Generasi Tanpa Kantor di Aceh

(Sumber: Sebastiaan Stam)

Generasi tanpa kantor. Saya pertama kali membaca artikel tulisan Rakhmad H.P ini di situs Detik.com. Di sana, dia menulis bagaimana pengalamannya mengundurkan diri dari sebuah perusahaan, dan memilih bekerja di rumah. Keputusannya tersebut diiringi semprotan bosnya yang membandingkan antara generasi pekerja sekarang (milenial) cengeng, dan sebaliknya generasi si bos tersebut (boomers dan X) bermental lebih kuat.

Saya pribadi menganggap stereotip antar generasi ini perlu dikaji lagi lebih lanjut. Ketika seseorang memilih keluar dari sebuah perusahaan, hal ini tidak semata-mata karena dia tidak sanggup bekerja, apalagi karena dia berasal dari suatu generasi. Tapi lebih daripada itu, yang semestinya perlu dicermati adalah "kenapa" dia tidak memilih keluar. Apakah karena visi perusahaan tidak jelas, supervisinya terlalu ketat, ketidak-sesuaian antara deskripsi kerja di kontrak dengan realitas, durasi bekerja yang teramat panjang, ketiadaan unsur rekreasi di kantor, dsb. Lebih lanjut, pelabelan atas "generasi" tentu tidak adil mengingat setiap manusia itu unik. Isu akan beda kasus per kasus.


Tulisan ringan ini sendiri bukan hendak membahas problematika konsep generasi X, Y, Z, dst. Namun ingin menyinggung bahwa generasi tanpa kantor itu ada, dan mereka bisa hidup secara cukup dari pekerjaannya. Kali ini saya menulis dalam konteks Aceh, Indonesia. Artikel ini akan membahas sekelumit kasus yang bisa jadi tidak mewakili populasi pekerja tanpa kantor di provinsi paling barat Indonesia ini, namun paling tidak dapat memberikan gambaran kecil.

Saya mendefinisikan generasi tanpa kantor sebagai seseorang yang bekerja secara independen, durasi waktu fleksibel, tanpa terikat penuh waktu dengan sebuah perusahaan (atau terikat dengan perjanjian berbasis per satu kontrak pekerjaan). Mereka bisa 'berkantor' di mana pun, yang paling penting adalah pekerjaannya selesai tepat waktu. Definisi ini sangat mirip dengan konsep freelance. Sehingga menurut saya, generasi tanpa kantor bisa disamakan dengan freelance generation.

BPS Aceh (2018) menyebutkan, jumlah penganggur di Aceh pada Februari 2018 mencapai 154 ribu orang, sementara jumlah yang bekerja adalah 2,2 juta orang. Survei BPS Aceh ini sendiri memiliki kekurangan antara lain, ia tidak menjelaskan apa yang dimaksud sebagai pengangguran, dan mengapa seseorang menjadi pengangguran. Selain itu, survei ini hanya menyentuh sektor-sektor seperti pertanian, kontruksi, pertambangan, dsb. Artinya, ada sektor-sektor pekerjaan lain yang tidak disentuh oleh BPS. Walaupun demikian, setidaknya survei ini telah menyentuh aspek umum bahwa kuat dugaan, ada individu-individu yang tidak tersentuh oleh bidang pekerjaan arus utama di Aceh.

Lida (bukan nama sebenarnya), adalah seorang sarjana Ilmu Sosial dari sebuah kampus di Aceh. Namun berbeda dengan apa yang ia pelajari di kampus, ia justru memiliki minat dan bakat di bidang musik. Ia pernah berkata bahwa ia hampir tidak memiliki imajinasi untuk bekerja, katakanlah sebagai PNS di Aceh. Selain sulit mencari formasi sesuai dengan bakatnya, dia merasakan lebih nyaman bekerja secara independen. Dia pun terus mengasah bakatnya di bidang musik, dan sempat mengikuti kursus di Pulau Jawa. Saat ini, dia aktif memasarkan musiknya, kebanyakan adalah audio untuk keperluan perusahaan, di situs-situs, seperti Envato. Dia menghargai musiknya $8 - $45 tergantung  durasi dan tingkat kesulitannya. Konsumennya banyak berasal dari luar Indonesia. Dengan pendapatannya selama ini, dia bisa membangun studio musik pribadi di rumahnya. Sehari-hari dia bekerja di sana. Selain itu, dia juga mengaku bisa bekerja di mana pun. Yang penting dia membawa laptop.
(Sumber: Omar Prestwich)
Seorang teman lain, masih juga dalam bidang kreatif, bekerja mendesain huruf (font) dan format cetak (template) majalah. Dia juga memasarkan karyanya di situs-situs luar negeri. Ayah satu anak ini, berkata bahwa pekerjaannya itu cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Apalagi karena ia dibayar dengan Dollar Amerika. Untuk menambah penghasilan, ia turut mengerjakan pekerjaan desain spanduk dan brosur untuk pasar di Aceh.

Beberapa kenalan saya lain, mencari nafkah dengan membuat situs, menulis opini, dan menerjemahkan dokumen. Walaupun dari segi pendapatan relatif tidak pasti, namun sejauh ini, mereka mengaku hidup cukup dari pekerjaannya. Tiga aspek terpenting dari bekerja seperti ini adalah promosi, produktivitas, dan kualitas. Sepanjang mereka bisa memenuhi tiga poin tersebut, tawaran proyek terus berdatangan. Kebanyakan dari langganan.

Hampir semua dari mereka tidak memulai karir dengan mudah. Mereka melalui bulan demi bulan tanpa pemasukan. Lida menyebutkan, pada saat merintis dulu, dia sempat berkali-kali ditolak untuk mengunggah musiknya di sebuah situs.

"Kualitas musikku dulu masih di bawah standar pasar," katanya.

Seiring waktu, mereka terus meningkatkan kemampuan individu, dan perlahan memperbaiki kualitas produknya.

Aceh bagi saya, belum menjadi tempat bagi berkembangnya semua kemampuan. Berbicara dalam konteks yang lebih luas, di sini, kemampuan seperti membalap (racing), bermain games, bahkan sepakbola, belum dianggap serius. Alhasil, jika ada individu-individu yang menekuninya, tidak didukung maksimal, dan bahkan dipandang sebelah mata. Di kasus-kasus tertentu, orang-orang ini terpaksa bekerja di bidang yang tidak mereka sukai hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Fenomena generasi tanpa kantor, walaupun tidak menyelesaikan persoalan pekerjaan secara mengakar, namun menyediakan alternatif bagi orang-orang yang tidak terserap oleh pasar di level lokal.

Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian punya pendapat berbeda? Saya tunggu balasannya di kolom komentar []

|
|
|
*kalword.blogspot.com akan selalu menjadi situs gratis yang mengangkat isu-isu penting di sekitar kita. Untuk mendukung blog ini, silakan klik iklan yang terdapat di sebelah kiri layar. Terima kasih atas kunjungan dan perhatian teman-teman!

Friday, October 19, 2018 by Muhammad Haekal
Categories: , , , , 2 comments

Salah Satu Cara Membantu Pemimpin


Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Di dunia banyak hal yang mesti dia urus. Dalam ajaran Islam, bahkan nanti di akhirat pemimpin adalah salah seorang yang paling sulit melewati birokrasi malaikat jika selama hidupnya dia tidak beres menjaga amanah.

Setiap hari, paling tidak sekali saya menggerutu dengan jalan yang berlubang. Apalagi kalau sedang hujan, bisa-bisa jadi kubangan. Dan entah ada berapa kekesalan lain yang keluar misalnya ketika listrik mati, air PDAM macet/ keruh, dan lain-lain. Itu masih saya sendiri. Rakyat lain tentu memiliki keluhan mereka masing-masing. Saya yakin, walau tentu tidak sepenuhnya percaya diri karena tidak melihat, gerutuan saya ini sampai ke telinga malaikat. Di tahap ini, saya kasihan dengan pemimpin dan sebenarnya tidak habis pikir, mengapa mereka mau habis modal banyak untuk mendapatkan posisi itu.

Salah satu cara sederhana membantu pemimpin adalah dengan mengkritik. Rantai birokrasi yang panjang, bisa jadi menyulitkan beliau untuk melihat masalah-masalah nyata yang dihadapi masyarakat.

"Ibu/ Bapak, jalan di kampung kami berlubang. Kami jadi susah ketika mengantar anak ke sekolah, belanja ke pasar, dan pergi ke rumah ibadah. Belum lagi sepeda motor kami jadi cepat rusak. Kalau begini terus, bukan saja aktivitas kami terhambat, ibu/ bapak, tapi kami juga jadi gampang marah dan emosian. Tolonglah perbaiki jalan ini segera!"

Kritik ini bisa disampaikan langsung. Di kampung saya misalnya, pemimpin (level bupati) sering diundang masyarakat kampung untuk menghadiri kenduri maulid.

Kritik bisa pula dikirim ke media massa melalui rubrik opini, misalnya.

Jika punya kemampuan, seseorang juga bisa membuat video sederhana lalu mengunggahnya di Youtube agar jadi bahan untuk dipikirkan bersama.

Jika tidak pandai berbicara, seseorang bisa menanam pohon di jalan yang rusak. Tentu pohon yang dipilih tidak usah besar-besar, seperti beringin atau trembesi, cukup tunas pohon pisang atau kelapa []

Wednesday, October 17, 2018 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Seorang Teman yang Berangkat


Suatu hari, seorang temanku berangkat menuju ibu kota. Aku menunggunya di bandara. Itu pertama kali dia naik pesawat.

Beberapa bulan lalu, dia mendapatkan surel pengumuman kelulusannya pada sebuah program beasiswa. Seingatku, dia paling tidak sudah lima kali melamar namun gagal. Usaha terbarunya juga merupakan percobaan terakhir, katanya dulu.

Mengenai kegagalannya di masa lalu, aku percaya hal itu terjadi bukan karena dia bodoh. Dia seringkali gugur di tahap wawancara. Bagiku, dia adalah tipe orang yang menggebu-gebu dalam menyampaikan pendapat. Jika orang belum mengenalnya, dia mungkin akan dianggap emosional dan intimidatif. Padahal, dia adalah orang yang terbuka untuk perbedaan. Walaupun misalnya dia dalam posisi tidak setuju, dia akan selalu memosisikan diri untuk berdiskusi, bukan berdebat. Di seleksi yang terakhir, kupikir dia berhasil berbicara lebih tenang.

Di akhir pekan, kami sering nonton bola di sebuah kedai nasi goreng yang relatif sepi. Nasi gorengnya enak, namun entah kenapa, banyak pembeli lebih memilih menyantapnya di rumah. Di sana siaran bola disorot ke layar menggunakan proyektor. Karena seringkali yang menonton cuma kami berdua, kami bebas memilih pertandingan apa yang ingin kami tonton. Dalam banyak kesempatan, kami memilih pertandingan Arsenal. Itu merupakan klub favorit teman saya. Pendukung klub ini terkenal setia, walau tahun demi tahun berlalu tanpa gelar juara liga.

Kami sering membicarakan apa saja tentang politik, pendidikan, dan isu-isu hangat lainnya. Berdiskusi bagiku adalah salah satu cara menjaga kewarasan dan mengurangi stres. Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang enak diajak ngomong, apalagi kalau sudah menyentuh isu-isu sensitif. Sebagian orang cepat marah dan bisa menggebrak meja jika mendengar pendapat yang berbeda dari pikirannya.

Aku tidak lama menjabat tangannya di bandara. Dia datang agak terlambat, dan pesawat akan segera berangkat. Kepergian seorang teman, bagiku bukanlah hal yang mudah. Aku berdoa untuk keselamatan dan kesuksesannya di masa depan. Sampai jumpa lagi! []




Monday, October 15, 2018 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Belajar Berkata "Tidak"


Film Yes Man (2008) yang  diperankan oleh Jim Carrey sebagai aktor utama, dalam beberapa adegannya, menekankan pentingnya berkata "ya" terhadap segala sesuatu. "Ya" akan menuntunmu ke mana pun. Dan itu bisa berarti baik atau buruk.

Saya merasakan ketika hidup di Aceh, Indonesia, cukup sulit menolak permintaan seseorang. Apalagi ketika orang tersebut memiliki hubungan persaudaraan atau pertemanan yang karib. Saya misalnya, sering menerima tawaran pekerjaan hanya karena tidak enak menolaknya. Takut menyakiti hati. Efeknya, bukan hanya pekerjaan sehari-hari saya yang terganggu, tapi juga pekerjaan yang baru saya terima. Kata "ya" yang saya berikan sebagai jawaban, dalam hal ini tidak bermanfaat secara maksimal bagi penerima dan pemberi pekerjaan.

Saking seringnya berkata "ya," saya juga jadi punya kebiasaan "menerima dulu, menolak kemudian." Maksudnya, saya cenderung tidak pikir panjang ketika ditawari pekerjaan, namun baru merenung setelahnya. Buruk sekali.

Saya percaya, setiap orang perlu belajar berkata "tidak." Atau paling kurang, meminta tenggang beberapa hari sebelum menjawab sebuah tawaran. Jika cocok, terimalah. Jika tidak, tolaklah dan berterima kasih. Saya pikir hal ini lebih adil kepada diri sendiri, dan orang lain. Menolak tidak selamanya buruk, begitu pula sebaliknya []

Saturday, October 13, 2018 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Rehat


Aku memilih beristirahat sejenak. Merapikan lagi rencana yang berantakan di atas meja.

Suara-suara bermunculan. Sebagian bukan berasal dari hatiku sendiri.

Seperti semua hal ingin tampil dan diperjuangkan. Namun aku hanya memiliki 24 jam dan menit-menit yang sempit.




Tuesday, October 2, 2018 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Seperti Debu Ditiup Angin


September-Oktober 2018 adalah serakan aktivitas yang berantakan. Aku mengajar sekitar 14 SKS. Sebagian mata kuliah cukup kukuasai, sebagian adalah hal lama yang tidak kunikmati, dan ada pula yang diamanahkan tanpa kuduga sebelumnya. Jualan buku tersendat. Jualan ayam kuputuskan berhenti. Dan sekarang, aku diambang kick-off proyek pendidikan inklusif di Kuala Simpang. Oya, aku hampir lupa mengatakan bahwa hampir setiap hari aku menyempatkan diri untuk menyentuh beasiswa. Keinginan untuk berkuliah lagi masih besar sekali. Aku pun tidak juga ingin melewatkan kesempatan untuk mengikuti tes CPNS. Jika ada tawaran menerjemahkan dokumen, aku juga kemungkinan menerima. Di sisa-sisa waktu, aku menulis artikel untuk media massa, dan satu pun belum ada yang diterbitkan. Benar-benar menguras pikiran dan tenaga.

Aku selalu punya bayangan bisa memiliki sebuah pekerjaan yang memungkinkanku untuk fokus di satu hal itu saja. Berpindah-pindah kegiatan tidak hanya membuat lelah, tapi juga membuat seluruh kegiatan tidak maksimal kulakukan. Ini adalah salah satu hal yang tidak kusukai dari pekerjaan sebagai dosen luar biasa. Gaji yang satu semester sekali, membuatku mesti menguras otak untuk mencari berbagai sumber pemasukan.

Menulis harian seperti ini adalah sebuah usaha menjaga akal sehat. Terkadang aku tidak bisa menduga ke mana aku akan pergi. Seperti sebuah perjalanan tanpa ujung. Aku membayangkan diri bisa berhenti dari hiruk-pikuk kegiatan ini, dan mendesain ulang semuanya dengan lebih rapi. Sekarang aku tidak tahu sedang mengikuti rencana siapa. Mungkin aku sekarang adalah debu yang terbang bersama angin yang tidak jelas alurnya ke mana.

by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Penjual Buku

Hidup terus berlanjut. Walau masih penuh kekurangan sana-sini, aku perlu menyiasatinya. Pekerjaan yang kuharapkan belum kudapatkan. Namun paling tidak, walau aku melakukan hal yang sebelumnya belum pernah kupikirkan, hal ini adalah salah satu kegiatan yang kunikmati. Ya, bulan ini aku mulai berjualan buku.

Gramedia dan beberapa toko buku kecil memang ada di Banda Aceh. Namun secara pribadi, aku terkadang kesulitan menemukan buku yang 'menarik.' Dulu, di Aceh pernah ada toko buku Dokarim yang digagas Komunitas Tikar Pandan. Namun seiring waktu, ia perlahan surut dan sekarang setahuku, ia tidak lagi menghamparkan lapak. Kesulitan ini pun rasanya dirasakan oleh sebagian orang di Aceh. Inilah salah satu alasanku memilih menjual buku.

Aku kemudian cukup bersyukur bisa menjalin kerjasama dengan beberapa penerbit dan distributor, seperti Mojok, INSISTPress, Marjin Kiri, Pojok Cerpen, dan baNANA Publisher. Aku pun kemudian cukup berbahagia bisa menjual buku di Banda Aceh dengan harga yang tidak jauh berbeda--bahkan untuk beberapa judul bisa sama dengan harga di Pulau Jawa.

Usaha ini kemudian menjadi lebih menarik karena aku menjalaninya dengan istri sendiri. Ada kenikmatan tersendiri ketika membangun sesuatu dari awal (dan dari nol) bersama-sama dengan seseorang yang kusayangi dan kupercayai.

Seperti halnya bisnis lain, penjualan buku juga tidak selalu lancar. Adakalanya, pembeli seperti tidak berhenti, namun bisa jadi sebaliknya. Sejauh ini, buku "Kura-kura Berjanggut" karya Azhari Aiyub, masih menjadi pembelian favorit di toko kami, KaNal Buku. Secara pribadi, aku pun masih dalam taraf menebak-nebak selera buku pembaca di Aceh. Di samping itu, kami juga tidak lupa bahwa KaNal Buku tidak bisa menjual sembarang buku mentang-mentang ia judul favorit. Paling tidak, buku yang kami jual juga mesti sesuai dengan nilai-nilai yang kami percayai. Seperti halnya makanan yang mengandung nilai gizi tertentu, buku juga dapat mempengaruhi pembaca. Kami tidak ingin menjual racun-racun intoleransi dan ekstremisme.

Hidup terus berlanjut. Dan aku menemukan satu kepingan diriku di Juni 2018 ini: penjual buku []

Tuesday, June 26, 2018 by Muhammad Haekal
Leave a comment