I Love Aceh: Ngutip Kopi

I Love Aceh
Ke mana sih biasanya kamu menghabiskan liburan? Pergi ke pantai? Atau cuci mata di pusat perbelanjaan? Itu sih biasa. Jika kamu berkunjung ke Aceh, kamu akan mendapatkan pengalaman yang berbeda!

Kali ini saya akan mengajak kamu jalan-jalan ke kawasan Bener Meriah. Sebelum dimekarkan, dulunya kabupaten ini bergabung dengan wilayah Aceh Tengah (ibukota Takengon). Bener Meriah sendiri bersuhu dingin. 

Di samping tersohor dengan budaya tari dan pacuan kuda, kabupaten ini terkenal dengan kopinya: kopi Gayo. Selain bisa menikmati kekayaan rasa dan aroma kopi arabika dan robusta, kamu juga bisa mengikuti kegiatan yang takkan terlupakan: ngutip kopi. Apa itu ngutip? Ikuti perjalanan saya.


Menuju Bener Meriah


Untuk bisa menuju Bener Meriah, kamu bisa naik pesawat menuju Banda Aceh. Dari sana, kamu tinggal menyewa bus atau minibus L-300 untuk menuju ke lokasi. Biayanya terjangkau. Kamu cukup merogoh kocek 85 ribu rupiah saja. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 6 jam. Tapi tidak perlu kuatir. Sepanjang perjalanan, dijamin mata kamu akan dimanjakan dengan panorama alam Aceh yang luar biasa! Atau sebagai alternatif, kamu juga bisa langsung berangkat dengan bus dari Medan.

Setelah tiba di Bener Meriah, tubuhmu akan sedikit dikejutkan dengan suhu yang dingin! Malah jika tiba di waktu subuh, udara yang keluar dari mulut akan berbentuk asap! Cool!


Di Bener Meriah, kamu bisa menginap di Mess Pemda yang berada di Komplek Perkantoran Bener Meriah, 
Serule Kayu - Redelong. Atau jika kamu ingin sedikit tantangan, kamu bisa langsung pergi ke suatu kampung, menemui Pak Keuchiek (kepala desa), dan menyampaikan maksud kedatangan. “Pak, saya turis. Saya ingin mengenal budaya dan menikmati alam Gayo.” Insya Allah izin menumpang akan diberikan. Masyarakat di sana ramah-ramah, lho.

It’s Show Time!

September hingga Mei adalah bulan paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat Bener Meriah. Pada bulan-bulan tersebut, deretan pohon kopi yang sebelumnya berbunga, kini mulai berbuah. Tidak tanggung-tanggung, sebuah kebun kopi yang produktif bisa menghasilkan buah kopi segar atau biasa disebut gelondongan seberat 1,5 ton dalam sekali panen. Dalam sebulan, kopi bisa dipanen sebanyak dua kali. 

Buah kopi yang siap petik adalah yang berwarna merah. Jika tidak segera dipetik, buah itu akan jatuh. Memang masih bisa diolah, tapi akan mengurangi kualitas. Alhasil, dibutuhkan banyak tenaga pemanen. Nah, prosesi pemanenan itulah yang disebut ngutip.

Kebun kopi berada di setiap kecamatan di Bener Meriah. Foto-foto yang ditampilkan kali ini, berlokasi di Kampung Bener Kelipah Utara, Kecamatan Bener Kelipah.


Kebanyakan kebun kopi, berada di perbukitan. Jalan menuju ke lokasi cukup terjal dan licin. Biasanya, setengah perjalanan bisa ditempuh dengan sepeda motor, sedangkan sisanya harus berjalan kaki. Minimal kamu perlu memakai sandal gunung agar tidak tergelincir.

Karena pekebun di sini tidak hanya menanam kopi di tempat yang datar, tapi di tanah yang miring dan bergelombang, kamu harus hati-hati. Namun tidak perlu khawatir, pohon kopi bertekstur keras dan kuat. Cabang-cabangnya menjulang panjang. Kamu bisa menggunakannya sebagai pegangan.

Sekarang kita mulai ngutip! Peralatan yang kamu butuhkan cukup sederhana: sebuah tas selempang dari goni plastik. Gunanya untuk menampung buah kopi yang kamu petik. Para pekebun akan sukarela meminjamkannya untukmu. Apalagi yang kamu lakukan sebenarnya sangat membantu meringankan beban kerja mereka.

Cara ngutip sangat mudah. Kamu cukup memetik buah yang berwarna merah dan memasukkannya ke dalam selempang. Beres!

Selain bisa menikmati pemandangan dan sensasi ngutip, kegiatan ini juga akan memberikan pemahaman baru bagi setiap orang yang melakukannya. Kita bisa mengerti bagimana perjuangan para pekebun kopi. Menanam kopi bukan perkara mudah, tanah pegunungan tidak selalu datar. Merawatnya juga tidak gampang, pekebun harus rajin membersihkan lahan dari semak sembari melakukan pemupukan. Setelah dipanen pun, buah kopi tidak bisa langsung dikonsumsi. Ia harus melewati proses pengupasan, penjemuran, penggongsengan, dan penumbukan/ penggilingan. Baru kemudian bisa kita nikmati di rumah atau kedai-kedai. Perjuangan para pekebun mungkin cocok dengan rasa kopi yang pahit bercampur manis.


Mm, bagaimana? Apakah kamu tertarik? Kami menanti kunjungannya :)
follow Twitter @iloveaceh untuk mendapatkan berbagai informasi menarik mengenai Aceh

*Pengalaman ngutip adalah satu dari sekian banyak cerita lain yang menghiasi kegiatan saya dan teman-teman di Kabupaten Bener Meriah. Kami adalah mahasiswa utusan IAIN Ar-Raniry yang bergabung dalam Kuliah Pengabdian Masyarakat ( disingkat KPM – di beberapa universitas disebut KKN). Selain terkesan dengan keramahan dan adat istiadat masyarakatnya, kegiatan ini juga memberikan kami pencerahan tentang betapa hebatnya potensi daerah Aceh.

Allah SWT telah menganugerahkan ini semua. Kita hanya tinggal memanfaatkannya.

foto: dokumen pribadi

Saturday, February 16, 2013 by Muhammad Haekal
Categories: 8 comments

Comments (8)

  1. Saya belum pernah ke Takengon, sangat ingi ke sana suatu saat nanti.
    Semoga menang ya kal, saya juga ikut :D

  2. MANGAT THAT SANG KUPI NYAN

  3. Tak ada KPM tak ada BM :)

  4. @k'hacky: moga bisa ke sana ya, kak! seruu! makasih doanya. sukses jg buat kakak. insya Allah :)
    @akmal: nyoe. leumak!
    @syarfina: tak ada BM, tak ada KPM :)

  5. buah kopi bisa dimakan langsung ga om?

  6. kayak apa rasa buah kopi?

Leave a Reply