Suara Hati
Ketika lidah begitu gampangnya berdusta, hati tidak bisa.
Entah kita mendengarnya atau tidak, setiap hari hati kita berbicara. Ia membisikkan lagi impian-impian yang entah kenapa seiring semakin dewasanya usia, semakin mudah kita lupakan dan sangsikan.
Semakin dewasa, kita bukan semakin percaya diri. Kita malah semakin mengecilkan arti diri kita di dalam kehidupan. Kita membangun bermacam batasan, standar, dan alasan untuk “tidak bisa”. Ketika bertemu dengan tantangan, yang terpikir pertama kali adalah bagaimana cara untuk gagal. Sangat berbeda dengan diri kita di masa kecil dulu yang merajuk, memaksa, dan melakukan segala cara untuk bisa. Ingat dulu saat belajar sepeda? Entah berapa kali kita jatuh tapi bangun lagi. Entah berapa kali kita mencuri waktu tidur siang agar bisa latihan. Begitu taatnya kita hingga akhirnya sepeda bisa kita kuasai dengan sempurna. Saat itu, tanpa disadari kita sangat percaya arti berusaha. Sementara ketika dewasa, kita justru terlalu tunduk pada pengharapan–yang sayangnya tidak diikuti oleh pengorbanan.
Jalan Sunyi
Di tengah kehidupan yang bising ini, mengikuti suara hati seringkali menjadi jalan sunyi. Tidak banyak yang bisa mengerti, bahkan bisa jadi hanya Allah Swt dan diri kita sendiri.
Setiap manusia lahir ke dunia dengan peran. Kita semua juga dilengkapi dengar berkah berupa keahlian-keahlian unik yang tidak dimiliki oleh semua orang. Ada kan? Hati kita mengenal berkah itu. Ia pun selalu berteriak-teriak agar kita kembali percaya dengan apa yang dianugerahkan Allah Swt. Atau semuanya hanya akan menjadi kutukan yang bergentayangan selama sisa kehidupan kita.
Baik sekali jika kita mengambil waktu untuk berbicara dengan hati sendiri. Bernostalgia lagi dengan apa yang dulu pernah menjadi semangat dan gairah kehidupan kita. Atau kita juga bisa memilih untuk mengabaikan suaranya. Membiarkannya jadi dingin dan bisu. Kalau sudah begitu, selamat menjadi manusia yang bukan diri kita sendiri. Merdeka?
Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)
sumber foto: vi.sualize.us
Saturday, August 16, 2014
by Muhammad Haekal
Categories:
Kolom
6 comments
Kesempatan
Dari dulu saya berpikir jika semua hal itu mungkin: mungkin gagal, mungkin berhasil. Saya juga percaya bahwa kesempatan bisa jadi hanya datang sekali dan dapat pula muncul berkali-kali.
Kehidupan memiliki ritme yang dinamis. Bisa diprediksi tapi tidak bisa dipastikan. Apalagi jika manusia telah melakukan dua tugas utamanya yaitu berdoa dan berusaha: semua hanya tinggal menunggu hasilnya–kecuali bagi yang tidak pernah mencoba, ia mutlak memperoleh penantian yang sia-sia.
If you never try, you’ll never know. Saya suka sekali sepenggal lirik dari Coldplay ini. Beberapa keputusan dan tindakan besar dalam kehidupan saya juga disemangati oleh kalimat itu. Dalam hal apapun sebenarnya tugas kita simpel saja: mencoba. Persoalan semuanya terwujud sesuai keinginan kita itu sudah lain cerita. Perkara yang terbaik tentu Tuhan lah yang maha tahu.
Di tahun 2014 ini ada beberapa kesempatan yang kembali muncul setelah beberapa tahun terkubur. Saya tidak tahu akhirnya bagaimana: mungkin gagal, mungkin berhasil. Ah, apapun itu, saya akan berusaha sampai akhir.
Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)
sumber foto: getthefive.com
fatekeep.com
fatekeep.com
Sunday, August 3, 2014
by Muhammad Haekal
Categories:
Kolom
6 comments
Alinea
di buku kita
ada lembar kosong yang belum
beralinea
di sana ada pena
beranikah kita mengambilnya?
Sunday, June 29, 2014
by Muhammad Haekal
Categories:
Kata-kata
3 comments
Pasrah
Seburuk-buruk kepasrahan adalah kepasrahan dalam kemalasan.
Kehidupan kita takkan berubah jika kita tidak berbuat apa-apa. Keberhasilan juga hanya menjadi impian jika cara kita memaknai kegagalan hanya itu-itu saja.
Apakah kita bisa melakukan perjalanan jika pekerjaan kita hanya tidur? Apakah sebuah tugas bisa selesai jika tak ada yang mengerjakan? Segala impian memerlukan pergerakan. Harus ada aksi dalam setiap rencana yang kita pikirkan.
Kesuksesan memang enak di dalam pikiran. Seperti melihat jarak Aceh dan Papua di atas peta yang hanya tiga puluh centimeter, padahal realitasnya adalah 5248 kilometer. Ya, berpikiran positif itu boleh, malah sangat dianjurkan. Namun jika usaha kita negatif, apa yang bisa kita dapatkan?
Selagi masih ada kesempatan, mari kita mulai dari sekarang. Menenggelamkan diri secara maksimal dalam usaha, doa, dan penerimaan terhadap keputusan Allah SWT. Itulah sebaik-baik kepasrahan.
Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)
Friday, June 20, 2014
by Muhammad Haekal
Categories:
Kolom
10 comments
Orang Tua Kita
Saya menulis ini karena sedang rindu kepada Ayah dan Mamak. Sebenarnya perasaan ini telah muncul tepat ketika saya pamit ke Jakarta.
Semenjak saya pergi, Mamak hampir setiap hari menelepon. Dua hal yang paling sering ia tanyakan adalah “apa kabar?” dan “apa kau senang?”. Saya selalu menjawab “kabar baik” dan “senang dikit”. Seburuk apapun keadaan saya saat itu, kabar saya memang selalu membaik jika Mamak menelepon. Sementara jawaban kedua seperti sebuah pernyataan bahwa tiada tempat yang lebih menyenangkan dibanding kampung halaman.
Mamak adalah orang yang bangun paling pagi di rumah. Sebelum subuh, ia telah menghidupkan pompa air. Memanaskan lauk. Dan membuka tirai jendela. Jika azan hampir tiba, ia akan berkeliling mengecek apakah kami sudah bangun. Sepulang shalat, biasanya beberapa lembar roti bakar dan secerek teh manis telah tersedia di meja. Sebelum semua itu habis kami lahap, ia akan datang lagi dari dapur dengan membawa tiga piring nasi goreng.
Salah satu kebiasaan Mamak yang khas adalah rutinitasnya meminum herbal. Hampir setiap hari ia meminum air rebusan daun salam. Jika kondisi tubuh sedang tidak fit, ia akan pergi ke pekarangan untuk memungut buah mengkudu. Sarinya diperas lalu diminum. Di malam hari, sebelum tidur, ia biasa memetik daun binahong. Melumatnya dengan tangan, lalu membalurkannya di wajah. Mamak saya tidak begitu suka mengonsumsi obat-obatan kimia kecuali terpaksa.
Sementara Ayah adalah lelaki yang tidak banyak bicara. Jika saya bertanya, ia biasanya menjawab dengan “mmm” yang diikuti anggukan–berarti “ya”, atau terdiam lama yang berarti “tidak”. Dalam hal ini, salah satu keuntungan merantau adalah saya bisa berbicara lebih lama dengannya di telepon.
“Apa kabar?” tanya saya.
“Baik.”
“Bagaimana pekerjaannya?” Ayah sedang menulis disertasi.
“Belum selesai.”
“Kapan pulang ke Aceh?”
“Belum tahu.”
Saya mencatat, pembicaraan kami paling lama berlangsung satu menit-enam belas detik.
Seperti kebanyakan orang tua angkatan 1990-an, Ayah saya memegang prinsip “ketegasan adalah rasa sayang”. Salah satu perwujudannya adalah dengan berbicara seperlunya. Hal ini sebenarnya hanya berlaku di rumah. Sewaktu Taman Kanak-kanak, saya pernah mengikuti Ayah ke kampus. Sepanjang kuliah, ia hampir tidak berhenti berceramah. Saya tertidur karenanya.
Di balik ketegasannya, Ayah gemar menyapu halaman di pagi hari. Ia juga kadang-kadang terlihat mengangkat jemuran dan mencuci piring. Saya baru tahu hal ini keren sejak membaca novel Tere Liye. Entahlah apakah Ayah saya ikut membacanya. Namun yang saya tahu kebiasaan ini sudah berlangsung lama–dan Ayah lebih sering terlihat membaca Al-Quran ketimbang novel.
Ayah juga melakukan pekerjaan yang “ayah sekali”. Jika alat elektronik rusak, ia akan berusaha memperbaikinya. Kalau tidak berhasil, baru dibawa ke toko. Saat saya hobi memelihara ayam, Ayah membeli beberapa batang bambu dan membuatkan kandang. Ayah juga menyambung sendiri pipa air ke dalam sumur. Kalau semuanya ditulis akan banyak sekali. Saya jadi bertanya-tanya dari mana ia belajar semua itu?
Orang tua saya membebaskan saya untuk memilih jalan kehidupan saya sendiri. Mereka membolehkan saya kuliah di mana pun. Bekerja di bidang apapun. Asal saya bahagia. Jika ada satu hal yang mereka paksakan dari dulu, itu adalah shalat. Untuk hal itu, tidak ada kompromi. Saya pernah dihajar pakai sapu lidi sewaktu malas-malasan shalat.
Menjadi orang tua sesungguhnya adalah pekerjaan seumur hidup. Seseorang tidak bisa berhenti menjadi orang tua bahkan ketika ia telah tiada sekalipun. Tidak ada istilah “mantan orang tua”, kan? Ada tanggung jawab yang luar biasa di sana. Tanggung jawab yang harus dibawa hingga ke akhirat kelak. Saya sendiri merasa tidak lama lagi mencapai tahapan ini. Beberapa teman seangkatan bahkan sudah lebih dulu memulai.
Dalam kesempatan ini, saya ingin berterima kasih kepada Ayah dan Mamak yang telah mencontohkan bagaimana menjadi orang tua yang baik. Walaupun mereka tidak pernah secara langsung berkata cinta, tapi sungguh mereka telah menunjukkannya. Bagi mereka, cinta adalah kata kerja. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Selagi masih ada waktu, saya mengajak teman-teman untuk mendoakan orang tua kita. Berbakti kepada mereka. Dan akhirnya, jika Allah SWT kelak mengizinkan saya masuk surga, saya punya satu permintaan: menjadi anak Ayah dan Mamak lagi.
Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)
sumber foto: dok. pribadi
Monday, May 26, 2014
by Muhammad Haekal
Categories:
Kolom
16 comments
Harga
Sesungguhnya setiap impian memiliki harga. Ketika kita ingin mendapatkan sesuatu, kita harus membelinya.
Seorang pemuda yang ingin menjadi hafiz Al-Quran harus rela menyisihkan waktu untuk menghafalnya. Menjaga diri dari dosa yang konon dapat menghapus hafalan. Dan ketika telah khatam, ia juga harus berkomitmen untuk mengulang hafalan tersebut setiap hari.
Begitu juga pemain sepakbola profesional. Mereka tidak terlahir langsung sebagai pemain bola. Ada harga yang harus mereka bayar untuk mewujudkannya. Mulai dari memfokuskan diri untuk bergabung dengan klub sedari kecil. Menjaga pola makan. Rutin menempa tubuh di gym. Dan berkomitmen untuk terus meningkatkan prestasi agar bisa bermain di level yang paling tinggi.
Semakin besar ‘harga’ (baca: usaha) yang kita ‘bayar’, semakin dekat pula kita dengan impian. Jika usahanya tidak maksimal, pemuda yang berniat menjadi hafiz tersebut barangkali hanya mampu menghafal satu juz Al-Quran, dan pemain sepakbola tadi hanya sanggup menjadi bintang di turnamen antar kampung.
Percaya atau tidak, setiap orang yang kita kagumi–entah itu orang tua kita, artis, penulis, dai, dosen, chef, desainer, awardee beasiswa atau siapapun–telah berusaha dengan keras untuk mencapai posisi tersebut. Semua itu penuh tantangan. Atau jika kita berpikir itu tidak sulit, barangkali itu terjadi karena kita tidak melihat prosesnya, hanya hasil jadi.
Ah, itu sih karena bakat!
Bakat yang tidak diasah bisa hilang. Bakat yang tidak diwujudkan sebagai karya juga tidak bisa diapresiasi. Mirip seperti seseorang yang memiliki bakat menulis tapi ia tidak menulis. Atau ia menulis tapi hanya menyimpan karyanya di dalam lemari.
Bagaimana dengan takdir?
Takdir juga bermula dari usaha. Bagaimana mungkin seseorang bisa meraih Piala Oscar jika ia tidak pernah sekalipun bermain film?
Akhirnya, apa sebenarnya impian kita? Apakah kita sudah membayar dengan harga yang pantas untuk memilikinya? Atau jangan-jangan kita hanya tidur dan berharap semuanya terjadi begitu saja? Mimpi.
Semoga bermanfaat. Insya Allah. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung :)
sumber foto: vi.sualize.us
Sunday, May 25, 2014
by Muhammad Haekal
Categories:
Kolom
11 comments










