Seorang Teman



Saya punya seorang teman yang mudah patah semangatnya. Dia sebenarnya adalah orang yang hebat, tapi dia punya kebiasaan sering merendahkan dirinya sendiri,berkata-kata negatif, dan mengisi kepalanya dengan pesimisme. Hal-hal tersebut perlahan menjadikannya rapuh.

Saya tidak bisa masuk dalam kehidupannya dan menjadi dia: melakukan hal-hal yang seharusnya dia lakukan, mengeksekusi rencana-rencana yang dia miliki. Saya hanya bisa bertanya, mengingatkan, memotivasi, dan berdoa. Lebih dalam dari itu, saya tidak punya akses, dia pun tak mengizinkan. Siapa pula yang mau kehidupannya dijalani oleh orang lain?

Kesedihan seringkali muncul ketika melihat orang-orang dekat terpuruk, tidak bisa meraih impian mereka, atau yang paling buruk, menyerah sama sekali dan berhenti. Rasanya tidak becus menjadi teman.

Andai dia tahu sedekat apa dirinya dengan kesuksesan []

Tuesday, May 31, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: 1 comment

Hujan dan Rindu

 
Setiap hal diciptakan berpasang-pasangan, seperti hujan dan rindu.

Saya mencintai hujan dengan sebal. Oksimoron tersebut tercipta karena hujan kerap membangkitkan memori. Sayangnya beberapa sulit untuk dialami lagi.

Dulu ketika masih Sekolah Dasar, di sore hari saya kerap jalan-jalan bersama ayah dan mamak naik Honda Prima. Jika hujan turun, ayah memakai mantel. Jubah bagian depan akan dihamparkan ke bagian stang depan (saya duduk di depan) dan yang belakang akan melindungi mamak. Saya masih ingat di suatu sore ketika hujan turun deras, saya memaksa untuk dibawa keliling kota. Pertama orang tua saya menolak tetapi karena saya terus menangis, akhirnya kami pergi. Di tengah jalan, entah karena licin, kaki ayah terpeleset dari pijakan motor yang mengakibatkan kuku jempol kakinya tanggal. Saya masih merasa bersalah ketika mengingat itu.

Jika saya bangun tidur ketika hujan turun, ada perasaan hangat karena saya tahu kemungkinan besar semua orang ada di rumah. Hal menyenangkan lain adalah adanya pisang goreng, tape goreng, keripik sukun goreng, atau apapun yang nikmat disantap ketika hujan di atas meja. Biasanya semua anggota keluarga berkumpul di depan televisi. Sesuatu yang entah kapan bisa saya alami lagi.

Di titik tertentu, hujan dengan rintik melankolisnya membuat saya ingin kembali menjadi anak kecil. Di rumah saja bersama orang tua. Atau jalan-jalan keliling kota dipayungi mantel bersama mereka. Jika mengingat itu semua, saya mendadak benci menjadi dewasa.

Tuesday, May 24, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: 4 comments

Helpfie


Semakin banyak buku yang saya baca semakin saya merasa diri ini tidak ada apa-apanya. Kecil. Apalagi ketika bacaan-bacaan itu membuka mata saya terkait permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa: besar dan bercabang-cabang. Terkadang saya merasa menyelesaikan masalah hanyalah utopia semata. Tapi tidak mencoba tentu adalah perbuatan yang lebih sia-sia.

Saya ingat kata seorang teman. Masalah bangsa Indonesia adalah tanggung jawab kita bersama. Seseorang tidak bisa menjadi pahlawan tunggal dan memborong pekerjaan itu sendirian. Siapapun Presiden Indonesia misalnya, hanya akan jadi boneka jika orang-orang di sekelilingnya, atau lebih luas lagi rakyat Indonesia, tidak memiliki pikiran dan pergerakan kuat untuk berubah.

Saya sering berpikir, kenapa Indonesia masih menjadi negara yang berkembang dengan permasalahan pelik dalam hal ekonomi, sosial, kesehatan, dan lingkungan? Sementara di sisi lain, kita punya banyak sekali sarjana di berbagai lintas bidang. Apa yang sebenarnya sedang kita lakukan sebagai individu yang (katanya) memiliki ilmu?

Saya percaya jika kita berbuat sedikit saja sesuai dengan kemampuan yang kita miliki, pelan-pelan kehidupan masyarakat Indonesia akan lebih baik. Insya Allah. Saya sangat menghormati orang-orang yang mengabdikan sebagian bahkan sepenuh kehidupannya untuk membantu orang lain. Mereka yang ketika dunia dikuasai oleh segala bentuk perayaan pribadi, misalnya selfie, justru sanggup menunjukkan bahwa kemanusiaan masih ada dan berhak pula dirayakan serta dipromosikan—saya menyebutnya helpfie. Ada pula sebagian lain yang memilih terus menjadi bayangan: mengulurkan tangan dan kemudian menjauhi keramaian, tepuk tangan, atau segala bentuk kemasyhuran.

Akhirnya, saya pikir akan rugi sekali jika rentang kehidupan kita hanya dihabiskan untuk memikirkan diri sendiri. Di sisi lain, kita tak pernah benar-benar tahu berapa lama waktu kita di dunia ini. Jadi, kalau bisa mulailah melakukan sesuatu. Apa saja. Kata orang bijak: bantulah orang lain maka kamu sebenarnya turut membantu dirimu sendiri []

Wednesday, May 18, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: , Leave a comment

Yang Tampak dan yang Tidak


Tak jarang sebagian orang terjebak dengan fenomena gunung es ketika menyaksikan kesuksesan orang lain: melihat pucuk dari gunung yang muncul dari permukaan air. Semua rasanya begitu indah, mudah, dan penuh dengan kebahagiaan. Yang seringkali luput dari penglihatan adalah keseluruhan dari badan gunung yang bersembunyi di kedalaman air: proses yang orang tersebut lalui. Ada usaha yang melelahkan, latihan yang menyakitkan, dan kegagalan atau penolakan yang entah sudah berapa kali datang.

Perjuangan itu nyata. Kerja keras adalah kewajiban. Setiap hal memiliki 'harga'. Semakin besar dan berharga sebuah impian, semakin keras pula usaha yang kita perlukan. Jangan diam saja.

Sunday, May 15, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Tidak Jelas


Ada hari-hari tertentu ketika saya merasa kepala dan hati saya kosong. Ada kesunyian yang hadir dan saya tidak mengerti kenapa ini terjadi. Ada rasa bersalah yang besar untuk sesuatu yang saya tidak ketahui sebabnya.

Aneh. Seringkali kalau begini saya suka menyendiri dan berpikir dalam: apa ada kesalahan tertentu dalam kegiatan harian saya? Mungkin ada rencana yang terus saya tunda? Atau ada kebiasaan baik yang justru saya lupakan? Atau barangkali saya kurang menyenangkan diri saya sendiri? Entahlah.

Jujur saya terkadang merasa aneh bahwa di umur 25 ini, saya masih belum mengenal dengan baik diri saya sendiri. Semacam belum bisa jujur dan berkata tegas: sebenarnya mau saya apa. Sementara hari terus berlari. Jarak antara subuh dan senja rasanya dekat sekali.

Saya sejenak ingin merangkul diri saya lagi. Bertanya padanya, sebenarnya ada apa. Pikiran terlalu bercabang hari ini dan saya tidak tahu ia sebenarnya sedang menuju ke mana. Saya mendadak ingin tidur dalam waktu panjang.

Friday, May 13, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: 2 comments

Lingkungan


Saya percaya bahwa di mana pun seseorang berada, dia bisa melakukan apa saja yang ia niatkan. Kepercayaan ini membuat saya berada pada pemahaman bahwa sebenarnya manusia tidak perlu membuat-buat alasan tentang bisa-tidaknya dia melakukan sesuatu. Semuanya hanya berada pada sebuah ruang sederhana: dia mau atau tidak, serius atau main-main.

Hanya saja, untuk masuk ke level ini seseorang perlu mengubah dirinya menjadi dewa. Saya sendiri belum berhasil melakukannya. Saya bisa belajar di kamar tidur, tetapi kadang-kadang saya tergoda untuk membuka media sosial, memasak di dapur, atau yang paling bajingan adalah tidur-tiduran di kasur. Saya dapat pula membaca buku di tengah keramaian, tetapi seringkali pikiran saya lebih fokus pada orang-orang yang sedang berjalan, kenderaan, atau perasaan bahwa semua orang sedang memperhatikan apa yang sedang saya lakukan.

Benjamin P. Hardy, seorang kandidat Ph.D Ilmu Psikologi, di medium.com menjelaskan pentingnya lingkungan yang tepat bagi seseorang yang sedang mengusahakan sesuatu dalam hidupnya. Dia berargumen bahwa lingkungan memiliki kekuatan yang lebih besar daripada tekad pribadi. Manusia sendiri menurutnya adalah produk dari lingkungan.

Bagi saya, pendapat tersebut setidaknya menjawab mengapa sebagian orang lebih memilih berolahraga di taman, belajar di pustaka, bergabung di komunitas menulis, atau mendaftar di gerakan one-day-one-juz. Ini juga menjelaskan mengapa sastrawan sering berkumpul dengan sastrawan, seniman dengan seniman, penggemar sepakbola dengan penggemar sepakbola, aktivis dengan aktivis, dan lain sebagainya. Ada kekuatan lebih ketika sekelompok manusia melakukan sesuatu bersama-sama. Ada peningkatan pemahaman ketika mereka saling berdiskusi, mengkritik, dan memberi masukan di sebuah bidang. Dan salah satu yang terpenting adalah hadirnya perasaan mendalam bahwa ternyata mereka tidaklah sendirian.

Pendapat ini menurut saya tidak serta-merta menegasikan pentingnya bekerja secara individual. Saya pribadi beranggapan bahwa kondisi ideal adalah ketika seorang manusia bisa fleksibel: produktif dan kontributif dalam kesendirian ataupun keramaian, bisa melakukan sesuatu tanpa bergantung kepada situasi lingkungan. Apapun ceritanya, hidup ini seperti cuaca. Jika hujan tiba-tiba turun, kita tidak bisa mengontrol awan, tetapi kita bisa memakai payung. Ada saat-saat ketika lingkungan yang ideal tidak bisa kita dapatkan, tetapi kita bisa membangun 'lingkungan' ideal lain di dalam pikiran kita sendiri. Namun sekali lagi, untuk sampai ke level ini kita perlu melatih diri []

Monday, May 9, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Dia


dia pernah menunggu ketukan
yang tidak kunjung pulang
dia pernah menanti pergi
yang tak pernah berpikir kembali
mereka pernah mengubah hatinya menjadi sebotol minuman,
plastik gorengan, jam tangan, dan seperangkat pesan di telepon genggam
mereka pernah menempelkan trauma, kecewa, dan putus asa
telak di kulit, lidah, mata, telinga, dan persendiannya

dia terus mengingatnya, takkan pernah lupa
luka-luka itu menumbuhkan bunga
di setiap helaian rambutnya
hari ini dia bukan perempuan yang sama.

Sunday, May 8, 2016 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment