Harapan

Seorang teman pernah mengeluh: “Apakah orang-orang yang berpikir, mengkritik, dan menawarkan saran, tak punya tempat di masyarakat kita? Orang-orang seperti itu dibayar murah, bahkan seringkali tak diberikan imbalan apa-apa.”

Saya menggeleng tidak tahu. Itu juga menjadi pertanyaan bagi saya.

Dia kemudian bercerita tentang seorang temannya di kampung yang sukses berjualan parfum.

“Sekarang dia sudah punya ruko berpintu tiga. Jika aku pulang kampung, aku menghindari bertemu dengannya karena malu.”

Teman saya ini baru pulang studi di negara asing. Sekarang dia belum memiliki kerja tetap dan kerap ditekan keluarganya sendiri. Di sisi lain, dia kerap sakit melihat bagaimana ketidakadilan terus dibiakkan.

Saya sejenak ingat, ada sebuah negeri di dunia ini, ketika hampir semua orang memiliki tempat, setiap pekerjaan diperlakukan adil. Di sana, seorang penjual buah-buahan bisa membeli mobil hybrid, penyedia jasa pembersih bisa membeli rumah (bukan sekadar menyewa!), dan guru atau dosen mampu fokus mengajar dan meneliti—tanpa pusing memikirkan persoalan keuangan. Kebanyakan orang di sana bekerja dengan waktu yang masuk akal dan bayaran yang sesuai. Mereka juga memiliki waktu berkualitas dengan keluarga. Di sana, orang-orang memiliki kemerdekaan menjadi diri sendiri. Perbedaan pendapat ditempatkan dalam ruang diskusi. Permasalahan ditelaah dan dicarikan solusinya. Salah satu surga dunia.

Saya tidak tahu kapan Indonesia bisa mencapai keadilan sosial dan ekonomi bagi seluruh rakyatnya. Negara kita besar. Penduduknya padat dan majemuk. Sayangnya kita sedang dibelenggu dengan masalah yang kompleks dan berlapis-lapis. Sementara kebanyakan elit di negeri ini memilih menyelamatkan diri sendiri. Padahal mereka punya kekuatan untuk membuat kebijakan.

Orang-orang tertindas yang menyadari posisinya mesti bangkit. Bersuara dan berbuat sesuatu. Berorganisasi, tidak sendiri-sendiri. Belajar untuk memahami apa persoalan dan bagaimana pilihan solusinya. Kita memerlukan perubahan yang radikal: perubahan secara menyeluruh dan mendasar dari sistem []

Tuesday, May 29, 2018 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Leave a Reply