Fragmen #3



Max

Saya baru tahu ternyata Massimiliano Allegri begitu ekspresif. Dia gemas melihat pertahanan Juventus yang mulai merayakan Natal ketika sudah menang 1-3 atas Carpi. Puncak kekesalannya terlihat ketika Lollo hampir menuntaskan peluang bersih—skor saat itu sudah 2-3—yang nyaris membuat Juventus pulang dengan 1 poin. Saya tertawa gila melihatnya melepaskan jaket (sesungguhnya terlihat seperti mengoyak), melemparkannya, lalu berteriak kesetanan di pinggir lapangan.

Semalam sebenarnya tidak ada rencana menonton Juve, tapi operator di Kedai Sahabat memutarnya sambil menunggu Watford vs Liverpool tayang. Semenjak Jürgen Klopp melatih, saya sering meluangkan waktu untuk menonton The Reds—yang malam itu memerlukan banyak #pukpuk.

Level Ilmu

Jika belum menelusuri secara mendalam, saya tidak berani mengomentari pendapat seorang ahli ilmu, profesor, ulama, atau yang setingkat mereka, dengan asal-asalan.

Saya lupa membacanya di mana, tapi saya sering mengamalkan pernyataan ini: sesuatu yang dihukumi benar oleh seorang ahli ilmu tingkat tinggi bisa jadi dihukumi salah oleh para pemula (dan sebaliknya). Tidak bisa dimungkiri, seseorang yang bacaannya banyak, perjalanannya panjang, dan pergaulannya luas, memiliki jangkauan pemahaman yang tidak dimiliki seseorang yang baru membaca beberapa halaman, jarang jalan-jalan, dan hanya bergaul dengan komunitas itu-itu saja.

Jangan asal meludah nanti bisa kena kaki sendiri.

Tahun Depan

Insya Allah tahun depan saya akan kuliah walau masih remang-remang di mana.

Beasiswa di satu sisi membuat saya sedikit takut. Ada uang masyarakat di sana. Semoga sepulang studi nanti ada sesuatu bermanfaat yang bisa saya bawa pulang—bukan sekadar foto selfie atau kesenangan-kesenangan pribadi lain yang terlihat seperti masturbasi.

 

Sumber foto: REUTERS/Alessandro Garofalo
Video: Youtube

Sunday, December 20, 2015 by Muhammad Haekal
Categories: , Leave a comment

Fragmen #2




Bulu Mata

Tadi ketika sedang makan indomie, sehelai bulu mata saya jatuh ke dalam mangkok. Ini adalah tanda kerinduan. Sayangnya saya tidak bisa menebak percis siapa. Mungkin diri saya kepada diri saya sendiri.

Apong Tahun 2008

Apong bernama asli Muhammad Naufal. Dia adalah adik kandung saya yang pertama dan terakhir. Saya biasa memanggilnya dengan Apong, Pong, Robi, Robiro, Robigatsu, Pororo, atau nama-nama abstrak lain. Yang jelas jika dipanggil, dia selalu melihat—walau sedikit cemberut.

Pada tahun 2008 Apong masuk SD. Biasanya waktu pulang saya yang menjemput. Anak SD kelas 1 pulang sekitar jam 10.00. Saya selalu menjemputnya dengan motor dan saat itu dia sudah bisa dibonceng di belakang (sewaktu TK dia duduk di depan). Apong sering tidur dalam perjalanan pulang ke rumah. Saya harus menahan badannya dengan tangan kiri agar tidak jatuh. Betapa imutnya manusia sewaktu kecil.

Seorang Perempuan

Jumat itu saya memilih shalat di Masjid Oman, Lampriet. Saya masih menunggu lampu lalu lintas berubah hijau di sebuah simpang ketika mata saya tertuju kepada seorang perempuan.

Dia memakai baju yang modis, melekat pas sekali di badan, dengan perpaduan warna serasi. Otak saya menerjemahkannya sebagai cantik. Hati saya menerjemahkannya sebagai nakal.

Lampu hijau. Kenderaan-kenderaan mulai merayap maju. Saya dan perempuan itu berbelok ke arah yang sama. Ketika hampir mencapai kawasan masjid, dia memperlambat laju motornya (hampir berhenti) dan berteriak kepada anak-anak pesantren yang duduk di atas pagar masjid.

“Turun, dek! Turun!”

Ketika anak-anak itu mulai turun, dia kembali mempercepat laju motornya dan pergi.

Jujur saya tidak pernah berpikir anak-anak itu sedang melakukan sesuatu yang berbahaya. Saya abai menaksir akibat yang muncul jika salah seorang dari mereka jatuh dari sana.

Siang itu saya kembali diingatkan agar tidak menilai seseorang dari pakaian. Pakaian hanyalah salah satu hal yang melekat di badan manusia. Ada banyak hal-hal lain di baliknya.

(Sayang sekali tidak sempat kenalan)

In Memoriam: Ayam

Ayam saya adalah yang paling tampan sekampung dan dia memiliki koneksi internasional. Bapaknya berasal dari kawasan perkotaan Thailand dan ibunya adalah bunga desa dari Vietnam.

Saya tidak bercanda ketika bilang dia tampan. Dia memiliki tubuh yang tegap, kepakan sayap yang tegas, dan di pipinya ditumbuhi brewok (seperti tren remaja masa kini) tanpa perlu diolesi Firdaus. Ketika mulai bisa berkokok, saya perhatikan dia sudah berani main-main dengan ayam betina di rumah dan terkadang saya pergoki dia main mata dengan ayam tetangga.

Ayam ini juga memiliki sisi kesalehan. Setiap sepertiga malam dan menjelang subuh, dia bangun untuk berkokok. Sementara orang-orang lain bangun untuk kencing lalu tidur lagi.

Perpisahan saya dengan ayam ini terjadi di suatu pagi. Saya pikir dia mati karena pagi itu tidak ada suara kokok. Rupanya dia telah dibawa pencuri. Maling ayam jantan adalah salah satu yang paling saya benci. Ayam curian nantinya akan dilacurkan di arena sabung ayam. Mengapa mereka tidak beli anak ayam sendiri? Saya rasa sulit bagi orang-orang berperasaan untuk menyabung ayam yang mereka rawat dari kecil. Saya saja sangat eneg dan cenderung menghindari makan ayam yang saya pelihara sendiri.

Selamat jalan, bro. Semoga sukses. Bertarunglah dengan berani. Jangan lari.

Menolong


Menolong adalah salah satu insting dasar manusia. Ia adalah sebuah kata kerja otomatis. Jika tubuh kita memaksa untuk tidak melakukannya rasanya bisa tidak enak. Seperti misalnya ada orang kecelakaan di jalan. Mau bantu tapi malu. Mau langsung gerak nanti takut dibilang sok gaya. Akhirnya kita memilih lewat saja dan percaya atau tidak, ada rasa sakit yang hinggap di dalam dada.



Saturday, December 19, 2015 by Muhammad Haekal
Categories: , Leave a comment

Fragmen #1



Bus

Oktober lalu saya berangkat ke Medan untuk tes IELTS dengan menumpang Bus Putra Pelangi. Ongkosnya 180 ribu. Saya suka naik Pelangi karena supirnya terkenal tidak suka ngebut dan cukup waras untuk mampir di warung sate matang, di kawasan Bireuen. Walaupun bus sampai di sana sekitar pukul 2 atau 3 dini hari, kantuk tidak mampu menghapus rasa lapar lidah saya untuk menikmati sate matang yang asli. Di Banda Aceh tidak ada warung yang rasanya benar-benar sama dengan yang ada di Matang. Ada yang pas potongan dagingnya (saya berbicara tingkat ketebalan), tidak enak kuah sotonya. Ada yang oke soto dan dagingnya, kurang lezat kuah kacangnya. Ada yang enak semuanya, kecil porsinya. Intinya kenikmatan sate matang masih menjadi monopoli Matang sebagai tempat asalnya.

Ngomong-ngomong bus, saya teringat kejadian delapan tahun yang lalu. Saya pulang ke Kuala Simpang sendirian dengan bus untuk merayakan Idul Fitri. Saya duduk di kursi nomor 5 dan dari rumah sudah berandai-andai siapa yang nanti duduk di kursi nomor 6. Dalam beberapa menit jawabannya muncul: perempuan. Ya, perempuan dengan anaknya yang masih balita.

Saya kira mereka adalah ibu dan anak biasa, hingga perempuan itu mengeluarkan ponsel dan mulai menelepon sambil menangis. Karena suaranya yang cukup nyaring, saya bisa mendengar dia berbicara dengan seorang lelaki. Dalam beberapa menit saya menyimpulkan dia adalah mantan suaminya. Mereka harus berpisah karena suatu sebab dan ini malam perdana perpisahan itu.

Saya mendadak bingung harus berbuat apa. Apalagi ketika anak dan ibu itu mulai kompak menangis ketika percakapan mencapai babak akhir. Saya pun membenamkan muka di pinggir jendela, pura-pura tidur. 

Beberapa menit berusaha tidak peduli, tanpa saya saya sangka perempuan itu mencolek punggung saya. 

Saya menoleh takut-takut.

“Om, tolong jaga anak ini. Saya mau ke toilet.”

Mendadak saya merasa diri seperti aktor utama penyebab retaknya rumah tangga orang lain.

IELTS

Saya sudah pernah tes IELTS pada tahun 2013 dan mendapatkan skor 6.0. Kemudian saya ikut tes lagi pada Januari 2015 dan kembali mendapatkan 6.0. Lalu Oktober saya memberanikan lagi untuk tes dan sempat stress menunggu-nunggu hasilnya.

Sebelum tes, saya melakukan refleksi kegagalan. Sederhana saja, dalam dua tes sebelumnya saya tidak belajar. Sok gaya.

Alhasil sepulang pembekalan beasiswa, saya bertarung dengan diri sendiri. Memaksa otak malas saya untuk belajar. Kemalasan tersebut menang beberapa hari hingga saya sempat frustasi bagaimana bisa mendapatkan husnul khatimah pada IELTS kali ini. Pada akhirnya, saya menyiasatinya dengan memakai metode belajar tidak langsung. Saya bergegas ke rumah teman dengan flash disk kosong. Saya mengopi film yang sangat banyak, di antaranya adalah serial the Big Bang Theory dan Game of Thrones (GoT)—jari saya standby pada tombol skip ketika menonton GoT. Saya juga rajin membaca artikel bahasa Inggris di beberapa situs seperti brainpickings.org dan mendengar ceramah di ted.com. Saya mulai menulis harian dengan bahasa alien (bahasa Inggris dengan kosakata sulit yang saya sendiri langsung lupa begitu menuliskannya). Malam-malam sebelum tidur, saya bicara Inggris sendirian dalam gelap. Semua saya lengkapi dengan mengerjakan soal dari buku Cambridge IELTS. Jika dihitung-hitung, sehari saya meluangkan sekitar dua belas jam untuk ritual itu. Hampir muntah.

24 Oktober 2015 tes tersebut berlangsung. Beberapa minggu kemudian skornya keluar. Saya melihat sambil mengintip. Hasilnya 7.0. Alhamdulillah. Saya langsung sujud seperti yang dilakukan Demba Ba sewaktu mencetak gol, dan menunjuk langit dengan dua jari seperti Kaka. Tidak buruk untuk orang bodoh seperti saya.

PMS

PMS adalah premenscholarship syndrome. Ini adalah sidrom yang menyerang calon penerima beasiswa yang belum jelas di mana kampusnya. Jika PMS pada perempuan sakitnya di sekitar perut, PMS pada abang sakitnya di dada, dek.

Saya adalah calon penerima beasiswa program Dalam Negeri (belum teken kontrak) pada sebuah lembaga, dengan tujuan Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pengembangan Kurikulum. Entah karena suhu Bandung terlalu dingin pagi itu atau karena saya terkejut dipanggil “AA” oleh perempuan di sana, saya tidak lulus seleksi masuk di jurusan tersebut. Saya diberikan waktu satu tahun untuk mengonfirmasi kampus.

Satu tahun itu 365 hari dan saya bisa gila jika lama-lama tidak kuliah. Atas dasar tersebut dan beberapa alasan lain yang lebih akademis, saya memutuskan tes IELTS lagi agar bisa studi di luar negeri. Setelah mencari universitas yang menyediakan program yang sesuai dan bermutu, jatuhlah pilihan pada Monash University dengan jurusan M.Ed in Educational Leadership and Policy. Dengan menggunakan skor IELTS terbaru saya melamar dan alhamdulillah diterima tanpa syarat (unconditional LoA).

Tantangan selanjutnya adalah mengajukan surat permohonan pindah universitas. Saya menulisnya sepenuh hati, penuh harap, dan ketika mengirimkannya saya mengucapkan bismillah agar berkah. Namun sampai sekarang, pihak pemberi beasiswa belum memberikan jawaban “ya”, “tidak”, atau “lengkapi lagi ya, dek. Ada syarat yang kurang tuh.” Agak tidak enak digantungkan seperti ini, walau untungnya saya sudah biasa dibeginikan (#pukpuk).

Akhirnya, PMS masih berlanjut sampai sekarang. Membuat saya kadang-kadang uring-uringan, suka marah-marah, makan banyak, dan inginnya sendirian saja. Saya suka gak enak sama teman atau saudara. Kalau mereka butuh bantuan atau kawan bercanda (dan PMS-nya kumat), saya  tidak bisa memberikan apa-apa. Saya tidak lagi menjadi orang yang mereka kenal. Maaf ya. Saya hanya butuh pengertian, cokelat patchi, dan sebaris kata #pukpuk (saya menulis ini sambil tertawa).

Friday, December 18, 2015 by Muhammad Haekal
Categories: , 8 comments

The Questions



Questions never stop coming.

In the East where people normally too care with others (or maybe too curious), we can’t expect to liberate ourselves from questions. First it knocks our door with how are you, then what are you doing, where do you want to go, what is your job, when are you going to depart, when will you get married, and a full basket of other queries that lead us to think: am I a suspect or something? Are you my mama whom I should gradually give reports to her about anything? Too many questions will make people sick.

Well, maybe it’s just the way to start a conversation, particularly used by people whom we rarely meet. But for me, it’s more like an interrogation—and because it sounds like a vocabulary for murderer or terrorist, I don’t always like it.

Or perhaps, it’s not questions that bother us, but our current condition. For the time being, I hate when people ask me when (or where) I am going to study. It requires long answer and besides that, I am still working on it. It’s not simple. I’m imagining if I’m officially accepted by a university, it’ll be easier for me to give a respond. At least, I will deliver a more whole-hearted reply. 

We can’t make people stop questioning our life, but we can do something to make our heart feel better when it comes. If you agree with me that the nuisance doesn’t only lie on questions (it also resides on condition), then we need to strive to make our plan’s working and our dream’s coming true. If you in the middle of something, you must finish it. If your life design is still inside your mind, push your body to start it. Progress will always be a good news, while stagnation will constantly be an awful broadcast.

With that said, the real problem is not question itself; it’s our response toward it. It’s like a morning alarm which gives us three options: to ignore, to snooze, or to wake up. So what is your best reaction?

Tuesday, October 6, 2015 by Muhammad Haekal
Categories: , 4 comments

Problem



The rule is really simple actually: if you have a problem, just find some solutions, and execute.

You may not know whether you can deal with it or not, but at least you learn something. So that you can figure a better solution in the future and finally solve the matter. 

It's your right to complain. However, complaining will never be an answer. It's just a kind of temporary release.

If you open your eyes and see the world, you will realize that you are not alone. Everyone has their own problems. What makes it different is their response: some people fight, some people grumble, and some people just run away.

No matter how hard it is, please don't give up, just fight. It's for you, your family, your friends, your country, your faith, or everything you love or all of things that love you back.

Wednesday, September 23, 2015 by Muhammad Haekal
Categories: , 2 comments

The Heart of Life



The rumor was spreading one or two months ago and the exact truth just came yesterday. It was a happy moment, right? It’s one of the greatest, wasn’t it?

You’ve made it. From deep inside my heart, I’m saying congratulations. It’s not easy to start a new phase, particularly on heart matters. For most of people it’s even like reading Sophie’s World: they need to spend more time to understand before turning to the new chapters.

Sometimes I think, or let say it’s a kind of interviewing the fate to get an explanation. The questions would be like: What is love actually? Why did we meet lots of people but only fell in love to one of them? What is broken heart? Why do two in-love people separate? What is the real love? What is the fake one? What is the reason behind marrying someone? And what is the reason behind letting someone go?

I haven’t really understood at first. But when I’m dragging myself into my own silence space, I think I get something. By what we’ve done in the past, we are learning. We became both teacher and student to ourselves. We learnt how to understand feeling, how to set vision in life, and even how to define ourselves. We strove to figure out the most suitable time to fix, to adapt, and—the last one—to stop our relationship when we’re reaching our dead-end. We’ve also discovered that the best step to start a new life is by forgiving. That being a friend is much more precious than being an enemy. Those are some reasons why we meet in this world, says my shallow intelligence.

Don’t worry. It’s not a long reading, but when I’m typing it, my mind is playing John Mayer, the Heart of Life. It says in this world, we will face bad news and pain. That sometimes things don’t go as the way it should or the way people expected. But people have to know that the life has a good heart. It will lead them to things they need—and sometimes it’s not the things they want.

Well, good luck. I always pray for you.

Sunday, September 20, 2015 by Muhammad Haekal
Categories: , 11 comments

Mid-Twenties



I will be twenty-five on December and I little bit worried about myself.

I don’t know whether it’s normal, but I’m still on my way of finding myself. If you are my close friends, you know that I have changed my job a lot: a teacher, an editor (and journalist), a public relations officer, or –maybe the quite loud one—an aspiring writer, and for the time being, a lecturer. Without exact life goals, I feel like being Jack Sparrow without compass: kind of lost. And mentioning that I’m still talking about “finding myself” again and again, makes me—or even people near me—sick.

Last week, I just came back from Yogyakarta. It was a scholarship pre-departure program hosted by LPDP. I want to tell you that I miss them a lot: the people, the moments, everything. It was a super fantastic event. I will share about it later. What I want to say here is that I envied other awardees because inside my eyes, they knew precisely what they’re going to do and what they were living for. Those people are superb, while in other side I’m just a kind of adverb.

However, the burden of being a Jackie Chan on Who Am I doesn’t trigger the bullet of negativity inside me. Or let say sometimes it does, but fortunately it can’t lead my entire body and mind. For the time being, I treat life as the pilgrimage of finding meaning of my own existence. I may be far from the finish line but as long as I keep walking, I think it is fine. 

2016 is near. I am going to continue my education on that year insya Allah, but please don’t ask me where (I’m still working on getting Letter of Acceptance). Talking about study, I remember the first lecture I gave to matriculation students: did you know why you were here? Right know I’m asking the same question to myself. And the fact that I’m awardees of a scholarship program and being prepared to be a future leader or a kind of life-changing monk within my community, ignites tsunami inside my brain: can I do that? The reality that I still work on defining myself makes me little worried, while in other hand the actuality that I’m not idle also create a good wave of positivity.

Sometimes I’m standing against my favorite quote “just do it” and deciding to be an agent of “just think it”. Or maybe I over-ruminate all of this and I’m unconsciously filming (and also playing) a stupid television drama.  Well I’m still confused, but at least I’m moving. I’m doing something. With that said, the next five years will be a very vital journey of my life. And I won’t give up of discovering my meaning.

P.S: I write in English because I am going to have IELTS test on October. This is a kind of practice and adaptation. Pray for me yeah :D

Friday, September 18, 2015 by Muhammad Haekal
Categories: , 10 comments