Archive for 2017

Harap

Ketika saya tiba, dia sedang duduk menatap layar gawai. Proyektor di depan masih menayangkan iklan. Pertandingan babak pertama derby London baru saja berakhir. Dari kegelapan langit malam, hujan masih merintik.

Di Sahabat Baru, kedai kopi tempat kami duduk, hanya beberapa orang yang menonton bola. Selain karena didirikan di jalan alternatif (Jalan Lamreung, salah satu cabang dari Simpang Tujuh Ulee Kareng), kedai ini tidak begitu menarik pandangan mata. Hal yang paling spesial dari kedai ini adalah nasi gorengnya. Racikan bumbu Acehnya sangat terasa dan ia dimasak dengan berapikan arang. Inilah yang membuat banyak orang singgah. Sekalipun mayoritas dari mereka lebih memilih menikmatinya di rumah.

Saya menepuk bahu teman saya dan duduk. Dari raut wajahnya, saya tahu jika tim kesayangannya sedang bermain buruk. Setelah mencaci-maki permainan timnya beberapa hembusan nafas, dia bertanya kabar saya. Kami berbasa-basi sejenak dan mulai serius menatap layar ketika peluit babak kedua ditiup.

Ini juga bukan tahun yang baik bagi teman saya itu. Ia gagal berkali-kali dalam seleksi beasiswa. Sementara hampir seluruh teman dekatnya akan segera berangkat kuliah. Kenyataannya ini membuatnya sering murung di meja kopi. Ia pun muak jika ada orang yang bertanya tentang rencananya di masa depan.

Kadang-kadang ia heran kenapa bagi sebagian orang hidup terkesan begitu mudah. Dan kenapa pula baginya semua terasa sebaliknya. Sialnya, hari-hari tak pernah berhenti berlari. Seperti semua orang di dunia, usianya terus bertambah. Kenyataan bahwa ia masih belum mampu beranjak dari rumah, makin membuatnya merasa tidak nyaman.

***

Pagi itu, di kedai kopi di tepi bantaran sungai, ia berkata pada saya ingin mencoba sekali lagi. Hanya sekali lagi. Tahun ini, ketika semua teman-teman pergi, ia pun merasa tidak bisa diam begitu saja. Iya yakin ada sesuatu yang tersedia untuknya di ujung usaha ini.

Saya teringat satu nasihat dari masa lalu: ketika tali kehidupan telah menarikmu begitu kencang, ketika rasanya kau tidak sanggup lagi menahannya, bertahanlah sebentar lagi. Tali itu akan putus. Kau hanya perlu bertahan sebentar lagi.

Dan kali ini, saya yakin sekali, tali kehidupan, yang selama ini melilit teman saya itu, akan segera putus. Insya Allah. Saya berharap besar sekali.

Tuesday, February 7, 2017 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Lupa

Sebagian orang tua lupa bahwa anak-anak mereka telah dewasa. Kenyataan bahwa buah hati mereka sekarang hampir mencapai kepala tiga, mampu mencari uang sendiri, dan mandiri hidup di kaki mereka sendiri, tak membuat para orang tua percaya jika sudah waktunya anak-anak itu mendapat kemerdekaan: sebuah kebebasan untuk membuat pilihan perkara kehidupan.

Belasan tahun pendidikan rasanya tak cukup untuk membuat orang tua percaya bahwa anak-anak mereka bisa hidup mandiri. Tanpa perlu terlalu didikte untuk menjalani kehidupan. Tanpa perlu dipilihkan pilihan karena mereka pun sebenarnya punya otak untuk mengambil keputusan. Tanpa perlu dikurung di rumah karena dunia luar bukan lagi hal yang asing. Buruknya, beberapa bahkan tak ambil pusing untuk mendengarkan suara anak mereka sendiri. Seakan-akan yang berbicara adalah balita yang bahkan belum masuk TK.

Sebagian orang tua lupa bahwa anak-anak mereka telah dewasa. Dan itu buruk sekali bagi semuanya.

Friday, February 3, 2017 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Kini

Teman-teman satu angkatan saya berumur 26-27 tahun. Sebagian sudah bekerja, menikah, dan punya anak. Ada pula yang sibuk sekali membangun karir, jalan-jalan, menikmati masa lajang. Tidak sedikit pula yang masih belum bisa lepas dari pelukan orang tua. Orang hidup di jalan yang ia pilih. Semua punya cerita dan alasan masing-masing.

Waktu tidak pernah menunggu. Hari berganti cepat. Segala hal berubah, sementara diri manusia bisa berkembang atau diam di tempat. Setiap pilihan di masa lalu bisa kita lihat hasilnya sekarang. Dan perolehan di masa depan erat kaitannya dengan apa yang kita lakukan saat ini.

Seorang bijak pernah berkata: jika tidak puas dengan apa yang telah kita capai, kita perlu melakukan sesuatu. Ketika kita masih mampu menghirup oksigen dan melepas karbondioksida, kita harus paham jika kesempatan masih terbuka. Jangan diam saja []

Wednesday, February 1, 2017 by Muhammad Haekal
Categories: Leave a comment

Mendasar

Ketika seorang ibu menyerobot antrean saya di gerai Roti Boy bandara, saya tahu belum banyak yang berubah di kampung. Hati saya semakin kesal melihat sampah bertumpuk di selokan. Di jalanan, orang-orang masih menerobos lampu merah. Di kampus, toilet dipenuhi kerak kotoran. Di beberapa persimpangan, spanduk-spanduk Pilkada bertebaran dengan janji basi dan murahan. Sementara di masjid, sebuah tempat yang saya harapkan memberi kedamaian, salat Jumat pertama saya dipenuhi khutbah penuh kebencian.
 
Di meja kopi, pernikahan masih dibicarakan dengan intensitas terlampau tinggi seakan-akan ia adalah satu-satunya tujuan penciptaan manusia. Beberapa teman sibuk bertanya, mengatur, dan mencandai kehidupan orang lain seolah-olah mereka adalah boneka yang tak memiliki pikiran dan perasaan. Masih banyak hal-hal mendasar yang belum selesai dan sebagian anak muda justru memilih bergosip (dan bermimpi menyelesaikan masalah umat manusia?).

Minggu pertama saya di kampung adalah sakit kepala. Terlalu banyak masalah dan saya merasa begitu kecil dan tak berdaya []

Monday, January 30, 2017 by Muhammad Haekal
Categories: 3 comments