Sembilan

 
Ini adalah minggu kesembilan dari dua belas minggu yang tersedia untuk semester pertama. Saya masih merasa belum berbuat apa-apa terutama untuk ilmu pengetahuan, ranah pembaktian saya untuk kehidupan.

Di satu sisi, saya semakin sadar bahwa episentrum kehidupan sebagian besar berpusat di diri saya sendiri. Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa atas kebodohan, ketololan, atau kemunduran yang saya alami. Orang-orang, kita semua, punya kehidupan masing-masing. Kita bisa bergerak bersama-sama tapi mungkin ada yang memiliki tujuan berbeda. Di sini saya melihat, setiap orang akan dimudahkan untuk memperoleh apa yang ia niatkan, entah itu pekerjaan, perjalanan, pengetahuan, atau bahkan pelampiasan.

Saya juga mulai belajar bahwa mengubah diri sendiri, khususnya terkait kebiasaan buruk, lebih baik tidak dilakukan secara drastis. Dalam titik ekstrim, tubuh kemungkinan besar akan berontak. Perubahan dengan demikian hanya menjadi semacam euforia semalam. Oleh karenanya, opsi terbaik barangkali dengan melakukannya secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, hingga apa yang ingin kita ubah tersebut menjadi kebiasaan—yang nantinya akan menghujam erat dalam atribut kemanusiaan kita.

Kehidupan, dalam sebuah dimensinya, adalah pertarungan panjang manusia dengan dirinya sendiri. Kita harus memenangkan yang satu ini sebelum bergerak ke arena-arena yang lain []

Monday, May 2, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Pendidikan

 
Pendidikan menyediakan ragam kacamata untuk melihat berbagai fenomena, terutama kebodohan saya sendiri. Ia membuat saya tahu bahwa dunia terdiri dari ragam kemungkinan, perspektif, sudut pandang, logika berpikir, dan keputusan. Saya boleh punya pendirian, memilih sebuah sisi dan menafikan sisi yang lain, tapi saya juga harus punya rasa hormat bahwa setiap orang dalam proses memilih tersebut punya dasar dan alur berpikir yang unik.

Pendidikan bukan hanya mengacu kepada gedung sekolah, universitas, atau segala hal yang berkiblat pada formalitas kapitalis. Pendidikan bagi saya berarti sebuah tindakan yang dengan melakukannya seorang manusia dapat menjadi lebih dekat dengan kemanusiaannya sendiri: memiliki akal dan budi. Oleh karenanya, saya termasuk yang tidak setuju jika seseorang dinilai dari ijazahnya, atau ijazah itu sendiri dianggap sebagai manifestasi dari pendidikan. Manusia tidak serta merta berpendidikan karena masuk gedung sekolah atau kuliah, bisa jadi sebaliknya. Sistem inilah yang tidak saya sukai pada dunia yang kita tinggali sekarang ini. Ketika ijazah dijadikan representasi dari strata manusia, orang-orang berbondong-bondong sekolah agar memiliki label pintar. Ketika mayoritas perusahaan menjadikan ijazah sebagai formalitas melamar pekerjaan, terbukalah pintu bagi orang-orang nakal untuk menciptakan 'pabrik-pabrik' ijazah yang memproduksi apapun selain pendidikan itu sendiri. Jika ijazah adalah representasi tunggal dari pendidikan, mengapa sebagian dari kita justru bekerja di bidang ilmu yang sama sekali berbeda dengan titel yang tertulis di kertas tersebut?

Kita barangkali sedang hidup di masa suram, ketika sistem memaksa orang menjual sawah dan ladangnya hanya untuk bisa sekolah atau kuliah. Memeras kantung negara agar anak-anak negerinya bisa mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Mengenai hal ini, saya masih bertanya-tanya, dengan apa yang saya jalani sekarang, kenapa biaya pendidikan begitu gila hanya untuk menyediakan beberapa saran gaya belajar, bahan bacaan, dan latihan? Mengapa pula dengan biaya sebesar itu, dengan banyaknya lulusan yang lahir, kehidupan manusia semakin hari tambah sulit, dunia semakin tidak harmonis? Adakah yang salah dengan definisi pendidikan yang kita pegang selama ini?

Bagi saya, Hari Pendidikan Nasional ini mengingatkan dua hal. Pertama, saya bersyukur masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk belajar, bercinta dengan buku, dan merasakan sakit kepala karena seringkali masih sulit mencerna pengetahuan. Nikmat Tuhan mana lagi yang saya dustakan? Kedua, selama kebodohan, ketimpangan sosial, dan ketidakadilan masih wujud di kehidupan ini, kita masih belum selesai dengan proses "pendidikan" ini, jauh dari selesai. Selamat belajar, kawan!

Sunday, May 1, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: , 2 comments

Rindu


Rindu

rindu bisa datang tanpa permisi
di kala sepi atau sendiri
kau bisa dalam sekian detik mendambakan keriuhan dengan adikmu
yang dalam sehari-harimu kau kutuki kejadiannya
kau bisa dalam sekilas penciumanmu merindukan nasi goreng ibumu
yang dalam pagi-pagi wajarmu terkadang kau membosaninya
kau bisa dalam sedegup perasaan membayangkan kotamu
yang dalam perjalananmu sering kau maki kesemrawutannya
rindu bisa datang tanpa permisi
sebagai tanda: ada hal-hal berharga yang barangkali tak kau sadari



***
Sekali-kali manusia perlu spasi agar mengerti rindu. Saya, kamu, kita semua.

Kedekatan jarak seringkali membuat saya abai tentang betapa berharganya semuanya, termasuk momen-momen sederhana seperti mamak memasak, ayah membaca koran, adik yang bersiap sekolah, atau teman yang hampir selalu bersedia diajak ngopi.

Kejauhan kembali mengingatkan saya untuk merangkul dan menghargai setiap orang yang ada di rantai rutinitas saya. Mereka yang, saking tidak pernah absen di setiap fase kehidupan saya, justru menjadi 'tidak terlihat' dan terkadang terpinggirkan.

Rindu, barangkali, bisa menunjukkan kembali kepada hati kita, apa yang penting dan berharga []

Foto: Luca Zanon

by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Silver Linings Playbook



Film ini berkisah tentang dua orang yang hancur dan kemudian saling memperbaiki kehidupan masing-masing.

Pat Solatano (Bradley Cooper) suatu hari pulang ke rumah dan menemukan istrinya sedang berselingkuh di kamar mandi sambil memutar lagu pernikahan mereka. Pat pitam. Dia menghajar lelaki penyelingkuh itu walau tidak sampai tewas. Akibatnya, delapan bulan kehidupannya harus dia habiskan di rumah rehabilitasi. Keluar dari sana setelah dijamin ibunya, dia belum bisa menghilangkan lagu pernikahan pembawa trauma itu dari kepalanya. Emosinya labil. Pat masih memakai cincin kawinnya dan menganggap perempuan itu masih mencintainya. Dia selalu mencari kesempatan menghubungi mantan istrinya kembali. Oleh karenanya, dia masih diharuskan mengonsumsi obat dan berkonsultasi dengan psikiater.

Sementara itu, Tiffany (Jennifer Lawrence) mulai depresi ketika suaminya meninggal dunia. Ia melampiaskan emosinya dengan mengajak bercinta hampir seluruh karyawan di kantornya, lelaki dan perempuan. Suasana di kantornya mulai aneh. Setelah mendapatkan informasi, pimpinan memanggilnya ke kantor dan memecatnya. Kehidupan Tiffany selanjutnya masih berkutat dengan pelampiasan seksualnya hingga dia cukup terkenal sebagai perempuan binal.

Mereka berdua tidak sengaja bertemu ketika Pat dengan enggan memenuhi undangan temannya untuk makan malam. Tiffany turut hadir karena diundang oleh kakaknya yang merupakan istri dari teman Pat. Ketidakstabilan emosi membuat Tiffany mendadak pulang setelah cekcok dengan kakaknya. Dia meminta Pat mengantarnya. Pertemuan pertama tersebut tidak berakhir baik ketika Tiffany mengajak Pat bercinta setelah tiba di rumahnya. Pat menolak. Dalam keadaan jiwanya yang labil, Tiffany menangis di pelukan Pat dan kemudian secara mengejutkan menamparnya. Pat pulang dalam keadaan bingung.

Esoknya mereka kembali bertemu. Hubungan keduanya semakin akrab ketika Tiffany berjanji membantu Pat untuk memberikan surat kepada mantan istrinya. Sebagai balasannya, Pat bersedia menjadi pasangan duet Tiffany dalam kompetisi dansa. Mereka pun berkomitmen latihan. Kehidupan selanjutnya menjadi keajaiban bagi keduanya.

***

Kehidupan terkadang aneh. Ada waktu ketika orang yang terluka justru membutuhkan orang terluka lain agar sembuh. Salah satu kekuatannya barangkali karena sedang berada di putaran nasib yang sama. Lebih paham sakitnya karena sama-sama sedang terluka. Saya jadi teringat jika belum selesai mengerjakan tugas misalnya, saya cenderung mencari teman yang juga belum. Ada dukungan moral yang absurd di akal tapi nyata di hati. Paling tidak ada perasaan bahwa saya tidak sendiri []

Gambar: Netflix

Saturday, April 30, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: , Leave a comment

Trauma?


Setelah membaca sebuah jurnal yang ditulis oleh Inman (2013), saya memahami sekilas bahwa ada hubungan yang intim antara sejarah hidup atau masa lalu seorang pemimpin dengan gaya dan kemampuannya dalam memimpin. Seseorang yang memiliki pengalaman kelam atau pernah dipimpin oleh seseorang yang otoriter dapat diasumsikan membawa serta hal-hal tersebut ketika dia dalam posisi memimpin, begitu pun sebaliknya.

Hubungan antara masa lalu dan sekarang tersebut membuat saya teringat tentang sebuah trauma yang saya alami, jauh ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Di masa tersebut, adalah sebuah kewajaran ketika setiap anak memiliki ejekan tersendiri. Ada seorang teman yang dipanggil "akuarium" karena memiliki badan lebar dan pipi tembam yang menyerupai kotak kaca. Ada yang dikutuk dengan ejekan "muka tipis" karena memiliki kulit wajah dipersepsikan begitu tipis. Saya sendiri dipanggil "jengkol", "pete", dan menjelang akhir masa sekolah, muncul ejekan baru: "Julia".

Saya tidak tahu dari mana teman-teman punya inspirasi menggunakan dua jenis tumbuhan tersebut sebagai ejekan. Seingat saya, itu bukan karena bau saya identik dengan keduanya. Sampai sekarang pun setelah coba-coba mengingat, saya tidak menemukan jawabannya. Sementara ejekan ketiga berasal dari nama seorang perempuan yang disukai teman saya. Dia menitipkan surat kepada saya agar diserahkan kepada Julia. Sialnya ketika saya melaksanakan misi tersebut, beberapa teman lain memergoki saya. Mereka mana peduli surat itu milik siapa. Yang mereka lihat dengan mata dan kepala adalah saya yang memberikannya. Mulai hari itu, resmilah saya dipanggil "Julia".

Anak-anak bisa juga berlebihan. Ada periode ketika hampir setiap hari saya diejek dengan ketiga sebutan itu. Jika sudah mulai, berhentinya bisa berjam-jam. Kalau sedang tidak kuat, saya menangis agar semuanya berhenti. Saya ingat periode ketika kejadian tersebut berlangsung hampir saban pagi. Saya pun sengaja datang pukul 07.30 WIB agar beberapa teman yang melakukan itu tidak punya waktu mengganggu saya (karena bel masuk kelas sudah berbunyi).

Ada beberapa hal yang melekat terus di pikiran saya terkait pengalaman itu. Pertama, jenis kejadiannya (ejek-mengejek). Kedua, wajah-wajah pelakunya. Ada satu hal lagi yang menjadi reaksi alam bawah sadar saya: menjauhi orang-orang itu. Tentu sekarang saya telah memaafkan momen kanak-kanak itu, tapi rekamannya tidak bisa saya hentikan khususnya ketika saya dalam periode hidup selanjutnya, mengalami kejadian yang sama.

Saya masih ingat ketika kuliah saya pernah begitu dekat dengan seorang teman. Entah hantu apa yang masuk ke dalam pikirannya ketika datang kegemarannya mengolok-ngolok persoalan mantan selama berjam-jam di kedai kopi. Di depan orang-orang. Hampir setiap hari. Saya pun memilih membuat jarak. Tetap berteman, tapi lebih berhati-hati. Tidak terlalu terbuka lagi seperti dulu.

Pengalaman tersebut menjadikan saya lebih sensitif dalam berinteraksi dengan orang lain. Karena pernah di-bully, saya sangat tahu bahwa aksi tersebut sangat tidak enak jika dialami siapapun dan oleh karenanya, saya sebisa mungkin menghindari melakukannya. Sampai sekarang, saya masih merespon candaan (berlebihan atau bahkan tidak) dengan membuat jarak. Ada perasaan tidak nyaman besar yang tidak dapat saya kalahkan. Kadang-kadang saya berpikir, apakah respons saya ini salah? []

Friday, April 29, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Fragmen #6



Belajar

Ini minggu keempat saya kuliah di Melbourne.

Setelah beradaptasi dengan lingkungan, kemudian makanan, saya harus menyesuaikan lagi diri dengan gaya belajar di sini—yang sebenarnya, jujur, sama saja. Seperti di Indonesia, di sini para mahasiswa disuruh membaca, menulis, berdiskusi, dan serangkaian kegiatan akademik serta nonakademik lain. Tak ada bedanya, bukan?

Tekanan justru bagi saya besar karena saya kuliah dengan uang rakyat. Ada perasaan bersalah yang besar kalau pulang nanti masih bodoh. Membayangkannya saja saya sudah malu level iblis. Mohon kalau teman-teman sedang berdoa, selipkan nama saya di sana.

Depan

Kadang-kadang saya larut dalam perasaan yang tidak perlu seperti terlalu khawatir dengan masa depan. Saya sebenarnya sudah berlatih untuk tidak memikirkan hal-hal yang berada di luar kontrol seperti itu, namun di jam-jam kritis (seperti ketika hujan turun), pikiran ini datang dan menyiksa. Padahal saya tahu, yang saya takutkan itu, kuncinya sedang saya jalani sekarang. Tapi mau bilang apa, kegalauan terkadang menjelma menjadi teman lama yang mengetuk pintu tiba-tiba.

Kalau sudah begitu saya inginnya sendiri saja. Tidak bisa dalam ramai karena saya takkan bisa menikmati suasana dan bahkan berpotensi menghancurkannya.

Rindu Kata

Salah satu pelampiasan saya adalah sastra. Membaca ulang cerpen-cerpen yang saya suka. Mengunjungi blog atau media sosial pribadi penulisnya. Entahlah, begitu saja sudah senang.

Sekalipun saya bukan (atau dengan hampir putus asa sebut saja “belum”) penulis, saya kangen juga bicara-bicara tentang penulisan dan buku. Memang biasanya bicaranya masuk kategori sampah (apalagi kalau saya yang jadi moderator). Atau paling beruntung kalau sedang ngumpul dengan teman-teman penulis, saya bisa duduk manis saja mendengarkan.

Bicara tentang ini, jadi rindu ngopi di kampung.

Syukur

Syukur itu ilmu level dewa. Menguasainya susah sekali.

Di sini, saya kadang-kadang dengki melihat teman yang bisa makan gorengan, ngopi, kenduri maulid. Bahkan saya pernah membayangkan alangkah indahnya kalau saya kuliah di dekat rumah (agar bisa sesekali menjenguk keluarga, tetap bercengkarama dengan teman-teman)—sebuah hal yang setengah mati berusaha saya hindari ketika itu.

Maka seperti ilmu-ilmu lainnya, ilmu syukur harus dipelajari tanpa henti. Memeluk yang ada, bukan merindukan yang tidak kita miliki []

Sunday, March 20, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: , 6 comments

Aku #1

Photo Credit: Jeremy Cai--https://unsplash.com/j
aku
matahari pernah bergantung di kamar kita
di malam-malam jahanam itu
ketika sepi menyusup ke dalam pekat kopi
tempat kita berdua duduk
satu jiwa
memeluk kata-kata dingin itu
yang hanya Tuhan maha tahu di laci mana mereka membeku

aku
pernahkah kau merindukan sepi itu?
hanya kita dan kesendirian itu
ruang waktu tempat kita tak pernah khawatir
dengan penilaian-penilaian manusia
yang kau tahu takkan pernah puas dengan diri orang lain
kepada diri sendiri mereka berpikir sempurna

aku
pernahkan kau merindukan kebebasan itu?
ketika kita bisa mengatakan apa saja
berbuat sesuai prinsip kita
tanpa ada yang marah, curiga
ketika kita bukan milik siapa-siapa
merdeka dengan tubuh
jiwa
dan kata-kata kita

aku
jadilah aku
dengan wajah orang lain
kau takkan pernah ada.

Friday, March 18, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: 2 comments