Semakin dilarang melakukan sesuatu, mereka semakin ingin melakukannya. Oleh karena itu, hal pertama yang harus dilakukan adalah memberikan edukasi mengenai dampak negatif pornografi.

Selain dapat memicu gejolak syahwat, ternyata pornografi juga dapat memicu kerusakan otak. Ahli bedah syaraf dari Rumah Sakit San Antonio, Amerika Serikat, Donald L. Hilton Jr, MD, mengatakan, pornografi dapat menyebabkan kekacauan kerja neurotransmiter yakni zat kimia otak yang berfungsi sebagai pengirim pesan. Bahkan lanjutnya, kerusakan otak yang diakibatkan konsumsi pornografi lebih parah ketimbang efek kecanduan kokain: Otak jadi sulit menyimpan memori dan mengontrol prilaku (inilah.com, 2009).

Tentunya, persoalan kerusakan otak di atas bisa dikaitkan dengan kesulitan belajar. Bayangkan saja, bagaimana seseorang bisa belajar jika otaknya dipenuhi oleh gambar-gambar vulgar? Belum lagi persoalan pergaulannya di tengah masyarakat. Bersosialisasi akan semakin sulit jika fantasi mengenai hal-hal erotis terus berputar di dalam kepala.

Selain itu, kita bisa memberi tahu mereka mengenai sanksi religius apabila mereka melihat konten-konten porno. Dengan penjelasan yang menarik, diharapkan mereka bisa mengerti akan besarnya dosa seseorang yang mengonsumsi “gambar polos” itu. 

Setelah mereka paham akan dampak mengerikan pornografi, kita bisa memberikan bimbingan dan pengawasan lebih lanjut. Sedapatnya kita menjauhkan anak-anak a dari segala hal yang berbau pornografi. Kita harus memilih tayangan apa yang mereka tonton, majalah apa yang mereka baca, bahkan sekarang sudah tersedia perangkat lunak (software) untuk menyetop akses terhadap situs porno.  

Diperlukan kerja sama semua pihak untuk melindungi generasi muda dari pornografi. Pemerintah, ulama, orang tua, guru, polisi, penyelenggara media, semuanya memiliki kewajiban. Kita tentu tidak bisa 24 jam mengontrol mereka. Ada saatnya mereka berada di luar rumah dan jauh dari pengawasan. Saat itulah iman mereka diuji. Dan semoga mereka dapat mengalahkan setan pornografi!

Muhammad Haekal, mahasiswa IAIN Ar-Raniry



sumber gambar: silhouettesclipart.com

by Muhammad Haekal
Categories: 4 comments

Tidak

Aku tidak bisa meninggalkan pena
Melupakan
Apalagi menghapuskannya dari kehidupanku

Aku adalah lempengan kaca yang kaku
Yang kisah hidupnya tak terpancar
Kecuali dikisahkan bertalu-talu

Tidak.
Aku tidak akan pergi.


sumber gambar: photo-dictionary.com

Friday, March 16, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Skripsi yang Tersendat

Skripsi saya tersendat. Bukan soal judul yang susah atau pembimbing yang parah, hanya saya saja yang menjadi masalah. Beberapa bulan ini saya asyik menulis cerpen, puisi, opini, untuk dikirim ke media. Terbit sih alhamdulillah. Tapi itu tadi, skripsi saya lah yang harus menerima konsekuensi. Halah.

Sekarang 15 Maret. Saya hanya punya waktu satu bulan untuk menyelesaikan BAB I. Target saya sih gitu. Sebelum pergi kuliah pengabdian masyarakat ke (katanya) Aceh Tengah selama 1,5 bulan.  Saya berharap itu semua terpenuhi. Bisa gawat kalau saat berangkat nanti skripsi saya masih perawan.

Jadi ya karena sekarang fokus saya sudah di skripsi, dengan sangat terpaksa saya meninggalkan sejenak tulis-menulis karya sastra seperti biasa. Atau paling tidak proporsinya 90:10 persen lah (saya sebenarnya tidak yakin bisa meninggalkan sebuah hal yang candu ini). Hehe.

Banyak hal yang menunggu saya di masa depan. Saat nanti skripsi sudah selesai, pekerjaan saya tentu belum habis. Gelar sarjana ini hanya sebuah batu loncatan untuk melompat ke sebuah gunung yang tinggi. Mana batunya kecil pula lagi. Hehe.

Akhirnya. Saya  berharap semoga semuanya lancar. Insya Allah. Doain saya ya, kawan-kawan!

Thursday, March 15, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 3 comments

Pikiran Bercabang

Pikiran saya sekarang bercabang. Antara skripsi, menjalankan hobi menulis, dan masa depan. Kalau saya menyatukan semuanya di kepala, mungkin besok saya gila. Khusus untuk hobi menulis, tentu saja tidak akan membuat saya gila, orang hobi kok! Hehehe.

Ada beberapa saat di mana saya tidak bisa fokus. Melakukan segala sesuatunya dengan membabi-buta. Hasilnya tentu sudah bisa ditebak: tidak ada yang selesai dengan sempurna. Ketika segala kewajiban menagih hutangnya kepada saya, seringkali saya tersiksa. Kalau sudah begini, saya sangat butuh sekali dukungan semuanya: Allah, orang tua, sahabat, kekasih.

Saat sedang galau, saya cenderung menghindari hal-hal negatif. Saya menjauhi lagu bernada galau, film drama, tulisan sedih, bahkan saat ada orang yang meninggal, saya memutuskan tidak melayat. Menyesal memang, tapi saya tidak mau perasaan saya menjadi bertambah sendu gara-gara banyak melihat orang menangis.

Saat pikiran sedang runyam, diri saya menjadi kurang sensitif dalam berhubungan dengan orang. Jadi saya sering menyakiti hati orang tanpa saya sadari. Atas semua itu, saya berharap orang-orang di sekeliling saya mengerti.

Sekarang, saya hanya akan menyelesaikan semua satu-satu. Pelan-pelan. Sebisa saya. Semoga semua selesai dengan mantap. Insya Allah.

  sumber gambar: kaskus.us

Sunday, March 11, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Mencari Meuseukat

Alhamdulillah cerpen ini terbit di Aceh Kita. (klik di sini untuk langsung menuju situs)
------------------------------------------------------------------------------------
ANISSA meraung-raung dari dalam kamar. Dia dirasuki jin. Kelopak matanya menghitam. Suaranya menjadi berat seperti lelaki. Sementara rambutnya acak tak karuan. Orang pintar sewilayah Kutaraja sudah dipanggil. Tidak ada reaksi. Bahkan salah satu dari mereka harus masuk rumah sakit karena tiba-tiba epilepsi.


Satu minggu berlalu. Jin itu tetap tidak mau keluar. Entah karena satu permintaannya yang tidak dipenuhi.

“Aku mau meuseukat,” kata Jin.

***

Ditemani secangkir kopi yang masih mengepul, Cek Bad sedari tadi khusyuk memilih-milih ikon di komputer tabletnya. Tap, Cek Bad mengetuk gambar bola dunia di permukaan tablet yang memang memiliki fasilitas layar sentuh. Dan kini benda persegi panjang itu pun membawanya berselancar di dunia maya mencari informasi.

Cek Bad tiba di situs sebuah koran. Koran pada tahun ini tidak ada lagi yang dicetak menggunakan kertas. Sebuah organisasi lingkungan hidup berhasil membujuk pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan anti perambahan hutan. Jadi segala yang menggunakan bahan baku kayu (termasuk kertas) dialihkan ke dalam bentuk yang lebih ramah lingkungan.

Cek Bad menyesap kopinya hingga tandas. Dia telah menemukan yang dicari. Layar tablet kini menampilkan sebuah toko kue bernama Le Kutaradja Bakery (LKB). Dia beranjak bangkit dari kursi. Dengan setengah berlari dia masuk ke dalam rumah. Tabletnya yang masih menyala ditinggal begitu saja di atas meja. Menampilkan koran yang baru saja dia baca: Koran Kutaradja – 15 Januari 2032.

***

Jam menunjukkan pukul 06.15 WIB. Dek Mun kesal bukan kepalang. Sudah tidak bisa tidur malam gara-gara raungan non-stop Annisa, tidur paginya kembali diganggu oleh gedoran Cek Bad dari balik pintu kamar.

“Mun, mun, mun!” Cek Bad memanggil dari balik pintu. Sementara itu tangannya terus menggedor pintu.

“Apa?” terdengar sebuah jawaban singkat yang penuh kantuk.

“Keluar dulu. Ada yang ayah mau bilang.” Tangan Cek Bad sekarang sibuk menaikkan kain sarung yang tadi sempat melorot.

Tiga puluh detik berlalu. Yang ditunggu tidak keluar juga. Tanpa sungkan, Cek Bad kembali melanjutkan gedoran.

”Ada apa, sih?” Dek Mun tiba-tiba membuka pintu. Raut wajahnya tidak karuan. Gabungan antara rasa kantuk dan marah.

“Pak Cikmu sudah pulang.”

“Terus?!” Dek Mun menimpali dengan garang. Tidak mengerti apa maksud Cek Bad membangunkannya.

Cek Bad pun menjelaskan. Sekarang sudah genap sepuluh hari jin merasuki tubuh Annisa. Tidak ada cara lain selain memenuhi permintaan si jin yang aneh: meuseukat. Karena Pak Cik Juki sudah pulang ke rumahnya setelah semalaman menjaga Annisa, terpaksalah Dek Mun yang disuruh pergi membeli.

“Meuseukap? Apa itu meuseukap?” Dek Mun mengucek-ngucek matanya, berpikir mungkin dia sedang bermimpi. Ayahnya mengatakan sesuatu yang begitu asing di telinga.

“Bukan meuseukap! Tapi meuseukat! Pakai ‘T’!” Cek Bad menaikkan suaranya. Dia tidak menyangka Dek Mun bisa sebodoh ini. “Kamu gimana, sih? Itu lho, kue yang seperti dodol. Warnanya…….”

“Hah?!” Dek Mun memotong. Di kepalanya tidak ada gambaran sama sekali.

“Alahai! Yang dulu kamu makan waktu kecil di rumah nenek. Kamu ingat?”

“Udah, udah, udah. Mun lupa!” jawab Dek Mun sambil mengambil handuk yang tergantung di pintu. “Terus kenapa pakai beli langsung ke toko? Kan bisa di-video call! Jaman udah secanggih ini, masih mau repot-repot!” mata Dek Mun melotot.

“Iya, tadi ayah udah hubungi langsung. Tapi mereka gak tahu meuseukat.” Cek Bad menggaruk-garuk kepalanya. “Kalau ada resep mereka bisa buat. Tapi bunda kamu juga gak tahu caranya. Jadi sekarang kamu pergi dulu ke tempat nenek tanya resepnya!”

“Meuseukap,” kata Dek Mun pelan sambil berlalu ke kamar mandi. “Betul-betul kue yang kuno.” Dia tidak menyangka bahkan toko kue internasional seperti LKB saja tidak tahu kue itu.

“Meuseukat hai!” terdengar teriakan Cek Bad dari atas tangga.

***

Trotoar Jalan Tgk. Daud Beureueh dipenuhi oleh pejalan kaki yang baru turun dari trem. Kereta listrik tengah kota itu berhenti di Halte-A yang berada tepat di seberang kantor DPRA, menurunkan penumpangnya yang mayoritas pekerja kantor. Puluhan pesepeda berdasi juga terlihat memasuki deretan gedung yang berada di sepanjang jalan. Jalanan kini tidak sesak lagi oleh kenderaan pribadi semenjak pemerintah memberlakukan sistem ‘genap-ganjil’ dan pajak tinggi bagi pembelian kenderaan. Terlebih jasa angkutan umum sudah semakin bagus kualitasnya.

Dek Mun memacu skuter listriknya dengan kencang. Dia baru saja selesai menemui neneknya di Tungkop. Nek Limah memang masih kuat berjalan, walau dibantu tongkat. Tapi ingatannya mulai pikun. Dia tinggal bersama Cek Lina, adik dari Cek Bad yang baru pulang dari Amerika setelah tinggal di sana selama tiga puluh tahun.

Salinan resep kini telah berada di dalam tablet milik Dek Mun. Resep yang mati-matian digali dari ingatan Nek Limah yang lemah. Cek Lina juga bukannya membantu.

“What? Meuseukat. Aduh Dek Mun, come on! Jaman sekarang masih makan yang begituan?!” Entah benar-benar lupa atau sengaja dilupakan. Yang jelas Cek Lina memang tidak suka hal-hal yang berbau lokal.

Skuter Dek Mun sampai di Bundaran Simpang Lima, membelok ke kanan menuju Jalan Teuku Panglima Polem. Dia memperlambat kecepatan dan berhenti tepat di sebuah toko kue berlantai tiga: Le Kutaradja Bakery.

***

Di kamar. Cek Bad dan Yanti, istri mudanya, duduk mengapit Annisa yang mulai kumat. Keringat mengalir dari dahi mereka menahan tubuh kurus Annisa yang meronta-ronta. Tenaganya cukup kuat. Mungkin karena bercampur dengan energi dari jin.

“Aduh, Dek Mun ke mana, sih?” Yanti mendengus kesal. Tangannya sudah pegal menahan Annisa.

“Sabar, dek. Untuk membuat meuseukat memang memerlukan waktu lama. Setidaknya empat jam lah.” Cek Bad menjawab dengan nafas ngos-ngosan. “Sudah tiga jam dia pergi. Berarti satu jam lagi lah kira-kira.”

Satu jam kemudian, Dek Mun pun datang. Semua orang tersenyum, kecuali Annisa yang matanya masih melotot. Tanpa menunggu komando, Dek Mun dengan percaya diri segera menyuapi Annisa dengan sepotong meuseukat bawaannya. Ruangan hening. Semuanya harap-harap cemas menunggu reaksi yang terjadi.

Annisa berhenti meronta. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan, tepat ke arah Cek Bad dan Yanti. Yang dilirik pun tersenyum kaku. Tidak mengerti maksud dari lirikan itu.

“Arrggghhh!!” Annisa menjerit sejadi-jadinya. Dia menepis tangan Cek Bad dan Yanti. Tidak hanya itu, Annisa juga menyepak Dek Mun yang memang berada tepat di depannya.

“Ah, ada apa ini? Mengapa kau tidak juga mau keluar?!” Cek Bad kembali memegang Annisa, kali ini dengan kedua tangannya. “Kami kan sudah penuhi pesananmu. Meuseukat!”

“Arrggghhh!” Annisa meraung-raung tak karuan. “Ini halua, bangai!!!”

Sepertinya jin itu tidak akan keluar hari ini. []

Muhammad Haekal
Mahasiswa IAIN Ar-Raniry Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Alumnus Seuramoe Teumuleh

sumber gambar: gotobandaacehnow.co.cc

by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Menulis

Alhamdulillah puisi ini terbit di Serambi Indonesia. (klik di sini untuk langsung menuju situs)
---------------------------------------------------------------------
Kadang aku menjadi tua renta
Wanita gila
Bahkan lelaki durjana

Kadang aku melihat anjing,
Setan,
Jika beruntung bidadari

Kadang aku menjadi kamu,
Dia,
Sesekali diriku sendiri

Dan terkadang semua berakhir dengan suka,
Tawa,
Atau  mungkin air mata.

Oh, menulis!

*Muhammad Haekal, mahasiswa jurusan PBI IAIN Ar-Raniry

sumber gambar: fanpop.com

by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Antara Kopi dan Wi-fi


Jika sekarang kita mau ngopi di Aceh, konon ada sebuah pertanyaan yang akan timbul: mau betulan ngopi atau online?

Ya, semenjak warung kopi mendadak punya fasilitas wi-fi, ‘ngopi’ sepertinya telah menjadi kata lain untuk ‘online’. Misal kata, empat orang berjanji bertemu di sebuah warkop. Warkop itu ber-wi-fi. Empat orang tadi membawa laptop. Tebak bagaimana mereka berkomunikasi satu sama lain! Percaya atau tidak: melalui tombol chat di FB atau berkicau di twitter. “Eh, ngapain ko asik maen poker?//Woy, kapan ne kita pulang//haloo.” Ya, mereka ngomong melalui social network itu. Lupa kalau yang orang yang dibicarain ada di depan mata. Dan gelas kopi pun menjadi dingin.

Saya pernah diajak ngopi. Kebetulan cuma berdua saja waktu itu. Warkopnya sederhana, tidak ada wi-fi. Namun, setelah memesan kopi, yang mengajak saya justru berbicara dengan orang di belahan dunia lain. Dia mengambil hp, online, melupakan teman ngopinya. Dan jadilah saya seperti penikmat seni yang memandangi lukisan potrait: tidak bisa berkomunikasi secara verbal karena beda dunia. Saya kirain benaran mau ngopi! Hehehe. 

Ngopi itu sebenarnya sakral. Selain menikmati seduhan biji kopi yang khas, ngopi adalah saat di mana kita bertukar cerita, informasi, atau sekedar basa-basi. Apalagi jika ngopi dengan sahabat yang sudah lama tidak jumpa, rasa kopi pun menjadi nikmat tak terkira. 

Pernah, kami mengerjai seorang teman yang jika ngopi pikirannya selalu connect ke wi-fi. “Ngopi yok?” sms kami kepadanya. “Di mana? Ada wi-finya gak?” balasnya. Kami pun dengan bahasa marketing menjawab ‘ada, kencang lagi!’. Dia pun datang dengan semangat. Lengkap dengan laptop di pundaknya. Dan sampai di warkop, si teman hanya bisa menganga. Tidak ada satu meja pun yang membuka laptop. Dia pun cuma bisa masam, dan terpaksa online melalui hp. Tidak ada wi-fi, hp pun jadi, hehehe.

Akhirnya. Kalau ngopi ya ngopi, kalau online ya online. Hehehe. Sekian.
sumber gambar:  tsmethod.com


Tuesday, March 6, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 10 comments

Kusangka

Puisi ini terbit di Serambi Indonesia. (klik di sini untuk langsung menuju situs)
-----------------------------------------------------------------------------

Aku berpapasan denganmu
Aku sangka benar
Ternyata hanya bayanganmu

Kupanggil engkau
Kuberteriak
Kutunjuk
Tak kau hirau
Apa salahku?

Aku terpaku
Melihat bibirmu bergerak
Membalas setiap panggilan
Menoleh di setiap tunjukan
Yang mereka berikan
Aku?

Aku tidak meminta
Bukan pula mengiba
Hanya tidak mengerti ke mana pikiranmu bermuara

Kejauhan bukan persoalan raga yang berpisah pulau
Tapi hati yang bersekat daki
Perpisahan bukan persoalan kepergian tubuh
Tapi kalbu yang tidak pernah pulang

Dan aku kembali bertanya
Aku hanya tidak mengerti
Kali ini aku tidak paham
Dan esok hari aku tidak berharap semua masih demikian

Aku berpapasan denganmu
Aku sangka benar
Ternyata hanya bayanganmu

(Februari, 2012)

* Muhammad Haekal, mahasiswa jurusan PBI, IAIN Ar-Raniry

sumber gambar:  vi.sualize.us

Monday, March 5, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Memanusiawikan Anak-anak

Opini ini terbit di Serambi Indonesia. (klik di sini untuk langsung menuju situs)
-----------------------------------------------------------------------------

Menurut catatan data Komisi Nasional Perlindungan Anak, selama semester pertama tahun 2011, ada sebanyak 23 anak Indonesia yang melakukan bunuh diri. Enam kasus di antaranya terjadi karena masalah di sekolah, delapan lainnya disebabkan persoalan dalam keluarga, sedangkan selebihnya karena masalah putus cinta. Rentang usia mereka dari 6-17 tahun (Tempo, Selasa, 20/12/2011).

Melihat realita di atas, sekolah sepertinya merupakan tempat yang rentan terhadap stres. Tumpukan tugas, dan tuntutan memperoleh prestasi tinggi membuat anak-anak terbebani. Hal itu dapat diperparah dengan tindakan orang tua sekarang yang menambah-nambah beban pendidikan anak dengan menyertakan mereka ke tempat bimbingan belajar. Waktu bermain dan berkumpul bersama keluarga pun kian terbatas.

Semua orang tua mungkin setuju jika pendidikan itu penting. Tapi, apakah dengan menambah beban belajar akan membuat anak lebih siap menghadapi masa depannya?  

Pada tahun 1982, di Amerika Serikat muncul sebuah program yang diberi nama Supercamp. Program ini diprakarsai oleh Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, dua pakar pendidikan asal Amerika Serikat. Supercamp adalah istilah untuk kemah remaja yang bertujuan melambungkan prestasi para peserta. Tidak hanya dalam hal akademik, Supercamp terbukti meningkatkan kemampuan para remaja dalam hal hubungan sosial dan interpersonal.

Dalam praktiknya, para trainer Supercamp menyuruh para peserta memanjat pohon, berjalan di atas tali, menjatuhkan diri dari ujung tangga ke rengkuhan peserta lain, dan beberapa kegiatan fisik lainnya. Kegiatan itu dipadukan dengan keterampilan how to learn, bagaimana cara belajar, yang meliputi teknik menghafal, mencatat, membaca cepat, menulis, dan berpikir kreatif. 

Tidak berhenti di situ, para peserta diajarkan bagaimana cara membangun hubungan antarsesama, berkomunikasi secara efektif, dan mendapatkan integritas pribadi. Hasilnya, para peserta sukses di sekolah, komunitas, dan karier. Tidak heran, Supercamp terus berlanjut hingga sekarang dengan 60 ribu alumni yang tersebar di seluruh dunia.     

Inti dari kegiatan di atas adalah membiarkan anak bersenang-senang. Dunia anak adalah dunia yang penuh dengan tawa dan warna (Papalia, 1995). Jika kita mengabaikan dunia anak itu, maka ditakutkan mereka akan lemah dari segi mental dan karakter.

Menurut Nia Hidayati, seorang pemerhati anak, stres pada dapat dipicu oleh beberapa hal, antara lain ekspektasi berlebihan orang tua terhadap prestasi anak, rendahnya kualitas hubungan antara anak dan keluarga, dan padatnya jadwal anak untuk belajar. 

Christine M Todd, seorang pakar kejiwaan dari University of Illinois, menambahkan, dari semua penyebab stres, stres fisik seperti rasa lapar, mengantuk atau kurang tidur, merupakan faktor utama yang menyebabkan munculnya masalah tingkah laku pada anak. Jika situasi tersebut terus dibiarkan berlanjut bisa menyebabkan dampak yang membahayakan.

Dalam jangka pendek, dampak negatif stres ialah mengacaukan dan merusak emosi anak yang ditandai dengan gampang marah, sulit berkonsentrasi, dan mengalami kegelisahan. Dampak jangka panjangnya ialah bisa membuat anak mengalami kesulitan dalam mengembangkan bakat dan minatnya. 

Nah, bukan prestasi yang malah akan diperoleh, malah sebaliknya. Saya percaya tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya terpuruk.

Disadari atau tidak, kita bisa membuat “Supercamp” sendiri. Biarkanlah anak-anak melakukan apa yang mereka sukai setelah sekolah. Jika mereka gemar bermain bola, biarkan, apabila mereka tertarik dengan masak-masakan, persilahkan. Dengan demikian, anak-anak bisa melepas stres yang mereka peroleh di sekolah.

Dan tanpa mereka sadari, mereka mengalami peningkatan dari segi pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik). Mereka menjadi lebih cakap dalam membangun hubungan sosial dan keterampilannya pun terasah.   

Sementara itu, orang tua juga harus berusaha menemukan formula belajar yang tepat bagi anak. Carilah informasi mengenai cara belajar yang efektif. Cukup hal-hal kecil, misalnya trik mengingat kata-kata. Apabila kata-kata ditulis dalam bentuk peta pikiran (mind map) ternyata akan lebih mudah diingat daripada kata yang berbentuk daftar (list).

Orang tua juga sebaiknya menyusun waktu berkualitas bersama anak: bertamasya, memainkan permainan favorit anak, mengajak mereka pergi ke mesjid bersama, dan berbagai kegiatan mengasyikkan lainnya. Sekolah adalah tempat yang rentan terhadap stres. Melakukan hal-hal tadi di sela-sela kegiatan pendidikan formal tentu saja dapat mengurangi potensi stress yang ditemui anak-anak dan tentunya dapat meningkatkan hubungan emosional anak dan orang tua. 

Selanjutnya, bangunlah komunikasi. Orang tua harus mengetahui kesulitan apa yang diperoleh anak di sekolah, seperti kesulitan mengikuti pelajaran, permasalahan dengan teman, atau ketidak-sukaan anak dengan lingkungan sekolah. Orang tua juga harus mengetahui apa sebenarnya yang menjadi kegemaran anak, atau kegiatan apa yang membuat mereka nyaman.

Dengan mengetahui hal-hal tersebut, selain dapat memantau perkembangan anak di sekolah, orang tua juga dapat dengan mudah memberikan solusi bagi permasalahan mereka. Jangan lupa melibatkan guru apabila merasa masalah yang timbul tidak dapat diselesaikan sendiri.

Akhirnya, anak-anak adalah manusia yang memiliki hak bermain, disayangi, dan berkumpul bersama keluarga. Jangan sampai, gara-gara perlakuan orang tua yang kurang bijak, anak-anak sampai melakukan hal-hal yang membahayakan sebagai pelampiasan. Setidaknya kita menyadari bahwa kepintaran bukan hanya persoalan akademik, tapi juga kecakapan sosial. Suatu hari anak-anak akan keluar dari sekolah dan mengabdikan diri mereka di dalam masyarakat. 

* Muhammad Haekal adalah mahasiswa IAIN Ar-Raniry, alumnus Muharram Journalism College

sumber gambar: vi.sualize.us

by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Berkampanye

Cerpen ini terbit di Serambi Indonesia. (klik di sini untuk langsung menuju situs)
-------------------------------------------------------------------------------
“Lebih baik kau pulang! Apa yang engkau janjikan tidak pernah kau buktikan!” Makian Cek Din menggema di dalam ruang sekretariat desa. Semua orang di ruangan itu tertunduk. Suasana hening.  “Saya harap Saudara tenang. Tahun kemarin keadaan sedikit sulit. Ada beberapa daerah yang harus diprioritaskan pembangunannya. Dan tahun ini giliran daerah bapak. Saya jamin,”  kata lelaki berkacamata yang duduk di depan Cek Din. Dia  menjawab dengan tenang. Mimik wajahnya bagai seorang lelaki tua yang bijak.

“Dan lagi pula, saya yakin di dalam ruangan ini tidak ada yang mengenal calon nomor dua,” lelaki itu menambahkan. Dua lelaki yang berdiri di samping Cek Din saling menatap. “Keluar! Kami tidak butuh kau,” jawab Cek Din, sambil meremas-remas selebaran kampanye dan melemparkannya ke muka si lelaki.

***

Beberapa tahun lalu, saat kampanye sedang berlangsung, lelaki yang sama datang ke kampung kami. Dia membawa sebuah map berisi dua lembar kertas. Lembaran pertama berisi harapan kami: Bangunan apa yang ingin kami bangun, jalan bagian mana yang ingin kami aspal, atau berapa ekor ternak yang kami butuhkan. Terserah kami mau menulis apa.  Lembaran kedua berisi pernyataan dukungan: Perjanjian bahwa kami semua pasti akan memilih si calon. Tak lupa kami sertakan kopian Kartu Tanda Penduduk.

Saat itu, kami semua tersenyum. Pak Sulaiman berseri-seri wajahnya membayangkan sekolah dasar kami akan direnovasi. Dindingnya akan dicat, kursi dan meja akan diganti, dan loteng akan ditambal. Janda Halimah tidak kalah girangnya. Dia tersenyum membayangkan beberapa bulan lagi seekor sapi betina akan terikat di belakang rumahnya. Dan dia pun terlihat sibuk bertanya kepada Bang Ali tentang biaya membangun sebuah kandang. Hal yang sama juga terjadi pada mamakku. Dia bilang,  “Mat, tak lama lagi mamak bisa menjahit. Ada seorang dermawan yang mau menyedekahkan mesin jahit buat kita.” Singkat kata, dalam beberapa bulan itu, tidur masyarakat selalu dihiasi oleh mimpi-mimpi akan kesejahteraan.

***

“Gimana ini, pak? Kenapa sapi bantuan belum tiba? Uang saya sudah habis untuk membangun kandang!” suara Janda Halimah menggelegar di meunasah. “Iya pak! Anak-anak sekolah juga setiap hari bertanya kepada saya kapan sekolah mereka direnovasi. Saya tidak bisa mengelak lagi,”  kata Pak Sulaiman  yang turut menyambung keluh kesah warga.

Warga saling berbisik. Mereka khawatir mimpi mereka selama ini tidak akan menjadi kenyataan.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu harap tenang. Perlu saya jelaskan, saya telah berulangkali menghubungi langsung pihak terkait. Bahkan, kemarin saya juga pergi langsung ke rumah beliau. Tapi belum ada jawaban pasti,” kini giliran Cek Din, kepala desa kami, yang angkat bicara. Raut mukanya terlihat lelah. Rambutnya juga acak-acakan.

Hampir setahun lebih pengumuman hasil pemilihan kepala daerah diumumkan. Belum ada tanda-tanda harapan kami akan terlaksana. Kini senyum kami telah digantikan oleh rasa kesal yang amat besar. Kami dibohongi oleh orang yang sekarang  memimpin kami.

Decitan rem mobil terdengar samar. Blam-blam, suara dua pintu mobil  saat dibanting  bersamaan.  Tok-tok-tok.  Aku kaget suara ketukan di pintu rumahku. Siang-siang begini siapa sih! Dengan hati kesal dan kantuk yang mulai menguap hilang, pintu pun aku buka.    “Wa’alaikum salam. Cari siapa, bang?” Ternyata dua orang abang yang turun dari mobil pick-up tadi. “Maaf dek menganggu. Kami bingung mencari rumah Halimah. Apa adek tahu di mana?” tanya seseorang yang memakai topi pet hitam.     “Halimah ada dua orang, bang. Yang satu masih gadis,  satunya lagi janda. Abang cari yang mana?”

“Ehem, sepertinya yang janda. Di kertas ini hanya tertera nama ‘Halimah’, tidak lebih. Lgi pula, saya tidak pernah mendengar ada gadis yang memesan lembu.”

“Oh, kalau yang janda, di ujung jalan itu, bang. Abang lihat di situ ada pohon mangga? Nah, belok kanan, dan cari rumah yang di depannya ada pohon jamblang. Itu rumah janda Halimah.”  

“Cukup jelas, dek. Terima kasih banyak. Kami pergi dulu.”

 “Sama-sama bang. Ngomong-ngomong, Bu Halimah sepertinya sedang banyak uang ya, di zaman sulit ini masih mampu membeli lembu. Oke lah, hati-hati di jalan bang.”

“Baik, dek. Tapi sepertinya bukan ibu Halimah yang membeli lembu ini. Ini bantuan dari gubernur.”

 “Gubernur beserta jajarannya  melakukan kunjungan ke Panti Asuhan. Para rombongan disambut oleh tarian ranub lampuan yang dimainkan  langsung oleh  anak-anak  panti asuhan. Dalam sambutannya, gubernur menyebutkan bahwa tujuan dari kunjungan  untuk berbagi kasih. Demikian laporan kami dari Panti Asuhan.”  

“Lihat, Mat! Itu orang yang menipu kita!” kata  Bang Wan sambil menepuk pundakku dan menunjuk ke televisi 14 inc yang sedang berkoar-koar. Kami sedang minum kopi di warung. Larutan hitam itu terasa begitu kelat, dan semakin kentara kelatnya kala melihat sesosok figur yang bergerak di televisi: figur yang telah menipu, memainkan hati, dan melupakan kami. Kalaupun beberapa tahun kemudian ada bantuan lembu ke desa kami, bisa dipastikan lembu kurapan, dan mati setelah beberapa bulan diserahkan.

“Tapi Mat, setidaknya dengan ini kita belajar,” kata  Bang Wan  lagi, lalu dia cukup lama terdiam. Sepertinya dia merenung.   “Pilihlah calon kepala daerah yang sudah kau kenal. Kenal orangnya dan kenal rekam jejak perbuatannya.” Kepulan asap rokok berputar-putar dari mulut Bang Wan. Agaknya dia cukup puas dengan kata-katanya itu. Aku hanya mengangguk saja. Jujur aku kurang paham dan bingung.

“Dan satu lagi, Mat,”

“Apa, bang?”

“Jangan lupa kau pilih aku di pemilihan kepala desa nanti! Kalau aku terpilih, aku akan memperluas lapangan kerja. Tidak akan ada lagi pengangguran. “Oke-oke.” Aku meneguk kopi sampai habis. Dalam hatiku: Bagaimana dia akan memperluas lapangan kerja, dia sendiri  masih  pengangguran!

* Muhammad Haekal , mahasiswa IAIN Ar-Raniry Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris


sumber gambar: innislife.utoronto.ca

by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Parade Puisi Mahasiswa

Dua puisi di bawah ini adalah tulisan pertama saya yang dimuat di media. Editor Harian Aceh memberi judul 'Parade Puisi Mahasiswa' karena memang puisi yang terbit berasal dari tiga perguruan tinggi: IAIN Ar-Raniry, Al-Muslim, dan Unsyiah.
(klik di sini untuk langsung ke situs)


GULITA YANG BERGANTI

Dan semua tanpa warna…
Semu malam gulita…
Bersemilir angin tak berkala…
Aku mewajah gerah…
Tanpa usang semua terbang…
Dengan debu melekat hampa…
Kutawar berada pagi…
Yang biasa bermatahari tanpa bintang abadi…

Dan semua memberkas kilaunya…
Petang yang datang…hilang…
Kesempurnaan awan yang menghujan…
Malam yang mengembun…menantang…
Tanpa selimut aku duduk di haluan…
Berteman angin meyakin Tuhan…

Dan semua sejalan berpaling…
Tak mampu kulupakan dengan sekepul asap…
Tak mampu hilang dengan secangkir panas hitam…

Dan kusapa jenuh sang bulan pagi…
Yang sebentar lagi tergantikan oleh matahari…
Sang cahaya yang terkadang menepi namun memberi…
Berkias alam menebar wangi…
Tempat ombak biru yang tak pernah kudaki…
Ruang kenyataan tanpa palung hati…
Sebuah hiasan terbaik yang kumiliki di semua dimensi hari…
-----------------------------------------------------------

MAHASISWA?

Hanya itukah ilmu mu?
Belajar untuk melempar batu…
Di tengah jembatan kau adu uratmu…
Sesama saudara membunuh tanpa malu…
Hanya itukah ilmu mu?
Meneriakkan kata setia dengan jiwa…
Namun melepasnya dalam sekejap mata…
Dan lihatlah pendahulumu di ’98…
Mereka berdarah….berkorban…
Tumbangkan rezim tegakkan reformasi…
Dan lihat dirimu…
Yang darahnya tertumpah sia-sia..
Tanpa guna suatu apa..hanya derita dan jerit tanpa nyawa…
Hai kau di sana!!!!!
Masihkah kau mengaku mahasiswa?!

sumber gambar: vi.sualize.us

by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Entahlah



Aku memandang layar
Yang memantulkan berkas ranting salam
Ketika layar menghitam
Sejenak sadar bahwa aku sendirian

Aku tak ingin berpikir
Tidak pula berniat menganalisa
Tentang perihal ‘kenapa’
Tentang rencana ‘bagaimana’

Sekarang biarkanlah semua kembali
Atau pergi
Atau merangkak tak peduli
Terhadap kita hari ini

Dan sementara untuk digaris-bawahi
Bolehkah kuberkata ‘bukan aku yang memulai’
Adilkan jika kuberpikir ‘kalian yang memantik’
Entahlah.
sumber gambar: vi.sualize.us

Friday, March 2, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment