Klub Stres

Kami kadang-kadang berkumpul di kedai kopi. Membicarakan kemungkinan perubahan yang kecil sekali. Di sela-sela waktu luang yang membentang, kami menginisiasi klub diskusi—kami sendiri sebenarnya belum begitu paham topik-topik pembahasan. Tapi walau hanya satu ayat, itu perlu dibagikan, bukan? Walau hanya menjangkau sedikit sekali orang, kami berharap hal kecil ini dapat membantu orang-orang berpikir jernih. Tidak terus hidup di dalam tempurung.

Beberapa dari kami pernah depresi. Sebagian terpaksa membuat janji dengan psikiater. “Satu-satunya yang belum kupikirkan hanya bunuh diri. Atau mungkin pernah, tapi bukan keinginan yang besar,” kata seorang teman. Sebagian lain memendam frustasinya dengan menertawakan diri sendiri, atau orang lain yang bernasib sama. Ada pula yang gencar bersuara di media—walau ia tahu hal tersebut tidak banyak membantu.

“Yang paling mudah adalah menjadi orang tak peduli,” kata seorang teman. Orang-orang bisa dengan mudah menutup mata dengan apa yang terjadi. Melanjutkan hidup tanpa merasa ada masalah yang terjadi. Orang-orang seperti ini cenderung selamat jiwanya. Namun tentu, mereka tidak bisa menyelamatkan masyarakatnya. Bagaimana ingin menyelamatkan, jika ada-tidaknya masalah saja mereka tidak peduli.

Orang-orang sibuk bekerja, tanpa sejenak berpikir sebenarnya apa yang sedang dialaminya. Terlalu lama hidup dalam ketidakberesan membuat hal-hal itu diterima sebagai peristiwa alamiah atau wajar. Sementara tidak sedikit orang-orang yang tahu, memilih diam. Takut bicara akan menjadi malapetaka yang mengancam isi dompet, asap dapur, reputasi, atau nyawa itu sendiri.

Zaman penuh masalah seperti ini, terlebih lagi hidup di sebuah wilayah yang pernah atau masih disebut sebagai “laboratorium sosial,” memerlukan kesehatan badan, mental, dan pikiran yang kuat. Menjadi waras kemudian adalah cara lain untuk menyebut diri menjadi terasing, kesepian—dan penuh tekanan. Ada kalanya kemudian, menjadi sendiri, bukan pilihan bijak. Selain mudah patah seperti batang lidi yang tunggal, hal tersebut juga tidak baik bagi kesehatan. Berkelompok kemudian menjadi pilihan masuk akal. Setidaknya, kita jadi punya teman bicara: mengeluarkan isi kepala, menenangkan hati, atau paling tidak merasa tidak sendiri []


Sunday, May 27, 2018 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Leave a Reply