Tumbuh


tumbuhlah. jadi kamu
jangan sibuk menjadi orang lain
tidak perlu
hanya akan menyakitkanmu
menyiksamu. membunuhmu
perlahan.

Foto: Mike Burke

Saturday, August 20, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: 1 comment

Aneh


Saya bingung melihat sebagian orang yang memiliki kesenangan untuk menjengkelkan orang lain, entah itu dengan lelucon berlebihan atau debat kusir yang hampir tak punya garis akhir. Ini aneh dan saya tidak mengerti. Pertama, sudah jelas hal itu membuat orang-orang yang berinteraksi dengannya tidak nyaman. Kedua, apa sih manfaatnya bagi dirinya sendiri kecuali 'kepuasan' yang ganjil itu?

Saya pikir kehidupan ini sudah cukup ruwet dan tidak perlu ditambah-tambah lagi dengan negativitas seperti itu. Lagipula, bukankah dunia menyediakan banyak sekali alasan untuk berbahagia (tanpa menyakiti hati orang lain)? Aduh. Bingung saya.

Friday, August 12, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: 2 comments

Fokus


Sekarang kita punya banyak alasan untuk tidak fokus. Media sosial yang tak berhenti mengeluarkan notifikasi, grup-grup percakapan yang sebagian (atau mungkin semuanya) tidak terlalu kita butuhkan, dan kecentilan baru kita untuk memberitahu orang lain tentang apa yang kita lakukan atau rasakan. Gaya hidup seperti itu menjadikan kita terbiasa melakukan ragam aktivitas dalam satu kesempatan. Sayangnya tidak semua rangkaian multi-tasking itu benar-benar memberikan nilai dalam kehidupan kita. Hal-hal remeh berubah posisi menjadi pokok dan hal-hal lain yang masuk dalam kategori kewajiban justru kita tempatkan di prioritas waktu luang. Tentu konteksnya berbeda bagi sebagian orang. Mereka yang masuk dalam kategori hidup, mencari nafkah, atau basis kegiatan sehari-hari mereka ada di media sosial tentu tidak terkait dalam ceramah membosankan ini. Tulisan ini diperuntukkan untuk saya dan Anda yang sebenarnya memiliki pekerjaan lebih penting selain memelototi gawai.

Saya tidak tahu profesionalitas seperti apa atau kualitas pekerjaan bagaimana yang akan kita dapatkan dengan bekerja sambil, katakanlah, 'menganalisa' laman Facebook orang lain, atau membaca kisah pembunuhan yang melibatkan secangkir kopi. Saya sendiri percaya bahwa dalam hal-hal remeh saja, seperti buang air, seseorang perlu memfokuskan pikirannya, apalagi untuk hal-hal rumit lain yang memerlukan analisa dan konsentrasi tinggi. Bicara soal durasi kerja, kegiatan dengan model seperti itu biasanya akan melahirkan dua bentuk: waktu pengerjaan yang lebih lama; atau pengerjaan kewajiban pada waktu sisa. Tapi hasil kerjanya justru mirip: sama-sama tidak berkualitas. Mungkin sebagian dari Anda tidak setuju, namun begitulah yang selama ini saya perhatikan.

Fokus itu penting dan saya kira hukumnya sudah menjadi wajib. Setiap orang memang punya hak untuk hidup dengan caranya masing-masing. Tapi masak iya kita sanggup terus-terusan bertahan dengan hasil pekerjaan sendiri yang tidak becus. Masak gak malu protes dan pura-pura bingung kenapa negara orang maju dan negara sendiri setia sekali dengan status berkembangnya.

Capek ya tidak masalah. Toh setiap hari akan selalu ada senja yang mengantarkan kita pulang. Hari Sabtu dan Minggu juga belum dihapus dari kalender, kan?

*N.B: Jangan lupa ngopi agar tidak gila!
Foto: Dustin Lee

Thursday, August 11, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: 3 comments

Sedikit tentang Proses Menuju Pernikahan



Proses menuju pernikahan itu aneh. Dan menurut saya, pernikahan seharusnya bebas dari generalisasi. Setiap orang memiliki pengalaman unik dan saya sendiri meyakini pernikahan adalah urusan langit.

Ada pasangan yang sudah lama berhubungan, tapi kandas. Namun ada juga yang berhasil. Ada yang baru sebentar kenalan lalu menikah, tapi ada pula yang merasa tidak cocok lalu memilih berpisah. Ada lelaki atau perempuan yang telah siap lahir-batin tapi tidak mendapatkan restu, namun ada pula mereka yang segalanya serba pas-pasan tapi diizinkan. Ada mereka yang mencari atau menunggu bertahun-tahun jodohnya tapi tak kunjung ada. Ada pula yang bahkan tidak berpikir untuk berumah tangga, tapi jodoh itu hadir tanpa disangka. Ada lagi mereka yang menempatkan pernikahan sebagai prioritas yang kesekian setelah karir, keluarga besarnya (misalnya ada yang berperan sebagai pencari nafkah utama di keluarganya), atau alasan-alasan pribadi lainnya.

Dalam hal ini, logika dan pertimbangan seseorang tentang pernikahan tidak sama dan tidak boleh disamakan. Pernikahan bagi sebagian orang adalah sederhana, sebagian lain menganggapnya rumit. Semua orang benar, paling tidak bagi dirinya sendiri. Saran saya, Anda tidak perlu repot-repot untuk mengurus persoalan pribadi orang ini, kecuali memang diminta. Dan jika memang berinisiatif untuk benar-benar membantu, lakukanlah dengan sopan dan pelan-pelan. Dorongan yang terlalu kuat hanya akan membuat orang terjerembab, bukan? Atau jika hanya berniat menjadikan kelajangan seseorangan sebagai bahan olokan....ah, serius cuma mau ejek-ejek doang? Tega benar Anda.


Wednesday, August 10, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: 5 comments

Fleksibel


Kehidupan sekarang menuntut manusia memiliki fleksibelitas tinggi. Dunia berjalan cepat, orang-orang berubah, dan rencana kadangkala menjadi harapan yang tidak pernah terwujud.

Kita barangkali perlu berubah, jika itu memang diperlukan. Kita juga bisa melupakan (atau dalam kata yang lebih diplomatis disebut "merelakan"), jika itu membuat segalanya jauh lebih baik. Kita harus tetap berjalan karena berhenti dan merenungi nasib secara berlebihan hanya akan membuat kita tenggelam lebih dalam. "Ya sudahlah," kata Bondan.

Kita mungkin sudah sampai di pemahaman bahwa untuk melakukan transaksi pembelian, kita perlu uang. Hampir tidak ada yang gratis, bahkan kencing sekalipun. Tidak selamanya juga kita menjadi anak-anak yang setiap pagi menerima uang jajan. Uang, pemasukan, atau apapun namanya, perlu dipikirkan, sekalipun sebagian kita menempatkannya di lapis yang kesekian.

Kita bisa bercita-cita menjadi apapun, tapi sialnya kita tetap manusia yang butuh makan, ngopi, jalan-jalan, atau bagi yang berkeluarga bisa lebih rumit lagi. Lagi-lagi kita dihadapkan dengan bagaimana caranya kita bisa memenuhi kebutuhan mendasar itu. Kita boleh, katakanlah, menjadi dosen. Tapi ketika posisi itu, apalagi di negara kita, belum bisa memenuhi apa yang kita butuhkan, kita harus bisa membuka diri untuk kemungkinan-kemungkinan lain. Berbisnis misalnya atau apapun itu sepanjang dibenarkan oleh hukum agama dan negara.

Syukurnya kita memiliki Tuhan yang menjamin setiap insan di bumi ini memiliki rezeki masing-masing. Namun, hal itu bukan berarti kita bisa duduk bermalas-malasan saja, kecuali kita dilahirkan sebagai orang bermukjizat tinggi yang dapat menghasilkan butiran-butiran emas dari keringatnya. Berusahalah dan jangan lesu begitu, apalagi buat kita yang masih lajang. "Sesungguhnya seorang jomblo yang malas hanya memiliki satu hak: untuk di-bully temannya atau melajang selama-lamanya." (Bukan Hadist).

Foto: Evan Clark

Tuesday, August 9, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: 4 comments

Berbeda


Saya mulai menyadari bahwa setiap periode kehidupan memerlukan penanganan yang berbeda. Bertambahnya umur menjadikan beberapa hal berubah, khususnya yang berkaitan dengan kewajiban dan tanggung jawab.

Saya bukan orang yang cepat keluar dari rumah dan hidup di atas kaki sendiri. Lebih dari dua puluh tahun saya tinggal bersama orang tua. Dalam beberapa hal itu buruk. Saya memang bekerja, tapi saya tidak pernah merasa terancam dengan kebutuhan hidup. Semacam manja.

Dan kini, ketika kesempatan merantau datang lagi, saya bersyukur berada serumah dengan teman-teman yang menyadarkan saya bahwa hidup bukanlah orang tua pemurah yang senang hati saja memberikan uang jajan. Semua harus diusahakan. Di sisi lain, proses tersebut bukanlah garis yang lempang. Dunia juga terdiri dari sistem korup dan orang-orang curang. Kita dituntut menjadi baik hati namun tidak lugu.

***

Beberapa minggu atau barangkali bulan ini, keadaan saya sedang tidak karuan. Saya merasa gagal menjadi manusia. Banyak rencana besar yang buyar dan saya tidak selalu suka memulai segalanya dari awal. Saya negatif dan saya benci itu. Setelah menumpahkan banyak kesal dan serapah di buku atau media sosial, alhamdulillah semuanya sudah relatif membaik. Namun tetap saja semuanya memalukan.

Sembuh itu sederhana. Sekarang saya kembali ke awal. Membangun lagi keseharian dengan rantai aktivitas yang biasa saya lakukan dan tentunya tidak lupa ngopi: agar tidak gila!

Foto: Loic Djim

Monday, August 8, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: 2 comments

21 Juli 2016


Kata seorang teman, akhir Juli ini adalah puncak dari musim dingin. Melbourne sehari-hari hanya terdiri dari hujan dan angin. Jika ada sedikit saja matahari di pagi hari, orang-orang akan tersenyum dan bergegas mencuci baju. Tidak semua orang suka atau punya banyak uang mencuci di laundri koin yang selalu populer ketika musim dingin. Sebagian orang juga, walaupun mempunyai mesin cuci termutakhir yang memiliki sistem pengeringan bagus, biasanya lebih takut rekening listrik membengkak daripada jemuran yang berhari-hari lembab.
 
Semester satu telah berakhir dengan baik. Alhamdulillah. Saya mendapatkan D (Distinction) dengan nilai rata-rata tipis saja di atas standar minimal untuk mengambil mata kuliah penelitian (minor thesis). Walau demikian, dalam banyak hal saya belum puas. Saya belum kunjung ‘memecahkan telur’ keabsenan saya dari dunia tulis-menulis. Maksud saya, bukan tulisan tidak jelas yang rutin menyampah di blog, tetapi tulisan berbobot yang nilai gunanya lebih besar dari sekadar curahan hati pribadi. Saya pikir, yang bisa saya lakukan saat ini adalah mengatakan sesuatu, menginformasikan apa yang saya tahu dan dapatkan dari bangku kuliah. Paling sederhana dalam bentuk esai atau opini—yang juga belum kunjung saya lakukan. Ada titik-titik ketika saya merasa begitu tak berguna sebagai anak bangsa yang pendidikannya dibiayai oleh negara.

Masalah terbesar ada di diri saya sendiri dan seingat saya hal ini sudah saya ketahui jauh-jauh hari. Jika ada hal yang sulit saya pelajari, perbaikan diri adalah salah satunya. Sebagai pribadi yang kerap kali digerakkan oleh ketergesa-gesaan dan deadline, saya justru gagal menghadapi realitas kehidupan yang tidak memiliki tenggat waktu. Dalam hal ini, saya merasa diri belum dewasa sebagai manusia. Saya juga merasa hampir putus asa dan kerap bertanya: apakah saya akan selalu kalah dalam pertarungan dengan diri sendiri?

Saya merasakan ada lubang kosong di keseharian yang hanya diisi oleh belajar tanpa bentuk konkret dari hasil belajar itu sendiri. Barangkali seperti seseorang yang sibuk menghafal resep masakan tapi tak pernah berani memasak. Pengetahuan seperti ini hanya akan menyenangkan pelakunya di dalam pikiran. Dia sendiri bahkan takkan begitu mendapatkan manfaatnya. Semu sekali.

Mengapa saya tidak kunjung menulis? Saya mungkin takut. Takut jika tulisan saya menyinggung orang lain, takut jika hasilnya jelek, takut jika orang salah paham. Rasanya ini naif dan negatif sekali. Saya malu menyadari jika saat ini saya terlalu memikirkan nama baik sendiri dan main aman untuk sesuatu yang sebenarnya merugikan. Malu sekali. Saya rindu dengan diri saya ketika masih kuliah S1 dulu dan masih berharap suatu hari saya berhasil membangkitkan kembali sosok itu.

Suhu dalam tiga puluh hari ke depan akan terus menurun. Dan dalam dingin yang tidak selalu menyenangkan ini, saya harus segera mengalahkan diri saya sendiri. Penyakit.

Foto: Reginar

Wednesday, July 20, 2016 by Muhammad Haekal
Leave a comment