Menulis dan Mood


Saat ingin menulis, saya terlebih dahulu harus berhadapan dengan mood. Saya cenderung tidak bisa merangkai kata saat hati sedang tidak pas, pikiran sedang terbelit masalah, atau sedang berada dalam suasana yang tidak saya sukai.

Kondisi menulis yang paling saya gemari adalah sunyi: saya sendiri, dengan segelas minuman manis, dan laptop. Saya suka musik, tapi ketika menulis, saya memilih mematikannya. Saya suka ngobrol dengan kawan-kawan, tapi ketika menulis, saya memilih menyendiri. Saya perlu fokus.

Tapi kemudian saat hati tidak kunjung pas, rumah ramai, dan orang-orang tidak bisa disuruh diam, apakah saya harus berhenti menulis? Jatahnya sih iya, hehe, tapi tentu lebih baik tidak. Penulis harus tetap menulis.

Seorang penulis harus mampu melawan diri sendiri. Ketika badan malas-malasan atau pikiran mengajak untuk menunda, penulis harus rela “membunuh” mereka. Coba bayangkan, semisal kita hanya menulis saat mood bagus dan itu hanya terjadi setahun sekali, berapa tulisan yang dapat kita hasilkan? Dan berapa banyak waktu yang telah kita buang?

Mengalahkan mood memerlukan latihan. Sekarang saya sedang menulis sementara teman KPM saya sedang menghidupkan musik. Ingin rasanya saya mematikan lagu itu karena transfer kata dari otak saya tersendat gara-gara fokus terbagi dengan musik. Tapi yaa karena niatnya mau latihan, saya diamkan saja.

Semua butuh proses. Kita butuh strategi dan konsistensi untuk mengalahkan mood. Dan akhirnya, mari berperang dengan mood sendiri! Insya Allah kita menang.

Salam.  


pic: google.com

Monday, April 30, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

KPM-PAR, Bener Meriah (Bagian I)

Di Pekarangan Kantor Bupati


“Ada apa ya?” begitu tanya seorang ibu saat melihat puluhan orang berkumpul di Tugu Darussalam, lengkap dengan ransel besar. Seperti hendak lari dari tsunami.

Ibu itu kemudian pergi ketika mendengar jawaban kami, ‘pergi KKN’. Beberapa orang lain juga datang dengan pertanyaan yang sama. Ya, memang jarang-jarang orang berkumpul di suatu tempat kala malam, apalagi ditambah dengan penampilan seperti pengungsi.

Malam itu, Minggu 15 April 2012, mahasiswa IAIN Ar-Raniry yang berjumlah 139 orang bertolak ke Bener Meriah. Insya Allah dari tanggal 16 April hingga 31 Mei 2012, kami akan mengadakan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM – di beberapa universitas lain disebut ‘KKN’) di sana.

IAIN Ar-Raniry memiliki dua macam program KPM. Yang pertama adalah Participatory Action Research (PAR), dan yang kedua adalah program KPM Regular. PAR mempunyai perbedaan dengan reguler. Di dalam PAR, mahasiswa tidak hanya melakukan pengabdian, tetapi juga penelitian. Hal yang diteliti adalah permasalahan yang timbul di dalam masyarakat. Misal masyarakat suatu desa mengalami kesulitan ekonomi. Mahasiswa sebagai fasilitator akan melakukan diskusi dengan masyarakat untuk mencari solusi. Kemudian, mahasiswa melakukan observasi mengenai potensi desa. Ketika potensi telah diketahui, semisal desa itu berpotensi sebagai daerah peternakan ayam potong, maka fasilitator akan menghubungi pihak-pihak yang berkompeten di bidang tersebut, termasuk pihak terkait lain seperti unsur pemerintah, calon pemodal, dsb. Selanjutnya, pihak-pihak tersebut akan dipertemukan dengan masyarakat untuk menciptakan pemecahan masalah.

Bustami, Ridho, Ihkwani, dan Arya

KPM PAR tahun ini dilaksanakan di dua kecamatan: Bandar dan Bener Kelipah. Sebanyak 30 desa menampung kelompok-kelompok mahasiswa yang terdiri atas 3 sampai 4 orang.

Tiba di Bener Meriah

Saya baru pertama kali menginjakkan kaki di Bener Meriah. Udara dingin langsung menusuk tulang saya yang kaku karena berjam-jam meringkuk di mobil. Jika berbicara, asap keluar dari mulut. Mobil kami tiba di sana sekitar pukul 5 pagi, tepat di kawasan Simpang Balik. Azan menggema dari mesjid yang letaknya entah di mana. Bahkan kami sempat medawa (berdebat) sebentar terkait dari mana sumber suara.

Kami melaksanakan shalat di sebuah balai pengajian yang semula kami duga sumber dari suara azan. Shalat subuh dipimpin oleh dosen kami. Suara beliau terbata-bata karena menggigil. Sementara tubuh kami gemetar hebat setelah dibasuh dengan air wudhu.

Setelah shalat selesai kami memutuskan untuk kembali ke mobil yang parkir di depan penjual buah. Namun belum sampai di sana, perhatian kami ditarik oleh barisan orang yang menuju ke sebuah tempat. Handuk bersandang di bahu mereka, sementara tangan kanan mereka memegang timba berisi peralatan mandi. Mandi jam segini? Dengan udara sedingin ini? Kami hampir tidak percaya sebelum menemui gapura bertuliskan ’Pemandian Air Panas Wih Pesam’.

Lebar jalan menuju air panas Wih Pesam sekira enam meter. Cukup untuk dua sepeda motor. Di sisi kedua sisi jalan terdapat beberapa kedai kopi yang telah didatangi beberapa pengunjung.

Kami terus berjalan menuju kolam air panas. Jalanan beralas batu gunung itu gelap. Tidak ada penerangan di sana. Banyak pengunjung yang menyalakan senter untuk menerangi pandangan atau sekedar menghindari ditabrak orang. Kami hampir berbelok ke kiri jika tidak melihat seorang ibu yang keluar dari sana. Ternyata di Wih Pesam Simpang Balik terdapat dua pemandian, untuk lelaki dan perempuan. Kami pun berjalan lurus. Tepat sebelum sampai di kolam laki-laki, ada sebuah mushalla di sana. Tempat beribadah yang digunakan oleh masyarakat dan pelancong yang baru tiba.

Kolam itu cukup luas, sekira lapangan badminton. Tua-muda memenuhi tempat itu, mencari kehangatan di tengah serbuan udara dingin yang menusuk tulang. Kepulan uap juga terlihat keluar dari air. Sialnya tidak ada dari kami yang bisa mandi. Ransel kami terlalu bertumpuk di dalam mobil. Membongkar ransel hanya untuk mengambil handuk dan baju sepertinya bukanlah pilihan yang tepat saat itu. Jadi kami hanya bisa menikmati suasana hangat, sambil sesekali mengecipak-cipakkan air dengan jemari.
Puas bermain-main air, perut kami terasa lapar. Teringat dengan kedai kopi tadi, kami pun bergerak ke sana. Di depan kedai kopi, seorang bapak berkopiah sedang memanggang pulut dan menggoreng beberapa macam kue. Dia mempersilahkan kami masuk. Di dalam sudah ada beberapa orang bapak-bapak yang sepertinya sudah lama duduk di situ. 

Kedai kopi itu cukup sederhana. Luasnya sekitar 8 x 4 meter. Hanya ada enam meja. Di bagian depan, diletakkan sebuah alat panggangan berbentuk persegi. Di sebelahnya terdapat sebuah wajan penggorengan yang di atasnya dipaku selembar kawat persegi, untuk menaruh gorengan yang telah matang. Sementara tempat pengolahan kopi terletak di bagian belakang kedai.

Menu yang ditawarkan tidak macam-macam. Untuk air hanya kopi dan teh. Sementara kue terdiri atas pulut panggang, pisang goreng, bakwan, dan beberapa kue tradisional lain. Saat itu, kami sepakat memesan kopi. Fakta bahwa Bener Meriah adalah daerah penghasil kopi membuat kami penasaran ingin merasakan kopinya. Aroma khas seketika menyeruak di udara saat gelas-gelas kopi dihidangkan. Rasa kopi yang pahit-manis dalam sekejap memanjakan lidah kami. Menikmati kopi yang diseduh dengan air mendidih sangat nikmat rasanya. Apalagi udara memang sangat dingin. 

Sayangnya tidak ada foto yang bisa saya ambil. Kamera terkunci di ransel. Sayang sekali.

Menuju Desa

Bersama Bustami, rekan satu kelompok

Setelah disambut di gedung bupati, kami bergerak ke kantor kecamatan masing-masing. Saya bersama tiga teman, ditempatkan di kecamatan Bener Kelipah, desa Bener Kelipah Utara (BKU).

Kami diperkenalkan dengan keuchik (kepala desa) BKU, yaitu pak Kawasima. Lalu tanpa menunggu lama, kami bergerak ke desa yang dikelilingi oleh hamparan kebun kopi.

Peta Kecamatan Bener Kelipah
Akhirnya, semoga kami mampu mengabdikan ilmu kami yang terbatas di desa ini. Doanya ya. Sampai jumpa di posting lain, insya Allah.

Wednesday, April 18, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 7 comments

Kalian


Orang-orang terbaik yang pernah kukenal
Dari belasan tahun lalu hingga sekarang
Kalian

Teruslah berjalan
Teruslah bermimpi
kalian mampu meraih semuanya

Dan terima kasih
Atas bergelas-gelas kopi, beribu potong kue, dan tak terhitung cinta yang telah kalian berikan
Sukses terus.

sumber gambar: vi.sualize.us

Sunday, April 8, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 1 comment

Seteru Warna



Alhamdulillah puisi ini terbit di Serambi Indonesia. (klik di sini untuk langsung menuju situs)
---------------------------------------------------

Warna-warna saling berseteru
Mengadu mulut manis dan merdu
Di belakang tangannya melempar batu


Warna-warna saling berseteru
Merebut kursi nomor satu
Saling menyikut tanpa malu


Warna-warna saling berseteru
Sementara rakyat menonton gelisah
Bergidik melihat darah yang tumpah


Muhammad Haekal, mahasiswa jurusan PBI IAIN Ar-Raniry


sumber gambar: flickr

Sunday, April 1, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 2 comments

Bacalah Pelan-pelan


Bacalah pelan-pelan
Buang prasangka
atau segala yang membuatmu curiga

Tidak ada yang salah dari kita
dari kamu atau aku
Semua baik-baik saja

Sekarang lihatlah ke depan
Jalan masih panjang
Bersama mari kita jelang.


sumber gambar: vi.sualize.us

Saturday, March 31, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Ephemera


Sekira delapan tahun lalu, saya pernah tertarik dengan seorang perempuan. Bertemu dengannya membuat saya sesak nafas. Malu tidak menentu. Jika berpapasan di jalan saya menghindar. Bila teman menggoda saya menyangkal. Tapi diam-diam saya menikmati. Hingga apabila hari sepi, saya terang-terangan merindukannya dalam hati.

Saya melakukan segala hal agar bisa dekat dengannya: sms, bercanda-canda, mengirim salam, dan kalian tahu lah, hehe. Dan akhirnya dia menangkap sinyal itu. Pertemuan yang sebelumnya hanya terjadi di koridor rahasia, kini terbuka untuk semuanya. Di mana ada dia, di situ ada saya. Seperti saudara kembar layaknya. Tidur malam kembali tak nyenyak. Mimpi bukan menjadi tujuan malam lagi. Karena saya telah menganggap dunia nyata lebih berseri. Bahkan terkadang saat pagi, hp masih tergenggam di jari.

Beberapa minggu berlalu. Ada yang berubah. Semua pertemuan seperti tidak indah lagi. Tidak ada alasan sebenarnya untuk menjawab kenapa. Perasaan di hati tiba-tiba berubah tanpa terkira. Pertemuan semakin jarang. Sms-an semakin membosankan. Orang-orang pun bertanya ada apa gerangan. Sebagian berkata, "mungkin mereka sudah bosan."

Kata 'putus' pun akhirnya keluar, dengan berbagai macam versi. Kita tidak cocok/ kamu gak pernah ngertiin aku/ kita bukan jodoh/ lebih baik kita berteman saja/ aku menganggapmu adikku/ dan berbagai macam versi kalimat putus pun bangkit dari kubur. Tangis pun berderai dari satu pihak yang ingin 'serius'. Sementara nafas lega berhembus dari lain pihak yang ingin 'lepas'. Saya tidak tahu berada di bagian mana.

Ephemera

Saya sebenarnya baru mendengar kata Ephemera beberapa hari lalu. Menurut kamus artinya 'sesuatu yang tidak kekal'. Makna lainnya adalah sesuatu hal yang dicetak dan biasanya tidak diniatkan untuk disimpan. Seperti struk belanja: setelah kita mengambilnya dari kasir, tentu potongan kertas itu akan berakhir di tong sampah.

Walau mungkin kesannya tidak tepat/ nyambung, boleh kan saya menyebut cinta sesaat sebagai ephemera? Seperti cerita saya di awal tadi: cinta timbul dengan kuat, seakan-akan sejati, tapi tiba-tiba hilang pergi seperti tidak pernah ada yang terjadi. Halah.

Mengapa?

Cinta itu aneh. Bahkan tidak ada pujangga yang benar-benar tepat mendefinisikannya. Sebagai manusia, tentu hal yang alamiah jika kita connect kala melihat atau bertemu sesuatu yang menarik hati. Katakanlah laki-laki, jika bertemu perempuan yang enak diajak bicara, bisa bercanda, dan menarik pula, maka bisa dipastikan "sinyal wifi-nya" akan mencari "pasword" si perempuan. Ngerinya, saat perempuan memberikan kode dan jaringan menjadi "connected", beberapa saat kemudian si lelaki memilih "disconect". Jaringan pun putus. Si lelaki pergi dengan biasa. Nah giliran si perempuan bingung luar biasa. Halah (berlaku juga sebaliknya, lho!).

Terus?

Lagi-lagi cinta itu aneh. Saya tidak pernah merencanakan untuk bertahan lama dengan dia yang sekarang. Di awal hubungan, saya bahkan berpikir, "Ini seperti yang sudah-sudah. Palingan seminggu." Tapi semua tidak terjadi, entah kenapa, saya merasa dia orangnya. Kalau ada yang tanya tipsnya, saya tidak tahu. Apalagi kalau ditanya alasan saya cinta, saya lebih tidak mengerti. Di awal saya pikir ephemera, ternyata benar-benar cinta.

Saran saya sih, hati-hati saja. Saya sendiri tidak tahu bedanya antara ephemera dan cinta. Di awal-awal hubungan rasanya perasaan itu tidak bisa dibedakan. Dan karena ini adalah persoalan perasaan, jika sudah terlanjur connected, berusahalah untuk bertanggung-jawab (hayooo!). 

Sekarang, adakalanya saya terjerumus, hampir. Entah karena tidak pas kepala atau bagaimana, terkadang saya hampir terjebak ephemera. Tapi tenang, cuma ephemera, sekali lagi ephemera! dan belum terjebak! tapi hampir! Hehehe. Saya sih berharap, kami segera menikah! Hahahahaha. Biar "aku cinta padamu"nya terkesan sah.   

Akhirnya, karena sekarang sudah ada istilah ephemera, di awal-awal hubungan, jika belum yakin cinta, katakanlah:

"Aku ephemera padamu!"

Sekian. Salam.

sumber gambar: tekfin.com


Friday, March 30, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 22 comments

Berjiwa Muda dan Bijak


Dulu saat masih tujuh belasan, saya begitu mudah melakukan sesuatu. Tanpa peduli konsekuensi. Seperti ketika membangun bisnis. Saya dengan mudah memikirkan konsep, mengeluarkan uang, tanpa menghitung risiko, apalagi ambil pusing soal untung-rugi. Bagusnya, bisnis sempat berdiri, jeleknya yaa saya rugi, hehe.

Sekarang, saat umur menginjak kepala dua, pikiran logis semakin merajalela. Kalau mau buat sesuatu selalu mikir baik-buruk, risiko, untung-rugi. Baiknya, saya tidak rugi, jeleknya yaa saya tidak melakukan apa-apa.

Terus bagaimana?

Jadilah orang dewasa. Orang yang berjiwa muda dan bijak.

Maksudnya?

Berjiwa muda di sini adalah berani. Misal ‘aku pintar berbisnis, maka aku berbisnis’. ‘Aku pintar mengajar, maka aku mengajar’. ‘Aku pintar menulis, maka aku menulis’. Orang muda adalah orang yang berani memulai.

Namun, berjiwa muda saja tentu tidak cukup. Diperlukan pribadi muda yang bijak. Bijak di sini adalah ketika sesuatu itu telah dimulai, belajar lah lebih banyak. Carilah segala informasi yang berkaitan. Berdiskusilah dengan orang-orang yang telah terlebih dahulu menekuninya. Serap pengalaman mereka. Dan teruslah setia menjalani proses.

Contoh?

Wah, banyak sekali! Lihatlah Elang Gumilang, pemuda yang sekarang berumur 27 tahun ini memulai bisnis dari SMA. Dari mulai berjualan donat, sekarang dia telah memiliki perusahaan perumahan yang terkenal karena  program perumahannya yang diprioritaskan untuk rakyat miskin. Elang tidak takut memulai. Dia tidak pula malas belajar. Dan dia setia pada proses. Ada banyak contoh lain tentunya.

Dunia memerlukan orang-orang yang kreatif, inovatif, dan produktif. Orang-orang yang tidak cengeng. Orang-orang yang tidak hanya pandai memprotes, tapi juga memiliki solusi. Dan akhirnya, karena kita tidak pernah tahu berapa lama waktu yang kita miliki di dunia ini, sekarang juga, mulailah menjadi manusia yang berjiwa muda dan bijak: tidak takut memulai sesuatu, serta tekun belajar dan terus setia menjalani proses.

Gak peduli usia muda atau tua, yang penting jiwanya muda dan bijak! Kita bisa! Insya Allah.
  
sumber gambar: vi.sualize.us

Wednesday, March 28, 2012 by Muhammad Haekal
Categories: 2 comments